Duda Nackal

Duda Nackal
Mamanya Mbak Tara


__ADS_3

Tari


Aku baru saja menaruh Wira di atas box bayi ketika mendengar suara orang di depan rumah mengucap salam.


"Waalaikumsalam!" sahut Abi.


Aku duduk sejenak di atas tempat tidur. Masih terasa perih-perih sedap bekas jahitan, namun katanya masih lebih sakit kalau melahirkan dengan cara caesar. Apapun itu, menjadi seorang Ibu pasti punya pengorbanannya sendiri.


Tak lama pintu kamarku dibuka, dan ternyata Abi yang masuk. "Sayang, ada tamu!"


"Tamu? Mau ketemu sama aku?" tanyaku. Biasanya yang datang teman-teman Abi. Maklum, temanku tidak banyak.


"Iya. Kamu temui saja di depan. Biar aku yang tutupin kelambu box bayinya Wira agar enggak digigit nyamuk. Kamu ke depan saja dulu." ujar Abi.


Karena penasaran siapa yang datang, aku pun memutuskan ke depan dan membiarkan Wira diurus oleh Abi. Nampak Mama sedang mengobrol akrab dengan tamu tersebut.


"Nah itu dia Tarinya!" ujar Mama membuat tamu tersebut menoleh ke belakang.


Aku terkejut mendapati siapa yang datang menjengukku. Ternyata Mamanya Mbak Tara. Nampak Mamanya Mbak Tara terlihat lebih kurus, mungkin karena sakit yang dideritanya membuat berat badannya turun drastis. Mamanya MbaK Tara langsung menyunggingkan senyum lebar padaku. Senyum hangat yang membuat aku merasa teduh melihatnya.


"Tari apa kabar? Katanya baru melahirkan ya? Wah, Tante udah lama sekali nggak ke sini. Tari hamil pun Tante nggak tahu. Maafin Tante ya, Tari. Kemarin Tante sakit, niatnya pengen cepat-cepat ke sini. Tapi apa daya, buat bangun aja susah. Harus banyak istirahat di tempat tidur." cerita Mamanya Mbak Tara dengan sedih.


Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa mengatakan sebuah kata pendek karena bingung mau ngomong apa. "Iya, Tante."

__ADS_1


Tadinya aku begitu mengharapkan kedatangan Mamanya Mbak Tara, namun karena nggak ada kabar lama-kelamaan harapan itu mulai memudar dan akhirnya aku tak lagi berharap.


"Tari sehat? Gimana proses melahirkannya? Udah pulih kan? Katanya anaknya Tari laki-laki ya? Pasti ganteng kayak Agas." Mamanya Mbak Tara sejak tadi berusaha mencairkan suasana dengan banyak bertanya padaku. Namun, aku seakan menarik diri. Aku takut... Aku takut berharap dan harapan itu ternyata hanyalah semu.


Seakan tahu apa yang aku rasakan, Mamanya Abi menyuruhku untuk duduk terlebih dahulu. "Duduklah dulu, Tari. Kamu pasti masih ngerasain jahitan yang masih cenat cenut kan? Sini duduk dekat Mama." Mama menepuk kursi kosong di sampingnya. Aku pun menurut dan duduk di samping Mama.


"Maaf sekali Tante baru bisa datang hari ini. Tante sebenarnya ingin segera datang namun apa daya. Tante kepikiran masalah rumah tangga Tara yang hampir mau kandas lagi. Ternyata yang membantu Tara melewati ujian rumah tangganya justru malah Agas. Yah, itulah takdir. Tante sudah bilang sama Mamanya Tante tentang kamu, dan beliau tak sabar mau ketemu kamu langsung. In sha Allah sore ini Mama akan langsung datang. Mama sejak Tante sakit dititipkan ke saudara karena Tante tak bisa mengurusnya. Kamu sabar ya. Sebentar lagi Mamanya Tante akan datang." kata Mamanya Mbak Tara panjang lebar.


Mamanya Abi sepertinya sudah mendengar dari Mamanya Mbak Tara tentangku. Ia berusaha menenangkanku.


"Ini namanya takdir. Mungkin kemarin Tari sudah sangat berharap namun Allah belum kabulkan. Sekarang In sha Allah sudah dikabulkan sama Allah. Semua doa yang Tari panjatkan akan dikabul sama Allah satu per satu." kata Mama dengan lembut.


"Jeng Irna juga bukan sengaja mau memberi harapan pada Tari. Jeng Irna kondisinya sedang sakit. Tari mau kan memaafkan Jeng Irna?" Mama berusaha menengahi aku dan Mamanya Mbak Tara.


Mamanya Abi menghapus air mataku. Aku sendiri tak sadar kalau sudah meneteskan air mata. "Tari kuat. Tari pasti pemaaf. Hari ini kita akan tahu apakah orang tua Tari adalah adiknya Jeng Irna. Tari siap?"


Aku hanya bisa mengangguk tanpa kata. Mamanya Abi tersenyum. Lalu terdengar suara Wira menangis. Abi sedang menggendongnya dan membawanya padaku.


"Wah jagoannya keluar. Mama boleh lihat tidak Gas?" tanya Mamanya Mbak Tara.


"Boleh, Ma. Lihat deh, ganteng banget kayak Agas kan Ma?" ujar Abi dengan penuh percaya diri seperti biasanya.


Abi dengan bangganya memamerkan Wira yang sedang menangis mencari nen. "Sudah kasih Mamanya dulu. Kasihan anak kamu haus itu!" omel Mamanya Mbak Tara.

__ADS_1


"Jarang-jarang aku dibolehin gendong Ma sama Tari. Biasanya Mommy Tari posesif. Abinya enggak boleh gendong ya Dek!" Abi mengajak Wira bicara padahal yang diajak bicara saja tidak mengerti.


"Abi!" aku cukup memanggil namanya dan Abi cepat-cepat memberikan Wira padaku.


Aku menggendong Wira di tangan kiriku dan bersiap menyusuinya. Papa sedang tidur di kamar tamu, aman menyusui disini.


"Haus ya, Sayang? Kangen nen ya? Kasihan..." kususui Wira dengan penuh kasih. Ia meminum susuku dengan penuh semangat. Rasanya anak ini selalu haus. Kuat sekali menyusunya.


Kemarin Mbak Tara memberiku kado alat pumping yang sangat bermanfaat. Aku baca-baca di internet kalau sering di pumping maka air susunya akan semakin banyak saja. Jadi saat Wira tidur pulas dan ASI-ku banyak, aku sengaja pumping untuk mengosongkan. Nanti akan penuh lagi kok.


"Pintar ya Tari mengurus anaknya? Kelihatan penuh cinta. Agas sampai tidak diperbolehkan gendong, posesif khas ibu baru lahiran." goda Mamanya Mbak Tara.


"Bukan Tari saja yang melarang Agas gendong, saya juga Jeng. Takut ketularan nakalnya Agas. Biar ikut kayak Mommynya aja yang baik hati dan penyabar!" tambah Mamanya Abi.


"Ih Mama mah! Bukannya membela anaknya malah jatuhin. Agas udah tobat, Ma. Udah jadi Abi yang soleh buat anak-anaknya." Abi pun membela diri.


"Mama Irna gimana keadaannya sekarang? Udah enakkan?" tanya Abu berbasa-basi.


"Alhamdulillah, Gas. Untung saja Tara nemuin pas Mama jatuh di kamar mandi. Jadi tertolong, tidak sampai stroke. Tapi tetap saja pemulihannya tidak sebentar. Ternyata meski tidak stroke seluruh tubuh, lidah mama jadi agak pelo. Mama harus minum obat untuk mengontrol tekanan darah dan ikut terapi. Yah... Dibalik musibah ada hikmahnya. Tara dan Mama jadi baikkan lagi. Tara juga jelasin kenapa Ia sampai mau bercerai. Mama berusaha nasehatin tapi anak itu keras kepala. Untunglah dia masih dengerin kamu, Gas. Kalau tidak, Mama enggak ngebayangin kalau rumah tangganya kandas lagi," cerita Mamanya Mbak Tara dengan sedih.


"Sekarang mereka sedang berjuang sama-sama untuk memiliki momongan. Agas tolong maafin mereka ya. Agar usaha mereka dipermudah. Hilangkan dendam di hati Agas. Mereka memang bersalah di masa lalu, tapi mereka sudah tobat. Agas mau maafin mereka kan?"


****

__ADS_1


__ADS_2