
Agas
Mungkin aku yang belum tau bagaimana tumbuh kembang bayi, namun dibanding kemarin Wira terlihat lebih cengeng. Biasanya siang Ia tidur dengan pulas dan malamnya mengajakku begadang. Ini berbeda.
Sejak tadi Wira rewel, seakan tau kalau Mommynya sejak tadi gelisah dan tak tenang dengan masa depannya. Ia mencari perhatian Tari terus dengan tangisannya dan baru berhenti menangis setelah Tari memberikannya nen.
"Bi, bisa kasih tau hasilnya apa? Wira udah tidur pulas nih!" ujar Tari seraya melepaskan nen dari Wira dan mengancingkan kembali kancing dasternya.
"Betul, Gas. Oma juga penasaran. Apa kamu menemukan tanda lahir yang Oma sebutkan?" tanya Oma.
Rupanya bukan hanya Tari yang penasaran, Oma juga. Semua mau tahu apa yang aku lihat di kamar.
"Baiklah, Agas akan memberitahu apa yang Agas lihat. Agas mencari di sebelah kiri, tidak ada tanda lahir sama sekali." aku memperhatikan Tari, Mama Irna dan Oma terlihat begitu tegang.
"Lalu?" tanya Mama Irna penasaran.
Kulirik Mama yang mengambil Wira dari tangan Tari dan menggendongnya. Inisiatif Mama saja takut cucunya kaget kalau Mommynya nangis.
"Di sebelah kanan Agas lihat... Ada bulatan berukuran sekitar jari jempol Agas. Berwarna merah. Apa itu tanda lahirnya Oma?" tanyaku dengan wajah serius.
Oma menangis dan langsung berdiri dan memeluk Tari. "Ya Allah cucuku.... Aku masih bisa bertemu cucuku.... Ya Allah.... Naura... Mama bisa melihat anak kamu... Terima kasih..."
"Benarkah?" tanya Tante Irna tak percaya.
Dengan berlinang air mata Tante Irna juga ikut memeluk Tari. "Ya Allah keponakan Tante... Naura... Anak kamu sudah ketemu, Na...."
Tari tak berkata apa-apa. Ia ikut menangis bersama nenek dan tantenya. Tanpa kusadari, aku juga ikut menitikkan air mata.
__ADS_1
Tariku... Akhirnya punya keluarga....
Tariku... Akhirnya bisa memeluk keluarga kandungnya...
Mama juga ikut menangis sambil menggendong Wira. Rupanya seisi ruangan terharu dengan pertemuan keluarga yang sudah terpisah lama ini.
Oma lalu melepaskan pelukannya pada Tari, Mama Irna juga melakukan hal yang sama. Oma menghapus air mata di wajah Tari dengan jari keriputnya.
"Maafin Oma, Sayang... Maafin Oma...." kata Oma penuh penyesalan. "Andai dulu Oma merestui hubungan Naura dan Andri, pasti kamu tak akan mengalami nasib seperti ini. Kamu akan tumbuh dengan keluarga yang amat menyayangimu. Semua karena keegoisan Oma. Andai Oma bisa memutar waktu, pasti Oma akan merestui kedua orang tua kamu, Nak. Semua salah Oma...." Oma kembali menangis menyesali keputusannya di masa lalu.
Tari menggelengkan kepalanya. "Ini sudah takdir Allah, Oma. Sudah jalan hidup Tari seperti ini. Tari hanya bisa menjalaninya dengan penuh syukur. Oma tak perlu menyalahi diri Oma terus menerus. Tari yakin, Oma pasti punya pertimbangan sendiri sampai tidak merestui hubungan Mama Naura."
"Kamu... Mau maafin Oma, Sayang?" tanya Oma lagi dengan suara serak karena sejak tadi terus menangis.
Tari kini menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Tentu Oma. Tak ada dendam dalam hati Tari. Tari sudah sangat senang mengetahui kalau Tari punya keluarga. Ini adalah kado terindah yang Tari dapatkan. Tari masih punya Oma, hal yang selama ini terlalu takut Tari impikan. Sekarang tak perlu bermimpi, Tari memang memiliki Oma. Oma yang cantik!"
Aku terharu melihat pertemuan keluarga ini. Oma yang begitu merindukan cucu yang tak pernah dijumpai sama sekali. Belum lagi perasaan bersalah dalam diri Oma karena tak merestui anaknya menikah dengan lelaki yang dicintainya dan berujung dengan anaknya harus menitipkan cucunya di panti asuhan sebelum meninggal dunia. Pertemuan ini seakan membuka ikatan lama yang menyakitkan semua orang.
Tari yang memeluk Oma dengan penuh kasih sayang. Memeluk keluarganya yang sebenarnya. Bahkan Tari ingin menceritakan semua yang terjadi dalam hidupnya pada neneknya satu-satunya.
"Bagaimana dengan Papa Tari, Oma?" tanya Tari setelah mereka mulai membicarakan kehidupan yang mereka lalui masing-masing.
"Papa kamu adalah anak yatim piatu, itulah kenapa Oma tak merestui hubungan Mama kamu Naura dengannya. Oma mau Mama kamu menikah dengan keluarga yang berada karena dulu Oma menganggap kalau menikah dengan keluarga berada akan menjamin kebahagiaan. Namun Oma salah, Mama kamu nekat kawin lari dan pergi dari rumah bersama Papa kamu,"
"Mungkin karena Oma tak merestui, rintangan demi rintangan dalam rumah tangga mereka mulai muncul. Papa kamu meninggal. Naura pun mengidap penyakit sehingga harus menitipkan kamu di Panti Asuhan. Andai, Oma bisa mencabut semua kekesalan Oma dan memberikan restu kepada kedua orang tua kamu, mungkin ending ceritanya nggak kayak gini." lagi-lagi Oma menyesali perbuatannya di masa lalu.
Aku tahu, rasa penyesalan dalam diri Oma begitu besar. Ia sejak tadi terus menerus mengatakan, andai dirinya bisa kembali ke masa lalu. Menurutku, hal itu tak perlu. Semua yang terjadi sudah tercatat di suratan takdir. Meskipun Oma bisa kembali ke masa lalu, belum tentu Ia bisa mengubah apa yang sudah menjadi suratan takdir.
__ADS_1
"Boleh Tari nanti menemui Mama Naura, Oma?" tanya Tari.
Oma mengangguk. "Boleh. Tentu saja, Sayang. Oma yang akan mengantar kamu kesana."
Seulas senyum akhirnya terukir di wajah Tari. Sejak tadi Ia terus menangis. "Makasih, Oma. Setelah aqiqah Wira ya Oma. Tari juga harus memulihkan diri Tari dulu."
"Iya, Sayang. Wira adalah cicit Oma ya berarti? Oma boleh gendong? Sejak tadi Oma mau gendong tapi takut enggak dikasih ijin."
"Boleh dong, Oma." Tari lalu meminta Mama memberikan Wira pada Oma.
Oma pun menerima Wira dan menggendongnya dengan penuh kasih. Iya masih saja menangis Oma sepertinya air matanya tak kunjung surut. Masih merasa sedih saja. Padahal, seharusnya momen seperti ini untuk sukacita namun Oma meluapkannya dengan cara menangis.
"Oma belum kasih kamu kado ya Wira? Wira mau apa? Besok ya Oma bawakan kado buat Wira." Oma berbicara dengan Wira seakan Wira yang tertidur pulas bisa menanggapi omongannya.
"Tdak usah repot-repot, Oma. Oma datang untuk menjenguk Wira saja Tari sudah sangat senang. Oma cukup mendoakan Wira agar menjadi anak yang sholeh dan berbakti pada orang tua."
"Tidak boleh dong. Menjenguk anak bayi yang baru lahir harus bawa kado. Oma juga punya sesuatu buat kamu. Besok ya... Oma akan datang lagi ke sini. Oma akan bawa kado untuk Wira dan sesuatu untuk Mommy Tari."
"Buat Tari juga Oma?"
"Iya dong. Punya Mama kamu."
"Apa itu, Ma?"
"Rahasia!"
Mama Irna sejak tadi menatap Tari dan Oma yang mengobrol dengan akrab. Ia senang akhirnya Oma dan Tari telah bertemu setelah sekian lama.
__ADS_1
****