Duda Nackal

Duda Nackal
Mixer Baru


__ADS_3

"Ada yang mau kamu beli lagi enggak? Mumpung lagi ada di Mall nih!" tanyaku sebelum kami memutuskan untuk membayar semua belanjaan.


"Hmm... Sebenarnya sih ada, Om. Tapi enggak enak ah mintanya!" jawab Tari malu-malu.


"Pake enggak enak lagi! Tadi aja ngedumel di belakang! Udah cepetan mau beli apaan?!" tanyaku tak sabaran.


"Ya kalau Om maksa sih... Tari mau minta beliin mixer."


"Mixer? Buat apa? Memang kamu bisa buat kue?"


"Bisa tapi belum jago. Dulu Ibu ngajarin Tari buat beberapa kue. Tari lihat di rumah Om ada oven tapi Om enggak punya mixer, Tari udah cari ke sekeliling dapur enggak ada."


"Iya. Oven itu memang aku beli sengaja, dulu Tara suka memanggang ayam bakar makanya aku beliin. Dia enggak bisa bikin kue makanya enggak ada mixer di rumah. Kalau kamu mau beli mixer, ayo kita ke atas! Di atas ada toko yang menjual perlengkapan masak. Kita bayar dulu semua barang belanjaan ini!" aku mendorong trolly belanja sampai ke kasir.


Setelah membayar aku menepati janjiku membeli mixer di lantai atas. "Mau pilih yang mana?"


Tari membisikkan sesuatu di telingaku dengan suara pelan. "Om! Ini mixer doang harganya diatas 10 juta? Enggak salah?"


"Enggak! Udah cepat pilih!"


"Mahal banget, Om. Nanti kalau pakai mixer ini udah pasti berhasil ya Om kuenya?" bisiknya lagi, takut terdengar SPG yang sejak tadi mengikuti kami.


"Ya enggaklah! Tergantung kemampuan kamu juga! Kalau kamu enggak jago, mau sehebat apapun alatnya tetap saja gagal. Begitupun sebaliknya, kalau kamu jago mau alatnya sederhana tetap saja berhasil!"


"Ih Om keren filosofinya. Tapi beneran enggak apa-apa nih beli yang mahal kayak gini Om?" tanya Tari lagi.


"Kamu meragukan kemampuan isi dompetku?" tanyaku sambil mendelik kesal.


"Enggak! Tari yakin kok! Yaudah Tari mau warna pink aja ya Om."


"Mbak, saya mau yang warna pink 1!" pesanku pada SPG yang melayani.


"Baik, Pak!"


SPG itu lalu memberikan nota yang harus aku bayar di kasir. Tari mengikuti setiap langkahku termasuk saat ke kasir.


"Om enggak nanya kenapa Tari pilih warna pink?" tanyanya.


"Enggak penting!" jawabku cuek.


"Ih Om mah begitu! Tanya dong kenapa Tari pilih warna pink?" protesnya.


Aku menghela nafas panjang untuk mengisi stok sabarku. "Iya sekarang aku tanya. Kenapa kamu pilih warna pink?"


Tari lalu mendekatkan dirinya ke telingaku dan membisikkan sesuatu. "Biar sama kayak lingerie yang beli waktu itu. Warna pink juga hihihi..."


Kini aku mendelik kesal. "Apa hubungannya mixer warna pink dengan lingerie warna pink, Utari???" tanpa sadar aku mengencangkan suaraku membuat orang-orang yang mengantri di kasir memperhatikanku seraya menahan tawa.

__ADS_1


Tari tersenyum senang karena berhasil menggoda dan mempermalukanku di depan orang lain. "Enggak ada sih Om. Kan Tari bilang cuma biar samaan. Itu aja sih!"


"Bodo ah! Suka-suka kamu ajalah!" aku mengalah. Anak ini memang suka random kalau buat orang kesal.


Acara belanja sudah selesai dan kami pun kembali pulang ke rumah. Tari sejak tadi terus memeluk mixer pink layaknya memeluk seorang bayi.


Bayi?


Aku jadi teringat pertengkaran Tara dan Damar tadi sebelum aku berangkat ke supermarket. Damar sama sepertiku, anak laki-laki satu-satunya.


Damar dan aku sebenarnya punya banyak kesamaan selain sama-sama anak tunggal. Hobby kami sama. Makanan kesukaan kami juga sama.


Bedanya adalah Damar dididik dengan manja oleh Mamanya. Kalau aku... Jangan ditanya bagaimana keras dan tegasnya Papa dalam mendidikku. Pedas seperti ucapan yang biasa Papa ucapkan.


Kalau Tara saja ingin memiliki anak, apakah nantinya aku juga akan memiliki anak dari Tari?


Kulirik gadis polos yang sejak tadi senyum-senyum sambil mengelus-elus mixer di pangkuannya. Ya, dia memaksa memangku mixer. Takut lecet katanya.


Apakah Tari yang nantinya akan menjadi Ibu dari anak-anakku?


Dulu aku punya impian, akan memiliki anak perempuan yang cantik seperti Tara. Kalau anak laki-laki, aku mau yang pintar juga seperti Tara. Pokoknya aku mau anakku mirip Tara.


Nyatanya impian itu kini terkubur dengan rapat. Sudah tak mungkin lagi bisa terwujud.


Aku mematikan mesin mobilku dan mengeluarkan belanjaan dari dalam mobil. Tari membantuku. Ia rajin, harus kuakui itu.


Aku memutuskan masuk ke dalam kamarku dan membiarkannya merapihkan semua belanjaan sendiri. Aku lelah dan langsung tertidur di kasur.


Pagi hari, kembali aku dibangunkan dengan harum masakan dari dapur. Aku kini sudah tidak seperti kemarin yang seperti dejavu dan mengira masih ada Tara. Aku sadar penuh kalau pemilik dapur rumahku adalah Tari.


"Pagi!" sapaku sambil menarik kursi makan. Kunyalakan tab milikku dan membaca portal berita online.


Ini kebiasaan di pagi hariku. Harus tau berita yang sedang terjadi karena akan berpengaruh dengan harga saham yang kumiliki.


"Pagi! Om mau sarapan sekarang atau mau minum susu dulu?" tanya Tari.


Susu?


Pandanganku langsung terarah pada 36 D miliknya yang terlihat begitu menonjol. Pagi hari adalah waktu krusial bagi seorang pria. Ngomongin susu saja pikiranku sudah kemana-mana.


"Om! Ih kok malah bengong! Om mau sarapan sekarang apa enggak?" Tari membuyarkan lamunanku.


"Iya! Sarapan sekarang! Memangnya buat apa aku duduk di kursi makan kalau bukan buat sarapan? Ngerjain PR?" balasku.


"Hihihi... PR. Memangnya Om masih sekolah? Yaudah Tari siapin dulu!" anak itu kini mulai aku kenal sifatnya. Ternyata Ia bukan gadis pemurung seperti yang aku kira.


Selama tinggal disini, Tari terlihat lebih ceria. Lebih bisa mengekspresikan dirinya.

__ADS_1


"Masak apa sih kamu?" tanyaku penasaran. Harum sekali .


"Tari buat roti. Om coba deh!" Ia menghidangkan roti keset yang masih mengepulkan uap panas untukku.


"Roti? Kamu buat roti sendiri?" tanyaku tak percaya.


"Iya. Pakai mixer yang Om beliin semalam." Ia menaruh cangkir berisi kopi di samping roti buatannya. "Cobain dulu dong, Om!"


Aku mengambil sepotong roti hangat dan memakannya. Isinya cokelat. Hmm... Enak sekali. Jangan bilang kalau dia belajar dari Youtube!


"Enak, Om?" Ia meminta pendapatku.


Aku mengangguk. "Enak. Kayak roti buatan Mall. Lembut dan masih baru keluar dari oven. Aku suka!"


Ia tersenyum lebar. "Syukurlah kalau Om suka. Nanti Tari akan buatkan lagi buat sarapan pagi, Om."


Aku mengangguk-angguk sambil mengambil potongan roti kedua, kali ini rasa keju. Keren. Dalam satu roti bisa beragam rasa. Ini yang aku suka.


"Kamu bangun jam berapa buat kayak gini?" tanyaku sambil meminum kopi buatannya.


"Jam setengah 5 pagi. Sholat subuh dulu lalu buat roti deh. "


"Setengah 5? Masih malam itu mah bukan subuh!" jawabku sambil mengambil roti potongan ketiga. Enak dan doyan jadi satu.


"Ya subuh dong, Om. Memangnya Om enggak pernah sholat subuh?" tanyanya.


"Bukan urusan kamu!" ketusku.


Kupikir Ia akan ceramah panjang lebar, ternyata tidak. Ia malah menanyakan mau dibawakan bekal apa.


"Aku enggak ke showroom hari ini. Papa dan Mama akan datang hari ini. Aku akan menjemput mereka."


Wajah Tari yang semula tersenyum kini berubah tegang. "Hari ini?"


"Iyalah! Besok kita akan menikah, kamu lupa?"


Ia tersenyum namun seakan dipaksakan. "Kalau Mamanya Om enggak suka sama Tari gimana ya Om?"


"Ya mau gimana lagi? Kamu enggak bisa memaksa setiap orang untuk menyukai kamu! Tunjukkan ketulusan kamu, maka Mama akan menyukai kamu. Tenang saja, Mama baik kok orangnya!"


****


Hi Semua...


Bantu aku untuk kasih ⭐⭐⭐⭐ ⭐ ke novel ini ya dan kasih Vote juga. Gratis. Caranya kayak gini ya


__ADS_1


Makasih semuanya yang udah dukung Om Agas 😘😘😘😘


__ADS_2