
"Istri?" Cici sangat terkejut mendengar aku mengatakan status Tari yang sebenarnya. "Om pasti bohong! Jangan Om kira kalau semudah itu Cici akan mempercayai apa yang Om katakan ya!"
Meski tidak terlihat dengan jelas, tapi aku tahu kalau Cici amat marah saat ini. Dipikirnya aku sedang berbohong hanya agar dia menjauhiku.
"Terserah kalau kamu tidak percaya. Aku enggak rugi sama sekali. Yang jelas, aku udah kasih tau yang sebenarnya!" kataku acuh.
"Enggak mungkin, Om! Selama ini Om saja tidak dekat dengan Tari, Om lebih dekat dengan Cici! Bagaimana mungkin Om malah lebih memilih untuk menikahi Tari dibanding Cici? Om lupa dengan kedekatan kita selama ini? Om lupa siapa yang selalu menemani Om disaat kesepian? Siapa yang paling tahu apa yang Om butuhkan kalau bukan Cici?" kini Cici sudah berlinang air mata.
"Lalu kenapa? Aku kan sudah bilang berkali-kali sama kamu. Antara kita berdua hanya hubungan simbiosis mutualisme. Enggak lebih. Kamu yang menawarkan diri padaku. Sekarang kamu mengaku-ngaku kalau kita lebih dekat? Sadarlah, kita enggak sedekat itu!" perkataanku semakin pedas saja.
Tari menggoyangkan lenganku, aku tahu itu adalah simbol darinya kalau aku sudah terlalu kejam pada Cici.
"Om jahat!" Cici lalu pergi sambil berlari meninggalkan tempat kami.
"Gila, Duda Nackal kalau udah nolak cewek kejam bener! Gimana enggak makin dikejar-kejar lo sama mereka? Lo bikin mereka terpesona dan akhirnya ditolak. Tambah penasaran lah mereka!" komentar Bastian.
"Masalahnya gue udah bilang baik-baik sama dia kalau gue mau mengakhiri hubungan simbiosis mutualisme di antara kita namun dia tetap aja deketin gue! Ya kalau gue enggak tegas, dia akan terus berharap!" jawabku. Kuambil minumanku lalu menenggaknya sampai habis.
"Pasti tuh anak nangis kejer!" sahut Riko.
"Dan kita enggak jadi dapet temen buat gabung disini." tambah Sony.
"Udah ah, gue cabut dulu! Sorry ya Bas, gue malah merusak acara lo! Nanti lo ajak cewek lo ke rumah gue! Gue bakalan sambut lo dengan baik menggantikan sambutan gue hari ini!" kataku pada Bastian.
"Tenang aja, Bro. Nanti gue dateng!"
Aku menggandeng tangan Tari dan berjalan keluar dari diskotek. Aku melihat saat Cici sedang minum banyak alkohol dan ada seorang cowok yang mendekatinya.
Aku mengeluarkan Hp-ku saat berada di luar dan menelepon Sony.
"Son, Cici ada yang ngincer tuh! Gue titip tuh anak! Awas kalau diapa-apain sama tuh cowok!" kataku pada Sony yang mengiyakan permintaanku.
Tari yang sejak tadi diam, setelah berada di dalam mobil pun akhirnya bersuara. "Om kenapa sangat perhatian pada Mbak Cici? Apakah sebenarnya di dalam hati Om sudah ada nama Mbak Cici?"
__ADS_1
"Jangan salah paham. Aku memang bukan laki-laki baik. Tapi aku tak suka dengan cowok yang tadi mendekati Cici. Dia akan memanfaatkan Cici demi kepuasan napsunya semata. Cici anak baik, aku saja tak tega merusaknya. Jangan sampai ada orang lain yang merusaknya selain suaminya nanti. Bukan karena aku mencintainya, hanya sisi manusiawiku saja yang tak bisa melihat hal seperti itu!" jawabku sambil fokus mengemudi.
Tari mengulurkan tangannya dan mengusap lembut wajahku. "Om memang baik. Om salah kalau menyebut diri Om bukan laki-laki baik. Om hanya melakukan hal yang nackal bersama orang yang nackal saja. Buktinya sama Mbak Cici saja Om masih menjaganya padahal Tari yakin Mbak Cici pernah menawarkan hal yang lebih pada Om."
"Kamu benar. Cici memang sering menawarkanku untuk menidurinya namun aku selalu menolak." jawabku jujur.
Kini tangan Tari turun ke dadaku. "Artinya di dalam diri ini masih ada Om Agas yang baik."
Tari lalu merangkul lenganku dan menyenderkan kepalanya dengan manja. "Tari jadi ingin tahu sebaik apa Om Agas sebelum dihancurkan oleh Mbak Tara dulu? Karena sekarang saja Om jadi orang yang baik, apalagi dulu? Mungkin Tari harus lebih mengenal Om lebih jauh lagi."
Aku tersenyum. Anak ini bisa meredam emosiku dengan cepat. Ibaratnya, aku ini api dan dia adalah air.
"Kamu enggak cemburu?" tanyaku.
"Aku punya banyak stok cemburu untuk Om. Kalau kita pergi kemanapun, Om selalu menarik perhatian para gadis. Mbak Tara pun masih mencari perhatian pada Om. Apalagi saat kita masuk ke tempat tadi, Om bagai superstar yang memiliki banyak fans. Kalau semua stok cemburu yang aku punya aku keluarkan, bisa gila kali aku, Om. Bisa-bisa Om aku kerangkeng dan aku ikat di rumah. Enggak boleh pergi kemanapun!"
"Masa sih? Segitu cemburunya?" tanyaku tak percaya. Tari terlihat biasa saja tidak terlalu cemburuan seperti Cici.
"Iya. Tari sadar, Om itu seperti ombak di laut. Semakin dikejar maka semakin hilang di lautan lepas, namun kalau aku mengunggunya di tepi pantai maka suatu saat Om akan kembali."
"Kalau kamu pikir aku seperti ombak, kamu salah. Aku tuh seperti buaya. Banyak yang menggambarkan lelaki brengsek mirip dengan buaya. Namun, buaya itu sebenarnya adalah makhluk yang paling setia dengan pasangannya."
"Pasangan Om adalah aku kan? Kalau begitu aku setuju kalau Om mirip buaya!" jawabnya sambil tersenyum.
"Oh udah berani ngatain aku nih sekarang? Hah? Belum pernah aku ajak senang-senang di dalam mobil ya?" sebuah ide tiba-tiba terlintas di benakku.
"Jangan ngaco deh, Om!"
Aku tersenyum. "Aku enggak ngaco! Aku agak gila ha...ha...ha..."
"Ih Om mau ngapain? Ayo punya rencana apa?"
Aku tersenyum dan melajukan mobilku ke tempat yang kutahu bisa menjadi tempat menakjubkan.
__ADS_1
Aku memberhentikan mobilku di salah satu showroom milikku. Showroom ini adalah showroom pertama yang aku miliki sebelum bisa membangun beberapa showroom lagi.
"Ngapain kita ke showroom? Ada berkas yang ketinggalan lagi, Om?"
"Udah ikut aja!" karena Showroom ini ukurannya jauh lebih kecil, hanya ada seorang security yang berjaga di luar.
Kedatanganku disambut dengan security dengan hormat. Aku bilang kalau aku ada pekerjaan di dalam dan bilang padanya untuk tidak perlu menungguku.
Aku membuka rolling dorr dan kembali menutupnya setelah Tari masuk. Dengan patuh Ia mengikuti langkahku dalam diam.
Aku pergi ke kantorku dan mematikan seluruh CCTV yang ada. Keadaan aman lalu aku menarik tangan Tari.
"Mau apa, Om?"
Aku tersenyum. "Mau bersenang-senang di dalam mobil! Kamu pilih mau mobil yang mana!"
"Om serius? Disini?" Tari tak percaya dengan ide gilaku.
"Kenapa? Security enggak akan bisa masuk karena aku sudah mengunci pintunya. CCTV juga sudah aku matikan. Kamu tinggal pilih, mau aku ajak bersenang-senang di mobil yang mana!"
"Tapi Om?"
"Dosa loh menolak ajakan suami!" sindirku.
"Iya... Iya... " Tari mulai memilih mobil yang ada di dalam showroom milikku.
"Ayo pilih kamu mau yang mana!"
Tari seperti sedang berpikir. Aku tahu apa yang Ia pikirkan, pasti takut mobilnya jadi rusak karena apa yang akan kami lakukan.
"Yang ini saja!" sebuah sedan yang paling sederhana diantara yang lain. Ternyata benar yang aku pikirkan, Ia tak mau mobil yang lebih mahal rusak. Ia selalu memikirkan tentangku.
"Oke!" aku membuka pintu mobil dan duduk di bangku belakang. "Ayo, kamu harus menyenangkan Om malam ini!"
__ADS_1
****
Kalian juga ya harus menyenangkan Om Agas si Buaya dengan Vote kalian oke? 🥰🥰