
Papanya Vira terlihat sedang mempertimbangkan kata-kata yang kuucapkan. Ia tahu kalau Vira sudah menjebakku dan aku balikkan lagi keadaannya. Keadaan mungkin tidak akan menjadi kondusif lagi kalau aku melawan balik
"Kenapa kamu tidak mau bertanggung jawab? Kalau kamu menjadi suami Vira, kamu akan mendapat dukungan dari saya. Saya dengar, kamu punya usaha restoran?! Kamu kan bisa menjadi menantu saya meskipun bukan ayah dari anak dalam kandungan Vira? Yang saya lihat, kamu bertanggung jawab dan dewasa. Pasti bisa membimbing Vira lebih baik lagi." ternyata Papanya Vira malah menginginkan aku untuk menjadi ayah dari bayi yang dikandung Vira.
Aku tersenyum. "Dari awal, kami berdua hanya bersenang-senang saja. Tidak ada kepikiran untuk berhubungan serius. Saat ini, istri saya sedang hamil dan saya amat sangat mencintai istri saya. Saya nggak mau kehilangan istri tersayang saya hanya karena materi semata. Saya sudah terbiasa hidup dengan bekerja keras dari bawah. Sekarang pun saya belum berada di posisi di mana saya adalah orang yang sangat kaya raya. Saya masih terus berusaha dan berusaha. Jadi kalau Bapak menawarkan saya materi, mungkin saya akan tertarik tapi saya masih sangat sadar untuk mempertahankan apa yang paling penting dalam hidup saya, yakni istri saya tercinta."
"Lalu bagaimana kalau hasil DNA menunjukkan bahwa anak yang Vira kandung adalah anak kamu?"
"In sha Allah saya yakin itu bukan anak saya. Saya sudah bilang sebelumnya sama Bapak, saya bermain dengan hati-hati menggunakan pengaman. Mengenai Vira, saya nggak mau masalah ini terus-menerus berkelanjutan. Anak itu akan marah dan membalas ke istri saya karena sudah menggagalkan rencananya. Saya tidak akan mengancam tetapi saya menekankan kalau seandainya istri saya terus-menerus diancam oleh Vira, saya bisa membawa semua ini ke jalur hukum!"
"Bagaimana kamu begitu yakin akan menang? Kamu tahu saya sebagai apa di negara ini? Saya bisa saja loh menyuruh orang untuk menghancurkan kamu?! Dengan sekali telepon aja besok kamu sudah hancur!" ancam Papanya Vira.
"Saya tahu apa yang Bapak miliki dan tidak saya miliki, kekuasaan. Tapi, yang saya miliki jauh dari sebuah kekuasaan. Saya cuma punya keberanian. Keberanian yang membuat saya harus melawan atas segala fitnah yang dilakukan oleh anak Bapak. Bapak bisa diam saja melihat anak Bapak mendzholimi orang lain. Silahkan saja. Namun percayalah, saat di pengadilan akhirat nanti Bapak yang paling merugi!"
Wajah Papanya Vira memerah menahan emosi. Kata-kata pedas mulai kukeluarkan.
"Bapak tau, sejak sekolah anak Bapak sudah mendzholimi istri saya. Bapak ingat dengan seorang anak kecil bernama Tari? Utari Putri. Anak yatim piatu yang diadopsi oleh salah seorang guru di sekolah anak Bapak. Hanya karena didikan Bapak kalau nilai lebih penting daripada akhlak, Bapak menghancurkan hidup gadis kecil itu!"
Papanya Vira tersentak kaget saat tahu kalau Tari adalah istriku.
"Ya, gadis kecil polos itu adalah istri saya kini. Hidupnya berubah sejak anak Bapak terus membullynya. Tak cukup hanya saat mereka SD, saat SMP pun putri Bapak melakukan lagi perbuatan seenaknya yang Bapaknya contohkan! Vira selalu beranggapan semua bisa diselesaikan dengan uang dan kekuasaan milik Papanya. Sama sih kayak Bapak yang barusan mengancam saya. Like father like daughter,"
Papanya Vira membuang pandangannya , tak berani menatapku saking malunya. Kulanjutkan lagi perkataanku.
"Mau sampai kapan Bapak kayak begitu? Mau lama kelamaan anak Bapak menurunkan sifat culasnya pada anak yang dikandungnya? Saya bersedia tanggung jawab jika anak dalam kandungan Vira memang anak saya, itu yang diajarkan oleh orangtua saya. Tapi kalau bukan anak saya, biarkan ayah anak itu yang bertanggung jawab. Menikahkan anak Bapak dengan orang lain bukan menyelesaikan masalah. Bapak hanya menunda permasalahan saja. Bapak seperti mengaktifkan timer bom yang akan meledak nantinya. Berhentilah. Jangan melakukan hal seperti ini terus. Bapak adalah seorang wakil rakyat, apa pantas wakil rakyat malah bersikap seperti itu?!"
Papanya Vira terdiam dan mencerna perkataanku. Aku menunggu keputusan apa yang akan dibuat. Kalau memang merugikanku, aku tak segan menempuh jalur hukum.
Bersama Bastian, aku sudah menyiapkan semuanya. Semua bukti yang kumiliki sudah aku double. Satu dimiliki oleh Bastian dan satu aku pegang.
Yang kuhadapi bukan orang biasa, tapi seseorang yang punya power. Selain Bastian aku pun mendouble bukti milikku pada orang kepercayaanku. Saat terjadi apa-apa denganku dan Bastian, ada yang membackup dan menyebarkan ke media.
"Saya akan memikirkan semuanya. Namun ini!" Papanya Vira mengangkat rambut milikku yang tadi kuberikan. "Akan saya periksa untuk tau apakah anak dalam kandungan Vira benar anak kamu atau tidak!"
__ADS_1
"Baiklah. Saya akan menunggu kabar dari Bapak." kukeluarkan kartu namaku dan memberikan nomor teleponku yang bisa dihubungi. Papanya Vira pun melakukan hal yang sama.
Aku keluar dari ruangan dan dicegat oleh Vira yang sejak tadi mondar-mandir di depan ruangan dengan gelisah sambil menggigit kukunya.
"Apa yang Om Agas bicarakan?!"
Aku hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahuku saja.
"Jangan macam-macam ya, Om! Aku tau Om pasti sudah bicara yang enggak-enggak sama Papa!"
Aku tersenyum mendengar tuduhannya. "Bicara yang enggak-enggak atau yang iya-iya? Yang jelas dong kalo ngomong! Ada juga kamu yang memutarbalikkan fakta!" aku menepuk bahu Vira dan tersenyum penuh tekanan padanya. "Tobatlah, Dek. Tobat sebelum ajal menjemput!"
Aku menepuk bahunya sekali lalu pergi meninggalkan Vira. Aku tahu ini tak akan mudah namun harus kuhadapi.
****
Aku berniat kembali ke showroom milikku. Namun di jalan, aku merasa ada yang mengikuti mobilku.
Di jalan depan nampak kemacetan panjang. Kalau sampai mobilku kacanya dipecahin gimana?
Aku memutar balik mobilku dan mengambil jalur sebelah yang kosong. Tak putus asa, mobil di belakangku terus mengikuti.
Kuhubungi Bastian, anak itu tanggap dan langsung mengangkat telepon dariku.
"Bas, gue diikutin nih! Hadepin apa kabur aja?" tanyaku sambil melirik kaca spion.
"Berapa orang?"
Kulihat mobil sedan di belakangku. "Satu mobil dan... ada yang naik motor juga ternyata. Anjrit! Masuk toll aja gue?" aku mulai panik. Kalau hanya menghadapi satu mobil aku bisa, kalau lebih banyak lagi mikir juga aku!
"Hati-hati, Men! Masuk toll aja! Setidaknya banyak CCTV disana. Jangan cari tempat sepi. Lo sekarang posisi dimana?" tanya Bastian yang terdengar khawatir padaku.
"Di Jalan M. Di depan pintu toll."
__ADS_1
"Nanti lo ambil toll dalam kota aja. Keluar di daerah G. Di sana ramai, enggak bakalan macam-macam dia. Kabarin gue terus! Nyalahin Hp lo mode video dan taro di dashboard. Biar gue rekam nanti!"
Pintar juga akalnya Bastian. Kuubah model video dan kupindahkan Hp milikku menghadap ke jalan raya.
"Gue masuk toll nih!" aku menempelkan kartu toll dan masuk ke dalam jalan bebas hambatan.
Kutambah kecepatan mobilku dan menyalip beberapa mobil di depanku. Tak mau kalah, mobil sedan yang mengikutiku juga mengikuti yang kulakukan.
Sampai akhirnya Ia mensejajarkan mobilku dan membuat aku malah memilih jalur toll luar kota. Jalan toll semakin sepi, kuputuskan keluar toll dan mereka mengikuti. Aku tak tahu ada dimana dan mereka terus memepet mobilku. Aku menyerah dan menghentikan mobilku.
Empat orang berbadan kekar keluar dari dalam mobil. Lalu ternyata ada sebuah mobil lagi yang tak kutahu mengikutiku juga.
"Lo lihat Bas? 4 orang lawan gue! Doain gue, Men. Gue harus bertahan demi anak gue!" aku teringat dengan Tari dan calon anakku.
Doain Abi ya... Abi janji akan kembali!
Mobilku dikepung oleh mereka semua. Kulihat tak ada yang membawa senjata tajam.
"Buka pintunya atau kami pecahkan!" ancam seorang bodyguard yang kuyakin adalah pemimpin mereka.
"Mau apa kalian?" tanyaku sambil membuka sedikit jendelaku.
"Bapak minta kami mengambil barang bukti!"
Bapak? Oh... Jadi ini suruhannya Papanya Vira.
"Kalau gue enggak mau gimana?"
Prang....
Kaca sebelah kiriku sudah dipecahkan. Gila! Posisiku semakin terancam.
****
__ADS_1