Duda Nackal

Duda Nackal
Sehari Bersama Oma


__ADS_3

Tari


Aku membacakan doa untuk Mama dan Papa secara langsung untuk yang pertama kali. Selama ini, Ibu selalu mengajarkan aku untuk mendoakan kedua orang tuaku dimana pun mereka berada.


Sekarang aku bisa mendoakan mereka secara langsung. Ternyata, apa yang diajarkan oleh Ibu adalah hal yang sangat baik. Aku bisa tetap mendoakan kedua orang tuaku yang berada di alam sana. Aku juga bisa menghapus segala rasa benci yang selama ini ada dalam diriku.


Ibu selalu mengajarkanku untuk menyayangi kedua orang tuaku meskipun aku tak pernah melihatnya sama sekali. Karena itu segala rasa cinta dalam hatiku sudah menghilang berganti dengan rasa haru dan bahagia meski hanya bisa melihat makam kedua orang tuaku saja.


Aku menaburkan bunga di atas makam Mama dan Papa. Oma udah membeli buket bunga kesukaan Mama dan menaruhnya di dekat batu nisan miliknya.


Sebelum pulang, aku sempatkan untuk mendoakannya sekali lagi. Kini aku bisa mendoakannya dan menyebut nama Mama dan Papa dalam doaku.


Oma dan Tante Irna mengajakku ke rumah Oma terlebih dahulu. Seperti yang diceritakan oleh Tante Irna, rumah Oma dan rumah Tante Irna itu bersebelahan.


Aku sudah menduga kalau Oma adalah nenek-nenek kaya raya berdarah ningrat yang pasti rumahnya juga mewah. Benar dugaanku, meski dikatakan rumahnya bersebelahan, namun bukan rumah sebelahan seperti rumah kontrakan di dalam gang dekat tempat tinggalku dulu.


Rumah Oma sangat besar. Rumah bertingkat dengan gaya klasik dan ada pilar besar di depannya. Di sampingnya, ada rumah Tante Irna. Rumahnya besar juga, namun masih kalah mewah di banding rumah milik Oma.


"Ayo masuk!" ajak Oma.


"Ma, Irna ganti baju dulu ya. Nanti Irna ke rumah Mama." pamit Tante Irna.


"Iya. Oma mau ajak Tari berkeliling dahulu dan mengobrol dahulu." kata Oma.


Aku dan Oma pun masuk ke dalam rumah. Aku seperti orang norak yang memandang takjub rumah orang kaya.


Rumah Oma begitu besar. Halamannya luas. Selama ini aku menganggap Abi sudah yang paling kaya. Ini jauh lebih kaya lagi.


Halaman rumah Abi hanya memuat satu mobil dan motor milikku. Sisanya dibuat taman mini untuk mempercantik rumah.


Rumah Oma halamannya besar sekali. Ada beberapa mobil terparkir di sana. Belum taman besar di depan rumah. Bisa untuk berlari-larian macam di film India.


Memasuki dalam rumah Oma, aku kembali terpukau. Furniture dalam rumah Oma kebanyakan kayu jati asli. Kupikir akan menyeramkan seperti di film-film. Namun tidak, malah terkesan estetik. Ukiran kayunya juga keren abis. Wah... Selera Oma memang beda.

__ADS_1


Tak ada lukisan besar yang membuat rumah mewah jadi terlihat angker. Yang ada malah kaligrafi berlafadzkan Allah dan Nabi Muhammad yang banyak tersebar di rumah ini.


Oma mengajakku berkeliling. Ia menunjukkan dimana kamarnya. Sebuah kamar besar seluas hampir satu setengah kali kamar di rumah Abi.


Rumah Oma rapi. Harum dari lilin aromaterapi semerbak membuat rasa nyaman saat berada di dalamnya.


"Kita ke kamar Mama kamu yuk!" ajak Oma. Aku menurut.


Ternyata kamar Mama berada tak jauh dari kamar Oma. Masih di lantai bawah. "Di atas kamar Irna dan kamar tamu. Naura anaknya agak penakut. Tak mau tidur di kamar atas. Maunya dekat Oma terus. Kalau malam-malam terbangun langsung Ia pindah ke kamar Oma." cerita Oma.


Aku tersenyum. Benarkah Mama setakut itu? Kok kalah sama Tari sih?


Oma membuka kamar Mama. Kupikir akan ada ranjang besar kosong dan foto-foto besar Mama. Ternyata tidak.


Kamar Mama kosong tak ada ranjangnya. "Oma sudah merubah kamar ini menjadi musholla mini. Daripada kosong tanpa ada yang mau menempati lebih baik dijadikan ruang sholat."


Benar juga. Biasanya kamar yang pemiliknya sudah meninggal akan terasa menyeramkan. Ini tidak, karena selalu dipakai sholat dan mengaji oleh Oma.


Aku melihat-lihat koleksi foto Mama. Cantik memang Mama Naura. Namun aku malah lebih mirip Oma yang lebih cantik lagi saat muda.


"Kamu boleh ambil figura yang kamu mau. Ambillah!" kata Oma.


"Nanti Tari minta satu saja ya Oma. Sisanya biar di sini saja. Kalau Tari mau lihat kan bisa ke sini."


"Tentu. Kapan pun kamu mau ke sini, pintu rumah Oma terbuka untuk kamu. Toh rumah ini memang milik kamu kok kalau Oma sudah tiada." kata Oma.


"Ih kok Oma malah membahas kayak gitu sih?!"


"Oma serius Nak. Rumah ini memang milik Naura. Dulu, saat membangun rumah Kakek kamu bilang kalau rumah ini untuk Naura. Rumah sebelah untuk Irna. Karena Naura sudah bersama Kakek kamu, ya rumah ini untuk kamu tempati. Kalau kamu sekarang masih nyaman tinggal di rumah Agas ya tak masalah. Nanti boleh. Yang pasti saat Oma tak ada, kamu bisa tempati rumah ini. Agar tidak kosong dan tetap terawat." pesan Oma.


Wah... Rumah besar ini ternyata milikku. Mimpi apa aku semalam. Belum lama dapat 3 cafe gratis ini malah dapat rumah mewah?


"Ayo kita ke dapur. Oma mau buatkan kamu makanan hasil masakan Oma sendiri." ajak Oma.

__ADS_1


Aku mengikuti langkah Oma. Dapur Oma sangat luas dan besar. Dapur idaman para ibu-ibu. Aku padahal ingin meminta Abi buatkan dapur seperti ini, namun keterbatasan lahan membuat dapur Abi susah direnov. Ternyata aku malah mendapatkannya dari cara lain. Kuasa Allah memang tak ada yang tahu mau diberi dari jalan mana.


"Kamu suka masakan apa? Indonesia asli, western, chinese atau Italia?" tanya Oma.


"Apa aja. Oma bisa memang membuat makanan itu semua?" tanyaku.


"Jangan salah! Oma itu hobby memasak. Aneka kursus Oma ikuti untuk mengisi waktu luang." kata Oma dengan bangganya.


"Wah keren! Tari harus ikutin jejak Oma nih! Tari baru kursus sekali namun nekat bikin cafe." kataku malu-malu.


"Justru Oma bangga sama kamu. Namanya kamu itu bertalenta. Pasti masakan kamu disukai banyak orang, makanya cafe kamu banyak pembelinya." puji Oma.


"Ah Oma... Tari jadi malu. Ayo kita lanjut memasak!"


Kami pun memasak bersama. Hal yang dulu selalu aku impikan. Memasak bersama Mama. Ibu sudah mewujudkan mimpiku namun bersama Oma membuat mimpiku lebih terwujud lagi.


Aku menghabiskan waktu bersama Oma dan Tante Irna. Makan bersama. Mengobrol sampai aku merasakan bajuku basah.


Ya Allah... ASI-ku rembes.


Wira?!


Masya Allah... Aku lupa sama anakku sendiri!


"Ma, kayaknya Tari harus pulang deh! Udah waktunya menyusui Wira. Lihat baju Tari basah begini!" kutunjukkan bajuku yang basah karena ASI.


"Oh iya! Keasyikan mengobrol sampai lupa sama cicit Oma. Ayo Oma antar pulang!"


Cepat-cepat aku pulang. Sesampainya di rumah aku mendapati Abi sedang tertidur di samping bouncer Wira. Wajahnya terlihat lelah, bahkan tak menyadari kedatanganku.


Makasih ya, Bi. Makasih sudah menjaga Wira hari ini. Makasih sudah memberi Tari waktu bersama keluarga Tari hari ini. Love you, Bi...


****

__ADS_1


__ADS_2