Duda Nackal

Duda Nackal
Ijin Menambah Ilmu


__ADS_3

Agas


Tari menceritakan apa yang dilakukan seharian bersama Oma. Mulai dari pergi ke makan dan berakhir bercengkrama di rumah Oma yang sangat megah.


Aku tidak kaget. Aku kan sudah kenal sama Oma. Cuma, Tara tidak terlalu dekat dengan neneknya waktu aku masih menikah dengannya. Aku dan Tara sesekali suka pergi ke rumah Mama Irna. Rumah Mama Irna bersebelahan dengan rumah Oma jadi aku tahu bagaimana mewahnya rumah Oma.


Yang tidak aku sangka adalah cerita Tari kalau rumah milik Oma akan diwariskan untuknya. Wah, Tari langsung kaya mendadak nih! Siapa yang menyangka coba?! Tari yang semula adalah seorang pengantar soto kini menjadi lebih kaya daripada aku?


Itulah yang dinamakan dengan takdir. Enggak ada yang pernah bisa menduga apa yang akan terjadi semenit ke depan. Nasib manusia bisa dengan mudah dirubah. Semua tergantung pada Yang Maha Kuasa.


"Tapi aku nggak mau, Bi. Buat apa rumah sebesar itu? Enakkan juga tinggal di sini. Bisa bolak-balik untuk ngecek pabrik sebelah. Kalau dari rumah Oma kan jauh. Bagaimana aku bisa ngecek coba?" kata Tari.


"Ya... Mungkin buat masa depan? Kalau masalah pabrik kamu enggak usah khawatir. Kamu tinggal bayar orang untuk qc alias quality control. Kamu enggak perlu datang tiap hari. Seperlunya saja." saranku.


"Entahlah. Aku belum mikirin. Itu rumah kan besar sekali ya Bi, kalau Wira kabur bisa capek banget itu ngejarnya. Enggak kuat deh aku. Biarin aja deh tinggal di rumah yang kecil ini. Gampang mengawasi Wira. Bergerak sedikit aja aku sudah bisa lihat."


Aku tersenyum. Kalau pun kami pindah ke rumah Oma juga pasti aku akan membayar asisten rumah tangga dan baby sitter untuk menjaga Wira. Mana mungkin kubiarkan Tari menjaga Wira sendirian?


Pengalaman hari ini mengasuh Wira ternyata sangat berat. Aku nyerah deh kalau disuruh ngasuh tiap hari.


Kalau Mbak Inah bilang sih, ini belum ada apa-apanya. Kalau Wira kabur dan nangis berguling-guling di Mall sampai bikin malu baru aku akan emosi sekali. Iya kah? Enggak ah. Wira anak pintar. Enggak akan nyusahin orang tuanya.


"Terserah kamu saja, Sayang. Aku ikut aja apa mau kamu. Mau tinggal di sini atau di rumah Oma tak masalah buatku. Yang penting ada kamu dan Wira sudah cukup."


Tari memelukku makin erat. "Makasih ya Bi sudah mau mengerti Tari."


"Makasihnya nanti saja kalau puasanya sudah selesai. Kapan nih selesai nifas? Masih lama? Udah enggak sabar nih mau icip-icip." godaku.

__ADS_1


"Sabar. Sepuluh hari lagi paling cepat. Pasti Abi kuat deh. Selama ini aja Abi kuat kok." kata Tari menyemangatiku.


"Iya kuat. Bermain solo terus mana enak? Mau bermesraan sama kamu aja, Wira gangguin terus! Gimana mau buat adiknya Wira coba?" gerutuku.


"Hush! Adiknya Wira. Nanti dulu! Aku belum mau hamil dulu. Kasihan Wira masih kecil." omel Tari.


"Iya... Iya... Mommy Tari pelit!"


****


"Kamu serius My mau kursus lagi? Memangnya kamu bisa bagi waktu?" tanyaku saat Tari meminta izin untuk mengikuti kursus lagi.


"Ya serius, Bi. Malah aku mau ikut beberapa kelas sekaligus!" jawab Tari dengan penuh keyakinan.


"Lalu Wira?" tanyaku.


"Aku sih tak masalah kalau kamu mau mempekerjakan asisten rumah tangga. Sudah sejak awal aku tawarkan. Baby sitter malah yang kutawarkan. Tapi kamu tolak. Yang jadi pertimbanganku adalah pembagian waktu kursus kamu. Aku enggak mau karena kursus kamu jadi menomorduakan Wira." kataku agak kesal sedikit.


Mau apa lagi sih Tari kursus? Mau ketemu Pak Adi yang ganteng itu? Udah tenang hidupku tanpa gangguan guru kursusnya yang kecentilan itu, eh malah Tari mau kursus lagi.


Tari lalu membujukku dan membuatku luluh. "Bi, tujuan aku kursus itu untuk menambah ilmu. Kemarin saat ke rumah Oma, aku kagum dengan kemampuan memasak Oma. Berbagai makanan dari berbagai negara bisa Oma buat. Oma bilang semua karena Oma rajin kursus. Keinginan Oma untuk belajar dan mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat membuatku terinspirasi. Kenapa Oma masih mau belajar sementara aku begitu sombong?"


"Sombong gimana?" tanyaku.


"Ya sombong, Bi. Oma sudah banyak kursus tapi masih merasa kurang dengan ilmunya. Kalau aku? Baru ikut kursus sekali saja aku sudah sombong dan nekat membuka cafe. Ibaratnya, ilmu aku masih sedikit udah mau sok pamer. Aku merasa malu sendiri, Bi. Malu sudah sombong selama ini. Karena itu, aku mau memperkaya diriku dengan ilmu. Nanti akan bermanfaat juga di cafe kalau aku banyak ilmu. Bukan untuk tujuan lain. Masalah Wira tenang saja. Aku akan berusaha membagi waktu untuk Wira, Abi dan segala kegiatanku. Abi mau enggak memberi aku ijin?"


Apa yang Tari katakan masuk akal sih. Ia merasa ilmu yang dimiliki masih kurang. Ia pemilik cafe namun merasa belum mampu, lama kelamaan rasa percaya dirinya akan menghilang dan berpengaruh juga dengan keberhasilan cafe miliknya.

__ADS_1


Aku dengan berat hati harus mengijinkan Tari. Tujuannya adalah belajar. Mana mungkin aku bisa menolaknya?


"Baiklah. Kalau kamu mau kursus lagi. Abi ngijinin. Dengan syarat, jangan kecentilan sama Pak Adi guru kursus kamu itu! Awas saja kalau kamu tebar pesona depan dia!"


Tari tersenyum lega. "Makasih, Bi. Tenang saja. Aku akan fokus belajar. Aku enggak akan lirik kiri kanan. Aku janji!"


"Yaudah cium dulu!" pintaku.


Tari langsung menciumku. Tak perlu nego lagi. Ah Mommy... Mommy...


****


"Nanti Wira jangan lupa dikasih susu hangat ya, Bi. Jangan asal aja ngangetin susunya! Yang hangat! Lalu dilihatin juga, diapersnya penuh atau enggak, ada yang buat dia enggak nyaman atau tidak. Digendong anaknya ya! Jangan asyik sendiri dengan laptop dan anaknya disuruh di bouncer aja! Bisa bosan dia!" pesan Tari panjang lebar sebelum berangkat kursus.


"Iya Sayang... Iya. Abi hapal. Kamu sudah bilang beberapa kali sama Abi. Tenang saja. Abi akan menjaga Wira dengan baik. Pergilah! Hati-hati! Jangan ngebut bawa mobilnya!" pesanku.


"Yaudah aku pergi dulu! Titip anakku loh! Dijagain! Jangan harga saham aja yang dipantau, anaknya juga!" Tari masuk ke dalam mobil dan mulai mengemudikan mobilnya.


Aku selalu tersenyum kalau melihat mobil itu. Mobil penuh sejarah dimana kami pernah melakukan hal gila di dalamnya. Aku sudah membelikan mobil untuk Tari dan Ia sudah bisa mengemudikannya sekarang. Semakin pintar saja istriku ini.


Oek... oek.... oek...


Yap, tugas kepala rumah tangga sudah tiba. Yang mulia sudah memanggil. Tau saja dia Mommy-nya sudah jalan dan waktunya Abi bekerja.


"Abi datang Wira, Sayang!"


*****

__ADS_1


__ADS_2