Duda Nackal

Duda Nackal
Belajar Membuat Butter Cream


__ADS_3

"Maaf, Om. Maaf kalau Tari belum bisa membuat Om move on dari Mbak Tara. Maaf kalau Om masih ingin tahu tentang keadaan rumah tangga Mbak Tara dan masih ingin berbahagia di atas penderitaannya.Tari enggak akan melarang Om lagi. Silahkan kalau Om mau mengutamakan sisi manusiawi Om terus menerus. Itu hak Om. Tari tak akan melarangnya lagi. Maaf kalau Tari sudah marah. Tari seharusnya tak boleh marah sama Om."


Aku tertegun dengan apa yang Tari katakan. Ia bilang tidak marah namun aku merasa justru dia sangat marah padaku.


"Sudahlah! Ayo kita makan makanan kita. Habis itu kita keliling komplek lagi!" inilah kesalahanku. Bukannya aku meminta maaf dan berjanji untuk membuka hatiku untuknya dan melupakan masa laluku dengan Tara. Aku malah membiarkan masalah semakin berlarut-larut.


Tari menuruti perkataanku, Ia memakan pesanannya namun tak lagi berkata apa-apa. Aku pun memancingnya untuk berbicara.


"Ini namanya lasagna. Kamu harus coba! Nanti kamu akan bisa praktek bikin di rumah deh! Coba lah!"


Aku menyuapinya lasagna, biasanya Ia akan ceria dan berjanji akan membuatkanku makanan seperti ini di rumah tapi kali ini Ia hanya bilang: "Enak."


Hanya satu kata dan kembali menghabiskan makanan miliknya. Tidak mencoba makanan milikku seperti biasanya. Tidak dipenuhi rasa ingin tahu layaknya seseorang yang begitu haus akan ilmu pengetahuan.


Ia menjadi lebih pendiam. Kami pun akhirnya hanya berjalan-jalan sebentar mengitari komplek lalu pulang dengan keadaan diam.


Aku tahu Ia masih marah, biarlah mungkin Ia butuh waktu untuk bisa menerima keadaan. Aku tak pernah menjanjikan akan mencintainya. Ia menerima apa keputusanku, lalu kenapa Ia sekarang bersikap seperti seseorang yang sedang cemburu?


****


Utari


Aku masuk ke dalam kamar mandi, berpura-pura sakit perut namun aku menangis di dalam sana. Aku tak mau Om Agas melihatku menangis.


Aku sadar sampai kapan pun hanya ada nama Mbak Tara dalam hidup Om Agas. Mau aku berusaha sekuat apapun tetap saja aku selalu kalah bila dibandingkan dengan Mbak Tara.


Om Agas memang baik padaku, kuyakin pada semua orang juga. Buktinya Cici saja begitu mencintainya. Apa di mata Om Agas, Ia baik padaku karena aku seperti Cici yang bisa memberinya kepuasan saja?


Kenapa hati ini sakit sekali rasanya ya? Seharusnya sejak awal aku sadar diri. Aku hanya boleh mencintainya dalam diam. Aku tak boleh berharap kalau Om Agas akan membalas perasaanku. Aku hanyalah budak napsunya saja.


Malam harinya Om Agas kembali mengajakku bercinta. Aku menuruti apa permintaannya. Setidaknya Ia tak akan mencari kepuasan di luar sana.


Tanpa banyak bicara aku melayaninya, Ia memang memberiku kepuasan juga. Namun tak ada feel yang kurasakan kali ini.


Beda sekali dengan kemarin, seharian bercinta sampai kami melakukannya di dalam mobil yang membuatku terbang ke langit ke tujuh. Apa perbedaan ini karena rasa kecewa yang kurasakan?


Aku tetap melaksanakan tugasku sebagai seorang istri yang baik. Menyiapkannya sarapan dan membawakannya bekal sebelum kami berangkat.


Om mengantarku sampai depan tempat kursus. Aku salim padanya sebelum turun dari mobilnya. Kebetulan sekali aku bertemu dengan guru kursusku, Pak Adi.

__ADS_1


"Pagi, Pak!" sapaku sambil tersenyum.


"Pagi! Wah kamu cerah sekali pagi ini dengan baju bunga-bunga, awas ada kumbang yang mengambil sari bunga kamu loh!" goda Pak Adi.


Aku kembali tertawa dengan leluconnya yang agak garing, sekedar menghargai usahanya. "Bisa aja Bapak! Ayo kita masuk! Pak Adi pasti sudah banyak ditunggu di dalam sama murid-muridnya!"


"Oh tentu! Ayo kita belajar hari ini!"


Sebelum aku masuk ke dalam aku sempat melirik ke belakang. Om Agas ternyata belum pergi dan sejak tadi memperhatikan aku mengobrol dengan Pak Adi. Aku berbalik badan dan masuk ke dalam kelas.


"Pelajaran hari ini adalah membuat butter cream yang rasanya enak dan tidak eneq. Biasanya butter cream yang beli di toko bahan kue atau yang kita buat jika dimakan akan nempel di langit-langit mulut. Ada yang menyukai namun saya yakin lebih banyak yang tidak menyukainya. Kelas hari ini adalah membuat butter cream yang enak dan bagaimana menghiasnya diatas kue. Sudah ada dummy kue yang disediakan, jadi kalian bisa menghiasnya. Mari kita mulai!" Pak Adi lalu mulai mengajarkan bagaimana membuatnya.


Aku mengikuti apa yang diajarkan. Dalam sekali percobaan aku bisa berhasil. Dulu Ibu bilang kalau aku ini anak yang IQ-nya tinggi, Ibu pun sangat sedih karena tak bisa membiayaiku kuliah.


"Kamu sudah membuat motif bunga?" tanya Pak Adi yang datang mendekatiku.


Aku menggelengkan kepalaku. "Belum. Baru menghias pinggiran dummy saja."


"Kamu ambil baking paper, nanti buat alasnya. Ambil spluit dan masukkan dalam piping bag, lalu buttercream masukkan dalam piping bag berbeda. Coba ikuti saya!" Pak Adi mengajarkanku dengan sabar.


Aku memperhatikan bagaimana Pak Adi membuat hiasan dan terlihat begitu lihai. Kelihatannya mudah, aku pasti bisa.


"Mudah kan?" tanyanya.


"I-iya! Aku akan coba lagi supaya lancar." kataku dengan gugup.


"Cobalah! Banyak berlatih, pasti kamu akan bisa."


"Baik, Pak!"


Setelah Pak Adi pergi baru aku bisa bernafas lega.


"Cie Tari, Pak Adi perhatian banget sama kamu! Naksir kali sama kamu!" goda teman sekelasku Avon.


"Enggak ah Mbak. Memang tadi tangan aku masih kaku saja makanya diajarin sama Pak Adi." elakku.


"Ish! Tanganku juga kaku tapi enggak diajarin kayak kamu!" gerutu Avon.


"Kamu mau? Nanti aku bilangin nih!" ledekku.

__ADS_1


"Enggak ah. Buat kamu aja!"


Aku tersenyum. Aku kembali menghias beberapa bunga. Aku pun mengikuti ajaran Pak Adi untuk memadukan warna dalam buttercreamku agar lebih segar.


"Nah begitu. Sudah bagus bunganya! Warna-warni kayak baju kamu!" ujar Pak Adi.


Aku hanya membalas perkataan Pak Adi dengan senyuman. Tanpa terasa kursus hari ini sudah selesai, karena terasa seru waktu pun berlalu dengan cepat


Aku menunggu taksi di depan ruang kursus. Benar kata Pak Adi, sulit mencari taksi kosong saat jam pulang kursus karena berbarengan dengan jam pulang anak sekolah dekat sini dan juga jam istirahat karyawan kantor.


Hebat sekali mereka, pulang sekolah naik taksi. Beda denganku, bisa lulus sekolah saja sudah untung. Pulang pergi selalu naik angkot. Tak ada uang jajan, makan pun bawa bekal dari rumah.


Aku terkejut saat mendengar bunyi klakson mengarah padaku. Mobil Pak Adi, ternyata.


"Ayo! Aku anterin lagi! Sekalian jalan!" ajak Pak Adi.


"Enggak usah, Pak! Aku enggak mau merepotan Pak Adi terus!" tolakku.


"Tidak merepotkan sama sekali! Cepatlah naik! Nanti macet!"


Kulihat di belakang sudah banyak kendaraan yang mengklakson mobil Pak Adi. Aku akhirnya ikut dan naik mobilnya. Tak mau Pak Adi diomeli oleh pemilik mobil lain.


"Oh iya aku lupa, keponakan aku ulang tahun! Kasih kado apa ya?" Pak Adi mengajakku berbicara sambil mengemudikan mobilnya.


"Perempuan apa laki-laki, Pak?" tanyaku.


"Perempuan. Jangan lupa kalau di luar kelas panggil aku Mas!"


"Oh iya, lupa. Hmm... Belli boneka sih kalau perempuan atau masak-masakkan."


"Mau bantu aku pilihkan? Aku tuh enggak ngerti tentang boneka. Di depan ada Mall, kamu mau kan antar aku beli boneka disana sebentar?"


Aku tak enak menolaknya. Aku kan sudah numpang. Pak Adi juga baik sama aku. "Iya. Aku bantu pilihkan."


Pak Adi tersenyum. "Makasih ya. Maaf ya kalau aku merepotkan kamu!"


"Justru saya yang ngerepotin Mas Adi terus."


Pak Adi pun membelokkan mobilnya masuk ke dalam Mall. Aku hanya bisa mengikuti kemana Ia mengajakku. Tak apalah, masih siang. Om Agas juga belum pulang kerja.

__ADS_1


****


__ADS_2