
Agas
Kami muter-muter di Mall mengikuti kemauan Ibu hamil yang super sensitif ini. Aku dan Wira mengikuti saja dengan santai.
Kupakaikan Wira kacamata agar terlihat keren. Banyak cewek-cewek yang melihat ke arah kami. Entah kagum padaku atau pada kelucuan Wira.
Biasa, pesona Mantan Duda Nackal tak pernah pudar. Meski kini calon Bapak anak dua tetap saja mempesona tiada tara.
"Matanya jangan jelalatan kemana-mana, Bi! Mentang-mentang aku lagi hamil. Kalau badan aku tambah melar pasti makin centil deh tebar pesona kemana-mana." omel Tari.
"Enggak jelalatan kok, My. Lagi melihat baju aja. Model sekarang kayak gimana? Abi kan juga harus mengikuti perkembangan jaman. Biar jadi Abi gaul gitu?!"
"Ah bisa aja! Itu mah modus Abi aja! Kecentilan. Tuh liat aja anaknya. Kecil-kecil matanya enggak boleh liat cewek bening dikit. Langsung nengok! Kebanyakan mengikuti gaya Abinya sih!" omel Tari lagi.
"Enggak dong, My. Anak Abi lagi melihat warna-warni. Anak kecil kayak gini mana ngerti sih sama cewek cantik? Bagi Wira tetap saja Mommy Tari paling cantik. Iya kan Wira Sayang?" tanyaku pada Wira yang sejak tadi melihat cewek seksi dengan belahan dada yang menggoda.
"Nen! Nen!" kata Wira seraya menunjuk cewek itu.
Oh My God!
Anak ini!
Kuangkat Wira cepat-cepat dari stoller dan menunjuk ke atas. "Tuh lihat deh Wira, ada apa di atas? Ada balon enggak ya? Wah ada hiasan lucu tuh!"
Wira mengikuti arah yang aku tunjuk. Ia tak lagi teriak nen pada cewek seksi tadi. Untungnya cewek itu sudah pergi. Tidak sadar kalau Ia tadi sudah dijadikan target oleh Wira.
"Lihat kan? Wira kebanyakan mencontoh kecentilan kamu jadi kayak gitu! Lihat cewek seksi dikit langsung minta nen. Padahal udah lama dia kita sapih!" omel Tari lagi.
"Itu manusiawi, Sayang. Wira kan laki-laki sejati. Menyukai keindahan. Jiwa lelakinya sudah keluar sejak kecil. Menyukai segala keindahan yang menonjol!" kataku sambil tersenyum.
"Onjol!" sahut Wira.
Tari geleng-geleng kepala melihat ulah kami berdua. Ia lalu teringat sesuatu dan mengusap-usap perutnya. "Cukup mereka berdua ya, Dek. Kamu jangan!"
"Pa, tantik!" Wira menunjuk anak mahasiswa yang memakai celana gemes dan kaos crop tee.
__ADS_1
"Iya, Cantik!" aku melirik dan mendapati Tari menatap kami tajam. "Tapi lebih cantik Mommy kamu tentunya!"
"Ih bisa banget ngebujuknya. Udah ah aku mau beli kado buat Oma. Kita ke toko batik yuk!" ajak Tari.
Aku dan Wira mengikuti langkah nyonya besar. Masuk ke dalam toko batik yang harganya super mahal itu.
Tari memilih kain batik dan blouse. Bimbang memilih yang mana. Sementara Wira sudah meronta-ronta ingin turun dan berlari.
"Tewe... tewe tantik!" pelayan toko yang melihat kelakuan absurt anakku menahan tawanya.
"Hei Wira! Enggak boleh kayak gitu! Jangan bikin malu Abi! Abi enggak pernah ngajarin kamu kayak gitu loh!" omelku pada anak laki-lakiku ini.
Kenapa sih, Wira cepat banget mempelajari apa yang Ia lihat? Ini gara-gara anak-anak nih!
***
Flashback On
Jadi, saat Tari sedang kursus anak-anak datang ke rumah. Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali. Mereka tahu aku sudah mulai jarang ke showroom. Aku lebih memilih bekerja dari rumah agar bisa mengawasi Wira secara langsung. Semua laporan dari showroom dikirim lewat email dan aku akan memeriksanya di rumah.
Alasannya adalah karena masa lalu Riko yang suka gonta-ganti pacar. Pacarnya Riko takut kalau suatu hari nanti akan datang wanita yang meminta pertanggung-jawaban Riko. Jadi, daripada rumah tangganya nanti gagal lebih baik tidak diteruskan saja, begitu pikir pacarnya Riko.
Alasannya nggak masuk akal. Benar saja tak lama setelah putus, pacarnya menerima pinangan cowok lain. Riko patah hati dan dan merasa mumet. Untuk menghabiskan waktu Ia selalu main ke rumahku. Menemaniku trading saham. Riko juga salah satu pemain saham yang lumayan jago, jadi sambil mengobrol kami berdua sambil bekerja juga. Rumahku sudah seperti kantornya saja.
Tak jauh beda dari Riko, Sony yang terus menerus menjomblo lama-kelamaan merasa bosan. Pekerjaannya yang tidak pernah ingat waktu akhirnya Ia lepaskan. Ia pun ikut trading saham bersama aku dan Riko. Akhirnya, kami bertiga sering ada di rumah ketika Tari sedang kursus. Inilah yang jadi awal kerusakan pada Wira.
Riko dan Soni membantuku menjaga Wira. Memang sih ada asisten rumah tangga yang menjaga Wira, namun anak itu lebih suka bersama aku dan kedua sahabatku di rumah. Dia ikut mendengar apa yang dibicarakan oleh Sony dan Riko yang tahu sendiri nggak pernah punya filter. Asal saja kalau bicara.
"Gas lo lihat deh nih model! Gila bodynya aduhai banget. Bempernya wuih. Belandanya lo liat deh." Sony menunjuk gambar wanita seksi tepat di bagian belahan yang menggoda. "Nampol banget."
"Nen... Nen...." Wira pun ikut serta karena melihat gambar yang ditunjukkan oleh Sony.
"Iya bener. Buat Nen Wira ya? Kenyang nanti kalau nen di sini!" malah ditambahin oleh Sony.
"Woy! Anak kecil nih! Lo jangan ajarin yang enggak beres!" omelku.
__ADS_1
"Ini namanya naluri, Gas. Wira-kan anaknya mantan Duda Nackal. Jelas saja nalurinya kalau melihat yang seger-seger macam ini pasti keluar." sahut Sony.
"Ngarang lo! Awas aja kalau Tari sampai tahu!" omelku sambil menutup majalah yang Sony bawa. "Jangan dengerin Om Jelek ya Sayang! Om lagi stress!" kataku pada Wira.
"Om Jeyek! Om Jeyek!" Wira malah ikut meledek Sony.
Flashback off.
****
Aku menggendong Wira dan membawanya keluar dari butik. Bisa bahaya kalau Tari mendengarnya. Wira benar-benar menyerap semua ilmu yang diberikan oleh Sony dan Riko. Kalau Tari sampai tahu, aduh... Bisa habis diomeli tiga hari tiga malam aku.
"Wira sayang, nggak boleh kayak gitu ya Nak! Nanti Mommy Tari dengar kamu bisa dicubit! Wira mau dicubit sama Mommy Tari?" kataku menakut-nakuti Wira.
Wira menggelengkan kepalanya dan wajahnya terlihat takut dengan ancaman ku. "Endak mau!"
"Jangan bilang tewe tantik sama nen lagi ya?! Nanti Mommy kamu denger dan marah! Wira enggak mau kan Mommy Tari marah?"
"Endak mau!"
"Bagus! Kita rahasiain sama Mommy ya?"
Wira mengangguk saja. Mana ngerti dia dengan rahasia?
Tak lama Tari pun keluar membawa paperbag berisi baju batik untuk kado Oma. "Kok kalian di luar sih?"
"Wira bosan!" kataku beralasan. "Iya kan Wira?" tanyaku meminta dukungan pada anakku ini.
Bukannya menjawab, mata Wira malah melihat dua orang cewek cantik berpakaian seksi yang lewat di depan kami.
"Tewe...."
Mati aku... Mati....
****
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan add favorit ya 🥰🥰🥰😘😘😘