Duda Nackal

Duda Nackal
Bertemu Vira


__ADS_3

Agas


"Pintar sekali kamu menyembunyikan kehamilan kamu di depan orang tua kamu sendiri? Apa mereka segitu nggak pedulinya sama anak mereka sendiri sampai nggak tahu kalau anak mereka tuh sedang hamil?" tanyaku dengan pedasnya.


"Jelas tidak akan ketahuan dong, karena aku selama ini selalu memakai baju longgar selama berada di rumah. Toh, mereka jarang berada di rumah dan selalu berpergian ke luar kota. Mana sempat memperhatikan kalau putri mereka sedang hamil?" jawaban Vira membuatku merasa kasihan padanya. Tapi hanya sedikit saja.


Pantas saja Ia selalu mencari perhatian karena keluarganya sendiri tidak peduli pada dirinya dan sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Pantas saja Tari yang selalu menjadi bulan-bulanan Vira. Semua tak lepas dari ulah kedua orangtuanya yang tak pernah memperdulikan anaknya.


"Kamu sering clubbing? Menurut pengamatanku sejak pertama kali kita bertemu, kamu kayak sering banget ke diskotek langganan aku." aku pun mulai mengorek informasi tentang seberapa sering Ia datang ke diskotek.


"Ya... Kalau lagi bete dan butuh hiburan aja. Soalnya diskotek tempat aku bertemu sama Om Agas waktu itu selain tempatnya asyik juga orang-orangnya berasal dari kalangan atas. Jadi aku nggak akan ketemu sama anak-anak alay yang maboknya rese." jujur sekali dia menjawab setiap pertanyaanku. Lugu atau sengaja menjebakku?


"Berarti lumayan sering ya? Aku sih beberapa kali pernah melihat kamu, tapi aku terlalu sibuk memperhatikan cewek-cewek lain. Jadi kamu ya... dinomorduakan-lah sama aku." aku mulai mengeluarkan pesonaku sebagai mantan Duda Nackal yang memiliki banyak penggemar.


"Tak masalah. Itu kan cuma masa lalu Om Agas saja. Sekarang, Om Agas akan menjadi seorang ayah. Aku yakin Om Agas akan berubah dan menyayangi anak kita." ujar Vira dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Kok kamu seyakin itu sih, kalau anak di dalam kandungan kamu adalah anakku? Kayaknya, malam itu kamu mabuk berat deh. Emangnya kamu yakin kita udah ngapain aja?" aku sengaja mau mengorek informasi lebih dalam lagi. Apakah Ia benar-benar mabuk ataukah Ia mengingat semua kejadian yang terjadi malam itu.


Ia lalu tertawa lepas, "Om mau mengetes aku? Aku tuh ingat apa yang kita lakukan malam itu. Aku juga ingat kalau malam itu aku sampai berteriak kencang karena sangat menyukai permainan yang Om lakukan. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kenikmatan yang Om berikan? Yang membuatku ingin merasakannya lagi dan lagi? Jangan lupakan kalau kita bercinta semalaman! Aku pun masih hafal dengan suara er*ngan Om Agas yang begitu seksi di telingaku." ujarnya seraya tersenyum menggoda.


Ternyata Ia ingat dan tidak mabuk. Sial! Oke, karena memang membodohi dia tidak mempan aku akan coba cari cara yang lain.


"Kalau kamu tidak mabuk, bagus dong! Berarti kamu tahu dong kita berapa kali bermain dalam semalam? Dan kamu pasti lihat sendiri, kalau selama aku bermain dengan kamu aku selalu memakai pengaman. Aku jadi menyangsikan kalau pengaman aku ini bocor dan membuat kamu hamil." aku melipat kedua tanganku di dada dan menatap Tari dengan lekat.


Vira lalu tertawa mengejek. "Segala hal dalam hidup ini bisa saja terjadi, Om. Yang pakai KB spiral saja bisa hamil, apalagi ini yang cuma pakai k*ndom? Kemungkinan bocor bisa saja dong? Apalagi malam itu kita bermain dengan penuh gairah. Om pasti enggak merasa kalau setiap gesekaan yang terjadi, bisa saja menyebabkan alat pelindung Om itu robek, kendor dan bocor deh ha...ha..ha...."


Benar seperti yang Tari katakan, Vira Ini pintar. Ia tidak bodoh meski Ia adalah anak yang manja. Ia tak bisa begitu saja aku bohongi.


"Ha...ha...ha... Siapa yang akan terluka? Bukan aku dong pastinya! Kalau aku meramalkan, yang akan terluka adalah.... Tari. Om gak usah pikirin, anak itu sudah terbiasa sejak dulu hidup dengan berbagai tekanan dan cobaan akibat hidup dalam garis kemiskinan. Nanti aku akan memberi Ia banyak yang uang agar Ia tak lagi jadi anak miskin. Sekarang urusannya antara Om dan aku, kapan Om mau bertanggung jawab?" Ia kini menatapku dengan tegas. Tak ada lagi senyum di wajahnya dan terlihat sekali kalau Ia sangat serius dengan perkataannya.


"Jadi artinya kamu akan terus maju meski aku sudah memberitahu kamu sebelumnya kalau suatu kebohongan itu nggak akan bisa bertahan lama?!" kataku sambil tetap tersenyum. Aku berusaha tenang menghadapi ular ini. Ancamannya tidak membuatku takut. Aku justru sangat takut menyakiti hati Tari.

__ADS_1


"Percayalah Om. Bahkan kebohongan pun bisa aku rubah menjadi suatu kebenaran." jawab Vira dengan penuh kebanggaan dalam dirinya.


"Seperti yang kamu lakukan pada Tari dulu? Berbohong dan memanipulasi sesuatu hanya demi kesenangan kamu sesaat? Kamu bahkan enggak peduli akan hidupnya yang terpuruk tanpa ada teman sama sekali! Oke... Kalau kamu memang masih mau melanjutkan kebohongan kamu. Silahkan kamu beritahu kepada orang tua kamu, biar aku yang bicara langsung dengan mereka." tantang lku tanpa merasa takut sama sekali.


"Ternyata Om sudah sangat siap ya untuk menjadi suamiku? Tenang saja, aku akan bicara sama Papa minggu ini juga. Jadi, Om siap-siap ya saat Papa datang dan ingin bertemu dengan Om Agas!"


"Tentu. Kamu tahu kan di mana mencari aku? Aku enggak akan pergi kemanapun, karena aku tahu meski aku bersembunyi ke lubang semut sekalipun kamu akan tetap menemukanku. Tentunya dengan kekuatan yang Papa kamu miliki kan? Aku tunggu. Dan... " aku mengeluarkan kartu namaku dan memberikan padanya. "Ini nomor hp aku yang bisa kamu hubungi."


"Oke. Om tunggu saja kabar dari aku. Siapkan diri Om saat bertemu dengan Papa aku yang hebat itu. Karena aku yakin, di mata Papaku segala hal yang salah bisa menjadi benar dan segala hal yang benar bisa menjadi salah." jawab Vira penuh dengan rasa percaya diri.


Aku tersenyum tanpa gentar sedikit pun. "Aku pulang dulu. Istriku udah nunggu di rumah. Kalau kamu, bisa pulang sendiri kan? Dan satu lagi, makanan dan minuman di cafe ini nggak ada yang seenak masakan Tari. Jadi, punyaku yang kamu pesankan kamu bawa pulang aja ya. Kamu punya uang kan untuk membayarnya?" aku tersenyum lalu berdiri dan meninggalkan Vira seorang diri.


Wajahnya kesal dan terlihat ingin melemparku dengan gelas minuman yang ada di atas meja. Aku tak peduli. Aku tahu apa yang akan Ia lakukan justru akan membuat segalanya menjadi lebih buruk lagi. Itu urusan nanti. Sekarang aku mau pulang dan mencari tempat ternyaman dalam hidupku. Tari.


Aku memberhentikan taksi di depan cafe dan langsung menuju ke cafe milik Tari. Aku memikirkan semua percakapanku dengan Vira sepanjang perjalanan. Ternyata benar dugaanku, anak itu bukanlah anak kandungku. Aku sangat berhati-hati apalagi bermain dengan cewek yang terbiasa dengan dunia malam sepertinya. Usia kandungannya saja berbeda jauh dengan waktu ketemuan kami. Namun segala hal bisa saja diputarbalikkan kalau sudah menyangkut masalah uang. Kekuatan dan uang yang dimiliki oleh Papanya adalah ancaman terbesar bagiku.

__ADS_1


Aku kembali ke cafe dan ternyata Tari sudah membuka lagi cafe miliknya. Sudah banyak pengunjung yang datang, tak terpengaruh kalau sebelumnya ada wanita jahat yang hampir menghancurkan cafe milik Tari.


****


__ADS_2