
Tari sampai menutup kupingnya karena suara bising dari musik yang berdentum dengan kencang di dalam diskotek. Tari juga terus menggenggam tanganku karena merasa ini adalah tempat yang asing untuknya.
Banyak orang asing yang asyik berjoged mengikuti alunan musik membuatnya semakin kencang menggenggam tanganku. Bagai anak ayam yang tak mau jauh dari induknya.
"Om Agas!" sapa beberapa gadis cantik dan seksi saat berpapasan denganku.
"Hi cantik!" sapaku balik. Kurasakan tanganku direm*s dengan kencang oleh Tari. Saat aku melihat ke arahnya Ia memelototiku. Wah ada yang jealous nih. Tak tahukah dia kalau disini adalah wilayah ketenaranku.
"Om Agas! Nanti mampir kesini ya!" goda sekumpulan perempuan seksi yang semuanya pernah aku ajak kencan.
Aku hanya melambaikan tangan sambil tersenyum. Lalu aku mendengar Tari menggerutu. "Enggak usah senyum dan dadah-dadah segala bisa kali! Tebar pesona terus!"
Aku menahan senyumku dan berpura-pura tidak mendengarnya. Aku menghampiri teman-temanku yang sedang mengobrol sambil ditemani cewek cantik.
"Yo! Mantan Duda Nackal kita dateng, Bro!" ujar Sony yang melihatku datang pertama kali.
"Sekarang kalo dateng bawa gandengan, Cuy!" sahut Riko.
"Itu namanya setia! Emang kayak lo berdua gonta-ganti terus!" jawab Bastian.
"Apa kabar, Bro?!" tanyaku sambil menepuk bahu Bastian dan melirik cewek yang berada di sebelahnya.
"Baik! Itu bini lo? Kenalin lah sama kita-kita!" tunjuk Bastian pada Tari yang bersembunyi dibelakangku.
"Pasti. Kenalin ini Tari, bini gue!" aku menarik Tari agar lebih maju ke depan. "Ini Bastian, Riko dan Sony!" kataku memperkenalkan Tari pada ketiga sahabatku.
Mereka bergantian menyalami tangan Tari.
"Cantik banget, Bro! Pantesan aja lo enggak pernah nongol lagi disini!" puji Riko.
"Iyalah cantik! Mana mau dia kalo enggak oke? Cici aja dibuang!" celetuk Sony.
"Ah jangan bahas dia deh! Ini cewek lo Bas?" tanyaku pada Bastian yang memperkenalkan pacarnya padaku.
"Kiki!" ujar pacarnya Bastian sambil bersalaman denganku.
"Agas!" jawabku singkat.
"Kok gebetan gue sama Sony enggak kenalan sih lo? Udah kenal ya? Ha..ha...ha..." ledek Riko.
Ya jelas aku kenal. Mereka kan pernah kencan denganku juga. Biasa itu kalau disini, cewek-cewek yang ngejar-ngejarku pada akhirnya mendekati sahabat-sahabatku agar bisa satu meja atau hanya sekedar melihatku lebih dekat. Susah memang kalau punya predikat Duda Nackal, pesonanya terlalu memukau!
"Berisik ah!" omelku. "Kamu mau pesan minuman apa?" tanyaku pada Tari.
Tari lalu membisikkan sesuatu di telingaku. "Enggak mau ah, Om. Disini enggak ada minuman yang halal!"
Aku tersenyum mendengarnya. "Cola aja ya! Atau jus jeruk?"
Meski agak ragu Ia mengangguk. "Terserah Om aja!"
__ADS_1
Aku pun memesankan dua buah jus jeruk untukku dan Tari.
"Tumben enggak pesen minuman biasa?" tanya Sony.
"Bawa mobil gue! Tadi tuh gue enggak niat kesini. Cuma mau ngenalin Tari aja ke kalian."
"Lo enggak ngundang-ngundang pas nikah! Gimana kita mau kenal?" sindir Bastian.
"Sengaja. Biar nyokap gue enggak sensi ngeliat nih dua tuyul! Lo tau sendiri nyokap sebel banget sama Sony dan Riko! Bisa kena omel gue kalo ngundang kalian!" jawabku.
"Jahat lo jahat! Yaudah ngundang kita pas enggak ada nyokap lo aja!" balas Sony.
"Boleh. Lo main dah ke rumah gue. Nanti cobain masakan buatan Tari!"
"Cie... Mulai banggain bininya cie..." ledek Riko.
"Ini fakta. Lo mesti cobain masakannya Tari. Enak gila! Kapan kalian mau main ke rumah gue?" tanyaku.
"Minggu depan aja! Besok kan kita mau bangun siang. Biasa, ganti oli!" jawab Sony.
"Oke! Kalian atur aja. Kalau bisa hari libur ya! Biar gue juga libur enggak ke showroom!"
"Iya. Santai!" jawab Bastian.
Aku mengambil minuman yang sudah disediakan bartender dan memberikannya satu pada Tari. "Minumlah!"
Meski awalnya ragu, tapi Tari percaya padaku. "Mau coba turun enggak?"
Aku tersenyum seraya mengusap kepalanya. "Ada aku. Tenang aja!"
"Enggak usah. Malu!" jawabnya.
"Eh Gas, itu bukannya Cici ya?" tanya Riko.
"Sotoy! Kayak lo pernah liat aja yang namanya Cici!" sahut Bastian.
"Pernah! Gue kan sering ke showroomnya Agas! Tuh orangnya ngeliat ke arah lo, Gas!" ujar Riko.
Aku menoleh ke arah yang Riko tunjuk dan benar saja aku melihat Cici berjalan mendekatiku. Ia mengenakan baju seksi dan tersenyum ke arahku.
Sejak kapan dia jadi suka dugem? Bukannya dia anak baik-baik? Apa karena sekarang punya uang makanya dia mau bersenang-senang?
"Hi Om!" sapanya lalu mendekat dan tanpa permisi mencium pipiku.
Aku melirik ke arah Tari yang menunduk tak mau melihat apa yang Cici lakukan padaku.
"Ehem!" sindir Bastian yang pura-pura batuk.
Cici lalu merangkul lengan kiriku, sementara Tari sejak tadi hanya diam namun tak melepaskan tangan kananku.
__ADS_1
"Sama siapa kamu disini?" tanyaku seraya menaruh gelas milikku di meja. Ini kulakukan agar Ia melepaskan tanganku. Ternyata tidak mempan. Ia terus saja merangkulku.
"Sama teman-teman Cici. Om terkenal banget disini. Pas Cici sebut nama Om, eh ternyata teman-teman Cici juga kenal!" pujinya.
"Biasa aja." jawabku merendah.
"Enggak dikenalin sama kita, Gas?" sindir Sony.
"Kenalin, Ci. Mereka teman-temanku. Ini Riko, kamu pasti sudah kenal. Sony dan Bastian." aku memperkenalkan semua temanku pada Cici.
Cici menyalami mereka satu persatu sambil tersenyum. "Cici sama teman-teman boleh gabung disini enggak?" tanyanya dengan nada manja.
"Boleh dong! Semakin ramai, semakin seru!" ujar Riko yang langsung aku tatap dengan sebal. Mau apa coba dia mengajak Cici bergabung?
"Gue cabut duluan ya!" kataku. Lebih baik menghindar daripada keadaan makin tidak nyaman.
Cici baru menyadari kalau sejak tadi ada seorang cewek yang berdiri di belakangku.
"Kok pergi sih Om? Enggak ngenalin dulu siapa yang ada di samping Om sama Cici?" sindirnya.
"Untuk apa? Kamu udah kenal kok!" jawabku. "Kalau kamu mau gabung sama teman-temanku silahkan saja!" kataku acuh.
"Yah... Om gimana sih? Cici kan mau gabung karena ada Om disini. Kenalin sama yang ada di sebelah Om juga enggak mau, Cici ikut gabung malah mau pergi! Kenapa sih Om jadi menghindari Cici? Om lupa dengan hubungan kita?" sindirnya sambil berusaha melihat wajah Tari yang sejak tadi menunduk dan bersembunyi dibelakangku.
"Wah, seru nih!" sindir Riko.
"Bisa perang dunia ketiga!" sahut Sony.
"Hush! Malah diperkeruh! Udah lo berdua diem aja!" omel Bastian.
"Antara kita enggak ada hubungan apa-apa kalau kamu lupa, Ci. Kenapa aku enggak memperkenalkan, karena kalian sudah saling kenal!" aku menarik Tari lebih maju ke depan. "Sapalah! Angkat wajah kamu!" perintahku pada Tari.
Tari pun menurut, dengan suara gugup Ia menyapa Cici. "Hi, Mbak!"
Cici terdiam. Ia berusaha mengingat-ingat siapa gadis di sampingku. Lalu sepertinya Ia sudah ingat dan amat terkejut.
"Tari? Tari yang suka nganterin soto ke kantor kan, Om?" Cici menunjuk ke arah Tari. Tak percaya dengan yang Ia lihat. "Tapi penampilannya berubah banget! Lalu kenapa Tari bisa sama Om Agas?"
"Tambah seru!" ujar Sony.
"Sesuatu mulai terkuak. Akankah rahasia itu akan terungkap?" sahut Riko.
"Ih nih dua bocah! Udah diem aja! Gue juga penasaran endingnya gimana?" ujar Bastian.
"Ya, ini Tari yang kamu kenal!" kataku. "Memangnya kenapa kalau dia bersama aku? Kalau aku mengajaknya kesini, masalah buat kamu?"
"Om enggak adil! Kalau sama Cici enggak pernah mau diajak keluar, jalan-jalan ke Mall aja enggak mau! Kenapa malah si tukang soto ini yang Om ajak?" rajuknya.
"Karena Tari adalah istriku. Bolehkan aku ajak istriku pergi kemana saja yang aku mau?" akhirnya aku menguak identitas Tari.
__ADS_1
****