Duda Nackal

Duda Nackal
Acara Aqiqah


__ADS_3

Agas


Hari ini rencananya kami akan mengadakan acara aqiqah. Seminggu sudah Wira lahir di dunia ini, sebagai orang tua kami menunaikan kewajiban kami untuk menyembelih dua ekor kambing dan membagikannya kepada yang membutuhkan dan tetangga sekitar.


Rencananya akan diadakan pengajian dan mengundang anak yatim piatu. Inginnya sih mengundang dari Panti Asuhan tempat Tari dibesarkan dulu, namun sayang Panti Asuhan tersebut sudah tutup sejak kebakaran yang melanda.


Alasan itu pula yang membuat Oma dan Tante Irna kesulitan mencari data tentang Tari. Hanya keterangan mantan pengurus panti yang menjadi pegangan mereka mencari Tari.


Aku sudah mengundang teman-temanku. Semua rencananya akan hadir dan ikut dalam pengajian yang akan dilaksanakan sehabis dzuhur.


Tenda sudah dipasang di depan rumahku dan karpet sudah digelar. Aku sudah memakai baju koko dan kain sarung yang sudah Tari persiapkan.


Katering sudah datang dan sedang diatur oleh Mama untuk para tamu undangan. Untung saja Mama belum pulang ke rumahnya sejak Tari melahirkan. Jadi acara hari ini ada yang membantu.


"Assalamualaikum!" ujar Mama Irna yang datang membawakan banyak makanan dan kado untuk Wira.


"Waalaikumsalam!" jawabku. "Ya Allah Mama... Bawaannya banyak banget. Jadi ngerepotin Mama aja nih!" kataku berbasa-basi. Padahal lumayan bawaan Mama Irna. Enak-enak dan mahal lagi makanannya.


Aku membantu Mama Irna membawakan kado berukuran besar yang Ia bawakan untuk Tari.


"Cuma segini aja, Gas. Buat cucu Mama enggak repot dong. Nanti Oma akan datang. Tari mana?" tanya Mama Irna.


"Di dalam, Ma. Ayo Agas antar!" kuajak Mama Irna ke dalam. Tari sedang menyusui Wira yang hari ini memakai baju koko. Nampak lucu di tubuh mungilnya. Kalau Tari mengenakan kaftan putih yang busui frendly. Rencananya Tari akan memakai jilbab nanti, sekarang masih mengurus Wira dulu.


"Assalamualaikum Tari!" sapa Mama Irna.


"Waalaikumsama Tante! Sini masuk!" jawab Tari.


Aku menaruh kado yang Tante Irna bawa dalam kamar. "Dari Mama Irna, Sayang! Gede banget kadonya!" kataku memberitahu Tari.


"Ya Allah jadi ngerepotin Tante." ujar Tari seraya melepaskan Wira yang sudah selesai nen dan kini tertidur pulas. Aku membantunya menaruh di box bayi.


"Enggak-lah. Masa sih ngerepotin?! Tante kan udah janji sama kamu. Oh iya, Tara enggak datang hari ini. Sudah berangkat umroh dia sama Damar. Kemarin selametan di rumah Tante. Doain ya semoga ikhtiar mereka membuahkan hasil!" kata Mama Irna pada Tari.

__ADS_1


"Aamiin!" jawab aku dan Tari kompak.


Mama Irna tersenyum melihat kekompakkan kami. "Mama nanti datang. Sejak kemarin Mama riweuh mau beliin kado buat Wira. Pilih ini itu enggak ada yang cocok. Tante sampai pusing dibuatnya!"


"Iya. Oma nanya terus sama Tari, Tante. Tari mau dikadoin apa sama Oma? Tari minta aja sama Oma, nanti Oma belikan. Oma setiap hari video call Tari terus, Tante." kata Tari dengan wajahnya yang sangat gembira saat menceritakannya.


"Iya. Mama sebentar-sebentar ke rumah Mama. Kasih liat foto Wira. Kamu nanti main ya ke rumah Tante. Rumah Tante sebelahan sama rumah Mama. Rencana selanjutnya kita ke rumah Tante Nia. Waktu Tante sakit, Nia yang mengurus Mama. Pokoknya nanti...."


Kutinggalkan Mama Irna dan Tari yang asyik mengobrol. Aku pergi ke depan dan membantu Mama menyiapkan acara aqiqah. Menata air mineral dan apapun yang bisa aku bantu.


Lalu tak lama datang Oma. Sudah diduga sih bawaan Oma lebih banyak dari Mama Irna. Beberapa kado dan makanan yang banyak jenisnya. Supirnya saja sampai beberapa kali bolak balik mengambilkan dari dalam mobil.


Oma memang orangnya royal. Tak pelit kalau memberi hadiah. Aku mempersilahkan Oma masuk ke dalam dimana ada Tari dan Mama Irna yang masih mengobrol.


Aku kembali membantu Mama menata makanan yang dibawa oleh Oma. Untung saja para karyawan Tari sudah Mama tugaskan membantu acara ini. Mereka dengan senang hati membantu. Mereka sangat sayang dengan Tari.


"Kalau mau nyobain, dimakan aja ya! Tak perlu sungkan!" kataku pada para karyawan yang membantu.


"Iya Pak Agas!"


Bastian datang bersama istrinya yang sedang hamil. Sony dan Riko masih saja menjomblo. Mereka datang berdua.


"Waalaikumsalam!" aku menjawab salam mereka. "Ayo masuk!"


"Wuidih Bapak Agas ganteng bener pake baju koko sama sarung. Kayak pengantin sunat aja! Ini acara aqiqah atau sunatan lo sih? Yang udah bergaya bapaknya bukan anaknya!" ledek Sony yang langsung disahut oleh Riko rekan satu alirannya.


"Kalau Bapaknya disunat lagi bisa habis dong? Lagi juga mau disunat pakai apa? Kapak? Pakai pisau mah enggak mempan. Udah alot punya Bapaknya ha...ha...ha..." Riko tertawa dengan puas. Menertawaiku tanpa kenal situasi dan kondisi. Untung para anak yatim belum ada yang datang.


"Mau dijitak atau dikasih bogem mentah nih?" sindirku. "Tangan kanan kuburan, tangan kiri rumah sakit!"


"Kalau dipukulnya pake cinta ada Pak?" ledek Riko.


"Cinta.. Cinta... Kegayaan lo ngomong cinta. Status masih jomblo aja!" balasku.

__ADS_1


"Weits! Keseringan ngasuh anak jadi enggak update nih! Udah punya calon dong gue sekarang!" pamer Riko.


"Mana? Enggak lo bawa kesini buat dipamerin?!"


"Lagi ada acara juga dia! Nih Sony yang masih jomblo. Kebanyakan milih dia. Kayak paling ganteng aja!" sindir Riko.


"Sial lo ah! Gue enggak ganteng tapi limitted edition. Kebanyakan diperebutin sama cewek-cewek jadi bingung milih yang mana!" kata Sony dengan sombongnya.


"Udah... Udah!" kataku menengahi. "Gue udah duga kalau lo berdua akan bergaya kayak gini! Tunggu sebentar!" aku mempersilahkan semuanya duduk dulu sementara aku masuk ke dalam.


Kuambil sebuah paper bag dan kuberikan pada Sony dan Riko. "Nih pake! Biar lo kembaran sama anak yatim yang bakalan dateng nanti!" ledekku.


"Apaan tuh?" Riko pun memeriksa paper bag yang kuberikan. Ada dua buah sarung dan baju koko untuk Riko dan Sony.


"Udah pake aja! Pakaian lo kayak anak alay tau enggak! Mau ke pengajian pake kayak gitu!" omelku.


"Iya... Iya.... Gue sama Sony ganti baju dulu!"


Ini yang kusuka dari mereka. Disuruh ganti baju ya ikut saja. Enggak banyak komentar.


"Udah keren belum kita berdua?" tanya Sony dan Riko yang sudah selesai berganti pakaian.


"Nah gitu dong! Baru keren! Nanti adek-adek doainnya yang bener ya, biar doanya dikabulin sama Allah!" ledekku.


"Ih sialan banget si Agas! Emak Bapak gue masih idup! Enak aja lo nyamain gue sama anak-anak yang lo undang hari ini!" cerocos Sony.


"Udah diem aja, Son. Lumayan dapet sarung sama baju koko gratis. Bermerk semua nih! Lumayan buat bokap di rumah!" beda dengan Sony, Riko malah senang dikasih baju koko.


"Ah lo mah, Ko! Mureh banget! Baru aja disogok baju koko udah luluh!" gerutu Sony.


"Udah... Udah... Gue bawain lo kue yang enak dari Mama Irna, mau?" tawarku.


"Mau!" jawab Riko dan Sony yang membuat aku dan Bastian tertawa dibuatnya.

__ADS_1


"Sama aja lo berdua, mureeehhhh ha...ha...ha..."


***


__ADS_2