Duda Nackal

Duda Nackal
Kedatangan Mama di Rumah Sakit


__ADS_3

Kami duduk di sofa khusus tamu. Enaknya memilih kelas VIP ya kayak gini. Lebih bebas tanpa takut diusir satpam.


Kami mengobrol sambil menikmati cemilan yang aku beli. Obrolan akrab sesama teman tanpa mengenal waktu. Sampai akhirnya, Mama dan Papa datang.


Mama agak terkejut melihat banyak orang di dalam kamar Tari. "Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" jawab semua yang ada di dalam kamar Tari.


"Wah... semuanya kumpul di sini ternyata." ujar Mama. "Udah lama?"


Mereka pun bergantian seperti aku yang mencium tangan Mama. Mama terkejut ternyata ada Tara juga di sini. Meski agak sebal dengan kehadiran Tara, namun Mama menyembunyikannya dengan seulas senyum tipis. Tak mau sampai semua melihat ketidaksukaannya pada mantan menantunya tersebut.


"Belum lama, Ma. Anak-anak mau menjenguk Wira." kataku menjelaskan. Kini gantian semua menyalami Papa yang datang belakangan karena membawa koper besar.


Kayaknya Mama akan menginap lama nih di Jakarta. Melihat apa yang dibawanya seperti persiapan mau menginap lama.


"Jangan berisik! Kasihan kalau anak kamu kaget nanti!" nasehat Mama.


"Iya, Tante." jawab semuanya dengan menurunkan suaranya.


Mama pun menghampiri Tari dan memeluknya. "Selamat ya, Sayang. Kamu sudah melahirkan cucu buat Mama."


Aku tak sengaja melihat ke arah Tara yang menunduk sedih. Timbul rasa kasihan dalam diriku. Pasti hal ini yang selama ini diimpikan oleh Tara. Mama dulu menyayangi Tara, namun sejak kami bercerai begitu tidak menyukainya.


"Wah tampan sekali cucu Oma. Mirip sekali waktu Agas bayi!"


"Mama mau gendong?" tawar Tari. Tuh kan kalau orang lain dikasih gendong, kalau aku enggak!


"Boleh. Mama cuci tangan dulu ya!"


Mama pun pergi ke kamar mandi. Merasa tak enak karena ada Mama yang datang, teman-temanku pun pamit pulang.


"Nanti kita kumpul di rumah gue ya! Aqiqah sekaligus selametan." kataku yang merasa tak enak tak bisa menyambut mereka dengan baik.

__ADS_1


"Siap. Lo kabarin aja kapan waktunya, nanti kita datang." ujar Bastian.


"Makasih banyak, Bro." kataku sambil menyalami mereka satu persatu. "Makasih kadonya ya! Jangan lupa emas batangannya. Jangan dibungkus itu mah!"


"Ogah! Mending buat modal gue kawin!" sahut Sony.


"Bos showroom sama Bos cafe masih aja minta sama remahan peyek kayak kita!" tambah Riko.


"Lah namanya juga duit. Siapa yang bakalan nolak?" godaku.


"Noh minta sama anak pengusaha macam Damar! Udah ah gue balik. Jagain anak lo! Ganteng tuh ponakan gue. Awas diambil orang!" ujar Sony.


"Iyalah ganteng. Bapaknya aja ganteng. Anaknya mana mau kalah saing?"


"Serah Gas... Serah!"


Anak-anak pun pamit pada Mama dan Papa lalu suasana sepi kembali tercipta karena mereka sudah pulang semua.


"Enggak sih, Pa. Kalau kelas VIP memang perlakuannya agak di bedain dikit. Biasalah. Uang bicara." aku membereskan bekas makan teman-temanku. "Papa sama Mama mau makan apa? Biar Agas beli di depan."


"Apa aja. Mama mau gendong cucu Mama dulu." kata Mama yang sudah cuci tangan dan kini menggendong Wira sambil mengajaknya bicara. "Wah... Melek ya malam-malam. Suka begadang ya? Jangan ngerjain Mama Papanya ya Nak. Kalau malam bobo. Jangan kayak Papa yang suka keluyuran malam-malam." sempat-sempatnya Mama menyindirku.


"Ma. Wira masih kecil. Jangan bilang kayak gitu ah. Kalau dia malah ikutin jejak Agas gimana?" omelku.


"Ya tugas kamu mendidiknya agar tidak kayak kamu. Kenapa sih kamu namain anak kamu Wira. Kalau diledekkin Wira Sableng gimana?" bahkan nama anakku sendiri saja diprotes. Ampun deh Mama ini.


"Namanya Wirata, Ma. Bukan Wiro. Kalau Wiro baru dipanggil Wiro Sableng!" protesku.


"Kenapa enggak dinamakan Gatot Kaca saja? Keren itu?!" Papa malah menambahkan yang makin ngaco saja.


"Pa, Gatot tuh jaman sekarang artinya Gagal Total. Enak aja anak Agas Gagal Total. Enggak ah!" protesku.


"Ya kayak kamu namanya Papa ambil dari pewayangan. Biar lebih Indonesia banget gitu. Enggak ikut tren sok bule kayak anak jaman sekarang!"

__ADS_1


"Nama Wirata juga dari nama pewayangan, Pa. Tenang aja, Agas tau kok selera Papa kayak gimana. Yaudah Agas mau ke depan dulu. Titip Tari dan anak Agas ya!" pesanku.


"Iya. Sudah sana pergi. Mama laper nih!" usir Mama.


Sedih hatiku. Kini hanya Wira yang menarik perhatian semua orang. Aku dicuekkin aja.


Aku pun berjalan ke luar rumah sakit. Nampak Tara ternyata belum pulang dan sedang duduk di trotoar dekat taman rumah sakit.


"Loh belum pulang, Ra?" tanyaku berbasa-basi.


"Tuh Damar, katanya mules. Yaudah dia balik ke dalam deh. Kamu kenapa keluar?"


"Disuruh Mama beli makan malam. Aku pesan dulu ya!" aku pun memesan empat buah pecel ayam lalu kembali duduk di samping Tara.


"Maafin Mama ya. Mama masih belum bisa menyukai kamu lagi kayak dulu." kataku merasa tak enak hati.


"Enggak apa-apa. Santai aja. Memang aku salah kok makanya Mama bersikap kayak gitu sama aku." kata Tara dengan pesimis.


"Sabar. Nanti seiring waktu pasti Mama akan baik lagi." kataku membesarkan hati Tara.


"Kamu... Sekarang pasti bahagia sekali ya? Punya istri cantik dan baik macam Tari. Sekarang malah punya anak yang ganteng kayak Wira. Hidup kamu beruntung, Gas. Aku yang apes. Padahal sejak dulu aku selalu memimpikan bisa punya anak dan melihat Mama bangga padaku seperti pada Tari tadi." ujar Tara dengan sedih.


"Nanti kamu bisa kok punya anak sendiri. Usaha terus, berdoa terus. Jangan putus semangat. Biar Allah bosan mendengar doa kamu dan akhirnya memilih untuk mengabulkan daripada menolak doa kamu. Sabar-lah dan ikhlas. Usaha jangan putus. Allah menilai loh dari usaha umatnya. Aku yakin sebentar lagi kamu akan punya anak sendiri kayak aku." kataku mendukungnya agar tidak sedih lagi.


"Aamiin! Makasih ya Gas atas kata-katanya. Kamu tuh kayak lagi membangun rasa percaya diri dan semangat aku lagi tau enggak? Aku bersyukur kita berpisah. Setidaknya kamu mendapat pasangan yang lebih baik dari aku, dan kamu bisa mengajarkanku kebaikan darinya. Kita memang tidak berjodoh, karena Allah sayang sama kita. Aku akan doakan untuk kamu dan Tari nanti di depan Kabah. Kamu mau doa apa?" tanya Tara dengan serius.


"Hmm... Doa semoga Tari tidak galak lagi sama aku dan.... semoga Tari mau mengandung anakku lagi. Asli ya, Tari tuh kayak trauma gitu kalau melahirkan sakit. Aku deketin aja dia marah-marah dan jutek. Boro-boro boleh gendong Wira. Giliran kamu dan Mama dikasih. Pokoknya doain aja kayak gitu."


Tara tertawa mendengar ceritaku. "In sha Allah akan aku doakan. Abi Agas juga harus istiqomah ya sabarnya."


"Tentu. Aku punya sabar yang besar kayak.... my gun ha...ha...ha..."


****

__ADS_1


__ADS_2