
Antara tega dan tak tega aku harus tegas melepaskan hubunganku dengan Cici yang semakin tak sehat saja.
Cici yang posesif dan mulai menuntut banyak padaku sudah lama membuatku tak nyaman. Aku berusaha menghindar namun Ia suka menghubungiku lewat pesan dan tak jarang menelepon hanya agar aku menemuinya.
Mungkin memang aku sudah muak dengan sikapnya yang seakan memilikiku sebagai kekasihnya padahal sudah jelas, hubungan kami hanya sebatas saling butuh saja. Tak lebih.
Perkataan Tari yang memintaku menjauhi kehidupan bersenang-senangku perlahan mulai mempengaruhi. Kujadikan alasan untuk menjauhi seraya meyakinkan dalam hatiku kalau ini memang yang terbaik.
Maka saat aku pulang sebelum maghrib, aku tak kaget kalau Tari menyambutku.
"Assalamualaikum, Suamiku. Sudah pulang ternyata!" Ia mengulurkan tangannya hendak salim.
Aku tak kuasa untuk tidak tersenyum melihat kelakuannya yang kuanggap manis tersebut. Menyambut kepulangan suami dengan dandanan rapi dan wangi serta senyum di wajahnya. Membuat lelahku seakan hilang.
"Waalaikumsalam. Aku nepatin janjiku tadi pagi!" jawabku seraya kuberikan tanganku untuk dia salim.
"Nah begitu dong! Baru namanya Pak Imam yang keren!" Tari mengacungkan dua jempolnya untukku seraya tersenyum manis. Senyumnya seperti menggambarkan isi hatinya yang bahagia melihat aku pulang cepat.
"Ayo kita masuk! Aku haus!" ajakku.
"Ayo! Aku sudah buatin kamu air jahe pakai madu. Biar stamina kamu pulih kembali." Tari merangkul lenganku, bersama kami masuk ke dalam rumah.
"Air jahe instan atau bikin sendiri?" jujur aku kurang suka dengan jahe instan yang langsung dituang air panas langsung jadi.
"Tentu saja jahe merah yang aku bersihkan dan masak sendiri. Tadi aku pakai rempah lain dan kutambahkan madu. Om suka pakai susu atau air jahenya saja?" tanya Tari seraya menutup pintu rumah kami.
"Susu... kamu?" maksud aku susunya Tari hahahaha... Nampaknya anak itu salah mengerti, dipikirnya aku menanyakan apa kesukaannya.
"Aku suka yang original. Apalagi kalau pakai gula merah asli. Enak sekali. Om mau minum dimana? Ruang tamu atau di meja makan?"
"Di ruang TV saja!" jawabku seraya berjalan menuju ruang TV.
__ADS_1
"Eits! Cuci tangan dan kaki dulu! Biar bersih dan sehat!" ujarnya seraya menarik langkahku dan menggiringku menuju kamar mandi dekat dapur.
"Oke. Huh kenapa dengan aku ya? Bisa nurut gitu sama kamu?!" gerutuku pelan namun Ia mendengarnya.
"Itu namanya Om Agas mau mendengar sesuatu yang bermanfaat demi kebaikan Om Agas. Bukan menurut, hanya membenarkan apa yang aku katakan!" ujarnya sambil tersenyum. Ia sibuk menyaring air jahe dari panci dan menuangkannya di gelas lalu menuangkan susu kental manis untuk gelas milikku.
Sekarang baru kusadari ternyata Tari itu pintar. Menjawab pertanyaanku saja dengan cara yang cerdas. Pantas saja dulu dia sampai punya pikiran untuk mengancamku agar menikahinya. Keberaniannya patut diacungi jempol!
Aku masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakiku lalu kembali ke ruang nonton TV yang sudah ada susu jahe hangat terhidang di atas meja. Ternyata bukan itu saja, Tari bahkan membuatkan kue cucur. Ya, kue cucur.
"Ini bikin sendiri?" tanyaku tak percaya. Masih hangat, pertanda memang Ia membuat sendiri. Tak ada tukang kue cucur di sekitar rumah kami.
Tari mengangguk, senyumnya selalu menghiasi wajahnya yang kini mengenakan make-up tipis namun terlihat begitu pangling karena dirinya yang jarang make-up. "Dicobain, Om. Tari baru belajar. Enggak tau rasanya enak apa enggak?!" katanya merendah.
Aku mengambil sebuah kue cucur dan mencobanya. Rasanya enak, tak beda jauh dengan yang biasa Mama beli di pasar. Lebih enak malah karena disajikan masih hangat. "Mmm... Enak. Jago kamu!" pujiku.
Tari tersenyum senang, merasa usahanya hari ini tidak sia-sia. Pujianku yang hanya berupa kata-kata sudah dianggapnya sebagai penghargaan atas segala usahanya.
Sebuah kue cucur sudah habis kulahap. Aku mengambil air jahe hangat dan meminumnya, membasahi dulu tenggorokanku sebelum mengambil kue cucur lagi.
"Kamu tuh ada bakat loh memasak dan membuat kue. Kamu mau ikut kursus? Biar kemampuan kamu semakin terasah!" kataku menawari.
"Kursus? Jauh enggak Om dari sini?" tanya Tari. Matanya berbinar mendengar aku menawarinya kursus.
Ya, tak ada salahnya membiayainya kursus. Toh kalau dia pintar masak juga aku yang untung. Aku yang akan menikmati makanan lezat buatannya yang pasti lebih sehat karena buatan sendiri.
"Kita cari yang terdekat. Aku sih pengennya kamu kursus yang bagus. Hmm... Gimana kalau kamu belajar naik motor? Nanti aku belikan motor agar kamu bisa kemana-mana sendiri? Gimana?" tawarku. Aku tak mungkin mengantarnya terus. Aku juga harus ke beberapa showroom.
"Oh... Naik motor mah Tari bisa, Om! Tak perlu belajar lagi. Mau motor gigi, kopling maupun matic, Tari bisa semua!" jawabnya dengan penuh rasa bangga.
"Serius? Kok bisa?" aku mengambil cucur ketiga dan memakannya. Ah gila ini sih, aku harus membakar lemak di atas untuk membakar cemilan yang aku makan kali ini. Bisa gendut aku kalau selalu doyan apa yang Tari masak.
__ADS_1
"Tari dulu kerja antar jemput anak sekolah, Om. Biasanya Tari dipinjami motor sama yang punya anak. Jadi Tari mengantar dan jemput kalau waktu pulang sekolah. Lumayan uangnya buat pemasukan Tari."
"Wow! Banyak banget pekerjaan kamu! Kenapa enggak dilanjutin lagi?" tanyaku penasaran.
"Karena keluarga yang Tari antar jemput pindah ke luar kota karena ditugaskan ke luar kota. Padahal kalau bekerja mengantar anak-anak mereka, Tari tak perlu mengambil pekerjaan sebagai buruh cuci. Kerjanya enak dan santai, cuma nunggu di depan sekolah sampai mereka pulang."
"Yaudah karena kamu sudah bisa bawa motor, kita pilih motor mana yang kamu mau!" aku mengambil Hp milikku dan menunjukkan beberapa type motor pada Tari. "Kamu mau yang mana?"
Kening Tari berkerut. "Ini Om serius mau beliin motor baru buat Tari? Ini mahal loh, Om! Bukan Tari mau menolaknya Om. Tari enggak enak. Sejak kemarin Om udah baik banget sama Tari. Om udah keluar uang banyak demi menolong Tari. Belum biaya pernikahan, barang-barang kebutuhan sehari-hari Tari juga Om beliin. Om mau daftarin Tari kursus dan sekarang Om bahkan mau beliin Tari motor. Tari malu, Om! Tari kok jadi orang nyusahin orang lain terus!"
Mata Tari berkaca-kaca. Aku bisa melihat ketulusan dalam setiap kata-katanya. Ia memang bukan tipe cewek matre. Baginya hidup tanpa ancaman Bapak tirinya sudah cukup, meski sekarang rumah yang Ia perjuangkan sudah dibeli orang lain.
"Jangan pikirin hal itu! Uang aku banyak! Aku kelihatannya saja hidup biasa. Mobil cuma satu, rumah enggak terlalu mewah. Aku tak mau hidup berlebihan. Kalau kamu berpikir aku sampai kesusahan karena kamu, kamu salah!"
Aku memegang kedua bahu Tari dan berbicara sambil menatap lurus ke dalam matanya.
"Dengar aku! Kamu sekarang istri aku! Kalau aku menelantarkan kamu, aku berdosa. Aku memang bukan manusia yang taat beragama, tapi aku tahu kalau aku akan berdosa kalau menelantarkan kamu. Sekarang, kalau kamu mau mengembangkan bakat kamu aku akan dukung. Kamu mau kursus masak, aku bayarin. Kamu perlu motor, aku beliin. Karena apa? Karena kalau kamu pintar, kamu juga akan membuat aku bangga. Tunjukkan sama semua orang kalau kamu tuh pintar. Banyak belajar dan jadi pribadi yang lebih maju lagi!"
Lalu mata yang sejak tadi berkaca-kaca pun meneteskan air mata haru. "Makasih, Om. Makasih. Om adalah dewa penolong yang Allah utus untuk membahagiakan Tari."
Benarkah itu? Benarkah aku seorang dewa penolong? Bukannya aku adalah setan yang menyesatkan anak gadis orang?
***
Hi semua...
Udah senin nih, yuk bantu vote Om Agas. Caranya kayak gini ya
__ADS_1
Mudah kan? yuk vote om agas biar enggak nackal lagi ðŸ¤ðŸ¤ Maacih semuanya. Luv u all 😘😘😘😘