
Aku menepuk sisi tempat tidurku yang kosong. Tari tak ada di sampingku dan aku merasa kedinginan dengan udara dingin dari AC di kamarku.
Tari ternyata baru saja mengenakan lingerienya dan berjalan hendak menyelimuti tubuhku. Aku menarik tubuhnya agar bisa aku peluk.
"Aww! Om! Ngagetin Tari aja!" omelnya seraya memukul dadaku dengan manja. Tak sakit makanya aku cuma tersenyum.
"Dingin! Kamu harus menghangatkanku!" ujarku.
"Udah mau subuh. Om mau nyoba di bath up enggak?" tawarnya.
Mataku langsung melek. Enggak salah nih? Tari yang mengajakku duluan? Di bath up lagi! Wah... nih anak terlalu banyak kejutan untukku.
"Mau dong!" jawabku dengan suara serak sehabis bangun tidur.
"Boleh. Tapi ada syaratnya!"
Mau apa lagi nih anak? Kenapa harus pakai syarat segala? Kayak kemarin malam saja yang mau melayaniku kalau aku tidak mengulangi kebiasaanku keluar malam. Ini kayaknya syarat yang tak beda jauh dengan sebelumnya. tapi aku penasaran. Apa itu?
"Apa syaratnya?" tanyaku yang kini sudah membuka mata dengan lebar.
Tari tersenyum. "Enggak usah terlalu khawatir gitu dong, Om. Aku enggak pernah kasih syarat yang susah kok. Enggak sampai harus mendaki gunung lewati lembah kayak Ninja Hatori."
"Ih kamu mulai lucu! Yaudah apa syaratnya?" tanyaku.
"Jangan marah tapinya!" nego Tari.
"Tuh kan, pasti berat nih syaratnya!"
"Enggak! Percaya sama Tari deh!" Ia penuh dengan keyakinan.
"Baiklah! Aku enggak bakalan marah! Apa syaratnya?" kuulangi lagi pertanyaanku.
"Habis bermain-main di bath up kita mandi besar bareng."
"Itu aja?" tanyaku. Mudah itu sih!
"Lalu sholat subuh berjamaah!"
Senyum di wajahku menghilang. Sudah kuduga kalau syarat yang Tari ajukan pasti ada sesuatu di belakangnya.
Aku menghela nafas dalam. Aku tak menjawabnya. Tari melirik jam di dinding kamar kami. Sebentar lagi adzan subuh akan berkumandang. Kami belum bersenang-senang di bath up. Pasti Tari khawatir kalau Ia sendiri akan kelewatan sholat subuh nantinya.
__ADS_1
"Om Agas... Ayo dong! Om Agas enggak mau bersenang-senang sama Tari di bath up? Yuk mau yuk!" bujuknya dengan suara manja.
Aku tak menjawabnya. Udah disuruh mandi di pagi buta eh disuruh sholat subuh pula. Malesnya tambah-tambah.
Lalu anak itu berbuat sesuatu yang diluar perkiraanku. Ia meraba dadaku yang tak memakai sehelai benang pun. Bermain-main sebentar untuk membangkitkan gairah lelakiku.
"Yuk Om... Enggak mau nyoba di bath up? Cuma sholat dua rakaat aja enggak akan lama kok, Om! Cuma lima menit nanti Om bisa lanjut bobo lagi!" bujuk Tari.
Tangannya tak berhenti terus menggodaku. Membuat adikku yang merespon dengan cepat.
"Baiklah!" aku menyerah. Menahan adikku tidur lagi lebih sulit. Sudahlah sekali-kali sholat subuh! Sudah lama pula aku tak melakukannya.
"Nah gitu dong!" Tari menarik tanganku dan menuntunku ke bath-up yang sudah Ia isi dengan air hangat. Wah pintar sekali dia. Rencananya begitu sempurna.
Tanpa ba bi bu be bo, aku langsung menerjang Tari. Mencium bibir pintarnya sampai Ia hampir kehabisan nafas.
Kutarik lingerie miliknya dan melepas semua pakaian yang Ia kenakan. Membuangnya sembarangan di kamar mandiku dan mulai menidurinya di bath up.
Aku begitu liar kali ini. Aku tak lagi pelan-pelan dan meluapkan napsu membaraku pada Tari.
Kami mendesah bersama dan merasakan kenikmatan bersama. Kembali aku mengeluarkan benihku di dalam tubuh Tari. Biarlah kalau Ia sampai hamil, toh semua akan senang.
Tubuhku bergetar saat pelepasanku datang. Aku memeluknya dan mengecup keningnya. "Makasih Sayang!"
Tak sampai disitu saja. Tari bahkan memandikanku dengan lembut. Membuat aku kembali tersulut gairah dan kali ini kami melakukan penyatuan dibawah shower.
Kami mele nguh bersama, kami tersenyum puas bersama.
Kini saatnya aku menepati janjiku. Aku mengambil kopiah yang diletakkan di bagian bawah lemariku dan juga baju koko serta sarung yang sudah lama tidak aku pakai.
"Masya Allah, tampan sekali suamiku ini!" puji Tari.
"Bisa banget Neng mujinya!" balasku.
Tari tersenyum. "Yuk Om Sayang, sudah mau setengah enam nih! Kita kesiangan karena dua sesi sebelumnya. Om Sayang yang jadi imam ya? Bisa kan?"
"Bisa! Jangan menyepelekanku!"
Aku pun memimpin sholat subuh. Menunaikan kewajiban yang sudah lama tak aku tunaikan.
Aku sholat dengan khusyuk. Sudah lama sekali aku tidak sholat. Sejak aku terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan lupa akan hubunganku dengan Allah yang semakin jauh saja.
__ADS_1
Tari tersenyum saat salim denganku. "Ok, keren!" pujinya sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Bisa banget kamu mujinya. Kita ke banknya agak siangan ya. Aku mau tidur dulu. Capek habis bertempur!" ujarku seraya melipat sarung dan sajadah yang kukenakan.
"Iya. Tidurlah dulu. Aku akan siapkan sarapan buat Om!" ujar Tari yang sudah melipat mukena miliknya.
"Enggak usah masak! Pesan online saja! Aku mau tidur sambil memeluk kamu!" ujarku seraya menarik tangan Tari dan memeluknya dalam pelukanku.
"Tapi..." aku tak mendengar apa yang Tari keluhkan karena aku sudah tertidur pulas.
Kami berdua bangun sekitar jam 9 pagi. Perutku berbunyi minta diisi.
"Om lapar? Tuh kan aku bilang apa. Kalau Om lapar begini kan pesan online juga enggak langsung datang!" omelnya.
"Sudah! Masih pagi sudah ngomel saja! Kita langsung ke bank saja. Sarapan di jalan! Aku cuci muka dulu! Untung saja kita sudah mandi tadi!" aku bangun dan langsung masuk kamar mandi.
Tempat tidur sudah rapi saat aku keluar kamar. Tari terlihat sedang mematut dirinya di depan cermin. Ia berdandan ternyata.
Aku melipat kedua tanganku di dada dan memperhatikan saat Tari menyapukan lipstik berwarna peach di bibirnya dan menyapukan kuas blouse on di pipinya. Aku terpukau. Tari cantik sekali. Kecantikan sejati seorang wanita yang tak semua orang memilikinya.
"Om mau pakai baju apa? Biar Tari siapkan!" Tari menaruh kuasnya dan hendak melakukan tugasnya.
"Tidak usah. Aku ambil sendiri saja! Kamu lanjutkan saja make-up kamu!" aku mengambil sebuah kemeja tangan pendek dan celana chinos cokelat. Kali ini aku memakai cardigan warna hitam di luar kemejaku. Sesekali berdandan ala artis Korea tak masalah lah.
Aku menunggu Tari di ruang tamu dan mengobrol dengan Mbak Inah yang sudah datang. Aku begitu terkesima saat Tari keluar dengan mengenakan blouse warna biru doungker dan celana warna senada.
Tari memakai sepatu high heel yang waktu itu aku belikan untuknya lengkap dengan tas tangan branded sebagai seserahannya. Satu kata, wow!
Tari benar-benar berubah. Tari menjelma menjadi wanita cantik dalam waktu sebentar saja.
"Ayo, Om!" ajak Tari.
"Ini beneran kamu Tari?" tanyaku tak percaya.
"Menurut Om? Kenapa? Jelek ya Om?" tanya Tari.
"Enggak. Sangat cantik malah! Ayo kita berangkat sekarang!" aku memberikan lenganku untuk Ia gandeng.
Kami berjalan menuju mobil sambil bergandengan tangan. Kubukakan pintu mobil dan memakaikannya seat belt. Aku memperlakukannya bak putri.
Aku mengeluarkan mobil dan melihat kalau sejak tadi Tara memperhatikanku. Tara berwajah murung. Seperti marah dan cemburu mungkin?
__ADS_1
Biarlahh. Suka-suka dia saja. Aku mau pergi dengan istriku yang cantik dulu! Mantan sih biarkan saja!
****