Duda Nackal

Duda Nackal
Memata-matai Istri Sendiri


__ADS_3

Agas


Aku sadar sejak pertengkaran pertama kami sebagai sepasang suami istri, sikap Tari mulai berubah padaku. Tari tak lagi ceria dan lebih banyak diam.


Tari tetap melayaniku sebagai istri yang baik. Makanan sudah Ia siapkan, Ia juga melayaniku di ranjang, serta tetap membawakanku bekal. Namun aku merasa Ia semakin menjauh.


Saat aku mengantarnya pergi kursus, aku belum pergi dari tempat kursus karena sedang membaca pesan yang dikirimkan oleh Bastian. Aku melihat Tari sedang mengobrol dengan seorang laki-laki.


Aku tak jadi membalas pesan, aku jadi memperhatikan apa yang Tari lakukan. Tari terlihat akrab dengan cowok tersebut. Siapa dia?


Tari tersenyum dengan ramah. Mereka masuk ke dalam tempat kursus bersama-sama. Kenapa Tari tersenyum untuk cowok lain sementara denganku justru terlihat murung?


Aku sampai tidak konsentrasi dalam bekerja. Aku juga sampai salah invest saham dan berakhir harus cutloss. Huft...


Tak biasanya aku begini. Aku masih kepikiran siapa cowok itu. Tunggu, apa itu guru kursus yang dulu sempat Tara sindir? Guru kursus yang menjemput Tari pulang kursus?


Kenapa anak itu mudah sekali dekat dengan orang asing sih? Tak tahukah dia kalau dia tuh lugu dan polos? Kalau cowok itu macam-macam sama dia gimana?


Arg... Kesal sekali aku hari ini!


Bagaimana anak polos itu bisa membuat aku jadi uring-uringan begini sih?


Lebih baik aku menjemputnya saja! Aku akan tanyakan padanya saja siapa cowok itu.


Aku pun mengambil kunci mobilku dan pergi ke tempat kursus Tari. Semoga masih sempat aku menjemputnya.


Arg... Kenapa harus macet sih? Kenapa juga sekolah ini selalu bikin macet? Kenapa harus ada supir yang jemput anak sekolah? Kenapa dimanja sekali sih! Kan bisa tuh mereka pulang naik angkot?!


Kulihat Tari dari kejauhan. Kebetulan sekali dia belum pulang. Tapi kok dia berbicara di depan mobil orang? Kenapa enggak naik taksi?


Aku mengklakson Tari agar dia melihat mobilku yang berjarak 3 mobil dari mobil yang akan dia naikki, sayang Tari malah justru masuk ke dalam mobil cepat-cepat. Tenang, Gas. Pasti Tari akan pulang ke rumah. Bicarakan di rumah saja!


Aku mengikuti mobil yang Tari tumpangi. Mobil itu bukannya lurus ke arah komplek rumah kami tapi malah berbelok ke Mall.


Wah... Ini enggak bener nih!


Tari jalan sama cowok lain?


Ke Mall?

__ADS_1


Di belakangku?


Aku mengikuti mobil itu masuk ke dalam Mall. Kucari parkiran di dekatnya namun sayang tak ada yang kosong. Terpaksa aku naik ke lantai berikutnya hanya demi mencari parkiran kosong.


Tentu saja aku kehilangan jejak Tari. Kutelusuri berbagai toko satu demi satu. Kuacuhkan semua karyawan toko yang menawariku produk mereka. Tujuanku hanya satu, Tari. Mau dibawa kemana istriku itu?


Berbagai toko sudah aku masuki dan tak kutemukan Tari. Dimana dia? Hanya tempat mainan anak yang belum. Aku pun ke lantai atas dan saat aku hanya tinggal satu belokan saja, aku melihat Tari.


Tari keluar dari toko mainan sambil menenteng sebuah paper bag. Ia tersenyum dan terlihat begitu akrab dengan cowok tersebut.


Kuambil Hp milikku dan meneleponnya. Ternyata Tari tak menjawab panggilanku. Aku ikuti Tari dan cowok tersebut yang ternyata malah pergi ke food court.


Aku mengambil tempat yang tak akan terlihat olehnya. Kulihat Ia memakan KFC dengan lahap.


Aku memesan kopi dan cemilan agar tetap bisa duduk di tempatku tanpa diusir pengunjung lain karena tidak makan sama sekali. Mataku terus menatap ke arahnya.


Tari terus tersenyum. Sesekali tawa renyahnya terlihat. Ia begitu dekat dan nyaman dengan cowok ini! Sudah seberapa dekat mereka? Masa sih sejak kursus pertama kali? Secepat itu?


Tari sudah menghabiskan makanannya. Ia mencuci tangan lalu pergi sholat. Aku juga sholat di tempat yang sama. Untunglah masjidnya besar jadi Tari tak melihat keberadaanku. Selesai sholat, mereka sepertinya hendak pulang.


Aku terus mengikuti mereka. Saat langkah mereka menuju parkiran mobil, aku berlari ke lantai atas dan mengambil mobilku. Jangan sampai aku kehilangan jejak mereka lagi.


Aku berjalan melewatinya. Aku dengar Ia berteriak memanggilku. Tak aku gubris. Biar saja jalan kaki sampai depan rumah!


Aku masuk ke dalam rumah dengan hati kesal dan dongkol. Kenapa Tari sudah berani bermain di belakangku dengan laki-laki lain?


Aku membuka bajuku dan duduk di tempat tidur hanya dengan celana pendek saja. Meski AC kunyalahkan tetap saja aku merasa panas. Aku bahkan tak mengenakan kaos.


Aku dengar Ia masuk ke dalam rumah. Aku menunggu dia masuk ke kamar eh malah mencium bau masakan. Berarti dia masak dulu. Ya sudah, aku mandi sajalah, biar lebih adem.


Setelah mandi aku kembali duduk di tempat tidur. Aku pura-pura sibuk membaca Tab saat Tari masuk ke dalam kamar. Ia salim denganku lalu mandi. Tak ada kata-kata yang Ia ucapkan.


Kenapa sih anak itu?


Bisa sekali membuatku tambah kesal saja?!


Ia keluar dari kamar mandi dan malah mengambil buku dalam tasnya lalu belajar. Beneran belajar. Tak mengajakku bicara sama sekali.


Sampai adzan maghrib berkumandang. Ia menutup bukunya dan mengambil wudhu. Kupikir Ia akan mengajakku sholat berjamaah seperti biasa eh dia sholat sendiri.

__ADS_1


Asli, anak ini kalau sudah bikin kesal beneran bikin aku kesal. Aku menaruh Tab milikku dengan kesal diatas tempat tidur lalu berjalan keluar kamar.


Kuambil rokok dan pergi ke lantai atas. Aku menyalakan satu puntung rokok dan mengembuskan asap rokok dengan kesal ke udara.


Suara speaker masjid terdengar, membuktikan kalau masih berlangsung sholat berjamaah. Kok aku merasa tak enak ya, bukannya sholat tapi malah merokok diatas?


Kumatikan rokok dan masuk lagi ke dalam kamar. Aku mengambil wudhu lalu sholat. Tari nampak sedang mengaji. Aku tahu Ia melirikku yang sedang sholat. Terserahlah.


"Mau makan sekarang, Om?" tanyanya setelah aku melipat sajadah dan sarung.


"Iya." jawabku singkat.


Ia pun menyiapkan makan malam. Kami makan dalam diam. Tak bisa begini terus nih. Anak ini kalau aku diam, maka Ia akan diam. Mau sampai kapan kami begini. Bisa-bisa rasa kesalku semakin menumpuk dan jadi bom atom nantinya.


"Tadi pulang kursus naik taksi?" tanyaku pura-pura tak tahu.


"Enggak. Tadi dianter sama Pak Adi." jawabnya jujur.


"Pak Adi? Siapa dia? Gebetan baru?" sindirku.


"Guru kursus Tari." tidak membantah sindiranku. Nih anak beneran ya bikin aku kesal saja. Lihat saja nanti aku kerjain!


"Kenapa enggak naik taksi saja? Bukankah aku sudah suruh kamu naik taksi?" aku menatapnya dengan lekat. Tak lagi terasa nikmat makan siangku.


"Susah dapat taksi kalau jam pulang sekolah. Kalah cepat sama anak sekolah."


"Jam pulang anak sekolah? Bukankah kamu sampai rumahnya udah sore? Kemana dulu?" aku penasaran apa anak ini akan jujur atau berbohong.


"Ke Mall. Temenin Pak Adi beli kado buat keponakannya yang ulang tahun. Lalu diajak makan siang dan sholat ashar dulu deh." ternyata dia mengatakan yang sejujurnya.


"Kenapa enggak ijin dulu? Aku telepon kamu tapi enggak kamu angkat?" tanyaku sambil terus menahan emosiku.


"Hp Tari silent. Maaf Om, nanti Tari akan ijin kalau pergi lagi."


Kalau pergi lagi? Maksudnya dia akan jalan sama cowok itu lagi? Ada hubungan apa mereka?


"Kamu suka sama cowok itu?" kali ini pertanyaanku berhasil membuatnya menatapku dengan lekat.


****

__ADS_1


__ADS_2