Duda Nackal

Duda Nackal
Aku Bersyukur


__ADS_3

Tara. Dengan sikap sok akrab dia mendatangi kami yang sedang mengobrol sambil tersenyum.


"Kok kamu nggak ngajak aku sih, Gas? Kita kan tetanggaan! Kalau ada acara, ajak-ajak dong! Apalagi, ada anak-anak di sini! Aku kan juga mau gabung sama kalian." ujar Tara dengan cueknya.


"Eh ada Tara?!" sapa Riko. "Sehat, Tar?" tanyanya berbasa-basi.


"Sehat, Ko. Kalian gimana? Kesini sama siapa? Gebetan baru?" jawab Tara.


"Kalo gue sama Sony sih baru. Kalo Bastian udah mulai ngikutin Agas. Setia sama satu wanita." sindir Riko.


"Ah masa sih?" Tara melirik ke arahku. Aku mengacuhkan keberadaannya. Tari sedang sensitif, kalau aku menanggapinya nanti bisa marah lagi seperti tadi pagi.


"Damar mana, Ra?" tanya Sony berbasa-basi padahal Ia sudah tau kalau Damar sudah tak pulang ke rumah dan sering menghabiskan waktunya di club sambil mabok-mabokkan.


"Entah?! Gue udah enggak peduli!" Tara lalu mencari kursi kosong dan duduk tanpa ijin. Memang Ia orangnya secuek dan tidak peduli itu. Dulu aku menyukai sikap cueknya itu, namun kini bagiku itu adalah perbuatan yang tidak sopan.


"Gue pernah liat Damar di club loh, Ra. Mabok-mabokkan. Lo enggak ngelarang?" sindir Bastian.


"Mau mabok kek, mau ngapain kek. Gue udah enggak peduli. Gue udah ngajuin gugatan. Mau gue cerein laki kayak gitu!" jawab Tara dengan entengnya.


Hatiku merasa sangat emosi. Apakah dulu aku serendah itu di mata Tara? Kalau Ia memperlakukan Damar seperti itu, bukan tidak mungkin Ia juga dulu memperlakukan aku seperti itu.


Aku jadi merasa kok diriku di mata dia begitu tak berharga? Damar saja yang Ia dapatkan dengan banyak pengorbanan diperlakukan seenaknya seperti itu. Apalagi aku dulu?


Seketika aku merasa sangat ilfeel dengan apa yang Ia lakukan. Rumah tangga yang dibangun dengan penuh cinta dengan mudahnya Ia lepaskan hanya demi kepuasan batinnya saja.


Jangan-jangan, selama ini Tara nggak pernah mencintaiku? Aku hanyalah obsesi yang selama ini Ia harus capai. Saat Ia mendapatkanku, Ia puas lalu Ia bosan dan dia buang begitu saja. Kini setelah memiliki Damar, Ia nggak nyaman dan Ia buang juga. Akhirnya Ia merasa, aku lebih baik daripada Damar, dan kini aku yang Ia kejar-kejar lagi.


Dimana hati nuraninya?


"Gue ambil makanan dulu ya!" aku berdiri dan meninggalkan Tara. Aku merasa muak berada di dekatnya.


Aku pun pergi ke dapur. Tari sedang menyiapkan cemilan dibantu oleh Mbak Inah yang kubayar lembur hari ini.


"Bagi cemilan dong, Sayang!" ujarku seraya memeluk pinggang Tari dari belakang.


Tari menatapku heran. "Tumben Om manggil Tari dengan sebutan sayang!" sindirnya. "Lagi akting? Depan siapa?"


Beberapa hari ini Tari semakin berani saja bicara seenaknya padaku.

__ADS_1


"Enggak. Memang aku sayang kok sama kamu. Mulai sekarang aku akan lebih sering lagi manggil kamu Sayang!" kataku sambil mengecup pipinya.


Mbak Inah yang melihat merasa kikuk. "Saya antar makanan ke depan dulu ya, Neng!"


"Oh iya, Mbak!" ujar Tari tak enak hati.


Tari lalu memukul tanganku yang melingkar di pinggangnya. "Udah selesai belum aktingnya?"


"Ish! Aku enggak akting tau!" jawabku tanpa melepaskan pelukanku.


"Ada siapa di depan? Mbak Tara?" tebaknya.


Aku mengangguk tanpa berkata apa-apa.


"Pantesan aja tiba-tiba manja kayak gini! Mau dilihat sama Mbak Tara kalau kita pasangan yang romantis?" sindirnya.


Tari sepedas ini karena memang aku yang selama ini sering menyakitinya. Aku sering memperlakukannya baik hanya demi dilihat Tara. Kini saat aku melakukannya dengan sungguh-sungguh Ia malah tidak percaya.


"Aku enggak akting. Aku memang ingin meluk kamu!" jawabku dengan jujur.


"Kenapa? Tumben banget!"


Tari terdiam. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang kencang. Kucium pundaknya dan menyesap harum tubuhnya yang membuatku candu.


"Aku sayang kamu! Aku bersyukur memiliki kamu sebagai istriku! Semakin aku berada di dekat Tara, semakin aku bersyukur akan keputusanku menikahi kamu. Maaf kalau selama ini aku sering menyakiti hati kamu. Aku akan belajar untuk menghapus sedikit demi sedikit luka yang aku buat."


Lalu aku merasakan ada tetesan air mata yang jatuh membasahi tanganku. Tari menangis.


Kulepaskan pelukanku lalu membalik tubuhnya agar kami saling bertatapan. Kuhapus air mata di wajahnya. "Jangan nangis. Aku hanya ingin melihat kamu tersenyum dan bahagia. Jangan buang lagi air mata kamu buat laki-laki brengs*k macam aku."


Tari lalu memelukku dan kuusap lembut rambutnya. "Nanti kita pelukan lagi ya. Sekarang banyak tamu!"


Aku tak mau teman-temanku menggoda kami yang kedapatan pelukan. Bisa panjang urusannya. Bisa diledekkin terus sepanjang malam. Riko dan Sony tak akan menyia-nyiakan kesempatan meledekku tentunya. Kalau Bastian sih memang soulmateku pasti akan membelaku habis-habisan.


Tari mengangguk. "Om mau Tari temani di depan?"


Tari pikir aku butuh bantuannya menghadapi Tara. Aku menggeleng. "Jangan. Cuma menambah sakit hati kamu saja. Aku di depan ya! Enggak enak sama yang lain. Kamu percaya aku kan?"


Tari mengangguk tanpa ragu. "Tari percaya sama Om!"

__ADS_1


Aku tersenyum. Aku tahu Ia membiarkanku terbang bebas, karena Tari tahu aku hanya akan kembali padanya dan aku tak akan mengecewakan kepercayaan yang Ia berikan.


"Aku bawa cemilan ini ke depan ya?" kutunjuk sepiring penuh kue buatannya.


"Bawa teko berisi es ini juga, Om. Biar seger kalian ngobrol sambil minum es. Nanti gelasnya Tari bawain ke depan!" Tari memberikan sebuah teko yang sudah Ia buat minuman hasil racikannya.


"Beneran kamu enggak apa-apa kalau ketemu dia?"


Tari mengangguk yakin. "Tari punya Om. Enggak ada yang Tari takutkan lagi."


Aku tersenyum dan mengacak rambutnya penuh kasih. "Aku ke depan ya!"


Kubawa cemilan dan es buatannya. Kedatanganku disambut riuh yang lain.


"Lama banget sih lo, Gas! Udah mateng nih ayamnya!" ujar Riko.


"Iya! Ngapain dulu sih lo sama Tari di dalem? Main lo ya?!" celetuk Sony.


"Ngobrol sama Tari sebentar. Otak lo udah ngeres aja! Mana sini gantian gue yang bakar ikannya!" kataku menggantikan tempat yang ditempati Riko.


"Iya, nih! Lo kan tuan rumah. Lo yang menjamu kita dong!" Riko berdiri dan aku gantian duduk di tempatnya, membolak-balik ikan yang sedang dibakar. Tak perlu lagi dikipas karena sudah ada kipas angin. Dibikin simple saja.


Aku tahu sejak tadi Tara terus menatapku. Aku acuhkan keberadaannya. Toh aku tak mengundangnya datang.


"Eh ada Tari! Nyariin Agas ya?" goda Sony saat melihat Tari datang.


"Enggak, Mas. Aku mau nganterin gelas. Tadi Om Agas bawanya susah." Tari memberikan gelas padaku. Kuperhatikan Tara terus menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Manggilnya masih Om aja nih! Enggak ada panggilan sayang gitu?" ledek Riko.


Tak akan kubiarkan Tari jawab. Biar aku aja. "Justru Tari manggil Om itu adalah panggilan sayang. Bikin gue terlihat awet muda terus. Kalau manggil Beb, Honey, Cinta udah biasa. Kalau manggil Om kan lebih mesra. Iya kan Sayang?" aku tersenyum dan menggenggam mesra tangannya.


"Wuidih! Pamer teroos! Bikin orang iri terooos!" sindir Riko.


"Makanya punya pacar! Nikahin! Kayak gue dong ngikutin jejak Agas! Jangan bandel terus lo berdua!" sahut Bastian seraya menjitak kepala Riko dan Sony bergantian, alhasil mereka berakhir dengan main jitak-jitakkan.


Aku tertawa saja melihat mereka kembali saling ledek. Tari juga ikut tersenyum. Hanya satu orang yang menatap kami tanpa senyum. Ya, orang itu adalah Tara.


Aku melirik dan melihat Tara menunduk, tak lagi menatap iri kemesraanku. Sudahlah, kami sudah usai. Aku saja sudah sadar, kenapa Ia masih saja menaruh harap?

__ADS_1


****


__ADS_2