
"Udah? Masih mau dinyanyiin lagi?" tanyaku yang sudah menyanyikan lagu Nina Bobo lebih dari 10 kali. Haus. Aku saja sampai menghabiskan air minum yang biasa disediakan Tari di atas nakas.
Tari tersenyum puas. "Udah. Sekarang Tari udah ngantuk mau bobo. Makasih ya Bi!"
Mau tidur?
Oh tidak semudah itu Ki Sanak!
Harus ada bayaran atas semua ini!
"Tunggu dulu dong! Abi mau silahturahmi dengan anak Abi dulu." kutaruh boneka dan kulepas daster dan melemparnya ke sembarang tempat. "Malam ini, harus menggantikan malam-malam yang lalu. Kemarin baru beberapa kali. Sekarang harus dibayar semua."
Aku berjalan pelan menghampiri Tari yang menertawakanku. "Ih dirapel beneran gitu?"
"Iyalah. Aku enggak mau rugi! Aku mau bersilahturahmi dengan pemilik 4 buah cafe terkenal, Ibu Utari Putri."
"Ha...ha...ha... Aamiin cafenya terkenal. Sekarang nih? Enggak besok aja?" goda Tari.
"Sekarang dong! Kasihan anakku, mau ketemu Papanya. Makanya rewel minta Papanya nyanyi pakai daster. Iya kan?"
"Iya... Iya....." Tari tersenyum dan membuka tangannya. Siap menyambutku.
"I'm coming Baby!"
****
Sesuai perjanjian, 3 buah cafe permintaanku sekarang dalam proses pembangunan. Lokasinya ada yang di sebelah showroomku persis, ada juga yang agak sedikit jauh.
Aku maklum. Susah mencari lokasi yang benar-benar persis di samping showroom milikku. Sudah ada ruko atau showroom lain. Ini saja sudah lumayan.
Biaya mendekor cafe juga dibiayai oleh Papanya Vira. Benar-benar aku enggak keluar uang sama sekali. Semua dimodali oleh Papanya Vira.
Aku dan Tari hanya perlu memberikan konsep seperti apa yang kami mau dan tinggal tunggu beres saja. Seperti hari ini.
__ADS_1
Aku mengajak Tari ke showroom milikku. Showroom dimana aku pertama kali mengenal Tari. Kalau aku ingat-ingat, aku tak pernah mengenalkan Tari pada karyawanku. Hanya pada Cici saja Tari pernah kukenalkan.
"Kita mampir ke showroom aku dulu ya? Aku mau menandatangani berkas dahulu baru kita ke cafe kamu. Lihat progresnya udah sampai mana." ajakku.
Tari yang hari ini mengenakan dress warna biru muda terlihat cantik. Perutnya yang sudah mulai membuncit terlihat jelas. Ada anakku di dalam sana. Anak yang selalu menunggu Papanya bersilahturahmi. Menurutku sih begitu he...he...
"Ayo aja! Tari sih ikut aja kemana Abi mau ngajak. Tari bosen, cafe masih sepi karena promosi kita baru dimulai weekend besok. Mumpung ada waktu senggang, nggak ada salahnya jalan-jalan dulu."
Aku senang kalau melihat Tari begitu bersemangat seperti ini. Mumpung sifat sensitif-nya lagi nggak kumat, lebih baik aku bawa dia bersenang-senang. Kasihan sejak kemarin Tari banyak pikiran. Masalah Vira, masalah cafe dan bagaimana rumah tangga kami nantinya kalau sampai benar terbukti anaknya Vira adalah anakku. Semua membuat Tari kepikiran dan merasa stress berat.
Kubelokkan mobilku ke sebuah showroom yang lumayan besar. Showroom penuh kenangan antara Aku dan tari, tempat dimana kami pertama kali bertemu dan saling mengenal.
Aku memarkirkan mobilku di tempat parkir khusus yang memang disediakan khusus untukku. Tidak boleh ada yang menggunakan kecuali kalau memang showroom dalam keadaan penuh dan aku sedang tidak ada di tempat. Melihat kedatanganku, security dengan sigap langsung menghampiri, memberi hormat dan membukakan pintu. Bos besar mereka datang, tentu saja harus disambut.
Aku memberikan lenganku untuk Tari gandeng. Pasti kedatangan kami akan menjadi bahan pembicaraan di showroomku ini. Mereka semua mengenal Tari. Dulu, Tari sering wara-wiri di kantorku untuk mengantarkan pesanan.
Tak ada yang pernah menyangka, kalau gadis pengantar soto yang selama ini berpakaian selalu kebesaran ternyata akan menjadi nyonya pemilik showroom. Nasib orang nggak ada yang tahu. Bisa saja saat ini Ia berada di bawah, kalau Allah sudah berkehendak maka dalam sekejap mata Ia akan berubah menjadi di atas.
Seperti yang sudah aku perkirakan, tatapan mata para karyawanku langsung tertuju pada kami berdua. Tari yang kini sangat cantik dengan perutnya yang membuncit tentu saja menarik perhatian karyawanku yang lain.
Tari membalas senyuman Cici. "Tari! Ya ampun, tambah cantik aja! Lagi isi ya?"
"Iya Mbak Cici. Mbak Cici juga tambah cantik dan terlihat happy nih." balas Tari.
"Iya dong happy, aku kan udah tunangan. Nanti Tari dan Pak Agas datang ya ke resepsi pernikahan Cici!"
"Oh ya? Wah selamat ya. Aku bahagia mendengarnya. Kapan?" tanya Tari yang sejak tadi terus tersenyum bahagia.
"Masih 3 bulan lagi. Nunggu aku wisuda dulu. Nanti aku kirim undangan buat kalian berdua, tamu spesialku!" janji Cici.
"Bener ya?! Nantu aku usahain datang."
"Ci, laporan dari Pak Robert mana?" tanyaku.
__ADS_1
"Udah Cici taruh di ruangan Pak Agas dong. Kemarin Pak Robert titipin ke Cici sebelum cuti, terus Cici taruh aja di mejanya Pak Agas." jawab Cici.
"Oh yaudah biar nanti aku periksa. Makasih." aku lalu bicara pada Tari. "Kamu mau ke ruangan aku atau di sini aja?"
"Hmm.... Di sini aja deh, Bi. Nanti Tari ke atas. Mau ngobrol dulu sama Mbak Cici." jawab Tari.
"Yaudah nitip ya Ci!" pesanku pada Cici.
"Iya. Takut banget kehilangan sih!" sindir Cici.
Aku tersenyum mendengar ledekannya. "Oh iya, kamu mau makan atau minum sesuatu enggak? Cemilan atau apa gitu?"
"Nanti aja, Bi." tolak Tari.
"Yaudah. Aku ke atas dulu ya!" kutinggalkan Tari bersama Cici. Pasti aman deh aku yakin. Mana berani mereka menyakiti nyonya besar?
****
Tari
Sikap Mbak Cici begitu ramah padaku. Mungkin karena rasa cintanya pada Abi sudah memudar tergantikan dengan rasa terima kasih karena berkat Abi, Ia bisa menamatkan kuliahnya dan membuat kedua orangtuanya bangga.
Berbeda dengan karyawan lain yang sejak tadi terus melihat ke arahku. Mereka memperhatikan gerak gerikku dan apa yang aku kenakan. Perutku yang mulai membuncit juga menjadi bahan perhatian mereka.
Showroom masih agak sepi. Cici bilang, kalau belum lama buka memang seperti ini. Nanti saat jam makan siang biasanya ada pengunjung yang datang. Sore mulai ramai. Itu kalau hari kerja kayak sekarang. Kalau weekend malah dari pagi sampai malam ramai.
Aku memperhatikan showroom milik Abi yang besar ini. Abi bilang, inilah showroom miliknya yang paling besar. Showroom lain tidak sebesar ini tentunya. Penjualannya juga paling banyak dari showroom ini.
"Aku lihat, kamu sangat bahagia semenjak menikah dengan Pak Agas. Pak Agas juga banyak perubahan semenjak menikah sama kamu. Untunglah, aku lebih mendukung Pak Agas menikah sama kamu dibandingkan kembali lagi dengan mantan istrinya yang pernah selingkuh itu."
Aku tersenyum. "Mereka nggak akan kembali lagi kok. Mbak Tara juga udah punya pasangannya sendiri dan sekarang mereka sedang menikmati indahnya pernikahan. Mungkin memang takdir Abi menikah denganku. Udah jalannya. Dulu, aku menikah dengan Abi karena aku mengancam akan memberitahu tentang perbuatan kalian. Namun ternyata ending ceritanya berbeda,"
"Aku mau minta maaf sama Mbak Cici. Dulu aku terpaksa dan nekat mengancam Abi. Meskipun, Abi nggak takut sama sekali sih. Abi menikahiku karena Abi sangat baik. Abi menolongku yang sedang kesulitan. Kalau nggak ada Abi, mungkin aku sudah mengakhiri hidupku karena Bapak menjual aku ke mucikari."
__ADS_1
****