
Flashback
Ternyata setelah aku mengancam Vira lewat video yang dikirimkan oleh Tari, keadaan mulai tenang. Vira tak ada kabar dan Papanya tidak mengirimkan teror seperti yang anaknya lakukan.
Aku terus berdoa di sepertiga malam, doaku adalah semoga Juan mau bertanggung jawab atas anak dalam kandungan Vira. Semoga Juan dibukakan pintu hatinya dan masalah kami akan segera selesai.
Benar yang dikatakan Tari, berdoa di sepertiga malam itu adalah salah satu waktu dimana doa dikabulkan. Tak putus semangat, meski sambil mensupport Tari agar tak terus-menerus sedih karena cafenya yang sepi aku terus berdoa tanpa henti.
Aku bekerja dari rumah, sesekali pergi ke showroom untuk mengerjakan sesuatu yang penting lalu balik lagi pulang. Tak mau meninggalkan Tari terlalu lama.
Aku melihat Damar dan Tara sudah akur, Damar kembali pulang ke rumah dan musik klasik kembali kudengar. Artinya apa kalau bukan mereka lagi ehem ehem?
Tak kusangka, dulu aku begitu membenci musik klasik. Semua karena trauma masa lalu yang begitu melekat di otakku. Kini, aku malah senang mendengar musik klasik itu terdengar. Pertanda, aku berhasil mempersatukan rumah tangga mereka yang terancam karam.
Seperti yang dikatakan Tari, jika kita terlalu benci akan sesuatu maka kebencian itu perlahan akan mencair jika kita bersikap ikhlas dan mau memaafkan. Itulah yang aku rasakan saat ini. Mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu dan sadar kalau masa lalu ada untuk masa depan yang lebih baik lagi.
Kutatap wanita cantik yang sedang tertidur lelap di lenganku. Aku tutupi selimut tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun. Ya, akhirnya kami melakukan penyatuan setelah sekian lama aku menahannya.
Aku mau menghiburnya dan juga menyenangkan adik kecilku yang sudah lama tertidur lelap. Biarlah, ini menjadi hal yang bisa menghilangkan stress di antara kita berdua.
Aku pun tertidur lelap karena nanti malam harus bangun lagi untuk melaksanakan shalat tahajud. Aku yakin, doa yang kupanjatkan akan dikabulkan.
Akhirnya pelangi hadir setelah badai yang memporak-porandakan hidupku pergi. Kabar baik pun aku terima. Papanya Vira mengajakku ketemuan. Aku pergi dengan ketiga sahabatku dan betapa terkejutnya aku ternyata Papanya Vira meminta maaf atas kelakuan anaknya selama ini.
__ADS_1
Flashback Off
****
Aku tersenyum saat mendapati 3 buah sertifikat tanah berada di tanganku saat ini. Punya 3 buah cafe dengan lokasi yang strategis tanpa harus mengeluarkan uang sama sekali, itu adalah sebuah rezeki nomplok.
Vira sudah menandatangani surat pernyataan dan perjanjian bahwa anak yang dikandungnya adalah benar anak dari Juan dan dia menyatakan kalau tidak akan mengganggu kehidupan aku dan Tari lagi. Sesuai perjanjian, aku menerima cafe dan surat pernyataan. Tugasku adalah menghancurkan barang bukti yang kumiliki.
Yang harus dilakukan Vira selanjutnya adalah meminta maaf pada Tari. Aku pun mengatur waktu ketemuan mereka. Lokasinya adalah di cafe milik Tari. Cafe yang masih sepi sampai saat ini. Tapi tenang, aku akan membuat cafe ini ramai kembali.
Tari awalnya takut untuk bertemu dengan Vira. Namun, aku meyakinkan dirinya kalau aku akan menemani Tari selama bertemu dengan Vira. Aku akan menjaganya dan tak akan membiarkan Vira mencelakainya seujung kuku pun.
Vira datang sesuai dengan waktu yang dijanjikan. Yang membuatku agak terkejut, Vira datang bersama dengan Juan. Vira bergelayut mesra di lengan Juan. Juan pun tersenyum bahagia dengan perlakuan manis yang Vira berikan.
Juan dan Damar saudara sepupu, tentu saja orang tua mereka adik kakak yang artinya mereka sama-sama berasal dari orang kaya. Kalau disuruh memilih, ya jelas Juan lebih baik daripada aku yang hanya memiliki showroom.
Papanya Vira tidak bodoh. Selain menikahkan anaknya dengan Bapak dari anak yang dikandung oleh Vira, Ia juga mendapatkan menantu dari keluarga yang terpandang pula. Ngapain harus meminta tanggung jawab dariku?
Pantas saja Papanya Vira mau minta damai padaku. Kalau sampai bukti yang aku miliki tersebar, bisa saja keluarga Juan malah menarik diri karena nama mereka sudah jelek di depan publik.
Merogoh kocek untuk membeli 3 buah cafe lebih baik daripada kehilangan besan dari keluarga yang terpandang. Mungkin itu yang dipikirkan oleh Papanya Vira. Karena itu, Ia akhirnya menyetujui permintaanku dan dalam waktu dekat aku sudah menerima sertifikat cafe yang kini sedang Ia renovasi sesuai dengan permintaanku.
Bukan hal yang sulit bagi seorang menteri seperti dirinya untuk mempercepat proses kepemilikan cafe untukku. Semuanya atas nama Utari Putri. Siapa yang sangka, Tari justru malah lebih cepat kayanya dibanding aku?
__ADS_1
Biaya renovasi cafe semua dikeluarkan oleh Papanya Vira. Coba itu, cuma menang bacot doang, seseorang Agastya Wisesa bisa memenangkan pertandingan. Ya, walaupun harus bonyok dan mendapat teror dahulu tapi semuanya terasa worth it.
Wajah Tari terlihat tegang saat Vira datang. Begitupun dengan Vira, senyum di wajahnya mendadak hilang saat bertatapan dengan Tari. Ibaratnya, masing-masing mengeluarkan listrik dengan warna yang berbeda. Tari berwarna merah dan Vira berwarna biru. Aliran listrik itu saling menyerang dan harus aku pisahkan sebelum saling menyakiti satu sama lain.
"Silakan duduk Vira dan Juan!" kataku mempersilahkan. "Kalian mau minum apa?" aku sebagai tuan rumah harus menyambut ramah donatur yang telah memberi aku 3 buah cafe tersebut.
"Aku es kopi dan Vira susu cokelat saja." Juan yang menjawab. Rupanya Vira begitu tegang sampai tak sanggup bicara. Aku pun meminta karyawanku membuatkan pesanan mereka. Tari yang awalnya membuang muka pada akhirnya mau menatap Vira yang terus menunduk menyembunyikan tangannya.
"Akhirnya lo terbuka juga pintu hatinya." sindirku pada Juan. Kubiarkan Tari dan Vira menyimak percakapanku dengan Juan.
"Ya... Mau gimana lagi? Apa yang lo katakan benar. Gue enggak mau anak gue dinikahin sama seseorang yang bukan Papa kandungnya. Kata-kata Damar juga bener. Gue lihat Damar dan Tara yang harus konsul ke dokter untuk memiliki momongan. Gue yang dikasih anak kenapa malah menolak? Disitu gue sadar, kenapa gue harus menghindari tanggung jawab gue? Damar benar, lingkaran setan di antara kita harus diakhiri." kata Damar.
Vira tak menyangka kalau penyebab Juan mau bertanggung jawab padanya adalah karena aku turun tangan. Begitu pun dengan Tari. Sejak Juan datang rasanya Tari terus dikejutkan dengan hal-hal baru.
"Jadi, yang membujuk Juan agar mau bertanggung jawab adalah Om Agas?" Vira akhirnya membuka suaranya.
"Iya. Aku dan Damar yang turun tangan. Awalnya, Juan nggak mau tanggung jawab karena berpikir kita berdua udah menghianatinya dengan berselingkuh. Ya... bener sih. Namun, ternyata Juan laki-laki yang bertanggungjawab. Aku salut sama dia." aku menatap Juan dan berkata dengan sungguh-sungguh. "Lo keren, Bro!"
Juan tersenyum mendengar perkataanku. "Thanks." senyum Juan menghilang saat menatap Tari. "Maafin gue ya, Tar. Kalau dulu gue enggak ngejar-ngejar cinta lo, pasti lo akan hidup bahagia sekarang. Karena sifat pengecut gue juga lo menderita. Gue benar-benar minta maaf sama lo." ujar Juan dengan penuh penyesalan.
****
Ayo udah komen belum? aku masih pilih komentar terbaik yang akan aku umumkan di IG aku: Mizzly_
__ADS_1
So, komen yang banyak ya 😊