
Dalam balutan mukena, sehabis mengucapkan salam dan menengok kanan dan kiri Tari menghampiriku. Ia mengulurkan tangannya.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Salim, Om! Kata Ibu, kalau punya suami nanti habis sholat disuruh salim."
Aku mengangguk-angguk mengerti. Kuulurkan tanganku dan Ia pun salim.
Wow... Jadi begini rasanya punya istri solehah?
Aku terdiam, terpaku di tempatku tanpa sanggup mengatakan apapun.
Jujur saja, ini pengalaman pertamaku. Tara? Hmm...
Aku dan Tara bukan makhluk yang rajin beribadah. Agamaku islam sih tapi hanya fomalitas di KTP saja, makanya saat aku menikahi Tara dulu bukan seperangkat alat sholat yang kujadikan mahar, aku saja tidak sholat masa sih menjadikannya sebagai mahar?
Aku dan Tara adalah dua anak muda metropolis yang menganggap sudah berbuat baik dengan orang lain saja cukup. Mengenai ibadah, kami berdua menomorduakan.
Mungkin karena dari keluarga kami berdua basic agamanya kurang kuat. Mamaku saja sampai sekarang tidak mengenakan kerudung padahal sudah tua, eh tua bukan jaminan harus mengenakan kerudung sih hanya ya begitulah...
Pantas saja Tari meminta dibelikan mukena. Ia rajin menunaikan sholat lima waktu ternyata. Hebat.
Aku salut dengan didikan ibu angkatnya. Mendidik dia lebih baik dari orang berpendidikan sepertiku yang hanya memikirkan tentang materi dan kepuasan batin saja.
Tari lalu melipat mukenanya dan pergi ke dapur. Ia bilang mau membuatkan sarapan untukku dan kedua orangtuaku.
Aku pikir Tari akan bertanya, apakah aku tidak sholat? Ternyata tidak. Entah karena Ia takut padaku atau Ia tak mau mencampuri urusanku.
Ya... Kalau dia bertanya aku pasti akan mengomelinya sih untuk tidak mencampuri urusanku. Baguslah dia mengambil keputusan yang tepat.
Kutarik selimut dan kembali tertidur. Lelah juga habis bersenang-senang di pagi hari.
"Om, bangun Om! Sarapan dulu!" kurasakan tubuhku di guncang-guncang. Pelan sih, tapi cukup untuk membuatku terbangun.
"Sebentar Sayang! Aku masih ngantuk! Lima menit lagi ya!" Tara memang tak sabaran nih. Masih pagi udah bangunin aku.
"Om! Papa dan Mama udah nungguin di bawah. Kita sarapan sama-sama ya!" ujarnya.
Lalu kesadaranku mulai menyadarkanku kalau yang aku panggil Sayang bukanlah Tara mantan istriku, melainkan Tari.
Aku pun duduk dan melihat Ia sedang duduk sambil memandangku dengan sedih.
"Sorry! Biasanya Tara yang bangunin aku!" aku bangun dan beranjak mandi.
Saat aku keluar dari dalam kamar mandi sudah ada pakaian yang Ia siapkan diatas tempat tidurku. Seprai yang kusut sehabis bergelut diatasnya semalam dan tadi pagi pun sudah rapi.
__ADS_1
Aku tanpa sadar menyunggingkan seulas senyum. Aku punya seorang istri sekarang. Istri yang sebenarnya.
Aku keluar dari kamar dan bergabung dengan Mama dan Papa yang sedang sarapan duluan. Rupanya aku ditinggal karena kesiangan bangunnya.
"Papa sama Mama duluan! Kelamaan nungguin kamu! Tari udah masak sarapan pagi, enak banget." puji Papa.
Mama hanya diam namun menikmati sarapannya dengan nikmat.
Tari lalu melakukan tugasnya sebagai seorang istri, mengambilkan aku nasi dan lauk lalu menaruh piring di depanku. Ia sendri kulihat belum makan, menunggu aku datang baru mengisi piringnya sendiri.
"Kamu hari ini ke showroom Gas?" tanya Papa.
"Belum tau, Pa." jawabku sambil menikmati sarapan yang rasanya enak ini.
"Biarin aja dia di rumah. Apa kata orang nanti, baru nikah langsung bekerja!" celetuk Mama. Meski nadanya ketus namun niat Mama baik. Aku tahu itu.
"Iya, Ma."
"Kamu sudah memberitahu Bapak tirinya Tari?" tanya Papa lagi.
"Belum sih, Pa. Biar pengacara Papa sajalah yang beritahu. Males Agas kesana!"
Tari menyimak saja percakapan kami tanpa ikut campur sama sekali.
"Enggak usah kesana! Kirim aja makanan ke rumahnya sebagai bentuk kalau kamu sudah menikah! Toh dia bukan Bapak kandungnya!" celetuk Mama lagi.
"Iya, Ma. Nanti Agas kirim makanan ke alamatnya." aku menoleh ke arah Tari, "Bapak kamu tinggal dimana sekarang?"
"Hmm... Bapak biasanya sih nongkrong di satu area judi. Bapak jarang pulang ke rumah kecuali kalau uangnya habis." jawab Tari sambil menunduk menahan malu.
"Susah kalau kayak begitu. Kirim uang sajalah! Minta tolong anak buahnya pengacara Papa saja!" usul Papa.
"Ya sudah begitu saja!" kataku setuju.
****
Karena tidak ke showroom maka aku memutuskan untuk bekerja dari rumah. Mengawasi pergerakan harga saham dan melakukan sesi jual beli.
Papa dan Mama tadi pamit mau ke rumah kenalannya lalu mau jalan-jalan mumpung ada di Jakarta. Papa menyupir sendiri menggunakan mobilku.
"Om. Ini kopinya! Tari buatin pisang goreng buat cemilannya." Tari meletakkan kopi dan pisang di meja di sampingku lalu hendak masuk lagi ke dalam.
Kupegang pergelangan tangannya. "Mau kemana? Duduklah! Temani aku bekerja!"
Tari pun menurut. Ia duduk diam memperhatikan aku bekerja.
__ADS_1
Aku lalu mendengar suara pertengkaran kembali menghiasi rumah tangga tetangga depan rumahku. Suara saling teriak dan saling bentak bahkan terdengar sampai telingaku.
Apakah itu rumah tangga yang kamu impikan sampai rela mengorbankan rumah tangga kita, yang kita bangun dengan cinta kasih dulu?
Apakah pantas kehilangan semuanya demi rumah tangga yang seperti itu?
Pertama Damar yang keluar rumah duluan, diikuti dengan Tara yang mengejarnya seraya melemparnya dengan sandal.
"Aku tuh cari uang buat kamu! Supaya kamu bisa hidup enak! Jangan jadi orang yang posesif seperti ini!" bentak Damar.
Tari sedang mmperhatikan keributan di depan tanpa berkedip sedikitpun. Sementara aku cukup melirik sesekali namun tetap memasang telinga untuk menguping pertengkaran mereka.
Dapat aku simpulkan kalau Tara mulai posesif dan membatasi gerak Damar. Aku kenal Damar, laki-laki yang tak mau diatur selain oleh Mamanya. Cih... Pantas saja mereka bertengkar hebat.
"Tari! Suapin aku!" ujarku namun Tari masih asyik menonton pertengkaran dua pasangan lucknut di depanku.
Kumajukan diriku dan mencium bibirnya pelan. Tari terkejut dicium secara tiba-tiba olehku. "Kenapa Om?" tanyanya sambil memegang bibirnya yang habis kucium.
"Suapin pisang gorengnya!" kuulangi perintahku.
"Iya, Om!" Ia menyuapiku sesuai yang aku suruh.
Aku bisa melihat dari sudut mataku kalau Tara dan Damar sedang melihat ke arah kami. Terbukti dari pertengkaran mereka yang terhenti.
"Sekarang cium pipi aku!" perintahku lagi.
"Disini Om?" tanyanya sambil melihat kiri kanan. "Itu tetangga kita ngeliatin!"
"Kalau kamu enggak mau, kita melakukan hal semalam di ruang tamu saja." negoku.
"Kan di dalam ada Mbak Inah? Om gimana sih? Malu kalau ketahuan!" tolaknya.
"Yaudah berarti lebih milih cium pipi aku sekarang kan?"
Ia mengangguk. Memajukan tubuhnya dan mencium pipiku.
"Sekali lagi!" mumpung kita sedang lagi bahan tontonan dua manusia lucknut itu.
Tari memajukan dirinya bertepatan dengan aku yang menyambarnya dan mencium bibirnya dengan penuh gairah.
Tari kaget dan tidak membalas ciumanku. Tak masalah. Biar aku yang memimpin kali ini. Aku terus mencium Tari sampai kudengar suara mobil pergi dan pintu rumah yang dibanting kesal.
Kusudahi menciumnya yang masih terdiam di tempat. Tanpa kata dan sorot matanya masih menampakkan kekagetan.
"Sudah. Sadarlah!" ujarku. Kuperhatkan lagi layar laptop dan melihat pergerakan harga saham kemballi.
__ADS_1
"Om melakukan ini karena ada Mbak Tara? Apa yang mau Om buktikan?"
****