
Utari
Rencananya, aku yang akan mengantar mie ayam untuk tetangga depan rumahku. Karena merasa bajuku agak kotor habis memasak, aku pergi ke dalam kamar untuk menggantinya.
Aku tak mau terlihat di depan Mbak Tara seakan aku istri yang tidak terawat. Aku harus menjaga nama baik Om Agas yang sudah banyak membantu aku.
Saat aku mengganti pakaian, Om Agas berteriak menanyakan apakah mie ayam yang ada di atas meja makan untuk tetangga depan rumah? Aku jawab iya. Saat aku keluar kamar, mie ayam tersebut sudah tidak ada di tempatnya.
Aku pikir, Om Agas yang mau membawakannya. Aku tunggu, seharusnya Om Agas udah balik karena jarak rumah Om Agas dengan rumah Mbak Tara itu nggak jauh. Kenapa belum balik juga?
Tiba-tiba firasatku sebagai seorang istri mengatakan kalau ada sesuatu yang sedang terjadi. Bukan kali ini saja aku merasakan hal ini, saat Om Agas ingin pergi party sebelum menikah aku sudah feeling kalau Ia pergi untuk bersenang-senang sebelum kami menikah. Tetapi kali ini, firasatku mengatakan hal yang buruk sedang terjadi pada rumah tangga kami.
Aku pun memberanikan diriku pergi ke rumah Mbak Tara. Kulihat di depan tidak ada mobil suaminya, hanya ada mobil milik Mbak Tara saja yang terparkir di garasi. Pintu rumahnya terbuka dan ada sendal Om Agas di depan.
Aku diam-diam mengendap-endap melihat dari depan pintu. Betapa terkejutnya aku saat mendapati Om Agas dan Mbak Tara sedang berciuman dengan mesranya.
Mereka layaknya sepasang kekasih yang sudah lama memendam perasaan rindu namun terpisah oleh jarak dan keadaan. Aku terkejut. Aku sampai menutup mulutku agar tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Aku mau menangis sampai menjerit rasanya. Tak tahan terus berada disana, aku pun pulang ke rumah. Aku menutup pintu kamar dan menangis dalam diam.
Hatiku sakit, amat sakit karena merasa amat dikhianati. Kenapa Om Agas tega melakukan ini padaku? Apa karena didalam hatinya masih ada nama Mbak Tara?
Hiks... huaaa.... Aku sesegukan, menangis sambil menahan suara sungguh membuat dadaku sesak. Om Agas belum kembali. Apa mereka akhirnya melakukan hubungan suami istri?
Ya Allah... Jangan sampai itu terjadi ya Allah....
Kutengadahkan tanganku memohon kepada Allah Sang Maha Pencipta. Yang Maha Membolak-balikkan Hati Manusia.
Ya Allah... Hamba mohon, tolong lindungi suami hamba dari khilaf. Dari bujuk rayu syaitan. Tolong kembalikan dia pada hamba. Tunjukkan padanya mana yang benar dan mana yang salah. Hanya kepada-Mu hamba memohon...
Sambil menangis aku berdoa untuk suamiku. Aku berdoa demi keberlangsungan rumah tanggaku yang baru beberapa minggu ini. Jangan sampai pernikahan kami kandas begitu cepat. Aku tak mau kehilangan Om Agas.
Om Agas adalah laki-laki yang baik meski memiliki kekurangan suka bersenang-senang di luar sana. Tapi kalau dengan Mbak Tara...
Ya Allah, aku bisa lihat kalau mereka masih saling cinta. Apalah artinya aku di mata Om Agas?
Aku hanyalah gadis yang dijual Bapak tirinya. Daripada dijual ke mucikari, Om Agas yang membeliku. Karena kasihan.
__ADS_1
Tak ada rasa cinta dalam hati Om Agas padaku....
Dari caranya menatap Mbak Tara, setiap kata-kata pedas yang Ia ucapkan semakin kentara kalau Ia amat mencintai mantan istrinya tersebut.
Akankah iman Om Agas akan luluh melihat penyesalan wanita yang sudah meninggalkannya tersebut?
Aku hanya bisa pasrah. Aku serahkan semuanya pada Allah. Mungkin inilah takdir hidupku. Menikahi lelaki yang sangat kucintai namun masih mencintai mantan istrinya.
Lalu aku mendengar suara Om Agas.
Om Agas pulang!
Om Agas memanggil namaku!
"Tari! Kamu dimana?" teriaknya.
Aku cepat-cepat ke dalam kamar mandi dan membasahi wajahku. Aku mencuci muka agar mukaku terlihat lebih segar. Jangan sampai Om Agas tahu aku melihatnya sedang berciuman dengan Mbak Tara.
"Tari!" panggilnya lagi.
Aku keluar dari kamar mandi. Kupasang senyum lebar di wajahku agar tak terlihat kalau aku habis menangis.
Aku pun membalas ciuman Om Agas dengan penuh hasrat, lalu aku melepas kaus yang Ia kenakan. Om Agas tersenyum, Ia senang melihatku begitu aktif.
Aku membelai lembut dada bidangnya, memeriksa setiap bagian dari leher sampai ke perut six packnya. Tak ada bekas wanita lain. Aku tersenyum senang. Om Agas tidak mengkhianatiku.
Aku pun melakukan yang Om Agas ajarkan padaku tadi. Aku duduk di atas pangkuan Om Agas dan menghujani dengan ciuman panas.
Om Agas menyukai keagresifanku. Aku mencium lehernya dan dada bidangnya. Aku membuat tanda kepemilikan seperti yang banyak Ia buat di dadaku.
Om Agas milikku!
Biar yang menyentuh Om Agas tau, kalau Om Agas sudah ada yang punya.
"Wow...wow... kamu begitu agresif kali ini. Aku suka. Lakukan apapun yang kamu suka, aku siap menerima pelayanan dari kamu!"
Ya, aku harus agresif! Tak akan kubiarkan wanita lain di luar sana mengambil Om Agas. Kalau aku penuhi hasratnya di rumah, Om Agas tak akan bermain diluar sana.
__ADS_1
Aku pun mencumbu Om Agas bak seorang jal*ng yang kutonton di salah satu aplikasi yang menampilkan video plus-plus. Om Agas tersenyum. Aku tahu Ia menyukainya. Beberapa kali Ia mendesah sambil menyebut namaku. Namaku! Camkan itu!
"Tari... ah... Kamu... hebat!"
Kami pun melakukan pelepasan bersama. Ah... siang ini menjadi saksi pergulatan kami yang panas.
"Kamu makin hebat saja! Wah... aku tak menyangka kalau kamu bisa seliar itu diatas ranj*ng! Belajar dimana lagi?" Ia mengecup keningku dengan lembut lalu mencium bibirku singkat.
"Di aplikasi xxxxxxx dan xxxxxxx. Banyak yang mengirim video disana. Aku tonton dan aku berniat praktek langsung. Gimana? Om suka?" tanyaku sambil mendongakkan wajahku.
Om Agas belum bercukur hari ini. Bulu halus di wajahnya mulai tumbuh. Tampan sekali dia. Pantas banyak cewek-cewek yang menggoda imannya.
Tampan, baik hati, dan... he have a big gun hahahaha...
Aku mencium bulu halus di dagunya, saat Ia menunduk kembali kucium bibirnya.
"Nakal nih! Berani godain Om aja! Om suka banget, makanya hari ini Om libur kerja cuma buat kamu seorang!" Om Agas kembali menciumku.
Nyut... hatiku sedikit sakit mendengarnya. Tadi Ia mencium Mbak Tara. Lupakah Ia?
Sudahlah! Yang penting hari ini Om Agas milikku. Akan kubuat banyak tanda cinta ditubuhnya.
"Om mau lagi? Tari siap kok!" aku tantang balik.
"Wow!!! Kamu benar-benar sesuatu ya! Kita baru selesai bercinta loh! Kamu enggak capek?"
"Enggak apa-apa Tari capek yang penting Om enggak mencari kepuasan di luar sana! Tari pernah bilang kan sama Om sebelum kita menikah, Tari yang akan melayani Om. Jadi, Om tak perlu lagi ya bermain dengan cewek lain di luar sana!"
Om Agas tersenyum. "Tentu. Aku sudah memutuskan Cici. Hati-hati saja kamu kalau ketahuan Cici. Bisa jambak-jambakkan nanti ha..ha...ha..."
"Tari enggak takut, Om. Tari biasa dipukul sama Bapak. Ngadepin Mbak Cici mah kecil!" kataku dengan sombongnya. "Om tau apa yang membuat Tari takut?"
"Sombong banget kamu! Kalau dikeroyok teman-temannya Cici gimana? Yaudah apa yang bikin kamu takut?" tanya Om Agas sambil tersenyum.
"Kalau dikeroyok lapor polisi, Om. Tinggal visum kelar!" jawabku sambil menirukan ancaman Om Agas dulu sama Bapak. Om Agas tertawa mendengarnya. "Tari lebih takut kehilangan Om. Entah bagaimana hidup Tari tanpa Om Agas. Tari udah enggak punya siapa-siapa di dunia ini! Hanya Om Agas yang Tari punya!"
Kupeluk Om Agas makin erat. Lelaki yang kucintai ini tak akan kulepaskan. Tak akan kubiarkan siapapun merebutnya dariku.
__ADS_1
****