
Agas
"Kenapa? Kok kita berhenti di apotek dulu? Kamu sakit?" tanyaku penuh kekhawatiran. Memang belakangan ini Tari terlihat kurus dan mudah lelah. Aku takut terjadi apa-apa dengannya.
Tari tak menjawab. Tiba-tiba tadi Ia menjadi pendiam dan seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Hey, ada apa?" tanyaku sambil memarkirkan mobilku di parkiran mobil.
Tanpa menungguku, Tari turun dan langsung masuk ke dalam apotek. Aku mengunci mobil dan bergegas menghampirinya.
Tari sudah berbicara dengan karyawan apotek dan ditunjukkan ke satu lorong. Aku mengikutinya dan Ia mengambil sebuah alat berbentuk panjang sebanyak 3 buah lalu membayar di kasir.
Aku kembali ke lorong tadi dan mengambil apa yang Ia beli. Testpack? Mungkinkah?
Tari diam dan membawa barang yang Ia beli ke dalam mobil. Tanpa kata Ia duduk dalam mobil.
Aku masuk ke dalam mobil dan tak langsung menjalankan mobilku. Kutatap wajah Tari dan kuraih tangannya yang terasa dingin.
"Kamu beli testpack?"
Tari menatapku takut-takut. Ia mengangguk dan tak menjawab sama sekali. Hanya anggukan.
Lalu dengan suaranya yang berdecit Ia berkata : "Kalau... Kalau Tari hamil gimana Om?"
Aku menatapnya bingung. Kenapa dia bertanya begitu?
"Kamu sudah telat menstruasi memangnya?" aku lebih memilih bertanya balik dibanding menjawab pertanyaannya.
Ia mengangguk. "Tari belum pernah menstruasi sekalipun sejak kita menikah."
Pernikahan kami sudah memasuki bulan ketiga. Berarti kalau Ia memang benar hamil usia kandungannya sekitar 8 sampai 12 minggu. Benarkah?
__ADS_1
Tangannya semakin dingin saja.
"Apa yang kamu cemaskan? Kalau hamil ya sudah." kataku.
"Ya sudah apa? Om mau gugurin?" tanyanya penuh ketakutan.
Aku mengerutkan keningku. "Aku enggak pernah bilang dan menyuruh kamu menggugurkan kandungan kamu. Ya sudah kalau hamil. Memang kenapa? Toh itu anak kita."
Tari mengangkat wajahnya dan menatapku lekat. "Om tak masalah? Om menginginkan bayi ini? Tapi... tapi kan Om enggak mencintai Tari?!"
Aku tak mengerti jalan pikiran wanita ini. Sebenarnya dia senang nggak sih hamil? Kenapa banyak sekali yang dia pikirkan? Kenapa juga harus nanya apakah aku mencintai dia apa enggak?
"Ya aku menginginkan bayi itulah. Itu kan anak aku. Apa alasannya aku tidak menginginkan anak aku sendiri?" aku malah balik bertanya pada tari.
Wajahnya bukan malah tambah cerah dan sudah lega, tapi malah semakin bingung. Apalagi coba yang dia pikirin? Aku kan udah bilang kalau aku menginginkan bayi itu!
"Tapi... Om kan nggak mencintai Tari. Kasihan anak ini kalau dia hidup diantara kedua orang tuanya yang tidak saling mencintai." ujar Tari dengan wajahnya yang masih murung.
Lalu Tari menangis. Ya ampun, dia mulai kembali ke mode sensitif seperti kemarin. Ini tuh belum diperiksa hamil ngapa nggak, tapi Tari itu sudah mencerminkan kalau hormon sensitifnya tuh begitu kuat dari kemarin. Aku makin yakin kalau Ia hamil, enggak usah pakai test pack segala!
"Huaaaa..... huhuhu... Kasihan sekali anak ini...." ujar Tari disela isak tangisnya.
"Kasihan kenapa sih? Memangnya aku mau membuang bayi itu? Enggak!" kataku sambil menahan stok sabar yang kumiliki.
"Om punya niat untuk membuangnya? Huaaa...." tangisnya malah makin pecah.
Bukannya dicerna dulu maksud aku tuh apa, eh malah mengambil kesimpulan dengan cepat. Aku nggak bilang kalau aku itu mau ngebuang bayi itu. Kenapa sih dengan Tari ini? Kalau udah mode sensitif kayak gini tuh aku pusing!
"Aku enggak akan buang anak aku sendiri, Sayang!" lagi-lagi aku tahan emosiku. "Kita tuh suami istri, ya aku akan menyayangi anak aku dengan sepenuh hati. Kamu jangan kebanyakan mikir yang nggak-nggak, nggak bagus buat kesehatan kamu! Kalau ada anak diantara kita, hubungan kita juga makin erat. Malah, anak itu sudah aku impikan sejak dulu."
"Tapi Om Agas kan nggak cinta sama Tari?"
__ADS_1
Lagi-lagi yang dibahas tentang cinta, cinta dan cinta. Kenapa sih? Memang nggak bisa gitu kita hidup dengan orang yang membuat kita nyaman, yang kita sayang, tanpa harus ngomongin cinta? Enggak tahu apa, kalau cinta itu lebih banyak nyakitin dibanding menyenangkan? Nggak tahu apa, kalau rasanya disakitin sama orang yang kita cintai itu tuh sakit banget dan susah untuk ngelupain?
"Apa aku harus sesumbar sama kamu, sama semua orang kalau aku mencintai kamu? Aku harus koar-koar pakai toa masjid untuk ngasih tahu kamu betapa aku cinta sama kamu? Kamu lebih suka digombalin seperti itu? Maaf, aku bukan orang yang seperti itu! Aku bukan orang yang mengagungkan cinta sampai segitunya. Tapi aku adalah orang yang bertanggungjawab,"
"Aku menyayangi kamu dan aku ingin kita hidup bersama sampai ajal memisahkan. Nggak perlu pakai kata-kata cinta. Kamu, aku adalah kita. Nggak usah kebanyakan mikirin hal-hal yang menurut aku nggak penting! Jalani dan kita akan bahagia bersama." kataku panjang lebar.
Tari menghapus air mata di wajahnya. "Om akan menyayangi anak Tari juga?"
Ya Allah... Ini anak kenapa jadi nyebelin kayak gini sih? Apa emang karena dia sedang hamil? Kenapa sifatnya beda banget? Aku harus banyak sabar nih kalau kayak gini. Dari tadi muter-muter terus pertanyaannya kayak gitu. Ya kali aku nggak sayang sama anak sendiri?!
"Sama kamu aja yang baru aku ketemu, aku mau melindungi kamu, menikahi kamu dan memperlakukan kamu dengan penuh kasih sayang. Kenapa kamu bisa berpikir kalau aku enggak akan menyayangi anak aku sendiri? Aku pasti akan menyayanginya! Kamu nggak usah khawatir. Udah deh jangan kebanyakan yang kamu pikirin. Kamu tuh jadi super sensitif tau enggak akhir-akhir ini? Aku salah sedikit kamu mewek. Aku ngomong sedikit kamu marah. Kenapa? Apa yang terjadi sama diri kamu?!"
"Jujur aja Om, Tari takut. Di dunia ini, cuma Om yang Tari punya. Kalau memang Tari hamil, Tari cuma punya anak ini dan Om. Tari mau, Om sayang ya sama kami berdua. Om belajar untuk mencintai kami. Tari mau, anak Tari lahir dan melihat kedua orangtuanya saling mencintai. Om mau kan?" pinta Tari dengan sungguh-sungguh.
"Jujur aja, aku lebih suka melihat kamu mendesah kenikmatan dibanding melihat kamu melow kayak begini. Aku tuh udah sayang sama kamu. Aku bahkan tidak mencintai Tara lagi. Artinya apa coba? Itu artinya kamu yang kini mengisi hati aku! Ih aku enggak bisa nih ngomong sok puitis kayak gini, udah ayo kita test! Kalau kamu belum hamil juga, akan aku buat kamu hamil anak aku! Puas?" kataku dengan sebal.
Tari kini tersenyum lebar. "Puas. Sekarang peluk!"
Cepat sekali mood swingnya? Sebentar nangis, sensitif, marah dan kini tersenyum?
"Kalo peluknya sambil kamu goyang diatas aku gimana? Sepi nih kayaknya. Kita main di mobil mau? Udah lama enggak nyoba tantangan ekstrim nih?!" kugoyangkan kedua alisku menggodanya.
"Enggak mau! Tari mau pulang! Mau mencoba test pack ini langsung!"
Yah kalau dia sudah menolak keinginanku, aku bisa apa? Daripada mewek lagi, bisa pusing aku nanti!
"Oke! Kita pulang!" kumajukan tubuhku dan memakaikan seat belt padanya. "Tuh, kurang sayang apa coba aku sama kamu?!"
Tari memegang wajahku dengan kedua tangannya. "Tari juga sayang sama Om!" sebuah ciuman pun mendarat di bibirku.
****
__ADS_1