
"Om mau tau enggak, Tari jawab apa ke Mbak Tara?" tanya Tari membuat lamunanku buyar.
"Kamu jawab apa?" tanyaku penasaran.
"Tari bilang aja kalau apa yang Om Agas kasih ke Tari tuh udah lebih dari harga sebuah mobil. Tari juga bilang kalau mulai sekarang Mbak Tara enggak perlu cemburu dengan rumah tangga Tari dan Om. Eh dia malah tambah kesel. Katanya, "Siapa yang cemburu?" Padahal mah mukanya kayak lagi kebakaran jenggot!"
Tara cemburu? Apakah masih ada perasaan untukku dalam hatinya? Kenapa hal ini malah membuatku senang?
Allahu akbar.... Allahu akbar....
Suara adzan maghrib terdengar dari masjid dekat komplek rumahku. Suaranya bersahut-sahutan dengan speaker dari masjid di tempat lain.
"Udah adzan maghrib, Om. Mm... Om ikut sholat maghrib kan?" tanya Tari dengan sorot mata penuh harap.
"Aku belum mandi! Masih keringetan!" kataku beralasan.
"Yaudah mandi dulu. Ayo Om! Tari tunggu Om jadi imamnya Tari kayak tadi subuh! Habis itu kita makan malam! Tari masak menu ala restoran seafood kaki lima! Semoga Om suka!"
Aku awalnya mau menolak. Namun sorot matanya penuh harap aku akan mengikuti apa permintaannya.
"Ayo... Om! Waktu sholat maghrib tuh paling pendek! Kalau Om enggak segera mandi nanti enggak kebagian waktu sholatnya!" rengek Tari dengan manjanya.
Huft... Mana tega aku kalau Ia sudah merengek begitu. "Iya. Aku mandi dulu!" aku pun bangun dan berjalan ke kamar.
"Nah gitu dong! Om Imam emang paling keren! Dua jempol untuk Om Imam!"
Aku mengernyitkan keningku seraya menerima handuk bersih yang Ia berikan. "Om Imam? Panggilan apa itu?"
"Biasanya seorang istri akan mengatakan suaminya itu Pak Imam. Karena suaminya adalah imam di rumah tangganya! Tapi karena aku manggilnya Om, jadi Om Imam deh! Gimana? Keren kan?"
Aku geleng-geleng kepala mendengarnya. "Panggilan aku berubah dari Duda Nackal menjadi Om Imam! Enggak keren ah!" aku berjalan ke kamar mandi, ternyata Ia masih mengekoriku.
"Ya jangan nakal lagi dong! Ini namanya kemajuan. Jangan balik jadi Duda Nackal lagi! Nanti aku gimana dong?" Ia memanyunkan bibirnya, membuatnya terlihat makin menggemaskan saja!
"Udah ah, aku saat ini lagi jadi Om Imam! Om Imam mau mandi dulu! Kamu wudhu di kamar mandi depan saja!"
"Siap Om Imam!" Ia lalu bersikap hormat padaku dengan menaruh tangannya di kening layaknya sedang hormat bendera.
Aku jadi geleng-geleng kepala dibuatnya. Aku pun mandi dan membersihkan tubuhku.
Aku heran dengan kelakuan Tari yang semakin hari, semakin membuatku takjub saja. Dulu tak gentar menghadapiku. Sekarang malah banyak hal ajaib yang Ia lakukan.
__ADS_1
Aku ingat dulu Ia pernah bilang kalau aku menikahinya aku masih boleh nakal kenapa sekarang jadi aku yang nurut tiap Ia suruh? Malah aku mulai sholat karena permintaannya! Huh dasar gadis licik!
Setelah mandi aku memimpin sholat berjamaah. Hari ini aku sudah menjalankan sholat subuh dan maghrib. Ya lumayanlah. Biasanya aku cuma sholat idul fitri, itu pun karena aku lagi mudik ke rumah Mama. Bisa kena omel aku kalau enggak sholat ied.
Baju koko yang kukenakan pun masih bagus. Warnanya masih putih bersih karena sangat jarang kupakai.
Tari mencium tanganku seusai sholat. Namun Ia tak langsung berdiri, Ia malah menundukkan kepalanya di depanku.
"Ini mau ngapain lagi?" tanyaku bingung.
"Mau minta didoain sama Om. Dulu Tari lihat, Ibu selalu didoakan Ayah kalau sholat berjamaah sambil mengusap kepala Ibu. Tari juga mau didoakan oleh Om Imam, karena surganya Tari ada sama Om Imam."
Aku menghela nafas dalam. Minta didoakan sama aku? Aku aja udah lama enggak berdoa kenapa malah minta didoakan sama aku?
Aku yang jadi sangsi. Apakah doa orang yang banyak dosanya kayak aku akan dikabulkan? Enggak yakin aku!
"Kamu yakin?"
Tari mengangguk. Ia mengangkat wajahnya dan menatapku lekat. "Ayo Om Imam doain Tari!"
"Ya doa apaan? Allahumabariklana? Doa mau makan?"
Tari menepuk lenganku dengan sebal. "Ya enggak gitu! Memangnya Om mau makan Tari? Doa pakai bahasa Indonesia aja biar gampang. Doanya dalam hati. Ingat, doa yang baik ya! Doa jahat suka berbalik ke yang punya loh!" ancamnya.
Tari kembali menunduk. Kutarik nafas dalam dan berdoa dalam hati.
Semoga Tari selalu menjadi istri solehah. Semoga rumah tangga kami akan menjadi rumah tangga yang penuh kebahagiaan aamiin.
"Udah!" jawabku.
"Ya sambil diusap kepalanya! Tadi kan Tari bilang kalau Bapak ngusap kepala Ibu!"
"Banyak banget permintaannya! Pokoknya nanti malam layani aku lagi loh!" ancamku balik.
"Iya, Om Imam. Iya."
Aku kembali menghela nafas lalu mengulang doa tadi dalam hati kemudian mengusap kepala Tari.
"Udah tuh!"
"Nah gitu dong! Eh udah adzan isya! Sekalian aja kita sholat isya! Ayo wudhu lagi. Biar sah sholatnya!" Ia lalu berdiri dan pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Tadi katanya mau makan malam? Ih sengaja banget nih anak!" gerutuku namun tetap saja kuikuti Ia dan kami sholat berjamaah lagi.
Hari ini akhirnya aku sholat 3 kali. Rekor. Sama dengan sholat ied 3 tahun ini namanya.
Selesai sholat Tari mengajakku makan. Benar yang dikatakannya. Menu makan malam kali ini seafood pinggir jalan. Enak sekali buatannya.
"Kalau ini belajar di Youtube juga?" tanyaku sambil menjilati tanganku yang banyak saus pedasnya. Ini karena terlalu nikmat makanya aku sampai begini.
"Enggak. Mau nambah lagi enggak Om?"
"Mm... Boleh deh! Enak!" jawabku malu-malu. Ia tersenyum ke arahku.
"Aku kalau malam kerja di restoran seafood pinggir jalan, Om." Ia mengambilkan lagi nasi dan lauk lalu menghidangkannya padaku.
Aku kembali makan dengan lahap. "Enak dong bisa makan seafood tiap hari?"
Tari tersenyum kecut. Ia tidak nambah sepertiku. Menaruh piring kotornya di tempat cuci piring, mencuci tangannya lalu menemaniku makan lagi.
"Justru Tari enggak pernah makan, Om. Tari cuma lihatin cara buatnya. Mau masak di rumah mikir-mikir. Harga udang lumayan mahal. Pas banget kemarin waktu belanja ada udang yaudah Tari masak deh. Enak enggak Om?"
Aku kini terdiam. Udang juga termasuk mewah untuknya? Ck...ck...ck....
"Belum pernah nyicip sama sekali? Memangnya yang punya warung seafood enggak pernah kasih kamu?"
"Enggak pernah. Kalau ayam goreng sih suka dikasih. Kebetulan seafoodnya selalu laku dan habis enggak ada sisa. Tapi Tari hapal kok resepnya. Kan sering lihat!"
"Besok kamu enggak usah masak! Kita makan di seafood tempat kamu kerja. Terserah kamu mau makan apa! Ini semua enak. Udangnya enak. Kangkungnya juga enak. Kalau Mama kesini masakkin kayak begini ya! Mama suka masakan pedas kayak gini!"
Tari tersenyum senang. "Alhamdulillah kalau Om suka. Iya nanti Tari masakkin kayak gini. Kangkungnya resep dari almarhum Ibu. Dulu Ibu suka masak kayak gini eh sekarang Tari yang masakkin Om resep dari Ibu. Oh iya sampai lupa! Tari tadi bawa kue hasil kursus Tari!"
"Kenapa enggak bilang dari tadi? Aku udah nambah nih! Udah kenyang!" protesku.
Tari tak mendengarkan lalu mengeluarkan kue dari dalam lemari es. "Ini cobain sedikit, Om. Masih ada tempat kok di perut Om Agas. Kotak-kotak di perut Om kan ada 6. Bisa buat nasi, kangkung, udang, pisang goreng, minum dan kue! Pas 6 kan?"
"Kotak-kotak? Oalah six pack aku! Ya ampun! Awas ya kalau perut aku jadi one pack karena kamu hahaha...." aku menertawakan lelucon yang Ia buat.
"Nanti Tari temenin Om olahraga lagi. Ayo dicoba, Om! Tadi Tari bagi Mbak Inah buat keluarganya sedikit."
"Enak! Hebat kamu! Besok kamu bisa jadi chef terkenal kalau kayak gini!"
"Aamiin!"
__ADS_1
****