
Wajah Tari memerah malu. Begitu pun denganku.
"Udah Pak, cafe aman kok. Kita yang jagain!" goda salah seorang karyawan Tari yang menahan tawanya.
"Itu... Kami mau meeting dulu ya membahas perang Rusia dan Ukraina. Kalian jaga cafe!" kataku beralasan.
"Bukan ngebahas itu, Bi. Kita mau meeting tentang siapa yang akan menjadi juara di Masterchef berikutnya!" Tari malah menambahkan kengacoanku.
"Oh iya, sekalian siapa yang jadi juara di Indonesian Idol." tambahku.
"KDI juga sekalian!"
"Kita juga mau bahas kenapa Nobita enggak naik kelas dan tetap SD aja!"
"Spongebob juga kenapa masih belum dapat SIM."
Sementara kami meracau tak jelas, anak buah Tari membubarkan diri. Tak mau menonton kegilaan atasannya.
****
Hari masih sore saat aku dan Tari pulang ke rumah. Nampak Tara dan Damar juga baru pulang sehabis belanja bulanan.
Aku mengklakson mereka sebagai tanda sapaku. Damar melambaikan tangannya dan menungguku memarkirkan mobil. Ada yang mau Ia bicarakan.
"Gimana? Berhasil?" Tara yang baru saja menaruh belanjaan di dalam ikut bergabung, begitu pun dengan Tari yang masuk ke dalam sebentar untuk ke toilet menghampiriku mengobrol dengan Damar.
"Ngobrolnya di dalam saja, Sayang!" ajak Tara.
"Iya benar. Enggak enak ngobrol di depan. Ayo masuk Gas... Tari..." ajak Damar.
Aku mengulurkan tanganku dan mengajak Tari masuk ke dalam. Tari menyambut uluran tanganku. Kami berdua masuk ke dalam rumah Tara.
Nampak Tara melakukan renovasi. Ada beberapa furniture baru dan lebih mahal di dalam rumah mereka. Mungkin kompensasi Tara atas perlakuan Damar selama ini? Entahlah.
"Mau minum apa? Tari susu aja ya, kalau kamu Gas mau minum apa?" Tara menawarkan kami minum.
"Apa aja, Ra. Yang dingin tapi ya!"
"Oke!"
Tara pun pergi ke belakang dan tak lama membawa susu UHT untuk Tari dan jus leci untukku. Untuk Damar, Ia memberikan air mineral dingin.
"Aku beli kue ini kemarin waktu ke Bandung. Kamu coba deh Ri. Enak. Pasti kamu suka!" ujar Tara sambil menyodorkan toples berisi kue soes isi cokelat kesukaannya.
Tari mengambil dan memakannya. "Enak. Aku mau belajar buat kayak gitu ya, Bi. Nanti kita jual di cafe!"
__ADS_1
Anak ini, memang semangat belajarnya sangat tinggi. Patut diacungi jempol! Aku mengangguk, mengiyakan keinginannya.
"Oh iya, kamu buka cafe ya? Aku belum mampir kesana." Tara lalu bergelayut manja pada Damar. "Kita kesana yuk, Yang. Aku mau nyobain makanan yang Tari jual. Pasti enak. Kue bolu yang Tari bawakan saja enak. Aku habiskan sendirian loh!"
Wah aku baru tau ini. Selera makanan Tara kan memang agak high. Kalau Tara bilang enak ya pasti memang enak menurut standarnya.
"Boleh. Mainlah ke cafe aku. Ajak teman-teman kamu sekalian. Biar ramai." ujar Tari dengan mata berbinar-binar.
"Loh memangnya enggak ramai? Aneh! Masakan kamu enak begitu masa sih enggak ramai?" tanya Tara.
Aku yang akan menjawab pertanyaan Tara. "Semua karena teror yang menimpa cafe Tari. Pengunjung ketakutan dan tak ada yang mau datang. Hanya beberapa pengunjung baru yang tak tau apa yang sudah terjadi."
"Ya ampun... Tenang saja, nanti aku ajak teman-teman sesama sales untuk kesana. Aku juga akan ketemuan dengan customer disana. Pembeli potensial, yang pasti akan datang kembali ke cafe kamu." tak kusangka Tara malah mau membantu Tari.
"Makasih, Mbak. Makasih mau mempromosikan cafe aku." ujar Tari dengan bersungguh-sungguh.
Aku melihat ketegangan dan permusuhan di antara mereka sirna sudah. Mereka malah saling membantu satu sama lain. Tara malah mengajak Tari untuk mengobrol masalah kehamilan dan program hamil yang Ia lakukan.
Damar mengajakku ke halaman belakang rumahnya. Menawariku rokok dan kami duduk di kursi yang memperlihatkan taman berisi tanaman hias yang Tara rawat selama ini.
"Syukurlah kalau akhirnya Juan mau tanggung jawab. Gue pikir dia bakalan kabur dan menghindar dari kewajibannya. Enggak gue sangka, kata-kata lo mempengaruhinya. Sama seperti lo yang udah mempengaruhi Tara untuk kembali rujuk sama gue. Makasih ya, Gas." Damar yang pertama membuka obrolan diantara kami.
"Sama-sama, Mar. Semua juga berkat bantuan lo. Kalau bukan jasa lo membuka CCTV di diskotik, belum tentu masalah gue udah selesai sekarang. Semalaman kita begadang nyari pacarnya Vira eh ternyata sepupu lo sendiri!"
Takdir yang membuat Tara pergi dariku dan berselingkuh dengan Damar. Takdir pula yang membuatku bertemu dengan Tari, wanita terbaik yang Allah berikan untukku.
Wanita yang membimbingku ke jalan yang benar. Wanita yang mengajariku arti kebahagiaan yang sebenarnya.
Wanita itu kini sedang tertawa dengan mantan istriku yang mengelus perutnya yang mulai buncit. Mereka berbagi tips dan mengobrol dengan akrab.
Aku tersenyum melihatnya, begitu pun dengan Damar. Berdamai seperti ini lebih baik dan melupakan semua dendam diantara kami.
Menjelang maghrib, kami pamit. Aku dan Tari pulang ke rumah kami dan melaksanakan sholat maghrib berjamaah.
Selesai sholat aku tiduran di pangkuan Tari sambil membaca surat-surat pendek dekat perutnya. Aku mau anakku terbiasa mendengar lantunan ayat suci Al-Quran selagi di dalam kandungan.
Sesekali aku mengusap lembut dan mencium perut Tari yang mulai terlihat membuncit. Kudekatkan telingaku dan ingin mendengar detak jantungnya meski sangat pelan dan tersamarkan oleh detak jantung Tari.
"Bi." ujar Tari yang sejak tadi mengusap lembut rambutku.
"Kenapa Sayang?" tanyaku dengan nada mesra.
"Aku... Mm... Enggak jadi deh!"
Aku duduk dan menatap lekat wajah Tari. Aku takut Ia sakit atau memikirkan suatu masalah. "Ada apa? Cerita aja sama aku."
__ADS_1
Tari menggelengkan kepalanya. "Enggak ada apa-apa sih. Cuma...."
"Cuma apa? Kamu sakit? Apa yang sakit? Berat ya pangku aku?" wajahku pasti mengisyaratkan kekhawatiran yang berlebih.
Tari menggelengkan kepalanya. "Abi enggak berat kok. Baru memangku kepala Abi aja masa berat sih? Biasanya sekujur tubuh Abi nindihin Tari, Tari santai saja!" Tari menahan tawanya menggodaku.
"Ish! Mau aku tindihin nih? Nunggu isya ya?" kataku sambil memainkan kedua alis mataku.
"Ih apaan sih? Bukan itu! "
"Lalu apa dong?"
"Tari malu ngomongnya!"
"Kenapa sih? Ngomong aja kenapa harus malu? Aku aja udah sering melihat kamu tanpa sehelai benang pun. Ayo cerita ada apa?"
Tari memainkan matanya ke kiri dan ke kanan, seakan sedang berpikir mau bicara atau enggak.
"Ayo bilang ada apa? Jangan buat aku makin penasaran!" aku mulai tak sabaran.
"Hmm... Tari mau minta sesuatu sama Abi."
"Iya Abi tau. Minta apa?"
"Abi jangan marah tapinya!"
"Iya. Abi janji enggak marah. Kenapa?"
"Tari mau... Melihat Abi pakai sesuatu."
"Pakai sesuatu? Apa?"
"Hmm... Beneran Abi enggak marah?"
Aku mengangguk yakin. "Apapun permintaan kamu aku akan turutin."
"Tari mau melihat Abi pakai daster terus kalau di rumah harus pakai sarung terus kemana-mana. Abi mau kan?"
"Daster? Buat apa? Jadinya pakai daster apa sarung nih?" Ada-ada saja permintaannya.
"Sekarang pakai daster, tapi mulai hari ini sampai seterusnya Tari mau lihat Abi pakai sarung terus kalau di rumah. Eh kalau Abi mau pakai di cafe juga enggak apa-apa sih."
Aku mengusap wajahku. Nyesel aku udah nanya. Pasti ini nih yang namanya ngidam! Hadeh... Kenapa harus pakai daster sih? Memangnya lagi lomba 17-an?
****
__ADS_1