
Aku masuk ke dalam kamar dan mendapati kalau Tari sudah menyiapkan pakaian dan juga handuk bersih untuk aku mandi. Perlakuan Tari sungguh memanjakanku sebagai suaminya. Aku merasa sangat tersanjung.
Jujur, Tari juga semakin kesini semakin terlihat cantik saja. Wajahnya yang awalnya polos tanpa make-up kini terlihat lebih segar dengan sedikit polesan make-up di wajahnya.
Kubersihkan seluruh tubuhku lalu bersiap makan malam. Saat aku keluar kamar mandi, Tari sedang melaksanakan sholat. Rajin memang anak itu. Aku akui.
"Om, mau sholat dulu atau mau langsung makan?" tanya Tari seraya mengulurkan tangannya untuk salim.
"Langsung makan saja!" jawabku. Aku ditanya sholat, sudah pasti jawabannya tidak dong!
"Baiklah." kukira Ia akan membantahku dan berujung dengan ceramah panjang lebar, ternyata tidak. Tari melipat mukenanya dan pergi ke ruang makan untuk menyiapkan makan malam untukku.
Kami makan dalam diam. Tari seakan tak mau menyinggung perasaanku dan aku juga bingung mau mengatakan apa.
Kupikir Ia akan menyerangku dengan pertanyaan kenapa aku tak mau sholat, ternyata tidak. Tari membiarkanku makan dengan tenang sampai seluruh isi piringku habis tak tersisa. Masakannya memang enak. Aku yakin Ia pasti akan cepat pintar jika ikut kursus.
"Aku pilih motor ini saja ya! Tidak terlalu besar dan cocok buat kamu!" ujarku seraya memilih motor Vespa keluaran terbaru.
"Iya. Terserah Om saja!" Ia membereskan piring bekas makan dan mencucinya.
"Oke. Motor beres dan tempat kursus juga beres. Kamu bisa mulai kursus minggu besok. Aku akan antar kamu namun tak bisa jemput. Kamu pulangnya bisa naik taksi atau ojek online. Bisa kan memesan ojek online sendiri?" tanyaku memastikan.
"Bisa, Om. Jaman sekarang harus bisa pesan ojek online sendiri. Tari udah pernah mempelajarinya kok."
"Bagus. Besok pagi kita ke bank untuk membuat rekening atas nama kamu. Aku akan transfer kamu setiap bulan uang belanja dan uang jajan kamu secara terpisah. Uang belanja, gunakan untuk keperluan rumah seperti membayar listrik, tagihan air dan belanja keperluan sehari-hari untuk masak. Uang jajan gunakan untuk membeli keperluan kamu. Baju atau apapun yang kamu suka. Kalau kurang bilang saja, nanti aku tambahkan lagi!"
"Terima kasih, Om!"
Aku balik ke kamar terlebih dahulu. Aku membaca portal berita online tentang maraknya aksi penjualan manusia.
Kalau saja Tari sampai benar-benar di jual Bapak tirinya ke mucikari, aku tak tahu bagaimana nasibnya kelak. Ia juga akan masuk ke dalam penjualan manusia .
Kasihan. Masih muda namun cobaan hidupnya begitu berat. Tidak mencoba bunuh diri saja sudah bagus.
Tari masuk ke dalam kamar dan langsung menuju kamar mandi. Rupanya Ia mengambil air wudhu dan langsung melaksanakan sholat isya.
__ADS_1
Wajahnya terlihat begitu bersinar terkena air wudhu. Seakan ada cahaya yang menerangi sekelilingnya. Cantik sekali.
Aku tanpa sadar terpukau dan terus memandanginya. Aku beruntung bisa memperistrinya. Tari adalah wanita solehah yang Allah berikan untukku.
Mungkin benar apa yang Papa katakan, kalau Tari akan menyembuhkan penyakitku. Penyakit suka jajan di luar dan penyakitku yang takut untuk menjalani pernikahan.
Pernikahanku dengan Tari sejauh ini masih dalam taraf normal. Tari melakukan tugas dan kewajibannya, sedangkan aku kadang masih saja nackal.
Tari sudah selesai sholat. Ia menghampiriku untuk salim lalu melipat mukenanya. Aku kembali fokus dengan Hp yang kupegang.
Percakapan di group chat dengan sahabat-sahabatku begitu seru. Mereka membicarakan tentang pesta di villa milik Riko yang akan mengundang para gadis.
Aku tak menyadari kalau Tari sudah merebahkan tubuhnya di sebelahku. Ia menarik lenganku dan menjadikan lenganku sebagai bantalannya. Manja sekali sikapnya malam ini.
Mataku membulat saat aku melihat Tari mengenakan salah satu lingerie yang kubeli. Bahkan Ia tidak memakai bra dibaliknya. Susah payah aku menelan salivaku. Anak ini benar-benar meggodaku, menggoyahkan imanku.
"Sesuai janji Tari, kalau Om tidak pergi keluar dengan teman-teman Om maka Tari yang akan melayani Om."
Melayaniku?
Wow...
Aku tersenyum mendengarnya. Sejak kapan si polos ini berubah menjadi gadis penggoda yang menggoda imanku?
Ada untungnya juga tadi aku menolak Cici dan langsung pulang ke rumah. Aku dapat reward dan Tari yang mempersembahkan hadiah untukku.
Aku membelai pipinya yang halus. Kutaruh Hp milikku diatas nakas tanpa melihat sama sekali. Mataku sungguh terfokus pada pemandangan indah di depanku.
Kutundukkan kepalaku dan kurengkuh wajahnya. Kucium bibir ranumnya yang manis, semanis strawbery.
Tari membalas ciumanku. Gadis pintar! Sudah bisa membalasku rupanya. Membuat gelombang napsu dalam diriku pun terbangkitkan.
Aku mau membuatnya lebih relax , maka sambil menciumnya tanganku pun mulai memainkan pucuk dadanya yang begitu menggoda dibalik lingerie tipis yang Ia kenakan.
Ia lalu mendesah. "Uh.... "
__ADS_1
Aku tahu dia menikmati setiap sentuhanku, sama sepertiku yang menikmati saat tangannya mulai menggerayangiku.
Wow... Bagaimana dia bisa berkembang pesat hanya dalam beberapa hari? Belajar darimanakah dia?
Puas berbelit lidah aku pun mulai turun ke leherenya dan berlama-lama menikmati harum parfum yang Ia semprotkan ke sekeliling tubuhnya.
"Mmm...." tanpa sadar aku begitu menikmatinya.
Aku meninggalkan beberapa tanda di lehernya. Aku tak tahan tidak melakukan hal itu.
Tanganku terus memainkan ujung dadanya, membuat aku sendiri yang tak tahan untuk segera menikmati miliknya yang sangat mempesona. Kuturunkan lingerie miliknya dan terlihatlah dua buah sintal miliknya yang mengeras dan siap kunikmati.
Aku melahapnya dengan rakus. Membuat Tari semakin mendesah makin kencang. "Ah... Om... Uh.... Om.... Mmm..."
Aku tak mau melepaskannya. Aku masih mau terus menikmatinya. Namun saat Ia mengangkat kausku aku tahu Ia ingin segera melakukan penyatuan. Oke. Aku kabulkan.
Kuturunkan celanaku dan membalik posisiku menjadi diatasnya. Aku menggigit g string yang Ia kenakan dan menurunkannya dengan mulutku.
Ada rasa berdesir dalam diriku. Biasanya aku yang dipuaskan tapi kali ini aku ingin memuaskan dan dipuaskan secara bersamaan.
Tari sudah siap dengan seranganku, begitupun dengan adikku yang sudah berdiri tegak. Aku pun mulai melakukan penyatuan.
Medan yang kulalui tidak longgar seperti biasanya. Ibaratnya hutannya belum terjamah manusia. Membuat aku harus pelan-pelan untuk masuk dan membuat wajah menahan sakit berganti menjadi wajah penuh harap.
Berhasil. Tari yang awalnya meringis karena merasakan perih mulai bisa menikmati permainanku.
Kami bergerak bersama. Mereguk kenikmatan bersama. Aku belum berani menyuruhnya berbagai gaya, nanti saja. Ini juga sudah memuaskanku.
Aku mempercepat gerakanku membuat Tari mendesah makin kencang. Aku tak perlu memakai pelindung lagi. Aku bisa melakukannya kapanpun dan uh.... Kupeluk Tari saat aku sampai di pelepasanku dan.....
Ah... Lega...
Aku mengecup kening Tari dan tanpa sadar mengucap: "Makasih, Sayang!"
Aku pun jatuh tertidur di samping Tari. Aku tak tahu kalau sejak tadi Tari menangis haru. Kebahagiaan dalam dirinya begitu membuncah.
__ADS_1
Aku sudah terlalu lelah untuk membuka mata saat kurasakan Tari memelukku dengan tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun. Aku memeluknya dengan erat dan kami pun merajut mimpi bersama.
****