Duda Nackal

Duda Nackal
Pertengkaran-2


__ADS_3

"Oh jadi Om selama ini ngumpetin dari Tari agar Tari enggak tau gitu?" balasnya lagi.


"Yang bilang aku ngumpetin siapa? Aku kan bilang 'kalau'. Artinya aku enggak kayak gitu! Kenapa kamu jadi sensitif kayak gini?!"


"Ya Om lama jemputnya. Masa sih ngobrol sampai selama itu? Melihat kedekatan kalian selama ini, wajar dong kalau Tari curiga?!" dia masih membalas omonganku rupanya.


"Lalu kenapa kalau kami sempat dekat? Toh sekarang sudah enggak lagi! Kamu kenapa malah makin mencurigaiku? Kamu enggak percaya sama aku? Enggak percaya sama kejujuran aku? Enggak pernah loh aku sejujur ini sama seseorang!" omelku panjang lebar. "Kamu sendiri ngapain ketawa-ketiwi sama cowok lain? Di depan banyak orang lagi!"


"Justru di depan banyak orang, akan banyak saksi yang melihat kalau Tari enggak ngapa-ngapain. Kalau Om kan enggak ada yang lihat?! Pasti ngomongnya di ruangan Om kan?"


"Ya memang di ruanganku! Mau dimana lagi? Di hotel?" ketusku.


"Ya terserah kalau mau bawa Mbak Cici ke hotel!" Tari kembali terisak.


"Yang bilang aku mau bawa Cici ke hotel itu siapa? Dengerin baik-baik dong perkataanku! Jangan semudah itu mengambil kesimpulan!"


"Maklum saja, Tari kan kurang berpendidikan. Jadi wajar kalau Tari suka salah mengambil kesimpulan!" masih Ia balas perkataanku rupanya.


"Kamu ya, bikin aku emosi aja!" kataku seraya menahan emosiku.


"Iyalah. Kalau Mbak Cici baru bisa membuat Om bahagia!"


"Kenapa terus bawa nama Cici sih? Aku sama Cici enggak ada hubungan apa-apa!"


"Cih! Lupa kalau selama ini ada hubungan sedot menyedot?!" cibirnya.


"Hah? Ih nyebelin banget kamu! Ada apa sih? Sensitif banget! Kamu laper? Makan dulu. Jangan malah marah-marah enggak jelas begini!" cerocosku.


"Siapa bilang Tari lapar? Enggak tuh! Om enggak tau berapa lama Tari nunggu di depan? Kalau tau Om akan bersenang-senang dulu, lebih baik tadi Tari bawa motor sendiri ke tempat kursus!"


"Kenapa jadi balik lagi ke bersenang-senang?! Memang ya perempuan kalau marah masih suka mengungkit masalah yang udah kelar!"


"Udah kelar apa? Kalau udah kelar juga enggak akan diungkit." gerutunya.


Huft... Sabar Gas... Sabar....

__ADS_1


Sebelumnya Tari kalau marah hanya diam, itu sudah membuatku pusing setengah mati eh kini beda lagi marahnya. Marah-marah terus sepanjang jalan. Huft...


Ini dari tadi ngambek, nuduh dan sensitif. "Lagi datang bulan, Neng? Sensitif bener!" kataku sambil menempelkan kartu e-money ke pintu toll.


"Enggak tuh! Memangnya marah dan curiga bagi perempuan cuma boleh kalau datang bulan saja?!"


"Biasanya sih begitu!" balasku lagi.


Ia tak lagi membalasku. Diam dan malah membuang pandangannya ke jendela. Aku merasa ini saatnya aku harus memperbaiki keaadan. Meski aku juga kesal karena melihatnya mengobrol dengan guru kursusnya namun kurasa Ia lebih salah paham lagi tentangku dan Cici.


"Cici tadi mau mengajukan surat pengunduran diri padaku. Dia bilang, mau pulang kampung saja dan tak mau melanjutkan kuliahnya lagi. Aku sejak tadi hanya membujuknya agar Ia mengurungkan niatnya. Aku meminta Cici meneruskan bekerja sambil kuliah karena kasihan kedua orang tuanya sudah banyak berharap padanya namun karena hatinya sakit karena kutinggalkan Ia jadi meninggalkan mimpinya. Aku tak mau jadi orang kejam seperti itu."


Aku melirik dari kaca spion dan kini Tari melihat ke arahku.


"Udah salah paham kan? Makanya jangan terlalu sensitif jadi orang! Jangan terlalu kebawa emosi. Kalau aku mau macem-macem dengan Cici, sudah sejak lama aku melakukannya."


Kulirik dia yang kini sedang menunduk malu. "Maafin Tari, Om! Tari terlalu mudah menyimpulkan sesuatu."


"Jujur aja, kamu tuh kenapa sih sensitif sekali? Mudah banget emosian. Padahal aku yang seharusnya emosi. Aku ngeliat kamu ngobrol berduaan sama guru kamu, ketawa-ketiwi dengan santainya. Padahal aku melihat dari jauh dan aku enggak suka. Eh kamu malah balik ngomel sama aku!"


"Maaf, Om. Tari sama Pak Adi enggak ada hubungan apa-apa kok. Beneran deh! Pak Adi tadi nawarin Tari buat ikut ke pembukaan cafe. Biar Tari banyak ilmu dan pengalaman. Pak Adi bahkan menawarkan diri untuk menjemput Tari, tapi Tari tolak. Tari bilang kalau enggak sama Om, Tari enggak mau. Mama kan pernah bilang, Tari harus bisa menjaga nama baik Om. Karena itu Tari menolaknya." Air matanya sudah mengering sekarang. Mungkin Ia bahagia saat tahu aku memang tak ada apa-apa dengan Cici.


"Om cemburu lagi?" tanya Tari sambil menahan senyumnya.


"Cemburu? Lagi? Enggak tuh!" sejak kapan aku jadi cemburuan? Enggak. Tari pasti salah duga!


"Waktu itu Om cemburu dan sekarang Om juga cemburu sama aku."


"Ish.... Jangan kegeeran kamu! Kamu tuh yang cemburu sama Cici!" balasku.


"Iya. Memang benar kok Tari cemburu. Tari mah ngaku, Om. Coba Om Agas berani ngaku enggak?" tantangnya.


"Kenapa aku harus ngaku?" kataku menahan gengsi.


"Yah Om Agas pengecut ah, enggak berani mengakui kalau Om Agas cemburu. Yaudah Tari perginya sama Pak Adi aja kalau begitu."

__ADS_1


Aku menepikan mobilku di sebelah kiri dengan emosi. "Maksud kamu apa mau pergi sama cowok itu? Kamu enggak mau nurut perkataanku?" tanyaku dengan penuh emosi.


"Loh enggak apa-apa kan? Toh Om enggak cemburu?!" balasnya tanpa takut.


"Lantas kalau aku enggak cemburu, kamu bisa seenaknya gitu pergi sama cowok lain? Hey, dosa inget itu!"


"Memangnya Tari ngapain, Om? Tari perginya juga enggak berdua doang kok. Ada yang lain mau ikut juga!" jawabnya dengan santai.


"Enggak! Pokoknya enggak boleh pergi!"


"Kenapa? Kami enggak pergi berdua. Apa alasan Om lagi?" anak ini memang benar-benar mengaduk emosiku.


Aku membuang nafas dengan kesal. "Iya. Aku cemburu! Puas? Pokoknya aku enggak mau kamu pergi sama cowok itu! Kalau kamu nekat, aku akan pindahkan kursus kamu! Kalau perlu kita pindah rumah sekalian!" kataku dengan semangat penuh.


"Nah gitu dong! Kalau dari awal ngaku kan enggak usah Tari pancing-pancing segala emosinya!" jawabnya sambil tersenyum.


Ya, anak ini tersenyum setelah berhasil mengobrak abrik perasaanku. Kesal, marah, cemburu dan sebal setengah mati.


Aku mengemudikan lagi mobilku dengan hati kesal. Sementara sebelahku senyum-senyum bahagia.


"Kita mau kemana sih Om?" tanyanya seakan baru menyadari kalau sejak tadi kami bukan ke arah rumah.


Aku tak menjawabnya. Aku masih kesal dengannya. Sudah berani menjawabku eh memancing emosiku segala lagi!


"Om! Ih Tari nanya juga." katanya seraya mencubit pelan lenganku.


Aku mengacuhkannya. Kesal. Masih sempat-sempatnya mengancamku mau pergi bareng sama guru kursusnya lagi!


"Om... Ih pundungan jadi orang! Tadi waktu Tari marah, Om biasa aja!"


Masih aku acuhkan. Aku benarkan posisi sunglass yang kupakai namun tetap fokus mengemudi.


"Om ganteng!" godanya.


"Suit....suit.... Tari punya kue nih! Tadi buat kue kering. Om mau?" Ia mengeluarkan kotak plastik dari tasnya dan mengambil sepotong kue lalu menyuapiku. "Aaa...."

__ADS_1


Bak anak kecil yang nurut aku pun membuka mulutku dan memakan kue buatannya yang memang selalu enak. "Nah gitu dong! Baru namanya Om pintar! Makasih ya Om udah cemburu sama Tari." Lalu Ia memajukan tubuhnya dan mengecup pipiku. Mana bisa marah lagi coba aku kalau dia begini?


****


__ADS_2