
Flashback
Usahaku membujuk Tara ternyata membuahkan hasil. Tara menghubungi Damar dan mereka membicarakan semua permasalahan mereka dari hati ke hati.
Damar cerita kalau Tara akhirnya mau mencabut gugatannya asal Damar mau memeriksakan dirinya ke dokter. Damar setuju. Apapun akan Ia lakukan agar Tara tak menceraikannya.
Urusan Damar dan Tara beres, kini saatnya aku menagih Damar. Damar memberikan nomor Hp Juan dan hari ini aku ada janji ketemuan dengannya.
Pagi harinya aku dikejutkan oleh teror bangkai tikus yang dikirimkan ke cafe Tari. Aku tak mau meninggalkannya seorang diri, namun apa daya. Aku sudah janjian dengan Juan, tak bisa aku batalkan.
Aku berbohong pada Tari dan mengatakan akan meeting penting. Hampir saja aku batalkan karena tak tenang meninggalkan Tari sendirian di cafe, namun Tari meyakinkanku kalau Ia akan baik-baik saja.
Aku pun pergi menemui Juan. Dia seumuran dengan Tari dan Vira. Mereka memang satu SMP. Rupanya Vira memang cinta mati dengan Juan sampai tega membully Tari.
"Perkenalkan, Agas!" aku mengulurkan tanganku untuk berkenalan.
"Juan." Ia membalas uluran tanganku.
"Jadi, seperti yang lo tahu dari Damar, gue datang karena Vira bilang kalau gue yang menghamilinya. Kita berdua tau kalau lo adalah ayah sebenarnya dari bayi yang Ia kandung. Kenapa lo enggak mau bertanggung jawab?" aku langsung bicara pada inti masalahnya.
"Ya... Karena Vira selingkuh sama lo! Sudah jelas bukan, Vira hamil dan malah bersenang-senang dengan lo. Bagaimana gue enggak marah?" jawab Juan dengan tatapan penuh kebencian padaku.
Oh God... Lagi-lagi semua karena dosa masa laluku...
Aku harus memperbaikinya sekarang...
"Gue mau minta maaf atas semua kesalahan gue di masa lalu. Jujur saja, semua murni karena kenakalan gue. Dulu, gue nakal karena pelarian atas masalah rumah tangga. Gue bersenang-senang tanpa memikirkan kalau apa yang gue tanam akan gue tuai kembali. Kini, gue menuai semuanya. Tapi lo tau, lo masih bisa mempertanggung-jawabkan semua masalah lo! Jangan seperti gue, saat gue sudah bertobat dan hidup bahagia masalah malah muncul dan mengancam keutuhan rumah tangga gue."
"Maaf ya, itu bukan urusan gue! I dont care!" ujar Juan dengan acuh.
__ADS_1
Huft... Anak ini susah dihadepin ternyata. Namun Damar datang bak penolongku. Ia langsung menjitak kepala Juan dengan kencang.
"Aww! Apaan sih Bang, lo dateng langsung jitak kepala gue!" sungut Juan sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit.
"Sopan dikit sama orang tua! I don't care... I don't care... Pret ah! Lo beruntung mau punya anak. Gue nih sampai harus program buat punya anak! Kalo lo nolak anak lo, bukan enggak mungkin saat lo punya istri kelak bakalan susah punya anak. Mau lo?" ancam Damar.
Rupanya ancaman Damar membuat Juan takut. "Jangan ngomong gitu dong, Bang! Lo kok doain gue yang jelek-jelek sih?!"
"Bukan doain yang jelek-jelek. Lo tuh jadi orang enggak ada bersyukur-bersyukurnya banget jadi orang. Mau dikasih anugerah anak eh malah nolak! Banyak orang di luar sana yang habisin duit sampai ratusan juta bahkan milyaran hanya untuk punya momongan. Eh lo malah disia-siain. Enggak bersyukur lo!" omel Damar panjang lebar.
"Ya habis Vira selingkuh sama dia!" Juan malah menunjukku sebagai biang keladi.
"Ya gue kan stress gara-gara dia! Dia duluan yang selingkuh sama bini gue!" aku nunjuk balik ke arah Damar.
"Iya.. iya... Semua bermula dari gue! Gue minta maaf oke? Ini tuh kayak lingkaran setan. Emangnya lo enggak mau keluar dari lingkaran setan ini? Enggak akan kelar-kelar nanti!" ujar Damar.
Juan terdiam. Ia menyalakan rokok di tangannya dan terlihat berpikir keras. Ini kesempatanku untuk bicara dari hati ke hati. Tanpa emosi seperti yang Damar lakukan tadi.
"Tari? Serius?" tanya Juan yang terlihat sangat terkejut dengan fakta yang kukatakan.
Aku mengangguk. Kutunjukkan foto pernikahanku dan Tari. Juan baru mempercayai perkataanku.
"Lo tau kan kalau Vira membully Tari sejak SMP karena lo? Lo yang naksir Tari tapi Tari yang kena sialnya. Karena lo, hidup Tari tak lagi bahagia dan lo enggak menghentikan perbuatan Vira. Padahal kalau lo menghentikan Vira waktu itu, Tari enggak akan semenderita sekarang. Trauma pastinya, dan saat Ia akan bahagia, Vira kembali datang dan mengabarkan kalau suaminya yang telah menghamilinya. Lo bisa bayangin kan gimana menderitanya Tari?"
Juan mematikan rokoknya dan terlihat mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mamam! Kita bertiga benar-benar kayak pusaran takdir. Lo punya dosa juga tuh sama Tari. Kalo aja lo dulu bertindak, pasti Tari enggak akan menderita kayak sekarang! Lo tau enggak, Tari tuh kerja banting tulang buat biayain hidupnya. Gue saksinya. Biarlah Tari dan Agas bahagia. Lo jangan jadi orang jahat lagi. Kita stop disini dan perbaiki kesalahan kita. Jangan sampai lingkaran setan ini menimpa anak-anak kita kelak." pinta Damar. Ucapannya masuk akal. Ia membantuku membujuk Juan.
"Please.... Hanya lo yang bisa memperbaiki permasalahan yang membelit gue. Lo enggak mau kan anak lo memanggil gue dengan sebutan Papa? Kalau anak lo cewek, enggak mungkin kan gue yang nikahin?" tanpa Juan sadari aku mengancamnya dengan sindiran.
__ADS_1
Juan masih terdiam. Minumnya sudah Ia habiskan namun masih belum ada jawaban. Aku harus kembali ke cafe secepatnya. Tak bisa terlalu lama diskusi seperti ini.
"Akan gue pikirin!" yah... ternyata Juan tak langsung mutusin. Sudahlah... pakai cara lain.
Setelah Juan pergi, aku dan Damar mengatur strategi.
"Kita enggak berhasil bujuk Juan, ya lo yang maju buat ancem Bapaknya Vira. Siap-siap aja lo bakalan bonyok. Tapi tenang, lo bakalan aman. Lo ancem pakai bukti CCTV yang kita punya. Kalo lo kenapa-napa gue bakal Up ke media." Damar benar-benar menolongku.
Aku pun setuju. Aku mengancam Papanya Vira dengan bukti CCTV yang kumiliki. Papanya langsung mengirim orang untuk menghancurkan bukti yang kumiliki dan membuatku bonyok, seperti dugaan Damar.
Tak kusangka Tari juga punya bukti tentang kelicikan Vira. Ini bukti yang bagus untuk menuntut Vira atas dugaan pencemaran nama baik. Cepat-cepat aku kirim buktinya pada Damar dan menghapus riwayat chatku. Jangan ada bukti tersisa.
Vira ternyata masih mengancamku dan Tari. Ia menyuruh orang untuk melemparkan cafe Tari dengan batu. Masalah belum selesai sampai disitu. Huft....
Bastian mencari tahu siapa pelaku yang melempar batu dan yang mengendarai motor. Aku, Bastian dan pihak kepolisian mendatangi dan ternyata adalah orang suruhan Vira dan....
Bapak tirinya Tari!
Shiitttt!!!
Vira sampai sejauh itu mengancam Tari. Ia bahkan sampai mencari tahu tentang kehidupan dan masa lalu Tari.
Aku hampir saja menerjang laki-laki tak berhati itu! Hanya demi uang Ia tega menghancurkan impian putri angkatnya yang selama ini membiayainya. Kok ada ya orang seperti itu?!
Orang kalau sudah kecanduan minum dan judi suka melupakan akal sehatnya. Aku tak menceritakan semua ini pada Tari. Buat apa? Hanya membuat Ia stress dan ketakutan saja!
Masih terbayang aku saat Tari sedih karena cafenya tak ada yang datang. Cafenya sepi dan pengunjung ketakutan. Akan lebih sedih lagi saat Ia tahu kalau Bapak tirinya yang melakukan semua itu.
Aku pun menyerahkan kasus ini pada kepolisian. Biar mereka yang urus. Aku tak peduli mau dia membusuk sekalipun di penjara!
__ADS_1
*****