Duda Nackal

Duda Nackal
Terpaan Fitnah


__ADS_3

Tari datang dengan membawa plastik berisi bungkusan makanan pesanan Mama dan Papa.


"Tari beliin Mama dan Papa pecel ayam sama nasinya. Ini yang paling dekat. Baru saja digoreng ayamnya jadi masih hangat." Tari menghidangkan makanan di depan Mama dan Papa.


"Kamu enggak beli?" tanya Papa.


"Enggak, Pa. Sudah kenyang tadi sudah makan sama Om Agas." jawab Tari.


Aku lihat Tari juga membelikan air mineral untuk Papa dan Mama minum. Ia lalu pamit dan pergi ke kamar mandi.


Papa dan Mama menikmati makan mereka dan istriku yang solehah malah berada di sudut ruangan. Mau apalagi kalau bukan sholat tahajud.


Aku melirik ke arah Mama yang diam-diam memperhatikan Tari. Istriku itu memang mudah membuat orang lain terenyuh dengan apa yang Ia lakukan.


Meski Ia berdoa dalam diam, namun aku tahu kalau ada namaku yang biasa Ia sebut. Aku senang sekali ada seorang perempuan yang mendoakanku di sepertiga malam.


Kalau cinta saja, levelnya masih biasa saja. Namun kalau mendoakan orang yang dicintai di sepertiga mlam, itu baru cinta yang tulus. Hanya tinggal waktunya saja aku akan berubah menjadi lebih mencintainya. Sekarang saja Ia sudah mampu mengetuk hatiku dengan doa-doa yang Ia panjatkan, apalagi nanti?


Keesokan harinya dokter mengijinkanku pulang. Kami pulang naik taksi karena mobilku masih di bengkel. Beberapa harus diperbaiki, mungkin aku akan menggantinya nanti. Sekalian ganti mobil baru.


"Pelan-pelan turunnya!" ujar Mama yang memperlakukanku layaknya anak bayi ketika kami sudah sampai depan rumah.


"Iya, Ma."


Tari memilih membawakan barang-barang dan membiarkan Mama yang menuntunku ke dalam rumah.


Tetangga depanku yang melihat mobil taksi berhenti di depan rumah langsung keluar dan menghampiriku.


"Agas? Kamu kenapa enggak bilang sih kalau kamu kecelakaan?" tanya Tara dengan muka penuh kekhawatiran. "Tante... Om..." Ia menyalami Mama dan Papa yang menatapnya dengan sinis.


"Aku nanya sama Tari, tapi enggak dikasih tau kamu ada dimana." adu Tara.


"Agasnya mau masuk ke dalam dulu! Kasihan baru kecelakaan sudah mendengar rengekan kamu!" kata Mama dengan ketus.


"Iya."

__ADS_1


Aku masuk ke dalam rumah, kupikir Tara akan menyerah namun ternyata Ia ikut masuk ke dalam rumahku.


"Kata dokter apa?" tanya Tara.


Aku duduk di kursi ruang tamu, awalnya mau langsung ke kamar, kalau Tara mengikuti gimana? Lebih baik di ruang tamu saja.


"Gegar otak ringan." jawabku dengan malas.


"Kamu enggak mau tiduran di kamar, Gas?" tanya Mama.


Mau, aku mau menjawab itu. Namun aku melirik ke arah Tara yang duduk di kursi ruang tamuku.


"Kamu kenapa masih disini? Agas mau istirahat! Bukankah kamu harus mengurus suami kamu?"sindir Mama makin pedas.


"Aku udah pisah rumah dengan suamiku, Tante. Aku mau mengajukan gugatan cerai untuknya." jawab Tara penuh percaya diri.


"Wah, kenapa kamu mudah sekali ya gonta ganti suami. Dulu waktu sama Agas, cuma setahun menikah sudah digugat cerai si Agas sama kamu. Alasannya karena Agas tak bisa memberi kepuasan batin sama kamu! Kini, sama Damar juga baru dua tahun menikah kamu gugat cerai juga. Apa dia kurang bisa memuaskan kamu? Saran saya sih, kalau kayak begitu kamu ke psikolog saja! Ada kelainan dalam diri kamu!" wah Mama benar-benar pedas sekali kalau sudah tersulut emosi.


Tara tersenyum. Dia terlihat tidak terpengaruh dengan kata-kata pedas yang Mama katakan. "Bukan karena itu saya menguggat cerai. Karena KDRT."


"Oh... Dia KDRT sama kamu karena kamu ketahuan selingkuh lagi?" sindir Mama lagi.


Tara menggelengkan kepalanya. "Bukan. Karena Damar tau aku masih mencintai Agas." jawabnya penuh percaya diri.


"Dasar tak tahu malu! Sudah membuang anak saya, sekarang malah bilang kalau kamu masih mencintai dia! Tidak ingat kalau kamu sudah membuatnya hancur dulu? Jangan banyak berharap kamu! Agas sudah punya istri solehah! Jangan ganggu rumah tangganya!" ketus Mama.


Kini Mama malah berpihak ke arah Tari. Ada hikmahnya juga pertengkaran ini.


"Istri solehah? Ha...ha....ha...Menantu Tante istri solehah? Enggak salah? Mana ada menantu solehah yang naik mobil cowok lain? Sampai diajak jalan ke Mall segala lagi!" Tara tertawa puas. "Mau lihat buktinya?"


Tara menyerahkan foto di Hp-nya yang menunjukkan saat Tari tertawa saat melihat boneka bayi bersama Pak Adi guru kursusnya.


Wajah Mama merah padam menahan amarah.


"Kalau istri solehah tuh di rumah saja. Contohnya saya dulu, di rumah saja. Karena Agas selalu lupa sama saya saja makanya saya khilaf. Setiap orang punya kesalahan kan? Setidaknya saya bukan perempuan dengan dua muka seperti 'istri solehahnya' Agas. Terlihat baik namun ternyata ada main di belakang!" Tara membalas Mama dengan telak. Mama kini diam, kesal dan malu bercampur jadi satu.

__ADS_1


"Udah?" tanyaku. "Udah belum?" kini giliran aku yang berbicara.


Tara menatap ke arahku. Mama juga. "Sayang, kesinilah!" aku memanggil Tari yang sejak tadi berdiri diam di dapur sambil mendengarkan kami berbicara.


Aku melihat Tari tersenyum saat Mama membelanya dan wajahnya sontak pucat saat Tara menjatuhkannya dan menuduh Ia selingkuh.


Tari menurut. Aku suruh dia duduk di sampingku.


"Kamu cerita siapa yang pergi sama kamu! Katakan saja sejujurnya." kataku. Kuajarkan Tari cara membela diri dan aku akan membelanya nanti.


"Tari... pergi sama Guru kursus Tari. Kebetulan Tari tak dapat taksi makanya ditawari pulang bareng. Tari lalu diajak beli kado untuk keponakannya. Hanya itu saja!" jawab Tari dengan jujur.


"Bilang juga kalau aku ada disana dan melihat kamu." jawabku membuat Mama dan Tara kaget. "Aku saksinya kalau mereka tidak selingkuh seperti yang kamu tuduhkan, Ra! Aku kenal Tari, Ia tak akan melakukan perbuatan rendah seperti yang pernah kamu lakukan padaku dulu!"


Tara kini yang terdiam menahan malu.


"Aku mau istirahat, Sayang! Antar aku ke kamar!" pintaku pada Tari. Ia pun menurut.


Aku dibantunya berdiri dan dituntun ke kamar. Aku berhenti sejenak untuk bicara dengan Tara.


"Aku udah bilang sama kamu di diskotek malam itu. Aku tak tertarik untuk kembali memulai rumah tangga dengan kamu lagi. Kisah kita sudah usai. Mau kamu bercerai dengan Damar pun tak akan mengubah apapun. Aku sudah punya kehidupan baru. Aku minta kamu jangan mengusik kebahagiaanku lagi!" aku pun menatap Tari yang matanya sudah berlinang air mata. "Ayo, Sayang!"


Kutinggalkan Tara dan Mama yang mulai menyerangnya dengan kata-kata pedas. Aku masuk ke dalam kamar dan langsung memeluk Tari.


"Maafin Tari ya, Om! Tari melakukan perbuatan yang enggak Tari pikir panjang. Tari tak menyangka kalau apa yang Tari lakukan akan menjadi fitnah yang malah jatuhin nama Om. Maafin Tari, Om!" Tari menangis di pelukankanku.


Aku tersenyum, Ia yang tidak selingkuh saja menangis minta maaf kenapa Tara yang jelas selingkuh malah bersikap tak punya dosa.


"Sudahlah jangan menangis. Lain kali ijin aku dulu ya! Aku suami kamu, aku yang akan melindungi kamu saat terpaan fitnah mendera kamu seperti tadi. Aku percaya sama kamu. Jadi angkat wajah kamu dan tunjukkan pada semua orang kalau kamu adalah istriku yang solehah!"


Kuhapus air mata di wajahnya dan kukecup keningnya. "Aku mau istirahat. Buatkan aku masakan buatan kamu yang enak itu ya! Aku bosan dengan masakan rumah sakit! Pokoknya kamu buat dengan penuh cinta, oke?"


Tari tersenyum. "Siap, Sayang!" Ia mengecup bibirku pelan lalu pergi meninggalkanku dengan debaran di jantungku yang bertalu dengan kencangnya.


****

__ADS_1


__ADS_2