
Agas
"Bismillahirrahmanirrahim!"
"Lebay banget sih, Bi! Memang kamu mau berjihad di medan perang?" omel Tari yang kini sepertinya sedang tidak kontraksi. Kalau kontraksi boro- boro ngomong dengan nada datar, tangan tidak jambak rambutku saja sudah untung.
"Ya... Ini mau berjihad!" kutempelkan kartu ke pintu masuk toll. Pokoknya kali ini enggak ada istilah diomelin karena macet!
"Ish... Enggak akan aku jambak! Aku udah pengalaman melahirkan sekali! Sudah tau step by stepnya. Tenang aja. Abi enggak usah khawatir."
Ih sok-sokan menenangkanku! Lupa kalau sebelum berangkat ke rumah sakit sempat jambak aku di depan Wira?
Tapi aku pendam sendiri kekesalanku ini. Jangan diluapkan. Bukan apa-apa, bahaya. Bisa marah dadakan, kayak tahu bulat yang digoreng dadakan lima ratusan enak oy...
"Bi!" nah ini nih kode.
"Mm." jawabku pendek. Dalam hati aku terus berdoa. Semoga rambutku aman kali ini.
"BII!" mulai naik darah dia.
"Iya. Apa sih? Aku lagi fokus mengemudi!" balasku. Aku lirik dari kaca spion, Ia terlihat menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Siap-siap, Gas. Cobaan hidup dimulai. Bismillah...
"Sakit, Bi!"
Lenganku tiba-tiba diremaas oleh Tari. "Sayang, aku lagi nyetir nih! Bahaya!"
"Sakit, Bi! Sakit!" semakin kencang Ia mereemas lenganku, kukunya mulai menancap. Wah... Jangan bilang kalau kali ini Ia akan mencakarku. Ya Allah... tolong Abi ya Allah...
"Istighfar, Sayang! Astaghfirullahaladzim." aku mengikuti apa yang Mbak Inah lakukan dulu. Mengalihkan pikirannya agar kuku-kuku jarinya tidak terus menancap di lenganku.
"Astaghfirullahaladzim!" Tari mengikuti yang kulakukan. Perlahan kuku-kuku jarinya mulai terangkat dari lenganku.
"Tarik nafas... Hembuskan... Kamu harus tenang... Kamu tidak boleh panik!" lagi-lagi aku mengikuti apa yang Mbak Inah lakukan dulu.
"Tenang... Tenang?! Kamu enggak tau betapa mulesnya aku saat ini?!" tuh kan kena omel lagi. Mulai nih cobaan hidupnya.
Aku memilih diam. Kami masih berada di jalan toll. Sebentar lagi akan keluar toll dalam kota dan sampai di rumah sakit. Tak akan lama. Sabar, Gas... Sabar...
Seperti adegan dalam film horor, lenganku kembali ada yang memegang. Mau kuhempaskan, tak mungkin. Akan ada hukuman lebih berat lagi nantinya.
Tangan yang memegang lenganku mulai menancapkan kuku-kuku tajamnya kembali. Membuat lenganku merasakan sakit dan perih dalam waktu bersamaan. Lalu cengkramannya mulai kencang, membuat aku menahan rasa sakit sekuat mungkin.
Ya Allah... Terima kasih Engkau kabulkan doaku agar tidak dijambak lagi... Tapi jangan dicakar juga dong... Please... Jangan sampai selesai melahirkan aku seperti kena serangan serigala, bekas cakaran dimana-mana... Please...
"Ya Allah, Bi! Ini kok rembes? Kok basah? Kok aku pipis sih Bi? Apa ketubanku pecah?!"
Ya Allah... Belum usai cobaanku!
Ketuban Lara pecah? Gimana dong?
Aku yang semula tenang meski telah dicakar tangannya kini mulai panik. Kuinjak pedal gas lebih dalam lagi, pokoknya aku harus sampai rumah sakit secepatnya.
"Bi gimana? Aduh... Aku mules Bi! Kayaknya mau keluar di sini deh!"
__ADS_1
Hah? Mau ngelahirin sekarang? Ya Allah tolong... di rumah sakit saja!
"Bi... Aduh! Astaghfirullah... astaghfirullah... astaghfirullah..."
"Tahan Sayang! Kita sudah keluar Toll. Satu belokan lagi kita sampai!" kataku menyemangati. Kusalip mobil di depanku, kukebut layaknya seorang pembalap yang memiliki area balapnya sendiri.
"Enggak bisa, Bi. Ini mau keluar! Arrgghhh.... Ya Allah... Bismillahirrahmanirrahim!" air mata sudah membasahi wajah Tari. Peluh pun bercucuran meski AC mobil sudah kukencangkan.
"Sabar Sayang! Sebentar lagi!" kuusap perut buncit Tari seraya mengajak anakku bernegosiasi. Semoga cara ini mujarab. "Sayang, sebentar lagi ya Nak. Nanti kamu akan ketemu Abi langsung bukan adik Abi doang. Sabar ya Nak... Sedikiiit lagi!"
"Abi! Ini malah makin mules! Bukannya nenangin malah bikin tambah ruwet aja!" omel Tari.
Sabar Gas... Sabar...
"Iya... Maaf Sayang! Sabar ya! Tuh di depan udah sampai rumah sakitnya!" ada harapan... ada harapan... kali ini juga akan berhasil seperti melahirkan Wira.
"Enggak bisa, Bi. Ya Allah... Abi... Kepalanya udah mau keluar!" teriak Tari makin panik.
Aku sampai juga di rumah sakit. Langsung aku berhenti di depan UGD dan berteriak pada security yang menjaga.
"ISTRI SAYA SUDAH MELAHIRKAN! KEPALA BAYINYA SUDAH MAU KELUAR! PANGGILKAN DOKTER!" teriakku dengan tenaga penuh.
Security yang semula agak mengantuk langsung berlari mengambil brankar dan memanggil dokter yang bertugas.
Aku membuka pintu mobil dan mendapati Tari sedang mengatur nafasnya. Nampak karpet mobilku basah terkena air ketubannya yang pecah.
Ya Allah semoga mereka berdua baik-baik saja! Lindungi mereka Ya Allah...
"Bi! Mau keluar! Bi tolong!"
Baru saja ditaruh di brangkar, Tari yang tangannya masih di punggungku kembali merasa kesakitan. "Astaghfirullah! Bismillahirrahmanirrahim!"
Awwww....
Terasa perih di punggungku namun aku tahan. Sabar Gas... Harus kuat!
Sambil tetap dicakar di punggung, aku mengikuti brankar yang didorong masuk ke UGD. Tari langsung dibawa ke ruang melahirkan.
Ia tak lepas terus memelukku sambil menancapkan kukunya yang tidak terlalu panjang namun saat menancap ke kulit terasa amat panas. Baru saja sampai ke ruang melahirkan, suara bayi sudah terdengar.
Oek... oek...oek...
"Oalah sudah lahir duluan. Alhamdulillah ya melahirkannya tidak di jalan." ujar Bidan yang memeriksa.
Tari seperti merasa lega dan plong saat mulesnya hilang. Tak lama dokter datang dan melakukan tugasnya.
"Selamat Pak... Bu... Anak Bapak perempuan."
"Alhamdulillah!" kataku seraya memeluk Tari semakin erat. Tari mengusap punggungku dan rasa perih kembali menguasaiku. Tahan Gas... Tahan... Momennya enggak pas kalau mau teriak sekarang... Tahan...
****
2 Tahun Kemudian
__ADS_1
"Tolong kakaknya menghadap kamera ya jangan ke kakak model-nya terus!" ujar fotografer yang sejak tadi kesal dengan kelakukan Wira.
Anak itu memang makin menjadi centilnya. Acara foto untuk bingkai keluarga jadi berantakan karena ulahnya. Carmen sampai bosan dan membuang bando yang dikenakannya.
"Abi! Anaknya tolong dong diatur! Masa sih pengambilan foto kita gagal terus! Matanya itu loh sejak tadi ngeliatin model yang lagi pemotretan terus! Mommy kan malu! Mana tuh model pakai pakaian kurang bahan semua lagi!" omel Tari padaku.
Huft... Aku bisa apa? Anak gendut dan ganteng yang super centil itu sejak tadi terus menggoda model yang sedang berfoto. Ia sama sekali tidak fokus.
"Wira! Nanti Abi enggak ajak jalan-jalan ke Monas loh!" ancamku.
"Wira enggak mau. Bosen!" anak ini sudah mulai lancar bicaranya.
"Mau nurut atau Abi tinggal di studio ini?" ancamku.
"Mommy! Huaaa..... " Wira nangis meminta Tari membelanya.
"Abi ah! Malah bikin rusuh. Udah... Cup...cup... Anak pintar. Kita foto dulu ya. Nanti foto Wira, Mommy pajang di ruang tamu. Di rumah Oma juga." bujuk Tari.
"Di kamar Wira juga?" Wira mulai berhenti menangis.
"Tentu. Di kamar Wira juga."
"Di cafe juga?" tanya Wira lagi.
"Di cafe? Buat apa?" tanya Tari sambil mengernyitkan keningnya.
"Biar Wira terkenal kayak Abi! Boleh kan Mommy?"
Nampak Tari menghela nafasnya. "Boleh. Ayo menghadap ke depan dan Wira tersenyum!" Tari mengusap air mata Wira yang kini tak lagi menangis.
"Abi! Ayo foto! Jangan ngeliatin model kayak yang Wira lakuin tadi!" omel Tari.
"Iya... Iya..."
"Dasar Abi Nackal!" cibir Wira.
"Kamu tuh bocil mesum!" balasku.
"Abiiiii! Doain anaknya kok kayak gitu!"
"Astaghfirullah!"
Ya Allah.. Jangan dikabulin ya, pleaseee...
"Siap ya! 1... 2.... 3... Senyum... Cheesee...."
Cekrek
****
Happy Idul Fitri
Mohon maaf lahir bathin semua...
__ADS_1
Makasih sudah ikutin Duda Nackal. Sekarang udah Tamat beneran ya.
Jangan lupa baca Novel Wira juga ya! Luv u all 🥰🥰🥰😍😍😍