
Sehabis shalat subuh, aku tidak lanjut tidur seperti biasanya. Aku malah lebih tertarik melihat Tari yang sedang menyiapkan sarapan.
"Kamu buat apa?" tanyaku saat Ia sibuk dengan telur, tepung dan bahan lain yang aku sendiri enggak tahu mau di buat apa itu.
"Aku mau buat mie ayam. Tapi mie-nya aku buat sendiri. Kemarin aku udah catat resepnya dan sekarang waktunya praktek deh. Kebetulan kemarin tukang sayur yang lewat ada kulit ayam dan dada ayam-nya juga. Niatnya tadi aku mau bagi mie ayam ini buat Mbak Inah, tapi Om kan nyuruh dia libur jadi sayang dong mie ayam ini? Kalau aku buat sedikit tanggung, bikin banyak kebanyakan." keluh Tari.
"Yaudah, kasih tetangga depan rumah aja sama bagi security. Eh, nggak usah bagi tetangga depan deh. Security aja. Mereka juga kalau dikasih makanan suka nggak mau kan?" jawabku acuh.
Tari sedang memasukkan bahan-bahan ke dalam mixer yang waktu itu aku belikan. Rupanya mixer itu juga bisa menguleni adonan tepung sampai bisa dibentuk menjadi mie. Pantas dia begitu menginginkan mixer tersebut. Ternyata banyak gunanya. Menunjang segala rasa ingin tahunya tentang membuat makanan. Enggak sia-sia juga aku membelikannya.
"Aku yang enggak enak. Masa sih tetangga terdekat tidak dikasih, sementara security yang ada di depan komplek kita kasih? Andai, tetangga di samping kiri kanan kita bukan WNA yang pulangnya juga nggak tahu, kapan datangnya juga tidak tahu. Mungkin Mbak Tara dan Mas Damar lah tetangga kita yang sesungguhnya."
"Sudahlah nggak usah pedulikan mereka lagi! Aku tuh males berhubungan sama mereka. Bukan karena mereka sudah mengkhianati kepercayaan aku, dari cara mereka tinggal di depan rumah aku tuh kayak orang lagi ngeledek tau gak?! Mereka tuh kayak pengen memamerkan kebahagiaan mereka di atas penderitaanku. Aku enggak suka orang seperti itu. Bahagia itu bukan cuma untuk dipamerkan. Bahagia itu dirasakan." kataku.
Tari mengambil adonan yang sudah jadi lalu membentuknya menjadi mie. Membanting-bantingnya seakan sudah profesional lalu setelah dilipat dan ditarik-tarik beberapa kali jadi mie yang lebih kecil teksturnya, Ia merebusnya di air mendidih.
Wah, hebat sekali dia. Daya tangkapnya cepat. Berani bertaruh, ini baru Ia pelajari di Youtube belum lama.
"Apa Om enggak kepikiran buat balas dendam sama mereka? Maaf ya Om, aku nggak bermaksud ngomporin. Aku cuma penasaran aja." ujarnya seraya menaruh mie yang sudah matang dalam mangkuk yang sudah Ia beri bumbu sebelumnya.
Layaknya tukang mie ayam yang sudah profesional, seporsi mie ayam lengkap dengan ayam, bawang goreng, daun bawang dan kerupuk pangsit pun sudah siap. Wow.... sarapan pagiku mewah sekali hari ini.
"Om sambil makan ya, nanti aku nyusul. Biar mie-nya enggak mekar. Aku sambil buat mie ayam buatku." ujarnya sambil membuat mie seperti teknik pertama kali.
Belum jago dia, jadi tak bisa bikin banyak sekaligus. Biarlah. Segini saja sudah lumayan.
Aku menuangkan saus botol ke atas mie dan mengaduknya. Saat aku mencicipi rasanya, aku makin salut dengan kehebatannya. Enak banget. Kayak mie yang dijual di Mall. Mienya juga enak karena dibuat langsung bukan mie yang dijual di pasar.
Tak lama Tari datang membawa semangkuk mie buatannya. "Gimana Om? Enak enggak?"
Aku mengacungkan jempolku, sementara mulutku sedang asyik menikmati mie ayam yang enak ini. "Enak banget!" kataku setelah menelan mie dalam mulutku.
"Oh ya? Tari coba juga ah!" Ia lalu memakan mie buatannya sendiri dan mengangguk setuju. "Iya. Enak. Bisa buka usaha jualan mie ayam nih aku!"
__ADS_1
"Jangan! Nanti banyak yang suka mie buatan kamu! Cukup aku aja! Nanti kamu sibuk buatin mereka eh lupa untuk membuatkanku!" omelku. Kalau begini kesannya aku tuh posesif banget. Tak boleh mie buatan Tari dimakan oleh orang lain. Ah Agas, sejak kapan jadi seperti ini?
"Ih Om begitu. Kalau perlu kita berbagi sama yang lain. Kalau enak jangan makan sendiri." malah kena ceramah aku sama anak polos ini.
"Yaudah nanti kamu bagi-bagilah! Aku malas ke security depan. Panas!" ujarku.
"Yaudah Om ke tetangga depan rumah aja ya!" nego Tari.
"Itu lebih malas lagi. Lebih panas aku kalau kesana!" jawabku sambil menikmati mie sampai habis tak bersisa.
"Mau nambah lagi Om? Tari buatkan lagi nih!" Tari lebih peduli dengan isi dalam mangkokku dibanding mangkoknya sendiri yang baru sedikit Ia makan.
"Enggak usah! Aku kenyang!"
"Baiklah. Om belum jawab tadi pertanyaan Tari."
"Pertanyaan apa?"
"Jujur aja. Ada. Siapa sih yang tidak sakit hati dikhianati? Aku jadi sukses juga karena mau nunjukkin sama mereka kalau aku bukan lelaki lemah seperti yang mereka kira."
"Mereka bilang Om lemah? Pasti mereka enggak tau aja seberapa kuatnya Om!" pujinya sambil malu-malu. Aku jadi ingin menggodanya.
"Memang seberapa kuatnya aku dimata kamu?"
"Ya.... Om bisa angkat alat-alat gym diatas!" jawabnya seraya menghindari tatapanku yang sejak tadi tertuju padanya.
"Itu kan bisa disetel mau berat berapa. Yang mereka maksud itu aku lemah apalagi di ranjang!" kataku terus terang. Aku menunggu reaksinya seperti apa. Benar saja, reaksinya sungguh sudah aku tebak.
"Kata siapa? Wah mereka ini bener-bener ya?! Aku saja sampai beberapa kali menjambak rambut Om saking aku di... di...." Ia tak melanjutkan perkataannya. Aku tahu Ia malu sendiri makanya jadi terbata-bata begitu.
"Dimasukkin sama punya aku sampai kamu mendesah keenakan gitu?" godaku.
"Uhuk...uhuk..." Tari malah tersedak. Kuambilkan minum untuknya.
__ADS_1
"Minum dulu!" ujarku. "Jangan terlalu ngegas di awal eh ujung-ujungnya malu sendiri sampai tersedak." sindirku.
Tari sudah lebih tenang sekarang. "Ya pokoknya apa yang mereka katakan tuh tidak benar. Om catat ya tidak benar. Tari bisa jadi saksi betapa kuatnya Om di ranjang!" katanya dengan penuh semangat.
"Ha...ha...ha... Kamu tuh ya! Lucu banget! Ngapain juga kamu koar-koar depan mereka? Biarin aja! Toh yang tau aku gimana di ranjang juga kamu!" aku tertawa mendengar kata-katanya.
"Iya juga sih. Pantas saja Om marah sekali sama mereka sih! Tuh kan Om belum jawab lagi, Om pengen balas dendam enggak sama mereka?" tanya Tari. Anak ini kalau belum dijawab akan terus menerus bertanya sampai jawabannya terpecahkan.
"Jujur aja aku pengen balas mereka. Selain dengan kesuksesan ya dengan popularitas aku dimata cewek-cewek. Banyak yang menyukaiku dan mengajakku berkencan lagi." aku menyadari perubahan mimik wajah Tari yang kecewa mendengar perkataan jujurku. "Maaf, aku berkata jujur. Memang begitu keadaanku."
"Makanya Om suka bersenang-senang di luar sana dan juga sama Mbak Cici?"
"Hmm... Bukan bersenang-senang sih. Aku awalnya ingin membuktikan saja kalau aku tak selemah itu. Eh lama kelamaan aku malah menyukai dunia gemerlap dan sulit lepas dari dunia tersebut. Kalau Cici sih sekedar buat melampiaskan kebutuhanku saja."
"Om... Suka sama Mbak Cici?"
"Kalau fisik sih suka. Cici cantik. Kepribadiannya juga aku suka. Dia mandiri. Hidup sendiri di Jakarta membuatnya jadi wanita kuat."
"Berarti Om ada rasa dong sama Mbak Cici?" tebak Tari.
"Sok tau! Suka bukan berarti cinta. Aku hanya suka karena Ia yang menemani hari-hariku yang kesepian dan buruk. Aku suka dia mau memuaskanku padahal hasratnya sendiri tak terpuaskan."
"Maksudnya? Tari enggak mengerti? Bukankah di kamar mandi waktu itu kalian.... kalian saling memuaskan?"
"Kamu salah paham. Cici tak pernah kutiduri sama sekali. Ia hanya memberikanku kenikmatan namun aku tak pernah melakukan penyatuan dengannya. Kalau aku mencintainya, aku sudah menikahinya dan menidurinya sejak lama."
"Tapi dengan Tari yang tidak Om cintai kenapa mau meniduri Tari?" pertanyaan jebakan. Jangan sampai salah jawab, Gas.
"Karena kamu istriku. Aku punya hak dan kewajiban terhadap kamu. Begitu pun sebaliknya. Meski rumah tangga kita tidak dilandasi dengan cinta, setidaknya kita tidak saling menyakiti dan melaksanakan hak dan kewajiban kita masing-masing." rupanya jawabanku tidak buruk juga. "Mana buat tetangga depan? Biar aku yang kasih. Sekalian pamer kalau ini makanan buatan istriku yang pintar masak!"
Kini senyum di wajahnya mengembang. Sebuah pujian kecil namun bisa membahagiakannya.
****
__ADS_1