Duda Nackal

Duda Nackal
Tamu yang Datang Menjenguk Wira


__ADS_3

Aku terus memandangi anakku yang asik nen dengan Mommynya. Pipinya yang mengembang seiring dengan mulut mungilnya yang menghisap dengan penuh semangat dari sumber kehidupannya.


Nampak air susu Tari mulai menetes karena saking banyaknya. Aku sudah menawari untuk membantu, namun ditolak mentah-mentah oleh Tari. Padahal kan, aku bisa aja nyicipin sedikit. Memang, Tari semenjak melahirkan jadi pelit sekali padaku.


"Jangan dilihatin terus, Bi! Kan Abi Jadi kepengen terus!" omel Tari. "Abi itu kayak anak kecil lagi ngeliatin balon tau nggak! Kelihatan banget Abi pengennya!"


"Memang Abi lagi ngelihat balon. Balonnya besar dan montok. Tapi, yang punya balon pelit. Nyicipin sedikit aja nggak boleh! Padahal kan, Abi mau juga nyobain."


"Udah ah! Kita ngebahas kayak gini melulu! Udah sore nih, harus dimandiin dulu Wira-nya. Coba Abi tanya sama perawatnya. Mandiinnya gimana?"


Belum sempat aku berdiri dan bertanya pada perawat, sudah ada perawat yang datang untuk mengambil Wira. Rupanya, mereka akan dibawa ke satu ruangan khusus perawat dan dimandikan. Baguslah. Perawat tersebut lalu memintaku membantu memandikan Tari. Tentu saja, aku dengan senang hati melakukannya.


"Cuma mandiin doang loh, Bi!" ancam Tari. "Nggak ngapa-ngapain! Ingat, Tari lagi masa nifas. Nggak boleh macam-macam!"


"Iya, Sayang. Abi juga tau. Abi harus puasa sebulan lebih sampai masa nifas kamu selesai. Tapi colek-colek dikit boleh kan?"


"Abi ih! Udah cepetan ah!"


Aku mengunci pintu kamar dan memandikan Tari. "Sayang, inget enggak waktu kita enak-enak di rumah sakit dulu? Waktu Abi lagi gegar otak ringan? Ah.. Abi pengen lagi kayak gitu. Kalau kamu udah enggak nifas, nanti Abi pura-pura sakit dan minta dirawat ya? Biar kita bisa bikin kayak gitu lagi session ke 2."


Tari mencubit pinggangku dengan kencang. "Awww! Aduh sakit Sayang! Kamu demen banget sih mendzolimi Abi! Kemarin jambak, sekarang cubit!"


Tari melepaskan cubitannya. "Habis Abi ngaco sih! Niatnya aneh. Masa mau masuk rumah sakit cuma biar bisa enak-enak. Kayak di rumah enggak bisa aja!"


"Ih Mommy mah. Beda sensasinya." aku membasuh tubuh Tari dengan kain washlap dan sedikit sabun. Tubuhnya nampak berisi sehabis melahirkan, tapi aku suka. Terlihat lebih segar dilihat.


"Kalau dijepit di pintu juga sensasinya beda, Bi!" celetuk Tari.


Aku langsung memegang adik kecilku. Meski tidak kejadian namun rasanya ngilu juga kalau dibayangkan.


"Enggak... enggak! Bukan sensasi namanya. Ngilu. Bisa-bisa adik Abi enggak bangun lagi!"


Aku sambil berbicara sambil membersihkan tubuh Tari. Sesekali menyentuh buah sintal miliknya yang semakin menggoda saja.


"Jangan disentuh-sentuh! Nanti Abi kepengen gimana?" omel Tari.

__ADS_1


"Ya... Minta sama Mommy!" jawabku sambil senyum-senyum.


"Au ah. Udah mana bajunya? Dingin nih!"


"Sabar, Sayang. Aku ambilin handuk dan baju ganti dulu." kukeringkan tubuh Tari dengan handuk dan memakaikannya baju.


"Udah cantik nih Neng Tari. Ke Mall yuk!" ledekku.


"Abi bohong! Liat aja badan Tari bengkak kayak gini! Cantik dari mana?" tanya Tari dengan rendah diri.


"Nanti juga bisa kurus lagi. Yang penting sehat. Abi suka kok kamu mau kayak gimana juga. Jangan dipikirin. Kalau cinta levelnya hanya sebatas fisik saja, level cintanya masih rendah. Abi mencintai Mommy apa adanya. Bukan ada apanya." aku membereskan semua bekas mandi Tari. Tatapan Tari tak lepas terus memperhatikan apa yang kulakukan.


"Makasih ya, Bi. Abi udah terima Tari apa adanya. Kadang Tari nyebelin. Kadang ngeselin. Kadang egois. Tapi Abi tetap sabar ngadepin Tari."


Kudekati dirinya dan kupeluk. Sebuah kecupan hangat kudaratkan di keningnya. "Abi sayang sama Mommy Tari. Mommy Tari wanita yang hebat. Yang sudah membawa Abi ke jalan yang benar. Abi pasti tak akan melepas Mommy. "


"I love you, Bi!"


"I love you too Mommy!"


****


"Wah... Ramai sekali! Kalian janjian ya?" tanyaku.


"Iya. Tadi Bastian ngabarin kalau Tari udah lahiran. Kita langsung janjian ke rumah sakit." jawab Tara.


Kulihat di sudut ruangan nampak banyak kado berukuran besar. Mereka datang tidak dengan tangan kosong rupanya.


"Wah banyak kado! Makasih ya udah nengokin Wira. Pake repot-repot segala. Seharusnya emas batangan saja. Tidak perlu dibungkus segala." ledekku.


"Ogah! Nanti buat Bapaknya kawin lagi ha...ha...ha..." ledek Sony.


Tari langsung memelototiku. "Enggak Sayang. Abi mana kuat poligami. Itu buat yang mampu saja. Abi mah satu aja enggak abis-abis. Mana mungkin nambah lagi!"


"Ha... ha...ha... Yah si Agas udah takut bini sekarang! Baru dipelototin aja langsung ciut nyalinya!" Riko malah tambah meledekku.

__ADS_1


"Tampol nih! Udah, kalian mau minum apa?" kuambilkan minuman dingin yang disediakan oleh rumah sakit. "Seadanya aja ya. Gue belum sempat ke bawah buat beli minuman."


"Santai aja, Gas. Kita kesini mau nengokin anak lo yang ganteng banget itu!" ujar Damar.


"Iya dong, ganteng. Mirip siapa dulu?"


"Dih sombong banget! Katanya kalau laki-laki tuh mirip Mamanya. Kalau perempuan mirip Bapaknya. Berarti anak lo mirip Tari dong!" ujar Bastian.


" Mirip gue lah. Lo gak liat gantengnya?!" Tari hanya geleng-geleng kepala melihat interaksiku dengan anak-anak yang lain.


Aku lalu memesan makanan untuk cemilan anak-anak. Donut yang Tara bawakan sudah habis dicemilin Sony dan Riko. Tari saja hanya kebagian satu saja.


Kulihat Tara mendekat dan meminta ijin untuk menggendong Wira. Tari mengijinkan. Heran. Padahal aku saja sejak tadi tak boleh menyentuhnya.


"Semoga aku bisa secepatnya dikasih momongan ya. Aku pengen banget punya bayi sejak dulu." ujar Tara dengan mata berkaca-kaca.


"Aamiin! Banyaklah berdoa, Mbak. Minta sama Allah yang Maha Pemberi segala yang kita minta." nasehat Tari dengan bijak.


Tara mengangguk. Ia menghapus air matanya sambil menatap Wira dengan kekaguman. Aku kasihan melihatnya. Usahanya belum membuahkan hasil. Namun Tara dan Damar tak putus semangat. Mereka tetap mencoba berbagai cara.


"Iya. Rencananya aku dan Damar mau pergi umroh, mau meminta langsung di depan Kabah. Doakan ya biar dikabulin sama Allah."


"Oh ya? Kapan?"


"In sha Allah minggu ini. Oh iya, Mama titip salam sama kamu. Mama masih tahap penyembuhan. Mama bilang, akan datang menjenguk kamu secepatnya."


Mama Irna. Kasihan Tari, begitu berharap kalau apa yang Mama Irna katakan benar adanya. Sampai Mama Irna menghilang tanpa kabar dan ternyata sakit.


"Aku sudah melupakannya malah, Mbak. Kalau memang Mamanya Mbak Tara mau datang, silahkan saja. Aku akan menyambut kedatangannya."


"Sabar, ya. Mama meski tidak stroke, namun efek jatuh di kamar mandi lumayan berpengaruh padanya. Mama berusaha cepat pulih hanya agar bisa bertemu kamu."


"Iya, Mbak."


****

__ADS_1


Jangan lupa vote yang banyak ya... Kiss dari Abi Agas 😘😘😘😘


__ADS_2