
Utari
Sambil memasak, Mbak Inah menemaniku. Ia ternyata sudah membersihkan sayuran selama aku pergi kursus tadi jadi aku hanya tinggal mengiris bawang dan cabe lalu menumisnya.
"Non Tari masak apa?" tanya Mbak Inah ingin tahu.
"Masak tumis kangkung pakai tauco. Resep dari almarhumah Ibu aku. Mbak Inah manggilnya jangan Non Tari ah. Aku malu. Sebelum menikah dengan Om Agas aku kan cuma gadis pengantar soto saja, Mbak." ujarku seraya menumis duo bawang sampai harum.
Mbak Inah mencuci kangkung yang sudah Ia siangi lalu memberikannya padaku. "Mbak Inah harus memanggil apa ya? Ibu Tari? Cocok tuh! Bapak Agas dan Ibu Tari."
Aku tersenyum. Kuambil kangkung yang Mbak Inah berikan lalu memasukkan dalam tumisan. Aku menuangkan tauco dan menambahkan saus tiram. Tak lupa ditambah sedikit air agar kangkungnya mudah layu.
"Kalau Ibu jadi ketuaan ya Mbak? Padahal aku masih muda loh! Apa ya yang cocok?" kubumbui tumisanku sampai terasa pas di lidah.
"Enggak ketuaan kok. Apa mau dipanggil Nyonya?" usul Mbak Inah.
"No! Jangan! Aku bukan Nyonya. Malu aku dipanggil itu! Yaudah manggil Mbak saja gimana?"
"Jadi sama dong kayak Mbak Inah? Masa manggilnya samaan? Udah Ibu aja ya."
"Neng aja kalau gitu. Lebih pas."
"Bagus itu. Neng Tari. Sesuai dengan wajahnya geulis. Cocok. Mbak Inah setuju!"
Aku tersenyum seraya menerima piring yang Mbak Inah berikan. Aku tak menuangkan semua kangkung ke dalam piring. Kuambil tupperware dan menuangkan untuk Mbak Inah di rumah. "Buat Mbak Inah."
"Loh kenapa jadi Mbak Inah yang dimasakkin Neng?" Mbak Inah membawa piring berisi tumis kangkung ke meja makan. "Seharusnya Mbak Inah yang masakkin."
"Aku masaknya banyak kok, Mbak. Tenang aja. Cukup untuk semuanya. Aku mau masak udang saos Padang. Udah dicuci kan Mbak udangnya?" tanyaku.
__ADS_1
"Udah dong! Pokoknya Neng Tari tinggal masak aja. Udah Mbak Inah cuci bersih dan taruh di wadah. Beres pokoknya!"
Aku tersenyum. Kembali aku mengiris bawang dan cabe rawit yang banyak. Tak lupa menambahkan bawang bombay untuk campurannya.
"Wah kayaknya bakalan enak banget nih Neng. Kok Neng Tari jago banget masak sih?" tanya Mbak Inah. "Kalo Mbak mah masakkin Om Agas yang Mbak tau. Menu warteg. Ya tumis buncis atau terong dipedesin. Ini Neng Tari menunya bervariasi."
Aku tersenyum sambil tetap melanjutkan acara memasakku. "Sebenarnya aku cuma bisa menelan ludah kalau lihat orang pesen menu ini di restoran tempat aku kerja. Aku sampai hafal cara membuatnya tapi enggak pernah nyobain."
"Loh bukannya Neng Tari kerjanya di warung soto?" tanya Mbak Inah.
"Itu kalau siang, Mbak. Kalau malam di seafood pinggir jalan. Bantu melayani dan mencuci piring juga. Malah aku kerja ambil cucian juga." ujarku seraya mengenang pekerjaanku sebelum menikah dengan Om Agas.
"Yang bener? Banyak banget kerjaannya. Gimana bagi waktunya Neng?"
Kumasukkan udang ke dalam tumisan yang telah kutuang saus pedas. "Aku cucinya habis sholat subuh. Aku setrika sepulang dari warung soto. Malamnya aku ke warung seafood. Kalau tak ada cucian aku kerja di warung dekat tempat tinggalku. Apa aja aku kerjain Mbak, selama halal."
Aku tersenyum. Kutuangkan masakanku yang sudah matang di atas piring yang Mbak Inah sudah ambilkan. "Karena hidup aku begitu kejam, Mbak. Kalau aku tak kerja, maka rumah Ibu akan dijual Bapak. Tapi ternyata ujung-ujungnya dijual juga sama Bapak. Sia-sia sebenarnya kerja kerasku selama ini. Tapi karena bekerja mengantar soto pula aku bisa kenal sama Om Agas dan jadi istrinya kayak sekarang."
"Terbuat dari apa sih Neng hati kamu? Baik, sabar, pantang menyerah. Mbak Inah doakan semoga rumah tangga Neng langgeng dan cepat diberi momongan. Aamiin!"
Kutaruh udang yang sudah matang di meja makan. Selesai sudah menu makan malam. Kuberikan lauk udang tersebut pada Mbak Inah. Biar sedikit yang penting bisa nyobain.
"Makasih banyak Neng. Mbak Inah pulang dulu. Piring kotor dan bekas masak udah Mbak Inah cuci."
"Iya, Mbak. Makasih!"
Aku lalu mandi dan sholat ashar. Berdandan rapi dan siap menyambut kepulangan suamiku.
Aku memotong pisang dan menggorengnya dengan tepung yang kutambahkan mentega cair dan garam. Cemilan untuk Om Agas pulang. Cangkir berisi teh celup dan gula sudah aku siapkan tinggal menuang air panas lalu beres.
__ADS_1
Aku memutuskan duduk di teras depan. Membawa Hp milikku dan membaca pesan dari group chat tempat kursusku.
Aku tersenyum. Baru kali ini aku punya group chat. Selama ini aku suka iri melihat teman-temanku bilang, "Lo liat gak yang di share di gc?"
Aku mana punya? Hp jadulku tak bisa memiliki aplikasi. Tiap terima telepon saja kadang suka mati karena baterainya sudah melendung.
Aku melihat jam di Hp-ku. Sudah hampir jam 6 sore. Om Agas belum pulang juga. Timbul kecemasan dalam diriku. Apa Om Agas tak pulang hari ini? Apa Om Agas masih suka dengan kebiasaan buruknya sebelum menikah?
"Wow! Lagi ngapain di teras rumah? Nunggu suaminya pulang kerja? Situ istri apa satpam?" sindir Tara yang sengaja mendekati rumah Om Agas agar bisa menyindirku.
Aku tak membalasnya. Biarkan saja dia kesal sendiri!
"Laki tuh kalau dikekang kayak gitu, malah bisa pergi. Laki tuh suka sesuatu yang bebas. Macam Agas yang suka dengan dunia malam yang penuh dengan senang-senang." sindirnya.
Apa yang Mbak Tara bilang tak sepenuhnya salah. Memang Om Agas begitu adanya. Papa mertuaku juga bilang kayak gitu kok. Justru itu tugas terberatku sebagai istrinya. Meluruskan hidup Om Agas yang berantakan karena ulah Mbak Tara.
"Coba saja hubungi! Pasti suami kamu itu lagi siap-siap mau bersenang-senang! Jangan nangis saja kalau ada cewek cantik yang dia ajak ke rumah. Kamu mah enggak ada apa-apanya dibanding cewek cantik itu. Permainannya di ranjang pasti hot! Kamu mana ngerti kayak gituan!" Mbak Tara menertawakanku.
Saatnya membalas. Kalau diam saja dipikirnya aku takut. Lihat saja pembalasanku ini!
"Mbak Tara sendiri lagi ngapain? Nungguin suaminya pulang juga? Hati-hati Mbak, suami tuh jangan terlalu dikekang nanti bisa pergi nyari yang lain. Kalau aku sih disini bukan nungguin Om Agas saja. Aku lagi baca chat dari gc. Kalau Om Agas pulang ya syukur, kalau mau lembur juga tak masalah. Toh uangnya buat membahagiakan aku juga! Dan masalah Om Agas membawa cewek lain, aku rasa Om Agas masih punya hati nurani. Ia tahu kalau sekarang Ia menikah. Seseorang yang sudah menikah tak baik membawa lawan jenis ke rumahnya, kayak yang dulu Mbak Tara lakukan. Itu enggak baik, Mbak. Jangan diulangi ya di pernikahannya kali ini!" tajam, setajam silet. Belum tau saja kalau hidupku membuat lidahku lebih tajam kalau aku mau.
"Kamu! Jangan kurang ajar ya! Jangan bangga kamu! Agas tuh masih mencintaiku! Sampai kapanpun Agas tak akan pernah mencintai cewek kampung kayak kamu! Jangan bermimpi!" ujarnya dengan wajah merah merona menahan amarah.
"Oh ya?" kutunjukkan leherku yang ada bekas kissmark yang Om Agas lakukan semalam dan tadi pagi. "Ini tuh namanya tanda cinta, Mbak. Aku cukup sepadan untuk bisa dikasih tanda cinta sama Om Agas. Makanya aku mendapatkan ini." kuusap perutku dengan penuh cinta. "Semoga benih yang ada di rahimku bisa berkembang. Agar aku punya Agas junior di dalam kandunganku."
Mbak Tara mengepalkan tangannya dengan kesal. Aku tahu aku malah membuat perang diantara kami semakin memanas. Tak apa. Asal dia berhenti mengganggu keluarga baruku aku siap!
****
__ADS_1