Duda Nackal

Duda Nackal
Pulang Kampung Dadakan-1


__ADS_3

Aku memasukkan mobilku dalam garasi. Aku turun duluan dan membukakan pintu untuk istriku tercinta. Tak lupa aku membawa semua barang belanjaan hari ini.


"Gimana? Kamu mau enggak?" tanyaku sambil mengikuti langkah Tari masuk ke dalam rumah.


"Memangnya ibu hamil boleh naik pesawat?" tanya Tari.


"Boleh saja. Kamu sudah mulai masuk trimester kedua. Kondisi fisik kamu juga sehat wal afiat bukan? Atau kamu mau konsultasi dulu ke dokter kandungan biar aman?"


"Enggak usah. Aku memang baik-baik aja kok. Yaudah kalau Abi mau ke rumah Papa dan Mama. Tari juga mau kesana. Penasaran seperti apa rumah Papa dan Mama di sana. Mau tau bisnis Mama dan Papa apa. Kangen juga sih sama Mama yang jutek dan Papa yang kalau ngomong tajam kayak Abi he...he...he..." sudah mulai berani Tari rupanya meledekku.


"Asyik! Yaudah, kamu mandi dulu Abi mau pesankan tiket buat besok. Habis Abi mandi nanti Abi packing baju." aku menaruh barang belanjaan di samping nakas dan mulai asyik dengan Hp-ku.


Aku memesan dua buah tiket pesawat pulang pergi langsung. Karena hari kerja, tiket pesawat mudah didapatkan. Kalau weekend belum tentu, apalagi aku perginya dadakan kayak gini.


Tari selesai mandi, gantian aku yang mandi. Seperti biasa, sudah ada baju ganti yang Tari sediakan. Namun ada yang berbeda dibanding biasanya.


"Abi mulai pakai ini tiap hari?" aku mengangkat sebuah sarung yang Tari sediakan.


Tari mengangguk sambil tersenyum lebar. "Iya dong! Abi kan keren kalau pakai sarung?!"


Aku tersenyum dengan terpaksa. "Baiklah. Kalau kamu bilang ganteng, Abi percaya." kataku dengan pasrah.


Selesai sholat isya berjamaah, aku dan Tari mulai packing pakaian. Tari memasukkan sebuah celana panjang dan sisanya hanya sarung sebagai bawahanku.


Aku pasrah saja. Turuti saja semua kemauannya. Asalkan Ia tidak menyuruhku berangkat dan pulang pakai sarung saja! Itu sudah membuat aku tenang.


Kami berangkat subuh dan mengambil penerbangan jam 7 pagi. Aku sudah mengabarkan Mama dan Papa kalau kami akan datang.


Papa sudah menjemput kami di Bandara. Senyum orang tua yang kalau bicara sangat pedas itu sangat lebar menyambut kedatanganku dan menantu kesayangannya.


"Assalamualaikum, Pa." Tari langsung mencium tangan Papa.


"Waalaikumsalam. Akhirnya kamu ke rumah Papa!" ujar Papa yang tersenyum bahagia.


Aku mengulurkan tanganku untuk salim. Papa membalasnya. "Sehat, Pa?"


"Sehat dong! Papa kan menjaga kesehatan! Memangnya kamu yang suka begadang dan merokok!" tuh kan langsung disambut dengan kata-kata pedas. "Masih merokok tidak dia Tari?" tanya Papa pada Tari.

__ADS_1


"Udah jarang kok, Pa. Di rumah sih udah enggak pernah. Sadar kalau Tari lagi hamil. Tapi kalau udah ngumpul sama teman-temannya uh.. Kayak gerbong kereta, ngebul terus!" adu Tari.


"Tuh kan! Apa Papa bilang! Susah kasih tau nih anak!" omel Papa lagi.


"Kita langsung pulang aja ya, Pa. Malu banyak orang. Udah kayak anak kecil aja Agas diomelin di depan banyak orang!" aku mendorong koper kecil berisi pakaianku dan Tari. Kugandeng tangan Tari agar Papa mengikuti langkahku.


"Ih Papa lagi kasih nasehat malah pergi! Kayak tau aja Papa parkir mobil dimana?!" cibir Papa.


Aku tersenyum. "Kalau ngomel melulu nanti keriputnya nambah loh! Nanti cucu Papa nanya, itu kakek aku atau buyut aku?!" ledekku.


"Dasar anak kurang ajar! Nanti Papa ke salon buat totok aura! Biar begini Papa calon kakek bukan buyut! Udah ayo pulang! Bisa naik tensi Papa ngomong sama kamu!" omel Papa.


Tari sejak tadi tertawa melihat interaksiku dengan Papa. Saling meledek seakan sudah jadi tradisi kami.


Aku yang menyetir mobil, sementara Papa duduk di sampingku. Tari duduk di belakang sambil menatap pemandangan di luar.


Nampak sisi kiri dan kanan jalan masih banyak sawah yang ditanami padi yang mulai menguning. Pertanda sebentar lagi waktu panen tiba.


"Sawah gimana, Pa?" tanyaku membuka obrolan.


"Alhamdulillah, tahun ini panen meningkat. Serangan hama berhasil diantisipasi. Rejeki cucu Papa." jawab Papa sambil tersenyum bahagia.


Tari mendengarkan percakapan kami sambil senyum-senyum sendiri.


"Enak aja! Itu sih keenakan buat kamu! Buat cucu Papa nanti biar Papa kasih sertifikat tanah saja! Biar dia sudah ada modal saat besar nanti! Tapi di kampung. Kalau di Jakarta mah Papa nyerah! Harga tanah makin menggila! Kalau ambil kreditan kapan kelarnya?"


"Enggak usahlah pakai kreditan. Papa enggak usah maksain. Buat Papa dan Mama di sini saja biar menikmati hidup. Papa kalau mau pergi umroh silahkan. In sha Allah anak Agas ada rejekinya sendiri." jawabku.


"Tumben kamu nolak rejeki dari Papa? Biasanya juga celamitan!" sindir Papa.


Tari tak kuasa menahan senyumnya. Tawa kecil pun terdengar.


"Ih ada Tari, Pa. Malu Agas!"


"Biarin! Sekarang aja kamu udah banyak duit. Dulu aja minta modal sama Papa terus."


"Iya... Iya... Kalau enggak ada modal dari Papa mana bisa Agas kayak sekarang. Tentunya modal doa dari Papa juga yang bikin Agas sukses. Biar kata Papa kalau ngomong pedes kayak cabe level-levelan, tapi doa Papa makbul! Pasti diijabah sama Allah!" ujarku.

__ADS_1


Papa dan Tari tertawa mendengar omonganku. Tanpa terasa kami sudah sampai rumah Papa dan Mama.


Rumah Papa dan Mama sangat besar. Halamannya sangat luas, biasa Mama gunakan untuk menjemur keripik. Usaha sampingannya yang sekarang sangat maju dan bahkan dijual ke luar kota.


Mama yang mendengar suara mobil datang langsung keluar rumah. Senyum lebar tersungging di wajahnya.


Aku turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Tari. Papa langsung mencibirku.


"Papa enggak dibukain! Kalau Tari aja dibukain!" gerutu Papa.


Aku tersenyum, Papa makin tua makin jutek saja. Apa aku akan seperti itu nantinya? Karena buah jatuh tak jauh dari pohonnya bukan?


Mama yang datang menghampiri langsung memukul lengan Papa. "Jangan ngedumel aja! Wajar Agas membukakan pintu buat Tari, istrinya kan lagi hamil! Memang Papa lagi hamil juga?"


Aku menjulurkan lidahku, meledek Papa. Eh aku malah dapat cubitan dari Tari. "Enggak boleh gitu! Enggak sopan!"


"Emang enak diomelin bininya? Ha..ha...ha..." gantian aku yang ditertawakan oleh Papa.


Tari menghampiri Mama, mencium tangan Mama lalu memeluknya dengan mata berkaca-kaca. "Mama.... Tari kangen... Tari pikir enggak bisa meluk Mama lagi..."


"Mama juga kangen! Tapi kamu enggak boleh ngomong begitu! Memang ada apa sih? Agas nakal lagi ya?" Mama melepaskan pelukan Tari dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. "Ada masalah kalian?"


Hebat kan Mamaku?


"Agas ceritain di dalam saja!" aku mencium tangan Mama dan gantian memeluknya.


"Ada apa sih? Mama jadi penasaran?!" Mama menggandeng tangan Tari dan mengajaknya masuk ke dalam.


Aku mengeluarkan koper dan oleh-oleh yang Tari buatkan untuk Mama. Untung saja Tari punya stok frozen food homemade buatannya. Kami tak sempat belanja karena rencana ke rumah Mama dan Papa juga dadakan.


Aku masuk ke dalam dan Tari sedang diinterogasi oleh Mama. Tari seperti sedang mengadu pada Mamanya sendiri.


Sudah bisa diduga kan aku yang apes. Tatapan tajam dan menyeramkan dari Mama dan Papa sudah tersaji untukku. Selamat menikmati, Gas. Pasti akan panjang ini ceramah untukku.


Kayaknya aku salah rencana nih. Bukan refreshing eh malah dapat ceramah... Nasib.... Nasib....


****

__ADS_1


Ayo.. Udah vote belum? yuk vote yuk...


__ADS_2