Duda Nackal

Duda Nackal
Belajar Untuk Lebih Baik Lagi


__ADS_3

Agas


Ternyata cafe milik Tari tidak buka sampai malam hari. Sebelum adzan maghrib, semua menu makanan sudah habis terjual. Padahal, yang promo hanyalah beli kopi gratis donat. Tapi, justru penjualan menu masakan khas Tari semuanya laku tanpa sisa.


Tari dan para karyawan tersenyum puas. Mereka berdoa semoga kesuksesan hari ini akan terus bertahan selamanya. Bukan hanya saat pembukaan saja, hari-hari berikutnya juga akan selalu ramai.


Tari sudah memesan bahan baku makanan untuk esok. Aku sebelumnya sudah menghubungi teman-temanku yang bekerja di bagian supply makanan dan aku juga banyak datang ke pasar-pasar tradisional untuk bekerjasama dengan para pedagang kecil.


Tujuannya jelas, memajukan usaha kecil. Para pedagang kecil tersebut biasanya sangat senang jika ada suatu cafe yang minta dipasok oleh mereka. Selain penjualan yang lebih stabil juga pasokan ke cafe itu biasanya dikuasai oleh penjual dalam partai besar. Padahal, kalo penjual kecil dikasih kesempatan pasti akan melakukan hal yang terbaik. Itu yang aku tanamkan ke Tari. Karena itu, untuk masalah stok bahan baku, setiap pagi mereka akan datang dan menyetok bahan baku yang diperlukan. Bahan baku pun aman.


Meski lelah seharian bekerja, Tari terlihat amat bahagia. Saat adzan maghrib kami sudah tiba di rumah dengan hati yang puas karena cafe laku keras hari ini.


"Semoga besok dan seterusnya cafe kita akan rame ya, Bi. Kalau kayak gitu kan cita-cita aku untuk membuat cafe bersebelahan dengan setiap showroom kamu akan menjadi kenyataan." kata Tari dengan mata berbinar-binar penuh harapan.


"Aamiin. Kamu udah minum obat belum? Vitaminnya jangan lupa. Susu hamilnya juga diminum. Jangan sampai karena kamu terlalu bersemangat untuk menjalankan cafe, kamu sampai abai dengan anak kita. Ingat ya, kamu cukup jadi pengawas aja di cafe. Semua sudah ada karyawan yang mengurusnya. Ya, paling kamu cuma bikin tumis ayam jamur dan resep rahasia aja. Yang lainnya serahkan saja sama karyawan kita. Mereka adalah orang-orang yang sadar kalau mereka itu diberi kesempatan dan mereka pasti akan menjaga amanat yang sudah kita berikan." ceramahku panjang lebar.


"Iya, Bi!" kami pun akhirnya sampai di rumah. Setelah mandi dan melaksanakan shalat maghrib berjamaah, kami mengaji sambil menunggu adzan shalat isya berkumandang. Suara Al-Quran mulai terdengar di rumahku yang tadinya hanya terdengar suara musik dari DJ. Aku tak menyangka, sekarang bahkan aku sudah mulai mengaji selain melaksanakan shalat lima waktu.


Ucapan yang dikatakan Papa dan Mama memang benar, aku memilih dipanggil sebagai Abi dengan tujuan terlihat keren namun aku juga punya tanggung jawab. Aku wajib mengajarkan ilmu agama yang baik untuk anak-anakku kelak. Karena itu, aku mulai dengan mengaji. Nanti rencananya, aku juga akan membuat acara pengajian di rumah dan juga di cafe. Sebagai selamatan atas dibukanya Cafe baru kami dan selamatan atas hamilnya Tari.


Papa dan Mama tak bisa berlama-lama di Jakarta. Sehabis datang saat pembukaan cafe, mereka langsung pulang. Aku dan Tari yang sibuk dengan banyaknya pengunjung hanya bisa berpamitan sebentar. Mama berjanji akan datang lagi saat urusan bisnis Papa sudah selesai.


Aku tertidur lelap karena kelelahan. Capek ternyata mengurus cafe yang baru merintis. Beda dengan showroom. Berjualan mobil tidak sesering berjualan makanan seperti di cafe.


Tari sudah terbangun sebelum adzan subuh. Sudah menyiapkan ayam jamur dan kaldu ayam untuk menu nasi tim miliknya yang laris manis.


Ia juga membuat kue blackforest dan kue tart lain. Aku sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Rajin sekali! Biasanya ibu hamil suka morning sickness eh anak ini malah rajin menyiapkan ini itu.


"Pagi sekali kami bangun!" kataku yang langsung melingkarkan tanganku di pinggangnya. Kuhirup aroma tubuhnya yang selalu membuatku ketagihan dan merasa nyaman.

__ADS_1


"Iya, Bi. Aku harus nyiapin buat menu nasi tim. Kemarin sampai kehabisan karena aku enggak nyetok banyak. Hari ini aku buat porsi lebih. Bisa ditaruh freezer nanti dan kalau mau digunakan jamurnya tinggal ditumis sebentar."


Aku melihat satu penggorengan penuh berisi ayam kecap. Jamurnya belum Ia masukkan agar lebih awet. Pintar juga dia!


"Ingat, jangan kecapekan!" pesanku untuk yang kesekian kalinya.


"Iya, udah adzan. Aku juga mau sholat subuh dulu. Sambil memanggang kue yang aku buat."


"Oke. Abi tunggu di kamar ya! Abi mau mandi dulu!" aku ke kamar dan langsung mandi. Seperti biasa, Tari sudah menyiapkan pakaian untukku. Dulu, sehabis sholat aku pasti tidur lagi. Kini tak lagi. Aku malu.


Tari sudah capek berkutat di dapur untuk memasak eh aku enak-enakkan tidur. Jadi, setelah sholat subuh aku membantu apapun yang bisa aku lakukan. Mumpung hari minggu, aku libur ke showroom.


"Abi tolong masukkan kuenya ke plastik kecil ya!" pinta Tari.


Kuambil plastik kemasan kecil dan memasukkan kue yang sudah Ia potong. Kue tape yang wanginya membuatku ingin mencicipi kue buatannya. Pasti lezat deh.


Aku tersenyum. Pengertian sekali dia padaku. "Makasih Mommy Tari!"


Tari membalas senyumku. "Bisa aja Abi ah! Aku mau masukkan semua ke wadah plastik dulu ya, Bi. Nanti di cafe bisa dirapihkan lagi!"


"Oke!"


Kumasukkan satu per satu kue dengan hati-hati. Plastik kue nya lucu. Pasti yang membeli akan suka.


Kue blackforest tidak dimasukkan ke plastik. Rencananya akan dipajang di etalase. Bisa dijual per slice.


Persiapan membuat kue sudah beres, selanjutnya menaruh semua ke dalam mobil. Kutaruh dengan hati-hati agar kue buatan Tari tidak hancur. Tari memilih untuk memangku kue blackforest buatannya.


"Nanti kalau laku, aku akan buat lagi kuenya di cafe. Ini untuk menghemat waktu aja selagi aku di rumah." kata Tari menjelaskan.

__ADS_1


"Jangan lupa nanti pas sayuran dan bahan lain datang diperiksa dulu. Benar atau tidak jumlah yang dikirim baru tanda terima di fakturnya. Jangan asal tanda tangan ya!"


"Iya, Bi. Aku udah wanti-wanti sama para karyawanku kok!"


Kami pun tiba di cafe. Kali ini sudah ada karyawan yang datang dan langsung beres-beres sebelum cafe dibuka.


"Udah masak nasi belum? Telurnya jangan lupa direbus lalu dibelah 2!" perintah Tari pada karyawannya.


"Udah, Bu. Nasinya lagi dimasak. Telur juga lagi direbus tinggal nunggu mateng aja." jawab chef yang bertugas di dapur.


"Sayang, kuenya ditaruh dimana?" tanyaku sambil membawa kue yang sudah kumasukkan plastik.


"Biar aku yang rapihkan saja!" Tari pun memajang kue buatannya di depan kasir dan di dalam etalase. Benar saja terlihat cantik dan menarik.


"Aku bisa bantu apa lagi nih?" tanyaku.


"Nanti saja kalau ada pengunjung, Abi layanin ya! Aku mau buat aneka kue dulu. Masih kurang banyak etalasenya!"


Tari pun membuat kue di dapur. Ada yang bertugas menyiangi sayuran dan aneka seafood. Tari cukup membuat kue saja.


Karena belum jam buka cafe, aku memutuskan untuk memperhatikannya membuat kue. Ia membuat risol ternyata. Isi ayam dan kentang. Lalu membuat pastel dengan isian yang sama dengan risol.


"Kamu belajar ini juga di kursus?" tanyaku.


"Bukan, Bi. Ini resep buatan Ibu. Tari mau memperkenalkan resep buatan Ibu pada semua orang. Sengaja Tari tambahkan ayam suwir dan sosis agar terlihat menyesuaikan cafe. Tari enggak akan jual mahal kok." Tari memberikan sebuah risol yang sudah matang padaku. "Cobalah!"


"Udah jual mahal aja! Ini asli enak banget!" pujiku setelah menghabiskan sebuah risol. "Nanti kalau masih ada sisa buat aku ya!"


****

__ADS_1


__ADS_2