Duda Nackal

Duda Nackal
Malam Pertama Menjadi Abi


__ADS_3

Aku membawa 4 bungkus pecel ayam beserta nasi ke dalam ruangan Tari. Tara dan Damar sudah pulang. Rupanya Damar sudah dua kali ke kamar mandi, makanya agak lama. Untung saja aku menemani Tara mengobrol di taman. Kasihan Ia seorang diri malam-malam tanpa teman bicara.


"Lama banget sih?!" protes Mama.


"Ya kan digoreng dulu, Ma. Sambil nunggu ayamnya mateng, Agas ngobrol sama Tara." kataku dengan jujur.


Rupanya perkataan jujurku membuat Mama dan Tari menatap curiga dan penuh intimidasi.


"Cuma ngobrol." kataku sambil membagikan pecel ayam ke Mama dan Papa. "Kamu mau Sayang?" tanyaku pada Tari.


"Mau. Aku lapar habis menyusui Wira. Asi-nya kuat banget." aku lalu menaruh bungkus pecel ayam dan nasi di atas nakas. "Abi cuci tangan dulu nanti Abi suapin ya!"


Aku pun ke washtafel dan mencuci tanganku.


"Memangnya Tara belum pulang?" tanya Mama. Kupikir Ia sudah lupa, tapi malah dibahas lagi.


"Belum. Damar ke kamar mandi katanya mules." aku membuka karet pembungkus dan mulai menyuapi Tari. Wira tertidur pulas di keranjang bayi. Mama bilang jangan keseringan di gendong nanti bau tangan. Dengan berat hati Tari pun menurut apa kata Mama.


"Ngobrolin apa saja kalian?" selidik Mama.


"Ngobrol standar, Ma. Tara mau umroh dan berdoa dikasih momongan. Tara pengen punya anak juga kayak Tari. Itu kan cita-cita dia sejak lama." kusuapi Tari dengan nasi yang masih agak panas. Aku dinginkan sebentar baru menyuapinya.


Tari terus menyimak percakapanku dengan Mama. "Lalu?"


"Ya... Tara bilang akan doain Agas juga di tanah suci. Agas mah senang aja didoain. Tara agak sedih karena Mama masih agak jutek sama dia. Udahlah, Ma. Tara dan Agas udah pisah. Tara malah bersyukur Agas dan dia bercerai. Dengan begitu Agas bisa bertemu Tari."


"Siapa yang jutek? Mama tadi senyum kok."


"Iya... iya... Sudah jangan dibahas. Mama makan yang banyak ya. Mama mau tidur di rumah? Agas antar pulang dulu nanti." tanyaku.


"Mama mau di sini aja temani Tari. Kamu sama Papa saja yang pulang!" usir Mama.


"Enggak bisa, Ma. Agas kan udah janji mau temani Tari selama proses melahirkan!"


"Sekarang udah proses melahirkannya, biar Mama saja yang temani. Toh janji kamu sudah terpenuhi." balas Mama lagi.

__ADS_1


Tari memegang tanganku dan menggelengkan kepalanya. Menyuruhku jangan memperpanjang berdebat dengan Mama lagi.


"Baiklah kalau Mama mau nginep di sini. Papa gimana?" aku mengalah pada akhirnya.


"Papa mah dimana aja gampang, Gas. Di sini enggak masalah. Di rumah kamu juga enggak masalah."


Huft...


Di rumah juga enggak ada orang.


"Yaudah semua di sini aja tidurnya. Mama sama Papa bisa pakai sofa tidurnya. Nanti Agas di sini temani Tari." lagi-lagi aku yang mengalah.


Selesai menyuapi Tari dan aku juga memakan makananku, Mama dan Papa tertidur lelap di sofa. Tari juga nampak tertidur. Wira sudah sejak tadi tertidur lelap. Kini giliranku.


Aku duduk di kursi dekat Tari. Sambil memanjangkan kaki aku pun memejamkan mataku. Rasa kantuk segera datang, seharian yang penuh drama membuatku lelah dan cepat tertidur.


Baru saja masuk ke alam mimpi, suara tangisan Wira membangunkanku. Aku reflek segera duduk tegak dan benar saja, Wira menangis.


Aku gendong dan ternyata matanya melek. "Wah anak Abi udah bangun ya? Kok bangunnya tengah malam sih? Bukannya bobo?"


Wira gerak-gerak ke kiri dan ke kanan saat kusentuh pipinya. Pertanda anak ini haus dan minta nen.


"Hush! Jangan kayak gini dimirip-miripin! Masih ada hal lain yang jauh lebih berfaedah." omel Tari.


"Itu juga berfaedah ya Wira, bisa kenyang dan membuat Mommy Tari lega. Iya kan?" kataku pada Wira.


Tari hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Selesai nen, Wira tak kembali tidur. Benar dugaanku, anak ini ngajak begadang. Siang jadi malam dan malam jadi siang.


Kalau sudah begini, Tari yang lelah baru mengijinkanku menggendongnya. Asyik sih, tapi kenapa sudah malam? Aku juga kan ngantuk!


Aku pun menggendong Wira. Menyanyikan shalawat nabi agar Wira terbiasa mendengar shalawat dan bukan musik.


Wira anak yang pengertian. Kini Ia anteng karena perut kenyang dan nyaman dengan shalawatanku. Matanya masih bergerak kiri kanan dan belum menatapku dengan jelas.


Tari kembali tertidur. Papa dan Mama bahkan tidak terbangun saat Wira menangis tadi. Satu jam, dua jam lama-lama aku mengantuk dan Wira kembali haus.

__ADS_1


Kuberikan pada Tari untuk nen kembali. Niatku mau kembali tidur, namun Tari memintaku menjaga Wira lagi. Anak itu benar-benar matanya segar. Tak mau tertidur juga. Takut tertidur saat menggendongnya, aku pun menaruhnya dalam kereta bayi.


Baru sebentar, anak itu sudah kembali menangis. Kugendong dan lagi-lagi kunyanyikan shalawat nabi. Wira kembali anteng. Jam setengah 4 pagi, Wira baru tertidur pulas.


Dengan hati-hati kutaruh Wira dalam kereta bayi. Aku pun tertidur di kursi. Rasanya belum lama aku tertidur, tubuhku ada yang mengguncang-guncang.


Aku membuka mataku dan melihat Mama. "Sholat subuh dulu sana! Jangan tidur terus!"


Lah....


Mama enggak tau aja semalaman aku yang begadangin Wira?!


Aku pun menurut. Dengan mata masih mengantuk, aku mengambil wudhu dan menunaikan kewajibanku.


Setelah sholat, barulah aku bisa tertidur di sofa bekas Mama tidur tadi. Wira ada yang menjaga membuatku tenang.


Aku terbangun ketika tidurku cukup. Nampak Tari dan Mama sedang mengobrol sambil tertawa-tawa. Papa baru datang membawa makanan.


"Buat sarapan, Pa?" tanyaku.


Mereka bertiga menoleh dan menggelengkan kepalanya. "Lihat jam berapa sekarang?! Kamu tidur pulas sekali kayak di rumah sendiri!" omel Papa.


Kulihat jam di Hp milikku. Oh...my...God... Jam setengah satu siang.


"Maaf... maaf... Agas ketiduran!" kataku penuh penyesalan.


"Sudah tak apa. Kami ngerti kok semalam kamu begadang buat Wira. Ayo cepat kamu mandi biar segar dan makan nasi Padang yang Papa beli ini! Mumpung masih panas." kata Papa sambil membagikan nasi pada Mama dan Tari.


Untunglah mereka mengerti. Baru semalam menjadi ayah saja sudah berat. Bagaimana nanti?


Selesai mandi aku menikmati makan siang sekaligus sarapanku. Dokter datang memeriksa Tari dan mengatakan kalau Tari besok sudah bisa pulang. Melahirkan normal bisa lebih cepat pulang ke rumah dibanding melahirkan caesar.


Syukurlah keadaan Tari sudah jauh lebih baik. Sudah bisa berjalan bolak-balik meski kakinya agak bengkak. Sudah bisa menaruh sendiri Wira dalam kereta bayi.


Keesokan harinya kami pulang ke rumah. Home sweet home. Baru saja kami masuk ke dalam rumah, sudah ada tamu yang datang.

__ADS_1


"Assalamualaikum!"


*****


__ADS_2