Duda Nackal

Duda Nackal
Doa di Tengah Malam


__ADS_3

Aku menatap gadis polos di sampingku. Kurapatkan tubuhku dengannya dan memeluk pinggangnya dengan erat.


Wangi sekali dia. Aku suka dengan aroma tubuhnya. Begitu menenangkan untukku.


"Mobil itu tak akan aku jual."


"Loh memangnya kenapa?" Ia terkejut mendengar perkataanku. "Tari kan cuma minta Om kasih diskon. Enggak usah banyak-banyak. 10 eh 5 persen aja cukup. Jadi yang beli enggak akan rugi!"


Baik sekali dia. Padahal tadi tidak meninggalkan kerusakan apapun loh. Aku masih main dengan hati-hati karena Tari masih susah ditembus. Masih sangat rapat, dan aku suka itu.


"Aku memang tidak berencana menjual mobil itu. Buat kenang-kenangan kalau mobil itu jadi saksi peluh dan desahaan kita yang membaur jadi satu. Kalau di jual nanti tak ada yang mengingatkanku kalau kamu sangat hot tadi saat berada di atasku." aku mengulum senyumku dan menyembunyikan wajahku di balik punggungnya.


"Jangan gitu ah, Om! Cuma karena kenang-kenangan Om jadi rugi besar. Ini satu mobil loh! Mahal. Bukan kayak harga satu ikat kangkung!" omel Tari.


Ada-ada saja kosakata dia. Mobilku lah dibandingkan dengan seikat kangkung! Nenek-nenek bau tanah juga tau kalau jelas jauh berbeda!


"Biarkan saja. Tak masalah."


"Yaudah Tari enggak jadi minta diskon deh. Om boleh jual dengan harga normal! Pokoknya Om jangan sampai rugi!"


Ha...ha...ha... Keras kepala sekali dia!


"Iya! Udah jangan mikirin aku rugi atau untung! Kita tidur sekarang ya! Aku lelah banget seharian bersenang-senang sama kamu!" lalu pandanganku mulai memudar dan aku masuk ke alam mimpi.


Pelukan dan aroma tubuh Tari seakan menjadi candu bagiku. Membuat aku langsung rilex dan cepat terlelap.


Aku terbangun saat merasakan pelukan yang membuatku rilex tak ada. Dengan mata masih terpejam, aku meraba tempat tidur di sebelahku. Kosong. Kemanakah dia?


Mataku masih belum terbiasa dengan kegelapan kamar. Aku meraba nakas dan mengambil Hp. Jam 2 malam. Apa yang Ia lakukan jam segini?


Aku lalu duduk dan mencari keberadaan Tari. Ia juga tak ada di kamar. Aku berjalan keluar kamar dan mencari di dapur. Tak ada juga.


Apa Tari kabur dengan membawa barang berhargaku?


Enggak! Anak itu tidak akan berbuat seperti itu. Kalau dia mau mengambil uangku, Ia akan meminta langsung padaku dan aku akan berikan.


Aku lalu melihat lampu kamar tamu menyala. Kamar tersebut adalah kamar Tari sebelum kami menikah. Kamar yang juga suka dipakai Papa dan Mama kalau menginap.


Maklum saja, rumahku hanya ada tiga kamar tidur. Di atas satu dan sudah aku ubah menjadi tempat olahraga.


Aku berjalan dan langkahku berhenti tepat di depan pintu. Aku terdiam dan mendengarkan Tari yang sedang berdoa.

__ADS_1


"Ya Allah, tolong jangan dekatkan lagi Om Agas dengan Mbak Tara. Jangan biarkan Om Agas jatuh pada pelukan Mbak Tara..."


Tara?


Aku teringat kalau kemarin aku dan Tara sempat berciuman. Apakah Tari melihatnya dan menyembunyikan perasaannya dariku?


"Tari sayang sama Om Agas. Hanya Om Agas yang Tari punya di dunia ini. Jangan pisahkan Tari dari Om Agas ya Allah... Kalau Om Agas kembali dengan Mbak Tara, maka Bapak akan kembali menyiksa dan akan menjual Tari lagi. Jangan biarkan itu terjadi, Tari mohon! Tidak apa-apa kalau Om Agas tidak mencintai Tari, biar Tari saja yang mencintainya. Jangan ambil Om Agas dari sisi Tari ya Allah..."


Deg...


Dadaku terasa sakit mendengar doa yang Tari panjatkan. Ia terlalu takut aku pergi. Aku adalah mataharinya.


Tari bangun tengah malam padahal tubuhnya amat letih hanya untuk memohon pada Allah agar aku tetap disisinya?


Inikah rasanya sangat dicintai dengan tulus oleh seorang wanita? Apakah aku pantas? Dengan semua kenakalan yang kulakukan selama ini, aku mendapatkan Tari yang amat mencintaiku?


Harus aku balas dengan apa perasaan yang Tari berikan. Sementara cintaku masih untuk Tara seorang! Aku tak bisa memaksakan hatiku. Sudah sejak lama aku ingin melupakan Tara namun semua itu sulit!


"Tari mohon, semoga Engkau membukakan hati Om Agas untuk belajar mencintai Tari..."


Nyesss....


Aku tak kuat lagi mendengarnya. Aku pun kembali ke dalam kamar. Aku masih duduk di tepi tempat tidur, merenungi semua yang kudengar barusan.


Trauma yang kurasakan ternyata cukup membekas dalam diriku. Membuatku merasa bahwa mencintai seseorang adalah sebuah celah yang akan menjadi luka nantinya.


Aku mendengar Tari menutup pintu kamar tamu. Cepat-cepat aku masuk ke dalam selimut dan berpura-pura tidur.


Tak lama pintu kamarku pun terbuka. Tari merebahkan dirinya di sampingku. Ia masuk ke dalam pelukanku dan menepuk-nepuk punggungku agar aku tertidur dengan nyaman.


"I love you, Om!" ucapnya pelan.


Sebuah kata cinta sederhana yang memiliki arti dalam.


Lalu Tari pun tertidur pulas. Meninggalkanku dengan hati yang menghangat. Meski aku belum mencintai Tari, tapi aku nyaman berada disisinya.


Cinta adalah hal yang sulit bagiku, tapi bukan tidak mungkin bukan? Kalau Tari terus mendoakanku seperti itu, Allah pun pasti akan luluh. Apalagi aku yang hanya manusia biasa?


****


"Om! Ya Allah! Tari kesiangan! Kita enggak sholat subuh ini, Om!" Tari sudah membuat kehebohan di pagi hari. Rasanya aku belum lama memejamkan mataku dan sudah terbangun dengan suaranya pagi ini.

__ADS_1


"Memangnya sekarang jam berapa?" tanyaku dengan suara khas bangun tidur. Serak dan seksi.


"Jam setengah 8! Kok Tari bisa tidur sepulas ini sih? Pasti gara-gara Om peluk Tari semalaman makanya Tari jadi pulas tidurnya!"


Aku peluk dia semalaman? Apa anak itu lupa kalau semalam dia yang masuk ke dalam pelukanku sambil menepuk punggungku? Bagaimana sih anak ini!


Aku menarik Tari yang sedang duduk ke dalam pelukanku. "Yaudah kita tidur saja!" kataku sambil memeluknya erat.


"Ih Om gimana sih? Ini tuh udah siang! Masa mau tidur lagi! Nanti rejekinya dipatok ayam!" omelnya sambil berusaha lepas dari pelukanku. Tenaganya kalah kuat dengan tenagaku. Sekuat apapun Ia melawan, sekuat itu pula aku memeluknya erat.


"Aku libur kerja kalau weekend! Biar anak buahku saja yang kerja! Kamu juga libur memasak saja! Kita bobo lagi, atau kamu mau nyoba gaya lain?" ledekku.


"Nanti kalau Om lapar gimana?"


"Jangan kebanyakan pikirin aku! Pikirkan diri kamu saja!" Aku pun kembali terlelap. Memeluk Tari adalah obat tidur terbaik.


Aku terbangun sekitar jam setengah 12 siang. Aku selalu begitu. Kalau kemarin sampai beberapa kali bercinta dalam sehari, tenagaku seakan terkuras habis. Butuh tidur lebih lama.


Tari sudah tak ada di tempat tidur. Entah tadi dia kembali tidur atau tidak aku tak tahu. Ia sedang memasak di dapur.


Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Kubenamkan wajahku di ceruk lehernya yang harum. Habis mandi ternyata dia.


"Geli ah, Om!" ujarnya sambil menggeliat kegelian.


"Oh... Ini titik sensitif kamu toh? Nanti saat kita main aku akan buat kamu lebih nikmat lagi!" bisikku.


"Tadi Mbak Inah kesini. Cuma nyuci dan beres-beres rumah lalu pulang. Anaknya sakit makanya enggak lama." lapor Tari.


"Iya. Hmm.... Mbak Inah enggak ada nih! Enaknya kita ngapain ya?" godaku.


"Makan, Om! Enakkan makan! Om belum sarapan kan? Ini sudah mau makan siang, kita jadikan satu saja ya!"


"Oke. Tapi suapin ya!"


Tari tersenyum. "Pasti mau ngerjain Tari kan?"


"Enggak! Pokoknya mau disuapin kamu! Tangan aku pegal nih habis push-up jadi maunya disuapin aja! Kamu mau kan?"


"Iya dong suamiku sayang! Kamu duduk aja dulu!"


"Terus kamu diatas pangkuan aku ya!" godaku lagi. "Kayak di dalam mobil kemarin!"

__ADS_1


****


__ADS_2