Duda Nackal

Duda Nackal
Gombalan Mantan Duda Nackal


__ADS_3

Agas


Malam ini aku mengajak Tari pulang ke rumah. Lebih aman daripada berada di cafe seorang diri.


Tari terlihat memikirkan saranku dan akhirnya setuju untuk pulang ke rumah. Hatiku senang bukan main. Aku kangen dengannya. Aku kangen rumahku menjadi rumah yang sebenarnya dengan hadirnya Tari.


"Kamu mau makan apa? Kali ini biar aku yang masakkin!" aku akan memasak untuknya kali ini. "Meski tak terlalu enak tapi aku bisa masak." kataku saat kami berada di dalam mobil dan dalam perjalanan pulang.


"Memang Abi bisa masak?" tanya Tari. Matanya masih bengkak karena kebanyakan menangis.


Aku mengusap rambutnya dengan penuh kasih. "Bisa dong! Bikin roti bakar!" kataku dengan penuh kebanggaan.


Tari tak menyembunyikan senyumnya. "Roti bakar ya? Hmm.... Baby mau roti bakar buatan Abi?" ujar Tari seraya mengusap perutnya dengan penuh rasa sayang.


"Mau Mommy! Roti bakar buatan Abi rasanya sangat lezat. Tak ada tandingannya!" kataku sambil bersuara bak anak kecil.


Tari kini tertawa. "Oke. Abi bisanya bikin roti bakar apa?"


"Roti bakar special pake bumbu cinta! Mommy mau? Dibuat dengan roti yang tiap lembarnya dibuat sepenuh hati. Lalu dioles dengan margarin yang selembut hati Abi. Dipanggang diatas api kecil yang menghangatkan seperti tatapan Abi lalu diangkat dan diolesi selai cokelat yang manis seperti rasa ciuman Abi. Tak lupa ditaburi keju yang melimpah, seperti cinta Abi terhadap Mommy. Bisa dibayangkan bukan betapa lezatnya roti bakar buatan Abi?" gombalanku kini tingkat dewa.


Jangan memaksa seorang lelaki untuk bermulut manis, meski jarang diucapkan namun jika mendengar manisnya gombalan lelaki pasti akan meleleh.


"Ah... Abi! Gombalannya... mauuutt! Ha....ha...ha..." tawa di wajah Tari menggantikan kesedihan dan air mata yang Ia rasakan.


Aku suka melihat senyum dan tawa di wajahnya. Aku tak mau melihatnya terus menerus menangis dan bersedih. Ini yang dinamakan cinta. Bahagia melihat pujaan hati bahagia dan sedih melihat pujaan hati nelangsa.


"Makanya jangan menyuruh aku gombal ya! Aku tuh enggak suka ngegombal tapi aku ini jagonya ha...ha...ha..." kataku dengan bangganya.


Lalu senyum di wajah Tari menghilang dan berganti dengan kesedihan lagi. Aduh, aku salah ngomong nih! Pasti mulai deh sifat sensitifnya. Ampun deh... Harus extra sabar lagi nih!


"Karena Abi begitu memukau makanya banyak yang ingin memiliki Abi." Tari kembali menunduk sedih.


Mikir, Gas! Mikir! Jangan bikin Tari sedih lagi!


Oke, aku keluarkan lagi kemampuan menggombal milikku!

__ADS_1


"Coba Mommy lihat ke luar jendela deh. Sinar rembulan terlihat begitu terang dan indah. Kalau punya bulan di rumah, kita enggak perlu lampu lagi di malam hari. Anggap saja Abi itu bulan. Seperti kata Mommy, semua ingin memiliki Abi. Namun Mommy tahu enggak kalau bulan itu kalau dilihat dari dekat itu tidak semulus dan seindah kalau dilihat dari bumi? Ada bopengnya dan enggak rata. Enggak semua bisa memiliki bulan. Karena apa? Karena bulan akan terlihat indah saat berada di langit. Nah, Mommy itu adalah langit, dimana seharusnya bulan berada. Mommy yang membuat bulan yang tak sempurna menjadi indah dan bersinar terang. Kalau enggak ada Mommy, Bulan cuma si bopeng yang jelek. Jadi, Mommy harus bangga karena hanya di samping Mommy-lah, Abi kelihatan begitu mempesona."


Tari mencibirkan bibirnya. "Udah lama suka ngegombal kayak gini? Jago bener! Kalah deh Picasso jadinya!"


"Picasso? My, itu pelukis!"


"Maksud aku, pelukis saja kalah indah dengan rangkaian kata-kata dari Abi." Tari pun tersenyum malu-malu.


"Wah... Mommy jago ngegombal juga ternyata. Abi kalah. Mommy suhunya! Hormat sama suhu!" Aku lalu menaruh tangan di keningnya, sikap hormat sambil tersenyum menggoda.


"Ih apa sih pake hormat segala?! Aneh tau enggak!"


"Yaudah, karena Mommy mengalahkan Abi. Mommy akan Abi kasih hadiah!"


"Hadiah? Apa?" Tari menatapku penuh curiga. "Nanti ujung-ujungnya hadiah yang dikasih adalah ehem ehem lagi?!"


Tuh kan, Tari udah mikir negatif duluan!


"Bukan, My. Kalau itu sih Abi nunggu Mommy siap aja. Kalau Mommy sehat dan fit kita bisa kapan saja. Mommy mau hadiah apa? Kalung, cincin berlian, emas batangan atau rumah baru?"


"Lalu? Mommy mau apa? Anggap saja sebagai hadiah kehamilan Mommy. Selama ini Abi enggak pernah kasih apapun sama Mommy. Sekarang waktunya Abi mengabulkan permintaan Mommy."


Tari terdiam. Ia membuang pandangannya ke luar jendela. Lalu aku mendengar Ia terisak.


"My, kok nangis? Abi kan mau membahagiakan Mommy? Masa sih Mommy bukannya bahagia malah sedih?!" hiburku.


Tari kembali terisak, kali ini lebih kencang lagi. Untunglah kami sudah memasuki komplek rumahku. Kubiarkan Ia menangis dulu, aku akan menghiburnya saat berada di dalam rumah.


Kumasukkan mobilku ke garasi, aku tak langsung turun. Aku menunggu sampai tangisan Tari mereda.


Kuusap lembut rambut panjangnya yang indah. "Kalau Mommy sedih, baby kita akan sedih juga. Mommy mau anak kita nanti jadi anak yang cengeng?"


Ucapanku berhasil mempengaruhi Tari. Ia mengusap air matanya dan menatapku dengan lekat. "Aku enggak minta apapun. Aku hanya ingin kita bisa bersama seperti saat ini selamanya. Permintaanku terlalu serakah ya?"


Kuhapus air mata di wajahnya dan kukecup bibirnya sebentar. Hanya sebentar saja namun sudah membuat aliran listrik mengaliriku.

__ADS_1


"Mommy enggak serakah. Itu manusiawi. Aku akan mengabulkan permintaan Mommy!" aku membukakan seat belt Tari lalu turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya.


Sambil melingkarkan tanganku di pinggangnya, aku membawa Tari masuk ke dalam rumah. Aku meminta Tari duduk di meja makan dan membuatkan roti bakar special buatannku.


"Abi suapin ya! Pokoknya harus dihabiskan!" aku menyuapi roti bakar buatanku sesuap demi sesuap sampai habis.


"Enak?"


Tari mengangguk dan tersenyum kecil. "Enak."


Aku tersenyum senang. Hanya masakan sepele dan sudah membuat Tari tersenyum.


Setelah mencuci piring, aku mengajak Tari ke dalam kamar. Kusediakan baju tidur untuknya dan baju ganti untuk diriku sendiri, aku meminta Tari hanya duduk saja di tempat tidur.


"Mommy mau Abi mandiin?" tanyaku.


"Enggak usah! Aku bisa mandi sendiri!" tolaknya. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi. Aku menunggu sampai Tari keluar dan gantian aku yang mandi.


"Mommy duduk tenang saja. Abi enggak akan tutup pintu kamar mandinya!"


"Loh memangnya kenapa?" tanya Tari bingung.


"Agar Mommy bisa terus melihat Abi. Agar Mommy yakin, Abi enggak akan kemana-mana."


Tari terdiam dan menatapku yang sedang masuk ke kamar mandi dengan tatapan kosong.


Selesai mandi, aku mengambil body butter milik Tari dan memakaikan ke tangan dan kakinya. Ia terus menatapku dengan lekat, seperti takut kehilanganku.


"Aku tak akan kemana-mana. Kamu tenang saja. Kamu adalah langit, tempat dimana bulan yang bopeng sepertiku tinggal." kutaruh body butter di atas nakas dan merebahkan tubuhku di kasur. Kutepuk lenganku agar Tari menaruh kepalanya disana. Ia menurut.


"Allah terlalu sayang sama aku. Allah mau aku menyadari kalau aku sangat mencintai kamu. Caranya dengan memberi kita cobaan ini. Allah memberi hadiah kehamilan kamu sekaligus memberi cobaan pada rumah tangga kita semata karena Allah mau aku lebih mendekatkan diri pada-Nya lagi."


Aku memeluk tubuh Tari dengan erat. "Aku yang bodoh ini jadi tau kalau aku sangat mencintai kamu. Kalau tak ada ini semua, sampai kapan pun aku akan tetap menjadi Agas yang bodoh! Jadi, kita jadikan cobaan ini sebagai sarana dari Allah untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya dan menguatkan cinta kita berdua."


****

__ADS_1


__ADS_2