Duda Nackal

Duda Nackal
Mencari Nama Anak


__ADS_3

Akhirnya Tari dipindahkan ke kamar perawatan. Mungkin karena lelah Ia akhirnya jatuh tertidur pulas. Bayi kami belum dibawa keruangan mungkin karena masih harus diperiksa segala macem aku nggak tahu.


Mbak Inah tadi izin pulang karena anaknya sudah menunggu di rumah. Aku ijinkan Ia pulang karena sudah selesai mendampingi sampai Tari melahirkan. Tak lupa, aku memesankan taksi untuknya pulang.


Kalau tak ada Mbak Inah, entah bagaimana nasib kami berdua. Tari yang panik dan asal menjambak rambutku sementara aku juga harus fokus mengemudikan mobil. Pasti suasana di dalam mobil akan lebih heboh lagi dibanding tadi.


Aku menatap Tari yang tidur dengan pulasnya. Wajahnya terlihat sangat lelah dan masih agak pucat. Keadaannya baik-baik saja hanya perlu istirahat, kata dokter seperti itu tadi.


Aku juga sebenarnya lelah. Sejak tadi teriak-teriak rasanya tenggorokanku kering dan suaraku serak. Aku sampai menghabiskan air minum untuk mengembalikan suaraku lagi, namun tidak berhasil.


Iyalah aku serak, sudah berapa kali aku dijambak dengan sekuat tenaga oleh Tari. Ini kepalaku rasanya seperti ada benjolan-benjolan kecil. Rasanya sakit. Namun tak apa. Ini semua tak sebanding dengan pengorbanan Tari hari ini yang rela mengorbankan nyawanya demi melahirkan anakku.


Masih terbayang dalam pikiranku, bagaimana proses melahirkan tadi. Usaha keras dan gigih yang dilakukan Tari untuk mengeluarkan anak dalam kandunganku. Belum lagi banyak darah yang dikeluarkan juga. Itu yang membuatku ingin nangis rasanya.


Begitu besar pengorbanan seorang ibu dalam melahirkan anaknya. Pantas saja Mama suka marah kalau aku nackal. Pengorbanannya saat melahirkanku sedemikian besar. Oh iya aku belum ngabarin Mama! Aku lupa!


Aku pun mengambil Hp milikku dan menelepon Mama. Setelah beberapa kali menghubungi, akhirnya diangkat juga teleponku oleh Mama.


"Assalamualaikum!" jawab Mama di ujung telepon sana.


"Waalaikumsalam, Ma. Ini Agas."


"Iya. Mama tau. Ada tulisan nama kamu disini. Kenapa?" seperti biasa, kalau denganku kadang Mama suka judes ngomongnya. Gimana aku enggak terlahir judes juga coba? Mama judes dan Papa pedas kalau ngomong. Huh...


"Agas mau ngabarin kalau Tari udah ngelahirin anak Agas, Ma." kataku dengan penuh semangat.


"Hah? Tari udah ngelahirin? Kenapa baru kasih tau Mama sekarang? Kenapa enggak pas dia mules tadi! Tau gitu Mama tadi langsung kesana!"


Glek... Salah lagi aku... Kenapa dua wanita ini suka sekali mengomeliku sih?


"Tadi panik, Ma. Tari jerit-jerit sampai jambak rambut Agas terus! Mana kepikiran telepon Mama. Agas aja harus menyelamatkan diri!" curhatku.


"Ha... ha...ha... Syukurin! Makanya jadi laki-laki jangan maunya enak sendiri. Eh iya sampai lupa, cucu Mama laki-laki atau perempuan?"


Sabar Gas... Sabar....

__ADS_1


"Laki-laki. Di rumah sakit Kesehatan Keluarga Itu Penting ya Ma. Ini yang RSIA bukan yang rumah sakit umum tempat Agas dirawat dulu." kataku memberitahu.


"Iya. Nanti kamu share lock aja. Mama mau bilang Papa dan langsung terbang kesana. Jangan ditinggalin Tari ya! Temenin terus! Awas kamu ninggalin dia sendirian!"


"Memangnya aku mau kemana sih Ma? Yaudah Agas tutup dulu ya Ma. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


Ternyata Tari terbangun mendengar percakapanku dengan Mama. Padahal aku sudah berbicara di dekat jendela agar tidak mengganggunya. Mungkin karena kalau bicara dengan Mama aku harus banyak menahan sabar.


"Kamu udah bangun, Sayang?" aku menghampiri Tari dan mengecup keningnya dengan lembut.


"Haus, Bi!"


"Iya. Abi ambilin dulu." aku menaruh sedotan dalam gelas dan memberikan air putih pada Tari. Kubantu Ia duduk dan memberikannya minum. "Mau makan sekarang?"


Tari mengangguk. "Iya. Aku lapar."


Aku tersenyum. "Abi suapin ya?" aku ambilkan makanan dalam nampan yang sudah disediakan dan menyuapinya dengan sabar.


"Masih di perawatnya. Udah tenang aja. Aku udah nanya kok, katanya enggak ada masalah. Biar kamu istirahat dulu makanya mereka yang jagain."


"Oh... Aku mau liat lagi. Tadi pas lahir ganteng banget kayak Abi." puji Tari sambil memakan makanan yang kusuapi dengan lahap. Lapar sekali dia habis berjuang antara hidup dan mati sambil menjambak rambutku.


"Tentu saja dong! Abi tuh paling berperan dalam proses pembuatannya. Abi yang nentuin mau gaya apa. Mau posisi gimana dan segala macemnya. Makanya wajahnya mirip Abi. " kataku dengan bangganya.


"Ish! Asal centilnya jangan kayak Abi aja!" protes Tari.


"Kalau itu Abi setuju. Cukup Abi aja yang centil di keluarga kita. Jangan nambah stok lagi!"


"Padahal aku pernah bermimpi kalau anak kita perempuan loh, Bi."


"Oh ya? Kapan? Kok kamu enggak pernah cerita sih sama Abi?" kuambilkan Tari minum dan kembali menyuapinya.


"Waktu Tari nginep di cafe. Tari mimpi anak kita datang dan bilang kalau Ia datang bersama Umi, yang bikin Tari menangis Umi yang dipanggil oleh anak kita adalah... Vira." Tari masih sedih kalau mengingat mimpi buruknya tersebut.

__ADS_1


"Itu hanya mimpi. Nyatanya mimpi kamu tidak terbukti kan? Masalah kita dengan Vira selesai dengan damai dan menguntungkan. Anak kita juga laki-laki. Tampan lagi kayak Abi. Mommy lupain ya mimpi buruknya. Jangan malah kepikiran terus." akhirnya aku selesai menyuapi Tari. Habis satu piring full.


"Iya. Tari juga enggak mau mengingat mimpi itu lagi. Oh iya, Abi udah kasih anak kita nama belum?"


Nama? Ya ampun... Aku belum kepikiran. Bisa ngambek nih Tari kalau tau aku belum nyari nama yang bagus buat anak kami.


"Abi... Lagi mikirin. Banyak pilihan. Abi taruh piring dulu ya. Habis itu Abi mau sholat dzuhur dulu."


Lebih baik sholat deh. Siapa tau dapat ilham nama yang bagus saat sholat.


Bodoh deh aku. Kenapa malah enggak kepikiran mau kasih nama siapa! Apa karena terlalu panik dan kebanyakan dijambak makanya otakku agak error?


Oke, sekarang sholat dulu.


Aku pun menunaikan sholat dzuhur dan sehabis sholat aku browsing nama-nama anak yang menurutku artinya bagus. Papa memberiku nama Agastya Wisesa dari nama pewayangan. Kayaknya bagus kalau belakang nama anakku Agastya. Biar semua orang tau kalau anak tampan dan hebat itu adalah anakku.


Oke. Nama belakang sudah. Sekarang nama depan. Apa ya yang cocok?


Wirata Agastya. Dipanggil Wira.


"Sayang, aku udah dapet namanya." kataku dengan penuh semangat. Kulipat sejadah dan kain sarung lalu menghampiri Tari dengan wajah penuh senyum.


"Oh ya? Siapa?"


"Wirata Agastya."


"Artinya apa?"


"Wirata itu artinya peduli sesama, dermawan. Agastya artinya rendah hati dan tidak sombong. Jadi kalau digabungkan, anak yang peduli sesama, dermawan, rendah hati dan tidak sombong. Bagus tidak?"


Tari tersenyum puas dengan nama yang kuberikan. "Aku setuju. Kita memanggilnya Wira. Makasih ya Bi. Namanya bagus!"


****


Ayo vote-nya jangan kendor dong?! kok kendor? Yuk vote, like, komen dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐. Masih ada hadiah pulsa @25ribu untuk 10 orang beruntung yang akan diumumin akhir bulan April ini loh! Stay tune terus ya di IG aku: Mizzly_

__ADS_1


__ADS_2