Duda Nackal

Duda Nackal
Sepanjang Jalan Kenangan


__ADS_3

Agas


Hari ini aku berangkat kerja dengan taksi. Untunglah Tari tidak ada jadwal kursus hari ini jadi aku tak perlu mengantarnya.


Aku langsung menuju bengkel tempat mobilku diservis. Untunglah karena aku kenal dengan pemiliknya, mobilku langsung diperbaiki dan sudah benar lagi. Aku membawanya ke showroom lalu mulai sibuk dengan pekerjaanku di sana.


Hari ini, Cici tak masuk kerja. Teman-temannya sih bilang kalau dia tidak enak badan. Aku tak memperhatikan karena sejak kemarin kerjaanku sangat banyak. Apakah dia sakit karena patah hati? Entahlah! Bagiku hubungan diantara kami sudah berakhir.


Tanpa terasa aku bekerja sampai sore. Aku bahkan tidak keluar untuk makan siang karena Tari sudah membekalkan aku makan siang. Kalau disuruh memilih, lebih baik aku makan bekal buatan Tari daripada beli di luar. Rasanya lebih enak dan membuat aku selalu menyukai apapun yang dia masak.


Aku tersenyum menatap wadah Tupperware kosong yang isinya sudah pindah semua ke dalam perutku. Jujur saja, selama menikah baru kali ini aku dibawakan bekal oleh istriku.


Tara tak pernah membawakan aku bekal. Ia sibuk dengan program dietnya, bahkan kadang aku harus makan apa yang dia makan untuk diet. Mana doyan aku? Cuma makan sayuran rebus yang tanpa ada rasanya sama sekali!


Kalau dengan Tari, ada saja ide memasak. Yang membuatku heran, darimana keterampilannya diperoleh?


Anak ini baru mengenal YouTube dan aplikasi Tik tok, tapi kemampuan memasaknya cepat sekali berkembang. Tari bilang, dia juga sekarang belajar dari Instagram. Sungguh cepat sekali daya tangkapnya, sayang kemampuan yang Ia miliki tidak ada yang mendukung dan membuat kepintarannya seakan tenggelam begitu saja.


Kuputuskan untuk pulang lebih awal hari ini. Aku sudah bilang pada Tari, hari ini tidak usah masak. Aku sudah janji untuk membawanya ke warung seafood pinggir jalan tempat dia berjualan dulu.


Aku mau membuatnya menjadi pembeli dan bisa menikmati apapun menu di warung seafood tersebut. Kasihan saat mendengar kisahnya bahwa Ia sendiri belum pernah mencoba udang ataupun cumi saus Padang. Kalau kepiting sih, pasti nggak akan pernah dikasih karena harganya mahal dan tak akan diberikan secara cuma-cuma oleh pemiliknya.


Sesampainya di rumah, aku sempat melirik ke tetangga depan rumahku. Rumah itu terlihat sepi meski ada mobil Damar yang terparkir di depan rumah. Seperti nggak ada kehidupan.


Tak ada lagi musik klasik yang terdengar dari rumah itu, pertanda mereka sedang meleburkan cinta mereka. Apa cinta mereka sudah pudar jadi musik klasik itu tak lagi terdengar?


Aku masuk ke dalam rumah dan mendapati sambutan dari Tari yang hari ini sudah berdandan dengan cantik sekali. Ia memakai blus berwarna biru muda dengan celana panjang berwarna hitam. Penampilan sederhana namun entah mengapa terlihat begitu anggun dikenakan olehnya.


"Assalamualaikum, Om!" sambutnya dengan senyum merekah.


"Waalaikumsalah. Senang sekali kamu!" kuulurkan tanganku saat Ia ingin salim.


"Iya dong! Aku kan mau diajak suamiku makan diluar. Mau nge-date!" ujarnya sambil tersipu malu.


"Nge-date? Kita tuh cuma mau makan di warung seafood pinggir jalan. Bukan mau nge-date!" ujarnya seraya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Tak masalah buat Tari, selama bersama Om mau makan di warung pinggir jalan atau diatas trotoar tetap saja nge-date menurut Tari. Tetap membahagiakan." senyum di wajahnya mengembang dengan sempurna.


Aku mengambil handuk yang Ia sudah sediakan beserta pakaian ganti diatas tempat tidur. Kupandangi sekeliling kamar kami, nampak wangi dan rapi. Terlihat dari kepribadiannya yang tak bisa diam dan selalu ingin melakukan sesuatu.


"Aku mandi dulu ya? Aku pengen dimandiin kamu, tapi melihat kamu udah cantik begini aku tak tega. Aku mandi sendiri saja!" sesekali menggombalinya tak apalah. Berbagi kebahagiaan untuknya yang seharian sudah mengurusku.


"Ih Om begitu! Tari kan malu...."


Aku mengulum senyum melihatnya. Aku cepat-cepat masuk ke kamar mandi dan mendengar teriakannya. "Sekalian ambil wudhu ya Om! Kita sholat maghrib berjamaah baru pergi!"


Huft.... Ada saja caranya untuk menyuruhku sholat.


Pagi ini aku terbangun karena diajak sholat. Siang dia mengirimiku pesan untuk sholat dzuhur namun tak kulakukan karena aku sangat sibuk hari ini.


Tak putus asa, sore Ia pun mengirimi pesan memintaku sholat ashar. Ia mengirimi foto dirinya yang cantik saat mengenakan mukena. Caption dibawahnya membuatku tersenyum sendiri.


"Kita sholat berjamaahnya nanti ya pas sholat maghrib dan isya!"


Tak ada omelan.


Aku lalu pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Untuk pertama kalinya, ruangan kantorku aku gunakan untuk sholat. Semua karena Tari. Ia mampu menggerakkan hatiku.


Aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Tari sedang mengaji sambil menungguku selesai. Suaranya saat mengaji terdengar begitu merdu meski membaca Al-Quran dengan pelan. Aku masih bisa mendengarnya. Hanya suara lantunan ayat suci yang Ia baca satu-satunya suara di kamarku.


"Udah Om?" Ia menyelesaikan mengajinya.


"Udah." jawabku seraya memakai sarung.


Aku kembali memimpin sholat maghrib berjamaah. Mulai merasakan lagi ketenangan saat aku menunaikan apa yang menjadi kewajibanku sebagai seorang muslim. Bukan hanya islam KTP seperti yang selama ini kujalani.


Selesai sholat, aku mengeluarkan mobilku dari garasi. Tari merapihkan dandanannya dahulu sebelum pergi. Ternyata Ia mengganti bajunya dengan dress selutut yang membuat penampilannya semakin cantik saja.


Aku memuji kecantikannya seraya mendaratkan sebuah kecupan di pipinya yang langsung merah merona karena malu. Ah anak itu, terlalu polos dan membuatku semakin gemas saja.


Pokoknya malam ini aku jangan sampai ketiduran! Aku harus mendapatkan hakku sebagai suami. Aku menginginkannya malam ini.

__ADS_1


Tari menggandeng tanganku dengan mesra saat keluar rumah. Tak lupa kukunci pintu rumahku dan membukakan pintu mobil untuk Tari.


Aku merasakan seperti ada sorot mata yang menatap tajam ke arahku. Aku tak peduli dan tak mencari tahu siapa itu. Paling tetangga lucknut itu lagi!


Aku berlari ke sisi satu lagi dan masuk ke dalam mobil. Tari sudah memakai seat belt miliknya. Pintar! Sudah terbiasa Ia pada akhirnya.


Kukemudikan mobilku menembus kemacetan di malam hari ini. Tari mengutak-atik radio di mobilku dan berhenti saat penyiar menyetel lagu yang Ia suka.


Aku menahan tawaku saat tahu lagu jaman dulu yang Ia suka.


🎶Sepanjang jalan kenangan


Kita selalu bergandeng tangan


Sepanjang jalan kenangan


Kau peluk diriku mesra🎶


(Sepanjang Jalan Kenangan, Tetty Kadi)


"Kenapa senyum-senyum, Om?" aku tertangkap basah karena ketahuan tersenyum.


"Heran aja. Usia kamu masih muda dan kamu sukanya lagu generasinya Papa." jawabku jujur.


"Lagu kayak gini tuh enak sepanjang jaman, Om. Aku juga suka lagu barat terkini milik Justin Bieber, Adelle, Billie Ellish dan banyak lagi. Tapi menurutku lagu ini tuh pas, menggambarkan suasana kita malam ini."


Wow... pengetahuan musiknya lumayan juga.


"Biasa denger musik dimana? Kok update banget?" tanyaku penasaran. Kalo di warung soto paling musik dangdut. Di warung seafood paling tak beda jauh.


"Di Hp jadul aku! Hanya radio hiburan satu-satunya di Hp itu. Kalau di Hp yang Om belikan banyak banget hiburannya. Bisa baca novel online, dengerin musik apapun yang aku mau, belajar dari Youtube, belajar dari berbagai aplikasi. Pantas orang jaman sekarang semakin ketagihan gadget ya Om!"


"Begitulah, gadget itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Awas aja kalau kamu terlalu asyik sama Hp kamu dan melupakan aku!"


Tari tersenyum. "Tari lebih seru mencari tahu tentang sifat Om daripada bermain Hp."

__ADS_1


****


__ADS_2