Duda Nackal

Duda Nackal
Bertemu Pak Menteri


__ADS_3

Agas


Saat Tari sedang mandi, aku menelepon balik Vira. Rupanya Vira tak langsung mengangkat telepon dariku. Saat akhirnya mengangkat teleponku Ia langsung berbicara dengan nada bahagia karena merasa rencananya sudah berhasil.


"Hai Om Agas! Gimana? Suka dengan hadiah dari aku? Pasti suka dong! Besok mau dikirimin hadiah lagi nggak?" tanya Vira tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Mau kamu apa? Kenapa sampai mengganggu hidup aku seperti ini?! Aku nggak mau ya kamu menebarkan teror seperti itu apalagi kamu sampai membuat Tari ketakutan. Asal kamu tahu, aku sangat marah dengan apa yang kamu lakukan hari ini!" kataku dengan tegas dan penuh amarah.


"Wow... Om marah? Aku takut Om... tapi bohong ha...ha...ha.. Yang bener tuh, aku senang banget saat tahu kalau Tari ternyata tertekan. Ternyata, baik saat kami sekolah dulu maupun saat Ia sudah dewasa masih saja ya, Ia bersikap penakut. Padahal, yang aku lakukan tadi tuh cuma main-main doang loh Om! Apalagi kalau aku bersikap serius ya?"


Berbicara dengan Vira sebentar saja sudah membuat emosiku meledak. Anak itu benar-benar pintar membuat emosi orang naik.


"Kenapa kamu lakukan ini? Apa salah Tari sama kamu? Urusan kamu tuh sama aku, nggak ada urusannya sama Tari!" kataku sambil menaikkan sedikit nada suaraku agar dia tahu betapa marahnya aku atas apa yang Ia lakukan.


"Om udah nanya belum sama istri Om apa yang dia lakukan sama aku? Bagaimana dia menjebak aku kemarin dan mempermalukanku di depan para karyawannya?! Seumur hidup aku nggak pernah dipermalukan seperti itu. Apa yang sudah Tari lakukan itu harus aku balas! Dan apa yang aku balas hari ini tuh belum ada apa-apanya, Om! Apakah Ia merasa malu seperti yang aku lakukan? Enggak kan? Aku cuma kasih dia sedikit surprise aja! Nanti, aku akan membuat Ia merasakan malu seperti apa yang aku rasakan saat ini!"


"Tanpa Tari beritahu pun, aku sudah menduga apa yang sudah kamu lakukan. Bukan Tari yang membuat kamu malu tapi kelakuan diri kamu sendiri yang mempermalukan kamu. Tari nggak mengatakan apapun padaku, kalau memang iya Tari mempermalukan kamu di depan karyawan kami, Ia akan mengatakan terus terang. Aku minta, kamu hentikan kegilaan kamu atau aku akan lapor polisi!" ancamku.


"Om pikir aku takut? Aku nggak takut dan aku nggak peduli! Aku akan melaporkan balik Om atas tuduhan pemerkosaan! Siapa yang akan menang nantinya? Hukuman untuk Om itu lebih berat daripada hukuman untuk apa yang aku lakukan. Toh, bukan aku yang menaruh paket itu di depan cafe kalian!"


Aku menghirup banyak udara untuk memenuhi paru-paruku yang mulai kembang kempis karena menahan amarah atas apa yang dilakukan bocah ini. "Kamu nggak tahu apa yang akan terjadi kalau aku sudah benar-benar marah! Kalau sampai kamu mengancam Tari lagi, aku akan buat perhitungan sama kamu!" tantangku dengan suara yang sangat serius.


"Aku udah bilang Om, aku nggak takut. Mau Om ancam aku seperti apa enggak akan menakutiku. Aku akan menghentikan semua yang aku lakukan kalau Om mau menikah denganku dan bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam perutku ini!" ancam balik Vira padaku.


"Kenapa aku yang harus tanggung jawab? Kita tes DNA saja! Kita lihat apakah anak itu memang benar anakku atau bukan!" kembali aku menantang Vira.


"Sebelum kita tes DNA, aku akan bicara sama Papa aku nanti biar Om dijebloskan langsung ke penjara dan pada akhirnya Om akan mohon padaku untuk melepaskan Om. Tapi aku nggak akan mau menerima permohonan maaf dari Om, aku akan membuat Tari bertekuk lutut di kakiku demi kebebasan Om. Aku akan membuat Tari menceraikan Om!"


Gadis ini udah gila! Bagaimana mungkin Ia tega mengancamku seperti itu! Kali ini aku nggak bisa bersikap tenang. Apa yang akan dilakukannya nanti? Cewek nekat seperti dia tuh akan melakukan apa saja kalau keinginannya tidak terwujud. Bagaimana kalau memang dia benar melaksanakan apa yang direncanakan?

__ADS_1


"Kenapa Om? Mulai merasa takut? Kalau gitu, Om saja yang bicara sama Papa aku. Om bilang baik-baik sama Papa kalau Om sudah menghamiliku. Aku nggak akan bilang macam-macam sama Papa nantinya. Bagaimana? Kalau mau, aku akan mengatur jadwal Om bertemu dengan Papaku yang super sibuk itu!"


Ini adalah sebuah jebakan namun aku mungkin bisa saja meloloskan diri dari jebakan yang telah Ia persiapkan untukku. Sebaiknya aku berbicara dengan Papanya secara langsung dan menjelaskan tentang kelakuan anaknya yang tidak bermoral tersebut.


"Baiklah aku akan menemui Papa kamu. Aku enggak akan menghindar dan aku siap kapan saja Papa kamu ingin bertemu denganku." aku mengalah namun bukan berarti aku kalah.


"Oke. Aku akan mengabari Om kapan Om bisa bertemu dan dimana tempatnya. Om siap-siap aja ya, karena setelah Papa tahu maka boom yang sebenarnya akan segera meledak!" ancam Vira untuk kesekian kalinya pada aku.


Aku menutup telepon dengan kesal dan tanpa kata-kata perpisahan. Aku sudah sangat emosi mendengar ancaman demi ancaman yang Ia lontarkan padaku.


Mikir Gas... Mikir!


Gadis itu adalah ancaman yang sangat berbahaya. Apa yang harus aku lakukan? Mikir Gas!


Bagaimana kalau Ia benar-benar melaksanakan rencananya?


Kalau aku sampai dipenjara, lalu bagaimana dengan Tari? Siapa yang akan melindunginya?


"Ada apa Bi? Kok Abi terlihat murung begitu sih? Abi mau mandi sekarang enggak? Biar Tari siapkan baju ganti untuk Abi." ujar Tari yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Oh... Enggak. Aku cuma lagi mikir aja kok. Aku mandi sekarang. Nanti kita shalat berjamaah ya. Tunggu aku!" aku pun masuk ke dalam kamar mandi dan mendinginkan kepalaku dengan air shower yang dingin.


Jangan sampai Tari tahu kalau aku habis menghubungi Vira. Aku nggak mau membuat Tari stress dan kepikiran. Tari sedang mengandung, tak baik bagi ibu hamil bila sampai stress dan banyak pikiran.


****


Keesokan harinya tak ada yang terjadi di cafe maupun di rumah. Vira benar-benar menahan ancamannya dan berniat mempertemukanku dengan Papanya yang seorang menteri itu.


Aku tiba-tiba dikirimi pesan berisi alamat dan waktu bertemu dengan Papanya Vira secara mendadak. Kebetulan sekali, kami bertemu saat jam makan siang. Tari tak perlu tahu apa yang aku lakukan. Biar aku yang hadapi semuanya.

__ADS_1


Sebuah restoran pun di sewa oleh Papanya Vira. Sambil berbicara di sebuah ruangan khusus agar tak ada yang mengganggu, tampak Vira sudah duduk di samping Papanya sambil bergelayut manja.


"Papa, ini Om Agas. Om Agas ini Papanya Vira." Vira memperkenalkan kami berdua. Papanya Vira menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki baru membalas uluran tanganku.


Vira lalu pindah tempat duduk menjadi di sampingku, aku diam saja sambil memutar otak apa yang aku harus lakukan. Kuputuskan untuk melihat dulu bagaimana reaksi Vira, baru mulai bertindak.


"Pa, Vira... hamil. "


Papanya Vira langsung membelalakkan matanya dan sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh putri kesayangannya tersebut. "APA? KAMU HAMIL?! Jangan bercanda kamu Vira!" Papanya Vira menggebrak meja dan berkata dengan nada tinggi.


Vira lalu berdiri dan menunjukkan baby bump yang selama ini Ia sembunyikan dibalik bajunya yang kebesaran pada Papanya. "Vira nggak berbohong. Selama ini Vira selalu menyembunyikan kehamilan Vira di depan Papa dan Mama."


Wajah Papanya Vira begitu tegang, Ia sangat terkejut dengan berita yang disampaikan putrinya tersebut. Papanya Vira lalu mengambil air minum miliknya dan meneguknya banyak-banyak. Ia berusaha menenangkan diri dan kini Ia menatapku dengan tatapan yang sangat menyeramkan.


"Dia yang menghamili kamu?" tunjuk Papanya Vira padaku.


Vira mengangguk seraya berkata, "Om Agus udah setuju kok Pa untuk menikahi Vira. Kami berdua saling mencintai dan Om Agas mau bertanggung jawab atas perbuatannya sama Vira." Vira merangkul lenganku dan bergelayut manja.


Kenapa Vira berbicara seperti itu? Aku nggak pernah mengatakan kalau aku mau bertanggung jawab! Bayi itu bukan Bayiku! Kenapa harus aku yang harus bertanggung jawab?


****


Selamat menjalankan ibadah puasa semuanya... Mohon maaf lahir bathin... Untuk Om Agas, aku akan ubah jadwal Upnya kalau ada adegan 21+++ ya. Biar puasanya enggak mikir ehem ehem terus 🤭.


Terus pantengin Om Agas ya karena ada plot twis yang bikin ceritaku selalu berbeda dari yang lain. Sing sabar ya, masalah tuh ada buat diselesaikan tapi perlahan. Yuk nikmatin lagi novel Om Agas ya. Jangan lupa like, komen dan add favorit.


Oh iya, aku akan ngadain giveaway yeeeeyyy...


Aku akan cari 10 komentar paling keren dan paling banyak likenya untuk dapat hadiah pulsa @ 25 ribu dari aku yeyyyy... (Ngopi dari novel lain 🤭🤭)

__ADS_1


Hadiah akan aku umumkan akhir bulan ini. So, yang belum kebagian ayo ikutan. Yang udah ikutan kebagian juga boleh ikutan lagi. Makanya komen dan like yang banyak ya!


__ADS_2