
POV Author
Agas mengantarkan Tari pagi-pagi sekali ke cafe. Tari membawa beraneka makanan hari ini.
Tari semalam sudah membuat isian risol dan pagi hari Ia membuat kulitnya sambil menunggu bolu pisangnya matang. Semua Tari lakukan sebelum adzan subuh berkumandang.
Tari akan menghentikan kegiatannya untuk sholat subuh berjamaah lalu dilanjutkan lagi setelah sholat. Tari memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Terasa pegal dan badannya capek.
"Apa begini ya rasanya hamil? Aku yang biasanya mengerjakan banyak kerjaan sekaligus, namun kini hanya bisa mengerjakan beberapa saja." batin Tari.
Tari menulis pesan diatas sticky notes yang Ia tempel di lemari es. Sejak menjalankan cafe, Tari biasa bertukar pesan dengan Mbak Inah seperti ini.
Mbak Inah, nanti tolong bersihkan ayam dan potong dadu ya. Lalu wortel dan kentang juga dikupasi lalu dipotong dadu kayak kemarin. Bawang juga dikupasi. Nanti simpan di lemari es aja ya. Makasih.
Ini adalah cara agar Tari bisa mengerjakan beberapa makanan dalam waktu bersamaan. Bangun tidur, Ia mengukur takaran untuk bikin kue lalu mengadoni di mixer.
Sambil menunggu adonannya mengembang, Ia memotong bawang lalu menumisnya bersama dada ayam untuk menu nasi tim miliknya.
Tumisan beres, Tari fokus ke adonan dan memanggangnya di oven. Ia mengukur lagi dan mengadoni di mixer untuk kue kedua.
Selanjutnya membuat kulit risol lalu mengisinya sambil menunggu kue kedua yang sedang dioven matang. Dengan demikian Tari bisa mengerjakan beberapa pekerjaan dalam waktu bersamaan.
Agas yang bertugas memasukkan kue yang sedang didinginkan ke dalam plastik kecil agar kue bolu miliknya terlihat lebih menarik. Agas juga yang membantu memasukkan barang-barang yang mau dibawa ke dalam mobil ketika Tari sedang mandi dan bersiap-siap.
Kompak sekali sepasang suami istri tersebut dalam bekerja sama. Agas juga tidak merasa keberatan membantu istrinya, pekerjaan yang sebelumnya tak pernah Ia lakukan kini Ia mulai jago. Agas yang memotong kue sesuai ajaran Tari.
Semua keperluan siap, mereka pun pergi ke cafe. Hari ini Agas tidak membantu. Senin pagi biasanya semua sibuk dengan kemacetan lalu lintas dan rutinitas sehari-hari.
Tari yang sadar kalau hari ini pengunjung tak akan seramai kemarin sengaja tidak membuat kue lagi di cafe. Hanya dua loyang kue yang Ia buat di rumah saja beserta risol yang Ia pajang di etalase.
Karyawannya pun diijinkan jika mengambil jatah libur sehari seminggunya. Jatah libur boleh diambil kecuali jumat, sabtu, minggu dan hari libur. Sisanya bebas mau hari apa.
Hari ini salah seorang chef ijin tak masuk dan seorang pelayan juga. Mereka kecapekan karena selama dua hari pembukaan kemarin pengunjung tak hentinya berdatangan.
__ADS_1
Tari mengantar Agas yang hendak pergi kerja. Hari ini Agas tak bisa menemani karena ada banyak urusan yang harus Ia selesaikan di kantor.
Tari mencium tangan Agas dan dibalas Agas dengan mencium kening istri tersayangnya. Agas juga mencium perut Tari yang masih terlihat rata sambil berbicara pada calon anak mereka.
"Jagain Mommy ya, Nak! Kamu jangan bikin Mommy kesusahan! Jadi anak yang baik ya!" ujar Agas pada janin dalam kandungan Tari.
"Iya, Abi!" Tari yang menjawab mewakili janin dalam perutnya.
"Mommy juga! Awas ya lupa lagi minum vitamin dan susunya!" ancam Agas dengan wajah tegasnya.
"Iya, Bi. Iya. Nanti Abi ingetin lagi ya kalau aku lupa."
"Iya. Yaudah Abi berangkat dulu! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Tari pun kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya. Ia berencana menyetok pastel dan risol lalu menyimpannya di freezer mereka yang memang Agas siapkan dalam ukuran besar.
Tari membuat kulit pastel dibantu para karyawannya yang bisa membantu karena cafe masih sepi.
"Bu, semoga cafe kita selalu ramai ya. Ibu masakannya enak sih jadi cafe ini banyak yang menyukai. Dulu padahal waktu sama pemilik sebelumnya, cafe ini sepi. Rasa kopinya aja enggak enak." ujar salah seorang karyawan yang membantu Tari menggiling adonan dengan mesin menggiling.
"Aamiin. Kamu doakan juga ya! Aku juga maunya cafe ini bisa mensejahterakan kita semua." ujar Tari tanpa menghentikan kegiatannya.
Sementara Tari sibuk di dapur, di bagian depan seorang karyawan Tari sudah membalik tulisan close menjadi open yang artinya cafe sudah buka. Ia juga mengeluarkan papan kecil berisi promosi hari ini yang ditulis dengan kapur warna warni.
Promo hari ini: Beli Teh Tarik Gratis Risol
Memang benar seperti yang Agas bilang, kalau hari senin cafe tidak seramai biasanya. Para karyawan sedang berjibaku dengan lalu lintas yang kalau senin ada aja penyebab macetnya. Mengakibatkan telat sampai kantor, boro-boro untuk nongkrong di cafe.
Perkiraan Agas justru senin siang akan banyak karyawan yang makan siang di cafe Tari. Karena itu Tari fokus dengan menu makan siang hari ini.
Promo teh tarik gratis risol agar pengunjung yang datang membeli cemilan untuk dibawa pulang. Strategi pemasaran juga yang Tari pelajari dari Agas, agar menu lain juga laku.
__ADS_1
Tari dan para karyawan lain terlihat santai sambil menyiapkan bahan untuk pesanan makan siang. Mereka terlihat mengobrol dengan akrab.
Tari bukanlah pemilik cafe yang menyeramkan dan sok bossy. Tari justru membaur dengan para karyawannya sambil mengobrol dan tertawa bareng.
Suara lonceng berbunyi tanda ada pelanggan yang datang membuat karyawan yang sejak tadi membantu Tari di dapur bergegas mengambil buku menu dan menyerahkannya pada pelanggan.
Seorang wanita cantik mengenakan kacamata sunglass dan dress diatas lutut nampak duduk di bagian dalam cafe yang ber-AC. Rambutnya di cat warna abu-abu di bagian bawah dan dalam rambutnya. Gaya anak muda masa kini.
Ia melihat-lihat cafe yang masih sepi lalu melihat menu saat menu diberikan padanya. "Aku pesan teh tarik dan kue bolunya satu."
Wanita itu menutup buku menu dan sebelum memberikan pada pelayan, Ia bertanya dahulu. "Om Agasnya mana?"
Pelayan itu mengenyitkan keningnya. Ia menyadari kalau pelanggan di depannya adalah kenalan Pak Agas pemilik cafe ini.
"Bapak tidak ada, Mbak." ujarnya seraya menerima buku menu yang diberikan.
"Tapi bener kan kalau Om Agas pemilik cafe ini?" wanita itu mencari tahu tentang Agas.
"I... Iya. Ada lagi yang mau dipesan, Mbak?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Enggak usah. Itu aja!"
Pelayan itu lalu menyerahkan pesanan wanita itu dan pergi ke depan. Sudah ada anak mahasiswa yang nongkrong di pagi hari. Biasanya mereka menunggu kelas siang atau sekedar ngobrol saja.
Pelayan itu lupa bertanya pada Tari dan lupa menyampaikan kalau ada tamu yang mencari Agas. Kesibukannya bertambah manakala rombonan ibu-ibu arisan datang dan memesan nasi tim dalam jumlah banyak. Satu kompi pesan nasi tim semua.
Tari sibuk membantu chef yang hanya satu orang saja hari ini, menunggu chef satu lagi yang shift siang sampai sore. Wanita cantik itu tak bisa bertanya tentang Agas karena cafe tambah lama tambah ramai.
Ia mengusap perutnya dengan penuh kasih. "Kamu akan bertemu Papa lagi, Nak!"
Ia lalu membayar pesanan dan pergi meninggalkan cafe. Ia berjanji akan datang lagi nanti untuk bertemu Agas.
****
__ADS_1