Duda Nackal

Duda Nackal
Balada Sirup


__ADS_3

Lelah karena berbelanja membuat Tari langsung tertidur sehabis mandi dan sholat Isya. Ia bahkan tidak menungguku dulu, dan langsung tertidur pulas. Wajar aja sih, tadi dia tuh begitu senang dan aktif saat sedang berbelanja. Semua yang lucu dan unik ingin Ia beli.


Aku melihat wajahnya yang terlihat sangat teduh saat sedang tertidur. Wajahnya begitu tenang dan terlihat damai. Aku menyisipkan anak rambut yang terjuntai di depan wajahnya ke belakang telinga. Kini terlihat jelas wajah cantik istriku.


Tari semakin kesini semakin terlihat makin cantik. Kini, Ia yang biasanya acuh dengan penampilan mulai lebih memperhatikannya. Resiko memiliki suami yang kecentilan kayak aku adalah harus tetap menjaga penampilan, karena bisa saja aku tergoda dengan gadis lain yang terlihat lebih menarik.


Wajah Tari terlihat bersih dan alami karena jarang memakai make up kecuali saat pergi keluar saja. Sehari-hari di rumah Ia berdandan natural dan kadang sesekali memakai lipstik untuk menarik perhatianku.


Tubuhnya tidak terlalu kurus, lebih tepatnya berisi dan agak sedikit m*ntok karena memiliki dua buah aset yang begitu menggoda. Tari itu orangnya enak dilihat. Nggak ngebosenin dan dia juga teman ngobrol yang asik.


Tanpa terasa sudah 2 bulan lebih kami menjalani rumah tangga yang begitu penuh dengan pasang surut cobaan dan permasalahan didalamnya. Kami yang awalnya 2 orang yang yang tidak begitu saling kenal malah dipersatukan dalam ikatan pernikahan.


Awalnya hanya rasa iba yang tercipta, lalu perlahan mulai timbul rasa kagum melihat dia banyak kelebihan. Rasa kagum pun berubah menjadi rasa memiliki, tak mau siapapun merebutnya. Saat ini aku sedang dalam fase masa memiliki. Entah akan masuk fase apalagi?


Aku tak pernah menyangka kalau aku bisa begitu marah dan cemburu melihat Ia bersama dengan cowok lain. Awalnya aku berusaha meredam dan acuh terhadap perasaan yang aku rasakan. Namun, rasa kesal, marah dan takut kehilangan membuatku merasakan apa itu yang namanya cemburu.


Laki-laki itu merupakan saingan yang sempurna untukku. Ia terlihat tampan dan juga memiliki pekerjaan yang bagus. Wajar dong kalau aku merasa cemburu, Tari bisa saja pergi meninggalkanku demi bersama dengan laki-laki itu. Apalagi kalau laki-laki itu terus-menerus menggodanya dan menawarkan untuk memberikan kebahagiaan yang tak bisa aku berikan.


Di saat aku mulai menyayangi Tari, di saat itu juga aku merasa begitu kerdil. Aku merasa kalau aku ini adalah laki-laki yang tak pantas untuk mendapatkan wanita sebaik Tari.


Doanya di sepertiga malam seakan sudah mengetuk hati Allah sehingga menggerakkan hatiku yang awalnya membeku dan trauma akan yang namanya cinta kini perlahan mencair.


Aku kembali lagi merasakan rasanya takut kehilangan. Aku nggak mau sampai seseorang yang menjadi milikku pergi dengan yang lain. Alasan itu juga yang membuatku begitu berhati-hati untuk jatuh cinta kembali. Karena jatuh cinta itu lebih mudah dibanding menghilangkan rasa sakit hati.


Aku merapatkan tubuhku dengan dirinya dan dalam waktu sekejap aku pun langsung tertidur pulas. Dalam mimpiku, aku sedang berlari-lari di taman dengan Tari. Ini bukan film India, ini mimpiku yang jujur saja aku merasa sangat aneh. Rasanya aku nggak pernah mimpi se-alay ini!


Tari terlihat tersenyum bahagia sambil menggoda diriku. Aku pun ikut tertawa menikmati permainan seperti anak kecil yang berlari-lari mengelilingi taman.


Namun kemudian, Tari berhenti berlari. Senyum di wajahnya juga menghilang. Ia menatap ruang hampa kosong di belakangku.

__ADS_1


Aku pun bertanya apa yang terjadi? Ia tak menjawab dan hanya terdiam. Tari pun mulai melangkah maju mendekat ke arahku. Kupikir, Ia akan menghampiriku namun ternyata tidak. Tari terus berjalan dan tak menoleh sama sekali ke arahku.


Tari.... Tari.... Tari...


Lalu aku pun melihat ke sekelilingku, semuanya kosong. Semuanya terasa sunyi. Hanya ada aku seorang disini. Aku takut, kenapa Tari meninggalkanku? Kenapa Ia tega membiarkan aku ketakutan sendiri disini? Aku lalu melihat bayangan Tari. Namun, wajahnya terlihat sedih. Aku memanggil namanya namun Ia malah berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkanku.


Tari... Tari.... Tari....


Lalu kurasakan tubuhku ada yang mengguncang-guncang. Aku juga mendengar namaku disebut, lalu aku terbangun. Peluh membasahi wajahku.


"Om? Om kenapa? Mimpi buruk?" tanya Tari yang sudah menyalahkan lampu kamar.


"Kamu enggak apa-apa?" tanyaku sambil memeriksa sekujur tubuh Tari.


"Tari nggak apa-apa Om! Malah Tari yang khawatir sama keadaan Om. Om tidur sambil teriak-teriak manggil-manggil nama tari. Om mimpi apa sih? Sampai keringetan begitu tuh!"


Aku lalu menarik tubuh Tari ke dalam pelukanku. Rasanya begitu damai. Rasanya semua ketakutanku seakan hilang. "Berjanjilah, berjanji sama aku kalau kamu nggak akan pernah ninggalin aku!"


Aku menghela nafas mendengarnya. "Bukan itu maksudku! Kamu pokoknya enggak boleh pergi kemana-mana. Kalau ke tempat kursus boleh."


"Kalau ke pasar? Ke cafe yang baru? Ke tukang sayur? Itu juga nggak boleh, Om?" tanya Tari dengan polosnya.


Kulepaskan pelukanku terhadapnya. "Bukan itu! Udah ah, aku mau tidur lagi! Pokoknya, kalau kamu bangun harus bangunin aku juga! Awas ya, kamu langsung pergi tanpa pamit sama aku!" ancamku pada anak polos ini.


"Iya! Udah Om bobo lagi. Besok pagi, temani Tari ke pasar ya Om. Kita kan harus belanja buat menyambut teman-teman Om yang mau bikin acara barbeque. Nanti Tari siapin bahan-bahannya lalu malamnya kita bisa bakar-bakaran di depan rumah."


Aku pun menurut. Aku kembali tertidur setelah Ia menepuk punggungku yang kekar ini dengan tangan lembutnya yang penuh kasih. Sentuhannya membuatku merasakan rasa kantuk yang langsung datang dan dalam sekejap membuatku tertidur lelap.


****

__ADS_1


Pagi hari kami pun pergi ke pasar. Tari menolak naik mobil, Ia bilang enakkan naik motor. Biar mobilnya enggak bau amis dan kotor. Aku menurut saja.


Kami pun pergi ke pasar. Membeli beberapa ekor ayam, ikan dan aneka sosis. Tari juga membeli jagung. Lengkap sudah menu barbeque kami.


Sengaja Tari tidak membeli daging slice. Kami niatnya barbeque cara biasa, bukan seperti di drama Korea. Lebih seru bakar ayam daripada daging. Apalagi kalau makannya sambil rebutan, wah seru banget tuh.


Sepulang dari pasar, Tari meminta Mbak Inah membersihkan belanjaannya sementara Ia membuat segelas sirup dingin dan duduk di depan kipas angin.


"Wah... Segarnya!" nikmat sekali melihat Ia meminum sirup, aku pun mengambil gelas miliknya dan meminum tanpa permisi.


"Ah... Segar!"


"Ih Om enggak ijin dulu langsung ambil aja!" omelnya.


"Biarin!" jawabku.


"Apa susahnya sih minta ijin? Ini kan punya Tari. Om kan bisa minta bikinin Mbak Inah! Kenapa harus ambil punya Tari?" lalu yang terjadi kemudian membuatku heran. Ia meneteskan air mata! Masa sih karena aku mengambil minumannya Ia sampai sesedih itu?


"Kamu nangis? Aku minta maaf! Aku kan niatnya becandain kamu doang?!" kataku penuh penyesalan.


Tari menghapus air mata di wajahnya. "Pokoknya bilang dulu lain kali! Awas main ambil aja punya Tari!" ancamnya.


"Ih kamu pelit sama aku!" cibirku.


"Tuh, udah ngambil punya Tari eh segala ngatain pelit lagi! Kalau Om mau tadi pas Tari buat kan tinggal bilang!" balasnya.


"Hei, kita berantem lagi hanya gara-gara segelas sirup? Ada apa sih dengan kamu? Dari kemarin kamu marah-marah terus?! Kamu ada masalah? Lebih baik cerita daripada malah bikin kamu kepikiran dan stress sendiri!"


"Tuh sekarang juga dikatain stress. Huaaa...." tangisnya malah pecah.

__ADS_1


Ya Allah anak ini kenapa?


****


__ADS_2