
Kali ini aku enggak pulang dulu ke rumah. Riko mengajakku ke Spa plus-plus bersama Bastian dan Sony.
Udah lama enggak dipijit kayaknya badan pada kaku semua. Kami ketemuan di salah satu cafe di daerah Jakarta Selatan.
Bastian dan Riko sudah datang duluan. 15 menit kemudian setelah aku tiba, barulah Sony datang.
"Weits ada apa nih kita dikumpulin disini?" tanya Riko yang sejak tadi tidak sabar namun aku bilang tunggu Sony datang baru aku ceritakan ada apa.
"Gue mau buat pengumuman penting." kataku.
"Pengumuman penting apa lagi? Mau rujuk lo sama Tara?" celetuk Sony.
"Enak aja! Ogah gue mah!"
"Lo ada gacoan baru lagi?" tebak Riko.
"Itu mah ada terus! Bukan pengumuman penting namanya sampai dia ngumpulin kita semua disini." Bastian yang menjawab menggantikan tugasku.
"Ya terus apaan? Lo sama Cici udah tidur bareng? Enggak bakalan kaget sih gue, iman lo pasti lemah kalau keseringan kena sedotannya dia ha...ha...ha..." Sony tertawa puas sekali menertawakanku.
"Sialan lo!" kusikut perut Sony yang kebetulan berada di sebelahku sampai dia meringis kesakitan.
"Kalau bukan Cici apa dong?" tanya Bastin tak sabaran.
"Gue mau nikah." kataku.
Hening...
Diam semua...
Lalu....
"Huahahahahaha..." mereka bertiga tertawa terbahak-bahak. Puas sekali mereka menertawakanku.
"Mo nikah sama siapa lo? Cici?" ledek Sony.
"Cici terus! Kayak enggak ada cewek lain aja!" gerutuku.
"Ya habis siapa? DJ yang kemarin ulang tahun Edi? Yang kasih lo service memuaskan?" tebak Bastian.
"Bukan, dia make-upnya tebel banget. Ogah gue sama yang mukanya palsu." jawabku.
"Lo dijodohin sama orang tua lo?" tebak Riko.
"Bukan! Ah gimana sih lo pada salah semua! Gue mau nikah sama Tari." jawabku.
"Tari?" tanya ketiganya berbarengan.
"Siapanya Tara?" tanya Sony.
__ADS_1
"Saudara kembarnya?" tambah Riko.
"Masih saudaraan sama Tara juga?" tanya Bastian.
"Ih bener-bener ya lo bertiga! Tebakan lo enggak ada yang tepat! Tari itu gadis yang kerja di warung soto depan showroom gue!" jawabku.
"Yakin lo? Seksi gak?" tanya Riko.
"Asetnya sih mumpuni." jawabku.
"Cantik?" tanya Bastian.
"Hm... Masih polos sih belum kenal salon dan make up. Wajah polosnya sih lumayan."
"Udah pernah lo pake? Dia bunting duluan sampai lo harus tanggung jawab? Atau lo digrebek sama Pak RT makanya lo harus nikahin dia?" tanya Sony panjang lebar.
"Enggak. Tari tuh anak baik. Dia minta tolong sama gue buat bebasin dia dari Bapak tirinya, ya caranya dengan nikahin dia. Awalnya gue enggak mau, eh Papa malah setuju. Pas gue pikir-pikir lagi, kasihan nasibnya tuh anak, mau dijual ke mucikari. Yaudah gue nikahin aja. Toh pernikahan di mata gue udah bukan sesuatu yang hebat lagi." kataku pesimis.
"Jangan begitu dong lo! Yang namanya pernikahan harus dilakuin dengan sungguh hati." ceramah Bastian.
"Tari enggak punya adek atau kakak gitu yang ngajak gue nikah juga?" gurau Sony.
"Enggak ada! Kalau pun ada juga mikir-mikir kalau sama lo. Bangunnya lama eh keluarnya cepet!" ledekku yang disambut tawa riuh yang lain.
"Ih sialan banget bocah! Gue tuh karena kaget makanya keluar cepet, kalo enggak mau bisa meronta-ronta dia minta lagi dan lagi!" Sony membela dirinya.
"Terus kapan lo nikah?" Bastian kembali ke topik pembahasan kami sebelumnya.
"Enggak kecepetan? Lo udah yakin?" tanya Bastian lagi.
"Yakin gue. Setidaknya Tari istri yang baik buat gue. Entah berapa lama usia pernikahan gue kali ini, gue mau jalanin aja layaknya air yang mengalir."
"Sadis! Jadi kita ngumpul mau lo traktir nih buat pesta bujang?" tanya Riko.
"Traktir iya, gue traktir. Pesta bujang? Pesta duda kali! Gue udah bukan bujang lagi!"
"Oh iya! Duda Nackal gitu. Eh tapi nanti udah nikah status Duda Nackal lo bakalan hilang dong?" tanya Sony.
"Kata siapa? Tari tuh membebaskan gue! Asyik enggak tuh calon bini gue?" pamerku.
"Ih calon bini macam apaan kayak gitu? Gue mah kalau punya suami tukang main di luar, udah gue potong anunya sampai habis terus gue kasih buat makan anjing tetangga!" ujar Bastian.
"Emang mau punya lo dipotong-potong?Ngilu gue , lo ngomong kayak gitu! Kayak enggak ada topik pembahasan yang lain aja!" omel Sony.
"Udah ah lo berdua! Kita berangkat sekarang nih?" tanyaku. "Ini baru start, nanti malam kita cari yang di akuarium gimana?"
"Wah mantap lo mah kalo traktir Gas! Ayo lah kita gasspol! Pijet dulu biar nanti malam makin joss!" Riko yang paling semangat.
"Ayo!"
__ADS_1
Kami pun konvoi dengan mobil masing-masing menuju tempat spa plus-plus.
Di tempat Spa kami dipijat dengan terapis handal yang kalau aku mau bisa menawarkan jasa yang lain. Kali ini aku hanya minta dipijat biasa saja.
Terapisnya agak kecewa karena aku tidak meminta pijat 'plus-plus'. Beberapa kali Ia menggodaku agar aku mau namun kali ini aku teguh dengan pendirianku. Cukup pijat saja.
Selesai dari Spa, badanku lebih segar dan bugar. Aliran darah dalam tubuhku sudah lancar dan siap untuk berpesta malam ini.
Kami kembali beriringan menuju 'tempat akuarium' di salah satu tempat yang terkenal banyak menyajikan cewek-cewek yang berpose seksi di dalam kaca.
Kupilih yang paling oke dari sekian banyak cewek yang ditawarkan.
Aku menunjuk seorang gadis di dalam bilik kaca yang mengenakan baju super seksi. "Dia saja! Bilang padanya, malam ini harus kerja keras untuk memuaskanku!"
Ini saatnya bersenang-senang sebelum menikah. Menikmati masa dudaku sebelum aku terlibat dengan dunia pernikahan yang entah bagaimana akan kuhadapi kelak.
Service kali ini sangat memuaskan, lumayan untuk ganti oli. Aku lebih segar sekarang.
****
Aku pulang keesokan harinya, setelah mampir sebentar ke showroom dan menolak ajakan senang-senang dari Cici. Gila aja, udah semalaman senang-senang masa sih mau aku forsir lagi dengan Cici?
Aku baru saja memasukkan mobil ke dalam garasi ketika seorang gadis lugu keluar dari dalam rumah dan menyambutku dengan senyuman.
"Om udah pulang?" matanya berbinar bahagia, membuatku merasa bersalah.
Bagaimana tidak, aku akan segera menikahinya dan kemarin aku malah mencari kesenangan di luar. Bukannya marah layaknya calon istri pada umumnya dia malah menyambutku dengan senyuman.
Ia lalu menggandeng lenganku. Sambil tersenyum riang Ia bertanya padaku, "Om udah makan belum? Mau makan apa? Tari udah masak sih, tapi kalau Om enggak suka dengan masakan Tari akan Tari buatkan yang baru!"
Aku merasa tak tega. "Kamu nungguin aku pulang?"
"Iyalah! Tari mau nunjukkin hasil belajar Tari dari Youtube. Tari masakkin yang beda buat Om. Pokoknya Om harus nyobain ya!"
Aku tak mau mengancurkan kebahagiaannya. "Baiklah! Ayo kita makan!"
"Siap! Om mandi dulu ya, Tari angetin dulu!"
Aku tersenyum. "Iya." kutinggalkan Ia dan masuk ke kamar.
Setelah mandi aku pergi ke ruang makan. Harum masakan membuat perutku tiba-tiba keroncongan padahal belum lama aku makan.
"Kamu masak apa?" tanyaku.
"Spaghetti. Aku udah bilang kan sama Om kalau aku akan masakkin Om spaghetti?"
"Kamu beneran belajar dari Youtube?" tanyaku tak percaya. Bahkan cara plattingnya pun rapi dan bagus loh. Aku saja yang sudah sering bikin spagheti tidak sejago ini buatnya.
"Iya. Ayo dicoba, Om. Tari kemarin enggak ada kesibukan makanya Tari belajar aja. Tari rencananya mau buat masakan rumahan kalau orang tua Om datang. Tapi bahan-bahannya enggak ada di kulkas. Mau beli di tukang sayur, Tari enggak punya uang."
__ADS_1
***
Ayo dukung Om Agas dengan Vote novel ini ya! 😍😍