
Utari
Aku dan Pak Adi masuk ke sebuah toko mainan yang sangat besar sekali. Mainannya pun berbeda dengan mainan yang ada di tukang mainan depan SD.
Aku yang sudah dewasa saja suka sekali melihat beragam mainan disini, apalagi anak kecil kalau diajak kesini?
Aku terpukau melihat mainan yang disusun dari kotak-kotak kecil sampai bisa membentuk patung anak laki-laki.
"Itu namanya lego! Disusun satu persatu sampai menjadi seperti itu!" kata Pak Adi menjelaskan.
"Wah keren banget ya, Mas. Yang menyusunnya pasti orangnya sabar dan punya daya imajinasi tinggi." kataku.
"Sama halnya dalam membuat kue. Kita harus punya daya imajinasi tinggi, karena menghias kue juga merupakan seni. Semakin bagus kue yang kita buat, maka yang membeli juga akan semakin bahagia. Kalau kamu buat kue nanti, harus buat yang rapi dan unik. Bisa saja kamu membuat kue berbentuk lego? Atau kereta, bola atau apapun, pasti kue kamu akan banyak yang suka. Soal rasa, aku yakin kamu jagonya!"
"Bisa saja Mas Adi mujinya! Ayo katanya mau pilih boneka?!"
"Oh iya! Malah jadi ngomongin lego. Ayo kita masuk ke dalam. Mainan perempuan di sebelah kanan."
Aku mengikuti langkah Pak Adi. Aku tertawa saat Pak Adi memintaku mencoba menekan tombol di dada boneka bayi dan bayi itu menangis. "Loh? Bisa nangis toh! Terus bisa apa lagi Mas bayinya?"
"Beda-beda. Ada yang bisa pipis. Ada yang diambil dot-nya nangis, Ada yang bisa disuapin. Ada yang bisa merangkak. Tergantung modelnya." Pak Adi menjelaskan satu persatu padaku.
Aku semakin terpukau dengan mainan disini. Beda memang mainan mahal dengan mainan beli di abang-abang. Bahannya lebih bagus dan aman jika termakan. Tau sendiri anak-anak, apa saja dimasukkan ke dalam mulut.
"Kamu lebih suka yang mana?" tanya Pak Adi meminta pendapatku.
"Hmm... Yang bisa nangis dan pipis, Mas.
Seperti bayi beneran." jawabku.
"Kamu mau? Pilih saja mana yang kamu mau!"
Aku menolak pemberiannya. "Saya sudah besar, Mas. Sudah tak pantas main boneka lagi. Lebih pantas punya bayi hidup dibanding boneka ha...ha...ha..."
"Iya juga ya! Pasti kamu akan jadi
Mama yang cantik dan baik buat anak-anak nantinya!" goda Pak Adi.
"Ah Mas Adi bisa saja! Justru Mas Adi yang akan menjadi Papa yang baik. Sama keponakan saja sayang banget sampai mau repot-repot mencarikan mainan, apalagi sama anak sendiri nantinya?" godaku balik.
"Ha...ha...ha... Calon aja belum punya! Bisa saja kamu! Aku bayar dulu ya, habis ini kita makan yuk! Aku lapar banget nih!" belum aku mengiyakan, Pak Adi sudah pergi ke kasir dan membayar mainan.
Ia kembali dan memberikan sebuah paper bag untukku. "Ini buat kamu."
__ADS_1
"Buat Tari? Memangnya Tari ulang tahun, Mas?" aku melihat isi paper bag yang Ia berikan. Wow... Lego.
"Kalau boneka kan kamu bilang sudah besar, kalau lego kamu bisa jadikan pajangan di rumah. Taruh dalam lemari kaca dan jadi koleksi di rumah. Nanti kamu bisa buat lego besar kayak di depan itu!"
"Tapi Tari tak enak, Mas. Masa sih Tari dibeliin juga?"
"Udah. Santai saja! Ayo kita makan! Aku udah lapar!"
Karena sudah dibelikan lego, aku tak bisa menolak saat diajak makan. Pak Adi mengajakku makan di food court.
"Mau makan apa?" tanya Pak Adi.
"KFC aja!" jawabku. Aku suka sekali ayam bergambar kakek-kakek itu. Rasa pedasnya pas meresap sampai ke dalam daging ayam.
"Oke. Aku pesankan dulu ya!"
Tak lama Pak Adi datang membawa empat buah ayam dan dua nasi beserta minuman untuk makan siang kami.
"Kamu ikut kursus tujuannya apa, Ri?" tanya Pak Adi sambil menikmati makanannya.
"Supaya jago buat kue saja."
"Hanya itu saja? Tak mau menjual kue buatan kamu? Membuka toko kue gitu!"
"Loh, biaya kursus kita paling mahal loh di daerah sini. Itu kamu punya uang."
Aku tersenyum. "Tari bisa les karena dibayarin sama Om Agas. Kalau enggak dibayarin, pasti Tari cuma belajar dari Youtube saja."
"Belajar tuh darimana saja, selama isinya baik ya sudah ikutin. Bedanya kalau kursus kan kamu dapat sertifikat. Bisa menambah nilai plus kamu nantinya."
"Iya sih. Setiap pulang dari kursus, Tari selalu mencoba membuat apa yang dibuat di kursus loh Mas. Biar enggak lupa."
"Aku percaya kok. Kamu tuh kelihatan sekali anak yang rajin. Hmm... Gimana kalau kamu selesai kursus, kamu bekerja di salah satu toko kue milik aku? Sekalian terus mengasah kemampuan kamu. Kalau tidak diasah akan lupa nantinya!"
Wah aku ditawari bekerja di toko kue. Yang kudengar dari Avon, selain chef di restoran kelas atas, Pak Adi juga punya toko kue yang besar dan tersebar di beberapa kota.
Ini kesempatan langka. Aku bisa mengembangkan potensiku. Aku bisa lebih maju lagi. Tapi, apa Om Agas akan memberi ijin? Aku tak yakin.
Ya Allah, Om Agas! Sudah jam berapa ini? Aku keasyikan melihat mainan malah lupa untuk pulang.
"Maaf Mas, kayaknya aku mau langsung pulang aja deh. Udah kesorean. Ya ampun aku belum sholat lagi!" kataku dengan panik.
"Tenanglah dulu. Kamu sholat dzuhur dulu disini, masih keburu kok. Aku juga belum sholat. Ayo kita ke lantai atas!"
__ADS_1
Benar juga. Kalau sholat di rumah tak akan keburu. "Yaudah ayo Mas!"
Kami pun pergi ke lantai atas yang ada mushola untuk sholat. Aku melaksanakan sholat dzuhur dan tak lama sudah berkumandang adzan ashar. Sekalian saja aku sholat ashar lalu pulang ke rumah.
Mas Adi mengantarku pulang. Malang, saat aku pulang lalu lintas sudah macet. Aduh, mana aku belum masak buat Om Agas lagi!
"Kamu kenapa sih, Ri? Gelisah sekali!"
tanya Mas Adi yang melihatku sejak tadi melihat jam di Hp dan tak sabar ingin segera sampai rumah.
"Tari belum masak Mas. Kasihan kalau Om Agas pulang kerja nanti lapar."
"Kamu hanya tinggal berdua saja dengan Om kamu?" tanya Pak Adi.
"Iya. Papa dan Mamanya Om Agas tinggal di luar kota. Kami hanya tinggal berdua saja."
"Tuh kita sudah sampai." Pak Adi menurunkanku di depan pos security komplek.
"Makasih banyak ya Mas!" kataku setelah menutup pintu mobil.
"Iya. Sama-sama. Kamu nanti kalau berhasil susun legonya, kirim ke aku ya fotonya!"
"Siap, Mas!" kataku sambil tersenyum.
"Sampai ketemu lagi di kelas!"
Aku mengangguk dan tak menunggu mobil Pak Adi pergi sudah berjalan menuju rumah Om Agas. Lalu aku melihat mobil Om Agas melaju melewatiku.
"Om!" panggilku, namun Om Agas tak berhenti dan malah mengacuhkanku.
Yaudah aku jalan kaki sajalah! Nanti malam aku goreng ayam saja yang simpel. Masalah makan malam beres.
Akhirnya sampai juga aku di rumah Om Agas. Karena jalan terburu-buru, keringat sebesar biji jagung membasahi wajahku.
"Assalamualaikum!" kataku saat pertama kali masuk ke dalam rumah.
Tak ada jawaban. Mungkin Om Agas sedang di kamar. Aku mencuci tanganku dan langsung menuju dapur. Menyalahkan kompor untuk menggoreng ayam.
Selain ayam, aku juga menggoreng tempe dan tahu yang sudah aku ungkep. Ternyata tak sia-sia menyiapkan lauk yang sudah siap dimasak.
Makan malam beres, aku pun masuk ke dalam kamar. Nampak Om Agas sedang duduk sambil membaca Tab miliknya. Biasanya lagi baca berita yang berhubungan dengan investasi saham miliknya.
Kutaruh tas milikku lalu menghampiri Om Agas untuk salim. Ia memberikan tangannya dan tak bersuara sama sekali. Aku lalu mandi dengan tenang. Om Agas sepertinya tak masalah aku pulang agak sore. Ya, dia juga enggak peduli denganku sih. Siapa sih aku? Hanyalah istri pemuas hasratnya saja. Tak usah berharap lebih deh Tari. Malah kecewa nanti yang kudapat. Huft....
__ADS_1
****