
Utari
"Boleh saya menanyakan sesuatu sama kamu?" tanya Ibunya Mbak Tara padaku. Wajahnya terlihat begitu serius.
"Mau menanyakan apa ya?" tanyaku dengan rasa penasaran yang begitu tinggi. Kenapa Ibunya Mbak Tara mau bicara sama aku bahkan terkesan ingin mengetahui lebih dalam tentang diriku.
"Bisa kita bicaranya di dalam saja? Saya tak mau ada yang mendengarkan percakapan kita!" ujar Ibunya Mbak Tara sambil melirik ke arah Mbak Tara yang terus menatap dengan penuh curiga.
Aku pun mengiyakan permintaannya. "Baik, silakan masuk!" aku bukakan pintu rumah karena kebetulan Mbak Inah sudah pulang. Lalu kupersilahkan Beliau untuk duduk di ruang tamu, "Saya ambilkan minum dulu ya."
"Oh... Tak usah! Bisa kita langsung bicara saja?"
Aku urungkan niat untuk mengambil minum lalu aku duduk di sofa di seberang Ibunya Mbak Tara.
"Apa yang mau dibicarakan ya?" aku yang bertanya pertama kali.
"Boleh saya tahu, apakah kedua orang tua kamu adalah orang tua kandung yang sudah melahirkan kamu?" tanya Ibunya Mbak Tara dengan hati-hati.
"Maksud Anda apa ya bertanya seperti itu? Saya rasa, tidak sopan menanyakan hal seperti itu pada orang yang baru ditemui." kataku penuh curiga.
"Oh maaf, bukan maksud saya berkata tidak sopan. Saya punya alasan mengapa berkata seperti ini. Bisa dijawab pertanyaan saya dengan sejujurnya?"
Aku sempat meragu untuk berkata jujur. Aku melihat wanita di depanku dengan lekat. Dari gaya berpakaiannya terlihat sekali kalau wanita ini adalah seorang wanita yang berpendidikan. Wajar kalau Mbak Tara juga terlihat seperti itu.
Yang jadi masalah adalah kenapa Ia begitu penasaran dengan kehidupanku? Mau apa?
"Maaf, saya tak bisa menjawabnya sebelum saya tahu apa tujuan anda menanyakan hal tersebut." kataku dengan tegas.
"Saya tak ada niat jelek. Sungguh. Bisa kamu tanya sama Agas, saya mantan mertua yang masih amat menyayanginya."
"Saya tahu. Apa yang anda tanyakan adalah tentang kehidupan saya. Bukan tentang Om Agas. Saya berhak menolak memberitahu informasi diri saya loh." tolakku lagi.
Wanita di depanku tersenyum. "Bahkan sikap tegas kamu sangat mirip. Saya jadi semakin yakin."
__ADS_1
Aku mengernyitkan keningku. "Maksud Anda apa? Saya makin bingung dibuatnya!"
"Baiklah, saya akan menceritakan semuanya. Jadi, saya punya seorang saudara satu ayah dan ibu. Dia adalah adik saya, namanya Naura. Naura sempat pergi dari rumah saat masih muda karena Ia sedang bertengkar dengan Ibu saya. Penyebabnya adalah karena Naura mencintai seorang lelaki yang tidak direstui oleh ibu saya. Kami tak bisa berbuat apa-apa karena Naura tetap teguh dengan pendiriannya dan lebih memilih meninggalkan keluarga besarnya hanya demi seorang lelaki yang akhirnya membuat Ia semakin menderita,"
"Kami sekeluarga berusaha mencari keberadaan Naura. Ia bagai hilang ditelan bumi setelah dikabarkan menikah dengan laki-laki tersebut. Ternyata, laki-laki itu sudah meninggal. Penyebabnya karena kecelakaan. Semua terjadi saat Naura sedang hamil besar. Kami berusaha mencari, namun Naura selalu pergi dan kabur karena takut Ibu saya akan marah. Padahal waktu itu Ibu saya sudah mulai tergerak hatinya dan akan menerima Naura apapun keadaannya,"
"Naura berpikir kalau kami akan merebut bayi miliknya, karena itu Ia menitipkan bayi tersebut di salah satu panti asuhan. Saat kami akhirnya bertemu dengan Naura, keadaannya sungguh memprihatinkan. Ia mengidap suatu penyakit yang parah. Di akhir hidupnya, Naura mengatakan dimana Ia menitipkan putrinya yang bernama Tari. Nama Tari terinspirasi dari nama anakku Tara. Berharap kalau besar bisa sepintar Tara, keponakannya tersayang."
Deg...
Aku sangat terkejut mendengar semuanya. Aku terdiam dengan air mata yang terus berderai membasahi wajahku.
"Sayangnya disaat kami ingin mengambil bayi yang Ia titipkan, Naura harus dilarikan ke rumah sakit. Naura menghembuskan nafas terakhirnya disana. Kami lalu disibukkan dengan proses pemakaman Naura dan baru ke panti asuhan setelah 3 hari meninggalnya Naura. Sayang, bayi yang Naura titipkan sudah ada yang mengadopsi. Mereka adalah sepasang suami istri. Sulit mencari keberadaan mereka, karena alamat yang diberikan adalah alamat lama. Sampai akhirnya kami menyerah."
Ibunya Mbak Tara bercerita sambil menangis sesegukan. "Saya kasihan dengan Ibu saya. Ia sering menangis meratapi nasib Naura adik saya yang sangat menyedihkan. Ia sering menangis dan merutuki kesalahannya karena tidak merestui Naura dan suaminya untuk menikah. Ibu saya sangat sedih saat mengetahui bayi Naura sudah diadopsi. Melihat kamu, saya tiba-tiba teringat Ibu saya. Wajah kalian begitu mirip. Ibu saya berharap bisa bertemu dengan bayi Naura. Bisa melihatnya di sisa umurnya,"
Aku menghapus air mataku, semua seakan tak nyata bagiku saat ini.
"Apakah, kamu anak adopsi? Apakah kamu adalah keponakan saya, anak Naura yang selama ini kami cari?" tanya Ibunya Mbak Tara dengan penuh harap.
Ibunya Mbak Tara menutup mulutnya saking terkejut. "Ya Allah...."
"Saya tidak bisa mengatakan saya anak siapa, karena saya sendiri sudah ada di panti asuhan sejak bayi. Itu yang dikatakan oleh Ibu angkat saya."
Tanpa aku duga, Ibunya Mbak Tara langsung memelukku dengan erat seraya menangis sesegukan.
"Ya Allah... Pasti benar. Pasti kamu adalah anaknya Naura.... Ya Allah Naura... Mbak berhasil menemukan anakmu!"
Aku juga ikut menangis. Tapi aku ragu. Apakah benar aku keponakannya Ibunya Mbak Tara?
"Tapi... Saya tak yakin...."
Ibunya Mbak Tara melepaskan pelukanku. Beliau menangkupkan kedua tangannya di wajahku. "Tante yakin, Sayang! Yakin sekali! Kamu tenang saja, Tante akan melakukan tes DNA untuk menghapus keraguan kamu!"
__ADS_1
"Test DNA?"
"Oh iya, nama Tante adalah Irna. Tante Irna, kamu panggil saja begitu. Saking terkejutnya melihat kamu, Tante sampai lupa memperkenalkan diri. Tante akan segera melakukan test DNA. Tapi Tante yakin 100 persen, kamu adalah anaknya Naura."
Benarkah? Benarkah akhirnya aku punya saudara? Aku akhirnya akan punya keluarga?
"Tante akan kembali lagi nanti! Kita bersama-sama akan pergi untuk mengeceknya di rumah sakit. Tante ke rumah Tara dulu ya!"
Aku hanya bisa terdiam selepas Mamanya Mbak Tara pergi. Aku diam dan terus memikirkan semua perkataan Mamanya Mbak Tara.
Kalau memang benar aku sepupunya Mbak Tara, berarti aku ini adalah anaknya Mama Naura. Aku punya Mama?
Kuhapus air mata yang menetes di wajahku. Ibu pernah mengatakan padaku, jangan pernah membenci kedua orang tua kandungku yang menitipkan aku di panti asuhan. Mereka pasti punya alasan sendiri. Jangan juga menyalahkan takdir, karena takdir yang kejam pula aku akhirnya bisa bertemu dengan Ibu dan Om Agas tentunya.
Kepalaku terasa pening. Terlalu banyak yang aku pikirkan. Masalah cafe, Mbak Tara yang sekarang agresif mendekati Om Agas dan kemungkinan kalau aku masih memiliki nenek. Huft....
Sepertinya aku butuh tidur sejenak untuk meredakan sakit kepalaku. Aku lalu masuk ke kamar. Melaksanakan sholat dan tertidur pulas.
Aku tak tahu sudah berapa lama aku tertidur, rasanya tenang sekali. Tak perlu memikirkan apapun. Sampai aku mendengar suara seseorang memanggil namaku.
"Tari! Tari! Kamu tidur? Tari!"
Aku membuka mataku dengan perlahan. Ada lelaki tampan yang menatapku dengan penuh khawatir.
"Kamu sakit?"
"Om Agas? Om udah pulang?"
****
Hi semua!
Yuk cuz di novel baru aku!
__ADS_1
Langsung kasih dukungan kalian ya... Maacih 😘