Duda Nackal

Duda Nackal
Ternyata Ini Pengalaman Pertamanya


__ADS_3

Tari melihatku dengan bingung, lalu dengan polosnya bertanya: "Kita akan melakukan malam pertama ya, Om?"


Aku tersenyum dan mengangguk. "Tentu. Kita akan melakukan malam pertama kamu sebagai istriku."


Kupikir Ia akan kabur setelah aku berkata seperti itu, ternyata tidak. Ia malah menghadap ke arahku dan berkata, "Silahkan, Om!"


Wow... Pasrah sekali!


Bukankah biasanya kalau malam pertama seorang perempuan akan takut dan menghindar karena takut sakit? Ini kenapa malah nantangin? Apa jangan-jangan aku bukan yang pertama bagi Tari?


Aku buktikan sajalah apakah aku orang pertama untuk Tari atau bukan.


Ia memejamkan matanya, menunggu setiap aksi yang akan aku lakukan. Tanpa sadar tanganku terulur dan mengelus pipinya yang halus. Meski tanpa perawatan nyatanya wajahnya putih mulus.


Pandangan mataku tak bisa beralih dari 36 D miliknya yang terlihat bulat dan kencang. Aku tak tahan lagi, aku ingin menyentuhnya.


Kumajukan diriku dan menempelkan bibirku dengan bibirnya. Perlahan aku menyesap bibirnya yang lembut dan terasa manis.


Ia terdiam, mungkin belum pengalaman? Mungkinkah? Atau cuma akting?


Tak ada ciuman tanpa tanganku diam tak mengeksplore sama sekali. Kuperdalam ciumanku dan sesekali kuberi jarak agar Ia tak kehabisan nafas.


Kugoda dirinya dengan liukan-liukan lidahku dalam mulutnya. Ia masih diam, dengan gemas aku menyentuh buah sintal miliknya dan berhasil.


Ia mulai mengikuti permainanku dalam berciuman. Saling mengecap, memberi sedikit gigitan kecil dan tanpa kusadari aku semakin berhasrat.


Aku menciumnya dengan penuh semangat seakan aku tak pernah mencium perempuan lain sebelumnya. Tanganku pun mulai memainkan dadanya yang mengencang pertanda Ia juga mulai terbakar napsu.


Ciumanku perlahan turun, menelusuri lehernya yang jenjang dan berlama-lama mengecup ceruk lehernya. Membuat Ia tak kuasa dan mulai mende sah.


Aku tau Ia menikmatinya, begitupun denganku. Aku sangat menyukai harum tubuhnya. Parfumnya begitu menyatu dengan aroma tubuhnya.


Aku menurunkan lingelie tipis miliknya dan melihat dengan jelas bagaimana dua buah sintal yang super menggoda itu seakan memanggilku untuk kunikmati.


Tak mau membuang waktu lama, aku pun mendekatkan mulutku dan menikmatinya. Suara men de sahnya semakin lama semakin membuatku bergairah.


Kenapa begitu nikmatnya? Kalau bukan adikku meminta penyatuan, aku mungkin masih akan lama merasai si 36 D itu.


Maka aku pun mulai ke bagian inti. Kuturunkan celananya dan mulai menikmati bagian intinya. Suaranya terus terdengar makin kencang saat aku memberikannya sedikit kenikmatan sebelum kenikmatan yang sebenarnya sedang aku siapkan.


Jangan pikirkan suara, mau Ia bersuara kencang tak masalah. Kamarku sudah dipasangi peredam, ya... aku banyak pengalaman membawa gadis menginap, aku tak mau Mbak Inah mendengar saat aku sedang enak-enak.

__ADS_1


Setelah pemanasan yang menurutku cukup tiba-lah saatnya aku menyatukan kedua milik kami. Suara kenikmatannya berganti menjadi merintih menahan sakit.


Kenapa susah sekali ya? Apa mungkin benar kalau ini pengalaman pertamanya?


"Aku akan pelan-pelan. Tahanlah!"


Ia mengangguk dan mengalungkan tangannya di leherku. Ah iya! Pengaman! Aku belum pakai pengaman!


Bodoh! Bagaimana aku bisa lupa? Tapi kalau pakai pengaman apakah Tari akan lebih kesakitan lagi nantinya?


Sudahlah! Lupakan pengaman! Toh baru sekali tak akan masalah.


Aku menikmati sekali saat kesulitan melakukan penyatuan karena area yang masih tertutup rapat. Rasanya... ah....


Aku mencium Tari, aku mau Ia rileks agar proses penyatuan kami mudah. Usahaku berhasil, saat Ia larut dengan ciumanku aku sentak sedikit dan... berhasil.


Wajah Tari saat ini adalah perpaduan antara kesakitan dan mulai menikmati permainan, jadi aku teruskan. Sampai aku akhirnya mencapai batasku dan terkulai lemas di sampingnya.


Seluruh tenagaku seakan tersedot habis. Bagaimana mungkin aku jadi tak bertenaga menghadapi seorang Tari saja? Dengan yang lain aku bisa berkali-kali kenapa dengan Tari sekali saja sudah sangat memuaskanku?


Aku tertidur lelap, masih tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Entah berapa lama aku tidur, aku terbangun saat sayup-sayup suara orang bershalawat di masjid terdengar.


Aku benar-benar tidur dengan lelap, aku merasa nyaman tidur dengan memeluk Tari. Ternyata semalam Tari sempat menyelimutiku agar aku tidak masuk angin.


Ia merapatkan tubuhnya denganku. Rupanya saat terbangun aku menyibak selimut di tubuhnya dan membuatnya kedinginan. Ia mencari sesuatu yang menghangatkan yakni aku.


Sayangnya, ulahnya membuat aku segar kembali dan siap bertempur. Kusentuh dengan lembut 36-D miliknya, membuatnya perlahan membuka matanya dan melihatku tersenyum penuh maksud.


"Aku mau lagi." ujarku.


Tak kusangka, Ia membuka kedua tangannya lebar-lebar seakan mempersilahkan aku untuk melakukan yang aku mau.


Aku pun menciumnya, tak pakai cara lembut langsung aku cium dengan ganas. Ia sudah jago membalasku, membuat ciuman kami semakin panas dan menuntut lebih.


Aku menikmati 36-D miliknya dan Ia malah menjambak rambutku saat merasakan kenikmatan tiada tara.


"Ah... Om... Ah... "


Suara mende sah kami menyatu bersama angin subuh. Aku melakukan penyatuan lagi dan Ia bahkan bisa mengimbangiku. Wow! Gadis pintar. Baru sekali dan langsung belajar dari pengalaman.


Lagi-lagi aku tak memakai pengaman, bodo amatlah. Toh kalaupun Tari hamil malah bagus, Mama tak akah merengek cucu lagi padaku.

__ADS_1


"Om..."


"Sebentar lagi. Ah.... Ah...."


Penyatuan kami sangat nikmat tiada tara, rasanya aku mau terus dan terus, namun aku sudah limit. Adik kecilku pun menyerah dan mengeluarkan cairan putih milikku.


Rasanya... Puas sekali...


Aku kembali merasakan kantuk, namun Tari tidak. Ia malah berusaha bangun dengan tubuhnya yang sakit dan bagian inti yang perih akibat ulahku.


"Kamu mau kemana?" tanyaku. Aku mau tidur dengan memeluknya, kenapa Ia malah pergi?


"Mau mandi, Om." jawabnya. Kulihat Ia sesekali meringis kesakitan. Ah kasihan. Habis gimana dong? Aku enak sih buat dia kesakitan hihihi...


"Masih malam. Tidurlah lagi. Mandinya nanti saja!"


Tari menggelengkan kepalanya. "Nanti enggak bisa sholat subuh, Om. Tari mau sholat subuh makanya mandi wajib dulu."


Sholat subuh? Mandi wajib?


Dia baru saja malam pertama dan dengan keadaan kesakitan tetap mau sholat? Wah...


"Om... Enggak mandi sekalian? Nanti kita sholat berjamaah bersama, gimana?" ajaknya.


Sholat...


Kapan terakhir kali aku sholat? Aku sendiri sudah lupa kapan.


Kini gadis di depanku mengajakku sholat sementara aku dilanda rasa malas. Mandi subuh hari begini, enggak deh. Lebih baik tarik selimut dan tidur pulas aja!


"Aku ngantuk. Aku mau tidur lagi saja!" tolakku.


Kulihat Ia ingin protes, namun Ia tahan. "Yaudah Tari mandi duluan ya, Om."


Aku pura-pura tidur padahal aku mengintip dan melihatnya berjalan dengan pelan menuju kamar mandi. Wajar sih sakit, punyaku kan besar.


Aku ternyata tak bisa langsung tidur. Aku malah menunggunya keluar kamar mandi dan memperhatikan saat Ia sholat.


Ia sholat dengan kuhsyuk. Ia bahkan tak menyadari kalau aku sejak tadi memperhatikanya.


Aku jadi ingat cita-citaku dulu. "Aku ingin punya istri solehah yang bisa membimbingku dan anak-anakku nanti dalam kebaikan."

__ADS_1


Benarkah aku sudah mendapatkannya kini? Benarkah Tari istri solehah yang sejak dulu aku impikan?


****


__ADS_2