Duda Nackal

Duda Nackal
Teror


__ADS_3

Tari


Aku memutuskan untuk ikut pulang bersama Abi ke rumah. Jujur saja, sehabis membuat Vira marah aku merasa begitu takut. Aku saat ini sedang berbadan dua, kalau terjadi apa-apa dengan bayi dalam kandunganku aku tak bisa memaafkan diriku sendiri.


Saat ini, menginap di cafe bukanlah tempat yang aman untukku. Mengusik Vira berarti bersiap-siap untuk menerima balasan darinya yang jauh lebih pedih lagi. Maka saat Abi mengajakku untuk pulang ke rumah aku pun menuruti perkataannya. Setidaknya kalau di rumah ada Abi yang melindungiku.


Selama tinggal di cafe jadwal tidurku berantakan. Kadang aku tak bisa tidur dan memutuskan untuk bekerja di dapur sampai-sampai stok makanan di freezer penuh karena aku terlalu rajin menyetok untuk persiapan kalau cafe ramai.


Tidur dengan menaruh kepalaku di atas lengan Abi sebagai bantalannya adalah tempat ternyaman, apalagi kalau sambil memeluk Abi. Aku langsung tertidur pulas dan rasanya tak mau cepat-cepat pagi. Mimpiku pun indah. Aku merasa aman dan terlindungi berada di samping Abi.


Aku sadar bukan hanya aku yang menginginkan berada di dekat Abi, anak dalam kandunganku juga demikian. Biasanya aku menjadi seorang Tari yang tegar, tapi saat berada dekat Abi air mataku rasanya mudah sekali untuk menetes. Mudah sedih, mudah emosi dan begitu sensitif. Aku akan terus mencari perhatian Abi. Melihat Abi memperlakukanku dengan manja, membuat aku semakin ingin bermanja-ria padanya.


Aku terbangun di tengah malam saat tak mendapati tubuh Abi yang biasa aku peluk. Aku mencari keberadaan Abi dan ternyata suamiku itu sedang shalat tahajud. Masya Allah... Abi yang dulu nggak pernah sama sekali melaksanakan shalat lima waktu kini malah rajin berdoa di sepertiga malam. Rupanya Ia meniru apa yang aku lakukan.


Aku melihat wajah Abi yang begitu bercahaya dan terlihat lebih tampan dari biasanya. Wajar saja kalau banyak wanita yang menginginkan Abi sebagai milik mereka satu-satunya. Tampan, sangat perhatian dan begitu bertanggung jawab.


"Kamu terbangun ya? Sebentar ya, aku melipat sejadah dulu." Abi lalu melipat sejadah, sarung dan menggantung baju koko miliknya. "Mau minum?" tawarnya.


Aku mengangguk. Abi lalu mengambilkan minum untukku. "Masih malam, ayo tidur lagi!" Abi lalu mempersilahkanku untuk tidur kembali dan menaruh kepalaku di lengannya yang kokoh tersebut.


"Abi sering sholat tahajud sekarang?" tanyaku.


"Iya. Sejak kamu tinggal di cafe aku jadi susah tidur. Aku selalu terbangun setiap tengah malam dan mencari keberadaan kamu. Daripada aku bersedih, lebih baik aku berdoa. Semenjak itu, mataku seperti sudah terbiasa. Seperti ada alarm yang membangunkanku setiap waktu shalat tahajud tiba. Kalau aku belum shalat, tidurku jadi tak tenang. Sekarang, udah shalat dan kita lanjutin tidur lagi sampai nanti adzan subuh membangunkanku untuk kedua kalinya."


Kata-kata Abi begitu sejuk terdengar ditelingaku. Aku pun memeluk Abi makin erat dan dengan tepukan lembutnya di punggungku, aku kembali tertidur pulas.

__ADS_1


Abi harus membangunkanku saat adzan subuh berkumandang. Mengajakku untuk shalat subuh berjamaah lalu tak membiarkanku masuk ke dalam dapur. Abi bilang, Ia akan menyiapkan sarapan untukku. Baiklah, lagi-lagi aku harus menjadi nyonya rumah yang tak melakukan kegiatan apapun. Aku nikmati segala hal memanjakan yang Abi berikan padaku.


Aku duduk manis di meja makan dan melihat Abi membuatkan nasi goreng dengan bumbu instan. Rasanya lumayan juga. Ya... meskipun pakai bumbu instan tetap saja niat Abi untuk membahagiakanku itu yang utama.


Abi lalu mengantarku ke cafe sebelum dirinya pergi ke showroom untuk bekerja. Belum ada karyawanku yang datang. Cafe masih terlihat sepi dan security di depan terlihat sangat mengantuk.


Aku tidak mengomeli security tersebut karena aku tahu mengantuk adalah hal yang manusiawi. Apalagi security tersebut habis begadang semalaman menjaga cafe milikku. Aku pun masuk ke dalam cafe. Langkahku terhenti saat melihat sebuah kardus diletakkan di depan pintu cafe. Abi yang datang belakangan bingung kenapa aku tidak langsung masuk dan malah berdiam diri di depan pintu.


"Ada apa?" tanya Abi.


Aku lalu menunjuk sebuah kardus yang diletakkan di depan pintu.


"Kardus apa ya kira-kira itu, Bi?"


"Nggak mungkin, Bi. Mereka nggak akan seceroboh itu. Apa aku tanya aja sama securiry di depan?" tanyaku berinisiatif.


"Enggak perlu. Ini ada tulisan nama kamu. Biar aku buka ya." tanpa persetujuanku, Abi pun membuka lakban yang menutupi kardus tersebut. Kardus berukuran 40x40 cm itu membuat perasaanku tak enak.


Ternyata benar, aku begitu terkejut saat kardus itu dibuka. Abi juga terkejut. Ia bahkan melempar kardus tersebut saking kagetnya.


"Astagfirullah! Siapa yang mengirimkan ini?" tanyaku yang begitu kaget melihat isi dari kardus tersebut.


"Udah gila paling yang kirim! Kenapa juga pakai ngirimin bangkai tikus mati di sini?" Abi yang kesal lalu pergi menghampiri security depan. Ia berteriak memanggil security yang kaget dan berlari sambil menahan kantuknya.


"Ada apa ya Pak?" tanya security tersebut dengan wajah penuh ketakutan.

__ADS_1


"Siapa yang kirim ini? Kenapa ada bangkai tikus di depan cafe? Bapak nggak memperhatikan ya?" tanya Abi dengan wajah penuh emosi. Aku menenangkan Abi.


"Bangkai tikus?" Security itu lalu memeriksa kardus yang tadi sempat Abi lemparkan. Ia terkejut melihat isinya, sama seperti aku dan Abi tadi. "Maaf Pak, malam ini entah mengapa saya sangat mengantuk. Saya akui semalam saya ketiduran, Pak. Saya nggak tahu siapa yang mengirimkan ini semua."


Wajah Abi terlihat mengeras menahan emosinya. "Saya foto dulu! Setelah itu, kamu buang bangkai ini!" perintah Abi dengan tegas. Abi lalu memfoto kiriman bangkai tikus tersebut untuk dijadikan bukti. Karena takut ada sesuatu dalam cafe, Abi pun memeriksa dulu sebelum mengijinkan aku masuk ke dalam.


"Masuklah! Aku mau lihat CCTV di kamar kamu! Aku penasaran Siapa yang mengirimkan itu!"


Abi lalu memeriksa kamera CCTV. Sekitar jam 2 pagi, ada seorang laki-laki dengan memakai topi dan masker berpakaian serba hitam yang datang dengan santai sambil membawa kardus berisi bangkai tikus tersebut dan meletakkannya di depan pintu. Laki-laki tersebut seperti sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini. Tak ada rasa takut, Ia terlihat tenang dan berjalan keluar dari cafe. Lalu kemana security yang menjaga di depan?


Abi lalu memanggil security yang sudah membuang bangkai tikus tersebut. "Bapak benar semalam ketiduran?"


"Benar pak. Entah mengapa, saya ngerasa ngantuk banget. Biasanya, begadang kayak gini doang sih nggak bikin saya ngantuk. Cuma kemarin, saat saya pesan kopi di abang-abang kopi keliling saya bukannya malah segar matanya eh malah tambah ngantuk." cerita Pak Security.


"Lain kali, jangan sembarangan membeli makanan atau minuman selama Bapak bekerja. Lebih hati-hati. Kalau menurut perkiraan saya, kopi Bapak semalam itu mengandung obat tidur." Abi lalu menunjukkan rekaman CCTV pada security.


Security tersebut begitu terkejut. Ia bahkan tidak tahu kalau ada orang yang masuk ke dalam cafe karena Ia terlalu mengantuk dan tertidur pulas.


"Maafkan saya, Pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya benar-benar semalam ketiduran Pak. Sama sekali tidak berkomplot dengan orang tersebut. Saya murni bekerja disini karena ingin mencari uang buat keluarga saya dengan jujur Pak." aku bisa melihat kalau security tersebut tidak berbohong. Abi pasti juga melihat hal yang sama.


"Sudahlah! Lain kali, saya minta kamu lebih hati-hati lagi dan mengawasinya dengan lebih benar karena saya takut aja nanti malah keselamatan kamu juga yang terancam. Orang yang meneror ini pasti nggak akan tinggal diam. Saya minta kamu lebih berhati-hati lagi mulai dari sekarang! " ujar Abi dengan tegas.


"Baik, Pak."


***

__ADS_1


__ADS_2