Duda Nackal

Duda Nackal
Kesempatan Dari Allah


__ADS_3

Utari


"Masuklah!" ujar bapak-bapak di dalam ruangan Om Agas padaku.


Aku mengikuti apa yang Ia suruh dan masuk ke dalam ruangan Om Agas. Belum lama rasanya aku menginjakkan kakiku di ruangan ini dan kini aku sudah kembali lagi namun dengan situasi yang berbeda.


"Duduklah!" perintah bapak-bapak itu lagi.


Aku kembali menuruti perkataannya. Aku duduk berseberangan dengan bapak-bapak tersebut.


"Apa yang kamu lihat hari ini, saya minta tolong kamu rahasiakan dari karyawan dan siapapun yang ada di di showroom ini. Kamu tahu kan, Agas adalah pemilik showroom ini? Jangan sampai namanya tercemar karena perbuatannya sendiri." Bapak itu lalu memperhatikan nampan yang aku bawa. "Kamu kerja di mana?"


"Saya kerja di warung soto di seberang jalan, Pak!" jawabku dengan jujur. "Saya akan rahasiakan. Toh, saya pernah melihat sebelumnya dan sampai sekarang rahasianya tetap aman di tangan saya."


"Wah, kamu baik sekali! Jarang loh ada orang yang mau menyimpan rahasia orang lain dengan rapat tanpa ada maksud dan tujuannya tersendiri." bapak-bapak itu mulai mencurigaiku. Ya sudah kepalang tanggung aku berkata aja yang sejujurnya.


"Sejujurnya, baru beberapa hari yang lalu saya mengancam Om Agas dengan memberitahu kalau saya melihat apa yang Ia lakukan dengan Mbak Cici. Namun nyatanya, Om Agas tak peduli dan mengatakan kalau apa yang mereka lakukan didasari oleh perbuatan suka sama suka."


"Kamu mengancam Agas? Berani sekali kamu! Apa alasan yang mendorong kamu berani melakukan hal itu?"


"Maaf Pak, bukan maksud saya ingin memeras dengan ancaman seperti itu. Jujur saja saya sedang ada masalah keuangan. Rumah yang saya tempati saat ini akan dijual oleh Bapak tiri saya. Padahal itu adalah peninggalan satu-satunya dari almarhumah Ibu saya. Saya minta tolong sama Om Agas, meskipun Om Agus menolak. Saya nggak tahu lagi mau minta tolong sama siapa. Daripada Om Agas terus berbuat dosa, lebih baik saya saja yang menggantikan tugas Mbak Cici."


Bapak itu mengerutkan keningnya mendengar apa yang aku katakan "Maksudnya, lebih baik dia menikahi kamu agar terhindar dari dosa dan zina seperti yang Ia lakukan tadi, eh maksudnya saat ini?"


Aku mengangguk dengan yakin. "Jujur saja saya menyukai Om Agas karena Om Agas orangnya baik. Saya juga banyak mendengar rumor mengenai kedekatan Om Agas dan Mbak Cici dari karyawan yang makan di warung soto. Mau nggak percaya, tapi saya melihat sendiri keadaannya. Itu yang membuat saya sedih. Kenapa Om Agas terus menerus berbuat dosa? Saya pernah menawarkan Om Agas untuk menggantikan tugas Mbak Cici namun nikahi saya dulu, tapi Ia hanya tertawa dan menganggap remeh setiap ucapan saya. "


Bapak itu kembali terdiam. Kami seakan sedang gencatan senjata. Suasana di sekitar kami terkesan dingin entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kenapa rumah Ibu kamu mau dijual oleh Bapak tiri kamu?"


"Untuk membayar hutang Bapak."


"Berapa banyak hutang Bapak kamu?"

__ADS_1


"Dua ratus juta."


Bapak-bapak itu lalu terdiam. Aku tak bisa meninggalkan warung soto lama-lama. "Maaf, Pak. Saya balik ke warung soto dulu."


Bapak itu hanya mengangguk tanpa kata. Ia seperti sedang berpikir. Aku kembali ke warung soto dan tak lama harus mengantarkan lagi soto ke ruangan Om Agas.


Disanalah Bapak tadi menjodohkanku dengan Om Agas. Ternyata Bapak itu adalah Papanya Om Agas. Ya ampun aku kenapa ngomong sembarangan ya?


Ternyata nasibku masih digantung. Tak ada kejelasan apakah Papanya Om Agas akan membayari hutang Bapak, sampai Bapak pulang di siang hari dalam keadaan mabuk berat.


"Heh anak pungut! Rumah ini sudah gue jual! Dan sebentar lagi lo juga bakalan gue jual ha...ha...ha...." ujar Bapak dengan mulutnya yang bau alkohol.


"Iya! Lo bakal gue jual ke Mami Shirley. Dia bersedia membayar gue seratus juta karena lo masih segel! Ha..ha...ha.... Banyak duit gue! Rumah laku dan lo kejual! Ha...ha...ha..."


"Enggak! Tari enggak mau! Memangnya Bapak siapa bisa menjual Tari seenaknya?" tantangku.


"Ya karena bukan siapa-siapa lo makanya gue jual! Udah nurut aja! Sekali-kali biar lo jadi manusia yang berguna dikit kek!"


Aku tak mau dijual. Aku menyambar Hp dan dompet milikku lalu hendak kabur. Ternyata meski dalam keadaan mabuk, Bapak masih siaga. Ia tau aku berusaha kabur.


"Siapa suruh lo kabur? Diem dan jangan coba-coba lo pergi dari rumah ini!"


"Tari enggak mau dijual, Pak! Tolong lepasin Tari!" pintaku sambil memohon pada laki-laki berhati iblis ini. Mana ada orangtua yang tega menjual anak gadisnya? Apa karena aku hanya anak angkatnya saja?


Ia lalu mendorong tubuhku sampai menabrak lemari plastik. Dengan langkah terhuyung dia maju dan plakk...


Sebuah tamparan mendarat di wajahku. Panas sampai sudut bibirku robek.


"Lo mau kabur? Jangan harap!" dia pun membuka gesper miliknya dan memecutku.


Tak boleh. Aku tak boleh kalah dari orang mabuk ini!


Kutarik gesper dengan sisa kekuatanku sampai Ia jatuh terhuyung. Pengaruh alkohol membuatnya tak bisa langsung berdiri tegak. Ini kesempatan. Saatnya aku kabur!

__ADS_1


Aku lalu berlari dan terus berlari. Aku tak tahu mau kemana namun aku terus berdoa agar ada malaikat yang menyelamatkanku.


Ckiiiiiittttt...


Bruk...


Aku terjatuh karena kaget. Hampir saja aku tertabrak mobil.


Dan doaku terkabul. Malaikat yang datang adalah Om Agas. Om baik yang menyelamatkanku dari penipuan di minimarket dan suka memberiku tip kalau mengantar soto.


"Huaaa.... Om.... Huaaa..." aku menangis dan memeluk Om Agas.


Takut warga akan bermain hakim sendiri, Om mengajakku pergi dan naik mobilnya. Mobil keren yang selama ini aku hanya sanggup pandangi dalam diam.


Aku melihat dari kaca spion kalau Bapak akhirnya sampai setelah mengejar dengan langkah terhuyung. Untungnya aku sudah di dalam mobil dan Om Agas membawaku ke rumahnya.


Rumah Om Agas bagus. Terlihat nyaman, sangat jauh dari rumah milik Ibu. Aku seperti orang norak yang memperhatikan detail rumah Om Agas.


Om Agas bertanya apa yang telah terjadi sambil mengobati luka-lukaku. Sambil menangis aku ceritakan kalau aku mau dijual oleh Bapak tiriku.


Om Agas terlihat murka. "Aku bayari saja semua hutang kamu!"


Setelah dibayari lalu hubungan kami akan berakhir? Lalu aku akan tinggal dimana? Bagaimana kalau Bapak akan tetap menjualku ke mucikari? Bagaimana nasibku kelak?


Ini adalah sebuah kesempatan langka yang belum tentu bisa kudapatkan dua kali. Mungkin ini jalanku untuk menggapai orang yang kucintai. Ini kesempatan langka dan aku tak akan menyia-nyiakannya.


"Bapak akan tetap menjual Tari, Om. Bapak bahkan sudah mengenalkan Tari pada teman-temannya. Tari akan dijadikan taruhan jika Bapak kalah judi. Kalau Tari sudah menikah, Bapak tak akan berani mengganggu Tari lagi. Tolong Tari Om... Tolong... "


Kupasang wajah semenyedihkan mungkin, air mata juga keluar tanpa aku komando. Dalam hati aku terus berdoa semoga usahaku kali ini tidak sia-sia. Semoga berhasil dan aku menjadi istrinya.


Om Agas tak menjawab. Ia mengijinkan aku menginap di rumahnya, bahkan Ia membelikanku baju ganti beserta pakaian dalamnya.


Kupandangi dress yang Ia belikan. Bagus sekali. Aku jadi serakah. Aku mau selamanya tinggal di rumah ini. Aku tak punya tempat tinggal lagi. Mungkin ini sudah jalan takdir yang Allah berikan untukku.

__ADS_1


Tenang, aku tak boleh menyerah. Aku harus menjadi istrinya Om Agas. Kesempatan di depan mataku! Aku pasti berhasil!


****


__ADS_2