
"Mana mie ayam untuk tetangga depan? Biar aku saja yang berikan! Ya, itung-itung silaturahmi-lah. Aku kasihan kalau kamu yang ke sana nanti malah kena sindir dengan kata-kata yang menyakitkan. Sekalian buat security depan aku juga yang kasih. Kamu dirumah aja. Istirahat kamu kan capek dari tadi masak terus!"
Akhirnya aku mengalah. Biar aku saja yang mengantarkan semuanya. Sejak tadi, kulihat Tari sibuk di dapur menyiapkan segala macam makanan untukku. Setelah membuat mie, Ia sibuk membuat makan siang. Rasanya tak ada habisnya Ia berada di dapur.
"Beneran? Tapi Tari buatin dulu ya! Om duduk aja dulu. Kebetulan baru dua porsi yang Tari buatkan. Untuk security depan dulu aja kali ya. Kasihan mereka lapar."
"Iya." Tari membungkus dua mie ayam buatannya di wadah plastik yang biasa Mbak Inah kumpulkan kalau aku membeli makan di luar. Ia menyerahkannya padaku untuk kuantar ke security depan.
Aku berjalan kaki ke depan komplek. Menyerahkan mie ayam yang membuat dua security yang berjaga sangat senang. Aku mengeluarkan uang seratus ribu dua lembar. "Untuk uang jajan anaknya!" kataku. Kalau kubilang untuk uang rokok, kasihan keluarganya dong enggak dikasih?
Aku pulang ke rumah dan mendapati dua porsi mie ayam sudah terhidang di atas meja.
"Mie ayamnya untuk tetangga depan ya?" teriakku. Tari yang sedang di kamar menjawab iya, baru aku pergi ke depan.
Aku mengetuk pintu depan rumah yang terlihat sepi ini. Tak ada mobil Damar yang artinya hanya ada Tara seorang di rumah.
Tak juga dijawab, aku menekan bell. Mobil Tara ada di depan, kayaknya sih ada orang di rumah. Tiga kali kutekan bell dan tak ada yang membukakan pintu.
Aku menyerah. Baru saja aku hendak berbalik badan saat pintu rumah dibuka.
Aku berbalik badan kembali dan melihat Tara membukakan pintu dengan wajahnya yang pucat.
"Tara? Kamu sakit?" tanyaku cemas. "Aku bawakan kamu mie buatan Tari. Cobalah!"
"Taruh saja diatas meja." jawab Tara dengan suara lemah.
Karena Tara sakit, aku pun masuk ke dalam rumahnya dan menaruh mie diatas meja ruang tamu. Rumah ini sepi. Benar dugaanku, Damar tak ada di rumah.
"Aku taruh disi-" belum selesai aku bicara Tara sudah memeluk tubuhku dengan erat.
"Hei! Jangan begini!" aku tak enak, takut Tari cemburu atau Damar melihatnya. Aku serasa sedang selingkuh padahal nyatanya tidak.
"Agas.... huaaaa....." Tara menangis dalam pelukanku.
"Kamu... Kenapa?" tanpa kusadari aku menepuk punggungnya dengan lembut hanya semata-mata membuatnya tenang dan berhenti menangis.
Tara tak menjawab. Ia terus menangis dan memelukku erat seakan takut aku pergi.
"Hei... Sudahlah! Tenangkan diri kamu dulu!" kataku.
Aku ingin melepaskan pelukan Tara, namun tangisannya yang memilukan membuat aku tak tega dan membiarkannya sedikit lebih lama untuk memelukku.
"Maafin aku, Gas! Maaf...." ujar Tara. Suaranya terdengar penuh penyesalan. Begitu pilu mendengarnya.
__ADS_1
Kata maaf....
Kata yang dulu amat aku ingin dengar terucap dari mulut Tara.
Kata yang selama ini aku nanti namun sampai aku lelah menunggu, kata itu tak keluar juga dari mulut Tara.
Kini, Tara yang berada di pelukanku mengucapkan kata maaf, kata yang ingin kudengar sejak dahulu.
Kenapa harus sekarang?
Kenapa disaat aku sudah membuka lembaran baru biduk rumah tanggaku dengan Tari?
Tari... Ya, Tari pasti menungguku di rumah!
Kulepaskan pelukan Tara.
"Aku harus pulang!" kataku.
"Jangan!" Tara menarik tanganku. Secepat kilat Ia merangkulkan lengannya di leherku lalu sambil berjinjit Ia mencium bibirku.
Ciumannya begitu menuntut. Ciuman membara seperti dulu. Untuk sesaat aku lupa dan... aku membalasnya.
Ciuman kami begitu penuh kerinduan. Mengisyaratkan bagaimana isi hati kami berdua. Meski telah berpisah namun ternyata kami tak bisa membohongi perasaan yang ada.
Ciuman kami saling membelit, saling bermain lidah didalamnya. Aku hampir lupa dengan semuanya, namun saat tangan Tara hendak membuka kancing bajuku, aku tersadar. Ini tidak benar.
Aku berhenti menciumnya dan menjauhkan tubuh Tara. Tara masih maju dan menghujaniku dengan ciuman. Aku kembali menahan tubuhnya.
Aku takut....
Aku takut dengan diriku sendiri...
Bagaimana kalau aku lepas kendali?
Maka aku bulatkan tekadku dan menjauhi tubuhnya. "Aku harus pulang!"
"Gas, please.... Aku tahu kamu menginginkannya!" Tara berusaha menahanku lebih lama lagi di sisinya.
"Enggak. Kamu salah. Aku tidak menginginkannya!" kataku pedas.
"Kamu bohong, Gas! Tubuh kamu berkata lain! Kamu juga menginginkan kebersamaan kita lagi seperti dulu. Aku tahu, aku tahu kamu masih mencintaiku. Aku tahu masih ada namaku dalam hati kamu!"
"Itu cuma perasaan kamu aja!" aku hendak pergi, namun lagi-lagi Tara menahanku. Ia memegang lenganku.
__ADS_1
Aku hendak melepaskannya namun saat itu aku melihat tangan Tara. Ada bekas luka yang ditutupi plester di tangannya. Aku jadi teringat tadi saat aku masuk, Tara begitu pucat.
"Apa yang sudah terjadi? Tangan kamu kenapa?" sesuatu pasti sudah terjadi. Waktu itu Tara menyembunyikannya dengan rapat, namun kali ini aku melihatnya. Bekas luka di tangannya menunjukkan kalau dia tidak baik-baik saja.
"Aku.... Aku mau kembali sama kamu, Gas! Mari kita tinggalkan pasangan kita dan kembali berumah tangga lagi! Aku dan kamu, kita adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Kita akan hidup bahagia jika bersama!" mata Tara terlihat penuh harap.
"Bukan itu yang aku tanyakan sama kamu! Kenapa tangan kamu terluka? Damar yang melakukannya? Seperti waktu itu?" cecarku. Tak kupedulikan ajakannya untuk kembali bersama.
Tara terdiam. Ia tak berani mengatakannya. Ia tak seberani Tari yang berani melawan Bapak tirinya meski wajahnya sudah bonyok.
Apa karena Tara takut kehilangan semua kemewahan yang Ia miliki saat ini?
"Kalau kamu tak mau mengatakannya, aku tak akan memaksa. Aku pulang sekarang! Ketuk pintu rumah aku kalau butuh sesuatu! Atau panggil saja security!" kataku acuh.
Baru selangkah aku meninggalkan Tara, Ia mengatakan sesuatu yang membuat langkahku terhenti.
"Iya. Damar yang melakukannya. Ini bukan kali pertama Ia memperlakukanku seperti ini. Waktu itu... waktu kamu datang dan mendapati vas bunga aku pecah... Damar memperkosaku!"
Deg...
Ternyata benar firasatku waktu itu...
"Lalu kemarin saat aku pulang dari olahraga, Ia menuduhku sedang mendekati kamu! Ia lalu mulai berlaku kasar. Aku... aku takut, Gas! Aku takut memiliki suami seperti Damar! Tolong lindungi aku!" pinta Tara dengan memohon.
Ya Allah...
"Kamu lupa kalau kamu yang meninggalkan aku demi Damar? Laki-laki yang kamu pilih sendiri dengan cara mengkhianatiku? Kamu lupa dengan semua penghinaan yang kamu berikan padaku? Kenapa sekarang kamu berpikir kalau aku lebih baik dari Damar? Bukankah dulu kamu yang telah membuang dan mencampakkanku?" kataku lagi dengan pedas.
"Aku... aku salah... Aku telah salah menilai selama ini. Aku tak bahagia, Gas. Aku lebih merasa dicintai saat dengan kamu! Maafkan aku, Gas! Aku tahu kamu masih mencintaiku. Kita bisa memulai hidup baru lagi. Kamu tau kan kedua orangtua kita sangat merestui hubungan kita? Semua akan membaik kalau kita kembali, Gas." pinta Tara.
"Kembali? Lalu Damar?"
"Aku akan menceraikannya!" jawab Tara mantap.
"Lalu Tari?" sengaja aku memberinya pertanyaan jebakan.
"Kamu bisa meninggalkannya. Kita akan memulai hubungan kita lagi!" jawab Tara dengan penuh percaya diri.
"Maaf, Tara. Aku tak bisa meninggalkan Tari. Aku bukan kamu, yang bisa meninggalkan seseorang saat kamu ingin dan kembali memungutnya lagi saat kamu bosan! Aku tak bisa meninggalkan istriku. Aku pulang! Aku anggap semua yang terjadi hari ini tak pernah ada!"
****
notes: kemarin ada loncat bab ya, coba scroll ke atas ya. Jangan lupa vote Om Agas oke?
__ADS_1