
Agas
Tari sedang menyibukkan dirinya di dapur. Membantu chef menyiapkan stok makanan untuk minggu besok. Ia sedang meminum susu hamil miliknya sambil sesekali memegang pinggangnya yang terasa pegal. Kasihan, Ia pasti lelah seharian ini.
"Ada yang bisa kubantu nggak? Kamu kayaknya capek banget. Istirahatlah di kamar!" perintahku.
"Kamu udah pulang? Gimana hasilnya?" tanya Tari.
"Kita bicarakan di kamar aja. Ayo kita ke atas." aku tak mau karyawan Tari tahu lebih banyak masalah yang kami alami. Dari cara Tari menutup cafe tadi sudah jelas kalau mereka pasti sedang menduga-duga apa yang sudah terjadi dengan rumah tangga kami.
Tari pun pergi ke ke kamar miliknya. Aku mengikuti dari belakang dan sesampainya dalam kamar aku langsung memeluk dirinya dengan erat. Tak disangka, Tari malah melepaskan pelukanku.
Aku jadi teringat dengan mimpiku yang sempat menghantuiku beberapa waktu kemarin. Mimpi kalau Tari memotong rambut, mimpi kalau tari pergi dan terbangun dengan peluh bercucuran.
Ternyata arti dari mimpi tersebut adalah sebuah masalah berat akan menimpa rumah tangga kami. Tepat disaat kami seharusnya berbahagia karena kami akan menyambut anak pertama kami.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Tari tanpa basa-basi sama sekali. Wajahnya terlihat begitu tegang dan berusaha menutupi segala kemarahan dalam dirinya.
"Usia kehamilannya sudah 20 Minggu. Sudah pasti bukan anakku kan?" kataku sambil tersenyum puas.
__ADS_1
"Kata siapa? Bisa saja kan perhitungan dokter itu saat terakhir kali dia selesai menstruasi? Segalanya masih ada kemungkinan kalau itu adalah anak kamu." senyum di wajahku menghilang. Aku terdiam mendengarnya.
Kemana Tari yang kemarin meyakinkanku kalau dia percaya anak itu bukan anakku? Kenapa kini Ia terlihat meragu?
"Jangan bilang kalau kamu mempercayai perkataan Vira?" tanyaku.
"Kalau saja Abi hidupnya benar dan tidak sembarangan meniduri anak gadis orang lain, aku akan dengan lantang berkata kalau aku yakin itu bukan anak Abi. Tapi, melihat masa lalu Abi dan banyaknya perempuan yang ada di sekitar Abi, perlahan-lahan rasa percaya dalam diriku mulai menghilang. Apalagi, usia kandungannya masih memungkinkan kalau itu adalah memang benar anak Abi. Bagaimana kalau nanti saat tes DNA terbukti kalau anak itu memang anak Abi? Artinya, anak Vira dan anak dalam kandunganku adalah adik-kakak. Abi pernah mikirin bagaimana perasaan aku enggak? Anak dari musuhku adalah saudara dari anakku sendiri. Semakin aku berpikir, semakin aku merasa masalah ini begitu berat!"
"Tadi Vira bahkan berusaha untuk mematikan usaha cafe ini. Untung aku sudah menduganya kalau tidak rumor tentang cafe ini membuatnya keracunan sudah menyebar luas. Ini baru fitnah, belum orangtuanya yang turun tangan Bi. Bagaimana kalau seandainya memang Abi benar ayah dalam kandungan Vira dan orangtuanya menuntut lalu menjebloskan Abi ke dalam penjara? Apa Abi pernah berpikir panjang akan semua itu?" Tari mulai terisak dan aku mulai tersulut emosinya.
"Aku bukan ayah anak itu! Aku yakin dengan diriku sendiri. Aku minta maaf atas segala masalah atas masa laluku yang sangat buruk. Andai aku bisa merubah waktu aku akan kembali ke masa lalu dan tidak akan menjadi sosok laki-laki nakal seperti itu lagi. Andai aku bisa memutar waktu, aku akan mencari kamu karena aku tahu kamu yang akan merubah hidupku menjadi lebih baik lagi. Tapi aku minta sama kamu tolong percaya sama aku. Aku bukan ayah anak itu! Aku mohon... hanya kamu yang aku cintai saat ini. Percaya padaku!" tanpa aku sadari aku berbicara dengan menaikkan nada suaraku.
Aku menangis sesegukan, meneteskan air mata yang sejak tadi kutahan. "Maafkan aku... Maaf aku berbicara keras dengan kamu seperti tadi." aku mendekati Tari dan hendak memeluknya namun Ia kembali menghempaskan tanganku. Tak mau aku sentuh sama sekali.
Jegerrrr.....
Tari meminta cerai?
"Enggak! Aku enggak mau! Jangan pernah ya kamu ucapkan kata-kata itu lagi! Aku... Sampai kapanpun aku enggak akan menceraikan kamu! Jangan pernah kamu berpikir aku mau menggantikan kamu dengan Vira! Enggak akan pernah!" kataku dengan tegas.
__ADS_1
"Aku! Aku yang tak mau berbagi suami dengan Vira! Biar aku yang mengalah! Biar aku yang pergi! Biar aku mengalah demi kebahagiaan kalian! Huaa.... " Tari duduk lemas di atas kasur sambil menangis.
Aku memeluknya, meski Ia meronta dan selalu menghempaskan pelukanku aku tak peduli. Aku tetap ingin memeluknya. Aku juga ikut menangis bersamanya.
"Aku enggak akan meninggalkan wanita yang aku cintai hanya demi ular seperti Vira. Aku minta sama kamu, tolong... tolong jangan memintaku untuk menceraikan kamu tolong.... Aku tak akan melakukannya! Aku tak mau kehilangan kamu! Tolong...." pintaku sambil terisak. "Tolong.... jangan lakukan itu!"
Tari yang sejak tadi menangis sambil memukul-mukul dadaku kini tak lagi memukul dadaku. Ia malah membenamkan kepalanya dan menangis di pelukanku.
Aku memeluk dengan erat wanita yang ingin pergi dari sisiku ini. Aku tak mau kehilangannya. Ia terlalu berharga untuk kulepaskan dan aku tak yakin apa aku masih bisa menghabiskan sisa hidupku tanpa wanita ini lagi.
"Kita hadapi ini semua bersama-sama ya... Aku nggak mau keadaan ini malah membuat kita menjadi terpisah, jadi terpecah-belah dan malah ingin meninggalkan satu sama lain. Aku nggak mau kehilangan kamu, kita mau menyambut anak kita. Kamu ingin dipanggil Mommy dan aku ingin mendengar anakku memanggilku Abi. Jadi, kita harus berjuang demi kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga kita." kataku seraya membelai lembut rambutnya.
"Aku nggak tahu apa aku akan sanggup menghadapi semua ini atau tidak. Aku nggak sekuat itu kalau berhadapan dengan Vira. Aku sudah menghadapinya sejak dulu dan aku kalah. Kali ini, apa lagi yang mau Ia renggut dalam hidupku? Daripada aku kehilangan semuanya, lebih baik aku mengalah."
"Sst! Jangan mengatakan kalau kamu akan kehilangan semuanya. Kamu nggak akan kehilangan apapun. Percaya sama aku. Aku nggak akan biarin kamu kehilangan semua yang kamu miliki saat ini, karena apa yang kamu miliki adalah apa yang aku miliki juga. Kamu tuh terlalu berharga dan aku nggak mau melepaskan kamu hanya demi wanita sialan itu!" kataku dengan penuh emosi.
Aku melepaskan pelukanku terhadap Tari dan mengangkat wajahnya agar kami bisa saling menatap mata satu sama lain. "Kamu bisa lihat kan dari sorot mataku yang penuh dengan keyakinan ini. Jangan pernah kamu tinggalkan aku. Mau ke ujung dunia pun aku akan mengejar cinta kamu. Jadi, aku minta kamu bersabar dan terus mendoakan aku. Aku percaya, doa kamu bahkan lebih sakti dari apapun juga. Karena Allah yang langsung mengijabahnya!"
"Tiada daya dan upaya selain meminta kepada Sang Pencipta. Kamu yang mengajarkan padaku tentang kepercayaan kamu pada Allah. Bagaimana Allah begitu menyayangi kamu dan mengabulkan setiap doa yang kamu panjatkan. Aku juga percaya sama Allah, aku yakin Allah akan mengabulkan doaku juga. Kita saling menguatkan, kita saling mendukung dan kita berusaha bersama-sama. Aku, kamu dan calon anak kita. Kita nggak akan terpisahkan. Mau ada seribu orang seperti Vira sekalipun di dunia ini, takkan bisa memisahkan kita."
__ADS_1
Aku menghapus air matanya dan mengecup keningnya. Seraya dalam hati berdoa, agar wanita cantik ini tak menyerah dengan keadaan meski luka lama terus membayanginya.
***